Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
127


__ADS_3

"Assalamu'alaikum.... Ken uncle datang....," Kevin berteriak dari arah pintu masuk bersama beberapa rombongan yang ternyata mereka semua berbarengan sampai di depan rumah Aydin dan Kiki.


"Uncle....," Ken dan Raline beranjak dari duduknya dan berlari menuju Kevin yang sedang berjalan mendekati mereka.


Raline merasa mendapatkan keluarga utuh dari mereka. Raditya sangat bersyukur dan bahagia karena bertemu dengan keluarga Kiki dan Aydin yang juga menyayangi Raline seperti mereka menyayangi Ken. Bahkan mereka tidak pernah sekalipun membeda-bedakan Ken selama ini.


"Raline nginap sini?" Vina jongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan Raline.


"Onty Vina mau bobok sama Raline?" tanya Raline yang penasaran dengan pertanyaan Vina.


"Bagus itu Raline. Kamu nanti tidurnya sama Onty Vina aja ya, Tante Rere nanti sibuk soalnya," sahut Kenan yang merasa senang mendapatkan udara segar.


"Sibuk bikin dedek maksdunya," Aydin menyahut sambil terkekeh dan menoyor kepala Kenan.


"Kalau udah tau gak usah diperjelas woi," Kenan membalas Aydin dengan menoyor kepalanya.


"Om Kenan gak boleh gitu. Kata Mami gak boleh mukul kepala," Ken memarahi Kenan.


"Lah kan Papi Ken dulu yang mukul kepala Om Kenan tadi," jawab Kenan.


"Enggak ah, orang Ken gak liat Papi mukul kepalanya Om Kenan kok," Ken membela Papinya.


"Hahahaha....," kini semua orang yang berada di situ tertawa mendengar Ken yang sedang berbicara.


Ken adalah penghibur mereka, jadi sumber kebahagiaan mereka ada pada Ken. Maka apapun itu akan mereka berikan pada Ken sesuai dengan permintaan Ken.


"Nenek.. Kakek.. Oma... Opa... Ken dong mau buat donat sendiri. Iya kan Mami?" Ken menyudahi acara tertawa mereka semua dengan kembali mengingatkan Kiki tentang keinginannya.


"OMG.... kenapa dia masih ingat?" ucap Kiki lirih yang didengar Aydin, Raditya, Kenan dan Renita dan itu membuat mereka terkekeh mendengar ucapan Kiki dan melihat ekspresi Kiki yang seperti trauma pada sesuatu.


"Beneran? Wah hebat dong cucu Nenek," Bunda Aydin menanggapi Ken dan menciumi pipi Ken yang bau bedak khas bayi.


"Cucu Oma juga dong," ucap Mama Kiki tidak mau kalah.


Merasa ditertawakan oleh Aydin, Kiki menoleh pada Aydin dan memberikan tatapan ancaman padanya. Seketika tawa Aydin berhenti.

__ADS_1


"Ehem... kita bawa dia ke restoran aja Mi, kan ada pastry di sana," Aydin memberikan usul pada Kiki agar istri cantiknya itu tidak direpotkan oleh putra kesayangan mereka.


"Tapi kasihan mereka Pi kalau sampai Ken bikin rusuh seperti kemarin itu," jawab Kiki dengan nada khawatir.


"Lah mau kemana Mi? Ke cafe? Cafe kita kan cake nya dikirim dari hotel," jawab Aydin.


"Iya juga ya. Mmm... kasih ruang buat Ken saat jam gak ramai tamu aja Pi kalau gitu," Kiki tersenyum antusias sekarang.


"Ya udah, kita langsung berangkat ke sana aja sekarang," Aydin merangkul pinggang Kiki dan diangguki oleh Kiki saran dari Aydin tadi.


"Ken mau buat donat kapan?" Aydin bertanya pada Ken ketika sudah berjalan mendekati Ken.


"Sekarang. Ayo sekarang sama semua orang. Biar semuanya tau Ken bisa membuat donat coklat," jawab Ken sangat antusias sambil melompat-lompat kesenangan.


"Gimana?" Aydin bertanya pada Kiki.


"Ya ayo, ikut aja semuanya," jawab Kiki yang juga tidak kalah antusias dengan Ken.


"Gimana? Pada mau ikut ke restoran gak, ini si tuan muda mau bikin donat," Aydin melempar candaannya ketika menawari mereka semua untuk ikut ke restoran.


"Pastilah kita mau lihat tuan muda Ken ini beraksi," Papa Kiki menjawab dengan mengambil tubuh Ken untuk digendongnya.


Mereka pun berangkat ke restoran dengan menggunakan kendaraan mereka masing-masing. Sedangkan Raline tidak bisa dipisahkan dengan Ken, jadi Raline satu mobil dengan Ken, Kiki dan juga Aydin tentunya yang mengendari mobil mereka tumpangi.


Ketika mereka sampai di restoran, ternyata restoran lumayan ramai, jadilah Ken menunggu sampai keadaan di dapur lenggang agar dia bisa menggunakannya.


"Papi... Mami... kapan Ken jadi buat donatnya?" Ken mulai merajuk karena sudah bosan.


"Nunggu tamunya pulang semua ya Sayang," Aydin menjawabnya dengan hati-hati agar Ken tidak lebih merajuk lagi.


"Yaaa... lama dong...," ucap Ken yang tiba-tiba lesu.


"Sabar ya adek ganteng," Raline mencoba menenangkan Ken dengan mengusap punggungnya.


Tiba-tiba Ken berlari ke arah seorang pria yang bekerja sebagai manager di restoran tersebut.

__ADS_1


"Pak... Pak... kalau tamunya yang di sini pulang semua, jangan boleh ada tamu yang masuk lagi ya. Tutup aja pintunya. Bilang udah gak nerima tamu, gitu ya," Ken memberikan perintah pada manager tersebut.


"Loh kenapa, bukannya bagus ya banyak tamu?" manager tersebut menjawab perintah Ken dengan wajah bingung.


"Tuan muda Ken mau bikin donat," jawab Ken menirukan ucapan Aydin tadi pada saat di rumah.


Sontak saja semua keluarga mereka yang ikut tadi tertawa mendengar Ken yang memerintahkan manager restoran untuk menutup restorannya.


"Iya Pak gapapa tutup aja nanti kalau sudah selesai semua tamu ini, biar Tuan muda Ken bisa berkreasi membuat donat spesial. Dan kalian pasti akan direpotkan. Siap-siap saja," Aydin mengucapkannya sambil terkekeh.


Si manager hanya bisa tersenyum paksa mendengar bahwa mereka akan direpotkan, mengingat kejadian mandi beras waktu itu membuat mereka bekerja sama membersihkan ulah Ken tersebut.


Dan restoran pun benar-benar ditutup, padahal baru jam tujuh malam. Setiap ada tