
Mereka lebih mendekat ke sumber suara berada. Telinga mereka berdua ditempelkan ke bagian luar mesin cuci, dan suara tersebut semakin terdengar.
Hingga mata mereka sama-sama membelalak, sepertinya apa yang mereka pikirkan sama.
Dimatikannya mesin cuci oleh Aydin, dan seperti dugaan mereka berdua. Aydin menemukan ponselnya di dalam mesin cuci yang dia masukkan bersama dengan selimut dan sprei kotor tadi ke dalam mesin cuci.
Kiki tertawa terbahak-bahak, sedangkan Aydin wajahnya pucat pasi, karena banyak data penting dan foto mereka berdua di dalam ponsel Aydin.
"Udahlah sayang, gak usah sedih gitu, yang masukin disitu kan kamu sendiri. Hahahaha...," masih dengan tawanya Kiki meledek suaminya.
"Ck, sayang ih jahat banget, suaminya lagi sedih malah diledekin," Aydin mencebik kesal.
"Hahaha... ya udah, sebagai istri yang baik, Kiki anterin deh ke counter beli HP baru, tapi bayarnya pakai duit Abang sendiri ya," ucap Kiki disela tawanya.
"Ya udah yuk... semoga aja ini data-datanya masih bisa diselamatkan. Hufft....," ucap Aydin yang penuh harap.
Disinilah mereka sekarang berada, Aydin dan Kiki berada di salah satu counter besar di Mall yang mereka kunjungi.
Aydin memilih-milih ponsel keluaran terbaru yang tidak kalah dengan ponsel lamanya. Setelah itu mereka menuju ke counter servis HP dan laptop untuk memulihkan data HP Aydin yang lama dan memindahkannya ke HP yang baru.
"Loh Ki, lagi ngapain disini?" suara Raditya mengagetkan Kiki dan Aydin yang sedang mengamati HP baru Aydin.
"Eh Didi, ngapain disini?" tanya Kiki.
"Yee.. ditanya malah balik nanya kamu ini," Raditya terkekeh.
"Loh ada Kiki disini? kalian janjian ya?" tanya Aldo yang baru saja sampai.
"Cieee King & Queen nya lagi nge-date," canda Aldo sambil tertawa.
Raut muka Aydin menjadi tambah kesal. Belum lama kekesalan akibat tragedi HP yang berendam di mesin cuci dan kini dia bertemu dengan orang yang pernah mengisi hati istrinya. Lengkap sudah kesialan Aydin hari ini.
"Ngawur, aku dari tadi disini sama Bang Ay. Kalau Raditya baru aja sampai. Eh tapi kalian ngapain disini, mau servis juga?" tanya Kiki pada Aldo dan Raditya.
"Benerin laptop nih," Raditya memperlihatkan laptopnya yang akan diservis.
"Oooooo... eh btw selamat ya kalian udah berhasil dengan kerjaan kalian sendiri. Kalian bener-bener sahabatku yang hebat," puji Kiki pada mereka berdua.
Aydin bertambah kesal karena sepertinya dia dilupakan oleh istrinya.
Raditya melirik Aydin yang cuek terhadap dirinya dan Aldo.
"Ah biasa aja Ki. Thanks ucapannya. Kalau butuh design apa-apa ke kita aja," ucap Raditya.
"Ok.. ok..," jawab Kiki sambil mengacungkan jempolnya.
"Btw ngapain kamu ada disini?" tanya Aldo ingin tahu.
"Benerin HP Bang Ay tuh, tadi HP nya pengen berendam, iri sama aku yang suka berendam lama," canda Kiki sambil terkekeh mengingat tragedi HP tadi.
Aldo ikut tertawa dan mereka larut dalam perbincangan dan candaan mereka. Sedangkan Raditya kini duduk di samping Aydin karena dia sedang berbicara dengan karyawan di tempat servis itu.
"Udah lama Bang?" tanya Raditya menyapa Aydin.
"Lumayan," jawab Aydin singkat.
Raditya mengerti jika Aydin cemburu kepadanya. Dia ingin menggoda Aydin, namun takut jika Aydin lebih marah karena dia melihat suasana hati Aydin yang buruk.
Akhirnya Raditya lebih memilih bergabung dengan Kiki dan Aldo. Dan Aydin nasibnya begitu malang, karena istrinya yang benar-benar melupakannya setelah kedua sahabatnya itu datang.
__ADS_1
"Yuk sayang," Aydin memeluk pinggang Kiki untuk segera pergi dari tempat itu.
"Loh udah selesai?" tanya Kiki kaget mendapati tangan suaminya yang bertengger di pinggangnya.
"Nih," Aydin menunjukkan HP yang baru saja diservis.
"Di, Do, kita duluan ya," ucap Kiki seraya berjalan cepat karena tubuhnya yang ditarik oleh Aydin.
Aldo terkekeh melihat Aydin yang tidak lagi ramah kepada mereka sejak Raditya memukul Aydin di rumah sakit waktu itu.
"Masih cemburu dia?" tanya Aldo pada Raditya.
Raditya tersenyum miring dan mengangguk. Kemudian dia duduk di kursi tunggu yang sudah tersedia, dan diikuti oleh Aldo.
"Kalau kamu gimana?" tanya Aldo.
"Apanya?" tanya Raditya balik.
"Hati kamu pada Kiki," ucap Aldo.
Raditya kembali tersenyum tanpa menjawab. Dan senyumannya itu tidak bisa diartikan oleh Aldo.
"Sayang, jangan cepat-cepat dong, nanti kalau aku jatuh gimana, kan kasihan dedek bayinya," ucap Kiki yang tubuhnya masih dirangkul Aydin dan diajak berjalan dengan cepat oleh Aydin.
Seketika Aydin berhenti dan memperhatikan istrinya dari atas sampai bawah.
"Kamu gapapa sayang?" tanya Aydin menelisik.
"Untuk sekarang gapapa, entah kalau jalannya kayak gitu sampai nanti, bisa-bisa pingsan aku," sindir Kiki dengan nada sebal.
"Maaf... maaf... abisnya Abang kesel sih. Kita makan dulu aja yuk disitu," Aydin menunjuk salah satu restauran yang ada di dalam Mall tersebut.
"Kesel napa sih? Harusnya yang kesel tuh kakiku," Kiki mengerucutkan bibirnya.
Momen keromantisan mereka terjeda karena ada waitress yang mengantarkan pesanan mereka.
Aydin dan Kiki memesan tenderloin steak untuk kali ini, mereka berdua kompak memilih menu yang sama.
Aydin memotong-motong daging steak miliknya. Kiki hanya diam saja dan menggerak-gerakkan matanya dengan senyum menggoda. Aydin sudah tahu maksud istrinya itu. Dia pura-pura tidak tahu dan bersikap cuek untuk membalas perlakuan Kiki padanya di tempat servis HP tadi.
Dan tak terduga, ada seseorang yang tanpa permisi duduk disebelah Aydin. Tentu saja Aydin dan Kiki sangat kaget, apalagi seorang yang duduk disebelah Aydin itu seorang wanita yang tidak diinginkan kehadirannya oleh mereka berdua karena kehadirannya hanya akan membuat mereka menjadi kesal dan marah.
Caroline, wanita itu kini duduk di samping Aydin dan mendekatkan tubuhnya pada Aydin.
Kiki yang melihatnya menjadi geram. Pisau dan garpu yang dia pegang, sengaja dia tusukkan ke daging dengan sangat kasar dan mengiris-iris daging tersebut dengan kasar dan penuh amarah. Matanya menatap tajam penuh permusuhan pada wanita yang ada di depannya itu.
Caroline merinding melihat Kiki yang seperti mengancamnya, dan hal itu digunakan Kiki untuk mengancamnya kembali dengan meletakkan pisau di depan lehernya dan menggerakkannya ke kanan dan ke kiri seolah mengiris leher.
Kiki yang tersenyum miring dengan tatapan membunuh dan ancaman pisaunya itu berhasil membuat Caroline bergidik ngeri.
Aydin memberikan daging steak nya yang sudah dia potong-potong pada Kiki. Dan piring Kiki diambil Aydin untuk dipotong-potong dagingnya dan dia makan.
Tidak ada kata malu pada diri Caroline. Meskipun dirinya diacuhkan oleh sepasang suami istri ini, dia tetap saja menggoda Aydin.
Dengan sengaja Caroline menempelkan aset kembar miliknya ke lengan Aydin dan dia meminta untuk disuapi Aydin.
"Sayang... suapi dong kayak biasanya, ini kan menu favorit kita," ucap Caroline manja.
Aydin menghempas tangan Caroline yang ada di lengannya, dan dia menggeser kursinya agar jauh dari Caroline.
__ADS_1
Kiki menancapkan garpu di daging steak nya dengan kasar dan penuh amarah. Jangan lupakan tatapan mata yang layaknya seorang pembunuh.
Aydin yang melihat istrinya seperti itu sangat ngeri, dia memilih amannya saja. Akhirnya Aydin berpindah duduk di sebelah Kiki.
Namun Kiki masih saja menatap Caroline penuh amarah. Dengan segera Aydin memeluknya dan menenangkannya.
Kiki sangat marah pada Caroline karena lagi-lagi wanita itu datang mengganggu suasana romantis mereka berdua.
Kiki beranjak dari duduknya dan memegang tangan Caroline dengan kuat dan menariknya keluar dari restauran tersebut.
Caroline memberontak, dia berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Kiki namun gagal.
Kiki sangat kuat apalagi pada saat dia sedang marah. Caroline tidak bisa mengimbanginya.
Dilemparkannya tubuh Caroline di lantai setelah mereka berada di luar restauran.
Aydin mengikuti istrinya khawatir jika terjadi apa-apa padanya dan kandungannya.
"Sayang, udah yuk," ajak Aydin sambil merangkul erat pundak Kiki dan berjalan masuk ke dalam restauran.
"Awas kalau berani dekat-dekat suamiku lagi," ancam Kiki kembali sebelum masuk ke dalam restauran.
"Ooo pelakor ternyata," ucap pengunjung Mall yang lewat di depan Mall dan banyak juga yang berkumpul di depan restauran itu sengaja melihat dan mengambil video adegan tersebut.
Kasak-kusuk kata pelakor dan makian dari banyak orang itu membuat Caroline bangkit dari duduknya di lantai dan berjalan seperti tanpa beban menjauhi semua orang yang menggunjingnya.
Aydin mati-matian membujuk istrinya untuk makan, dan dia juga berusaha membuat mood istrinya kembali membaik.
Segala cara dia lakukan untuk mendapatkan senyuman dan keceriaan istrinya kembali. Termasuk melakukan segala keinginan istrinya yang sangat konyol menurutnya.
Sesampainya mereka di rumah baru mereka, Aydin melakukan keinginan Kiki untuk menggunakan daster dan membersihkan seluruh bagian rumah yang luas itu.
Aydin tak bisa menolaknya meskipun dia sangat ingin sekali kabur dari situasi ini. Dia hanya membatin dan berdoa agar istri dan anaknya sehat sampai kelahiran anaknya di dunia ini.
Tiba-tiba Aydin kaget mendengar suara istrinya yang tertawa terbahak-bahak di ruang televisi dan terdengar sampai ke dapur.
Aydin segera mendekati Kiki berharap ada berita baik yang menyenangkan hati istrinya itu dan permintaanya segera berakhir. Aydin ingin berganti pakaian dan bermanja-manja dengan istrinya di hari liburnya ini.
"Ada apa sayang?" tanya Aydin yang tergopoh-gopoh lari dari dapur.
"Nih lihat ada yang lagi viral," ucap Kiki yang masih tertawa dengan menyodorkan ponselnya ke arah suaminya.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Aydin mengambil ponsel Kiki dan melihatnya.
"Hahahaha....," Aydin tertawa terbahak-bahak melihat video viral di media sosial yang diperlihatkan Kiki padanya.
"Biar mampus tuh pelakor jadi terkenal," ucap Kiki di sela tawanya.
"Eh tapi kalau dia tambah terkenal gimana sayang? Dia kan wanita tidak tau malu. Kalau dia malah kesenangan karena terkenal gimana?" ucap Aydin tanpa berpikir.
Dan ucapannya itu membawa petaka baginya. Mood Kiki yang sedikit membaik kini menjadi buruk kembali mendengar ucapan suaminya
Bruak...
Sandal yang dipakai Kiki di dalam rumah berhasil mendarat di dada Aydin.
Glek!
Aydin kesusahan menelan ludahnya melihat tatapan mata istrinya yang seperti ingin membunuhnya.
__ADS_1
"A-ampun sayang... ampun... ampun..," ucap Aydin memohon dengan menyatukan telapak tangannya di depan dadanya.
Kehamilan Kiki kali ini membuatnya sangat sensitif, ganas dan sedikit manja.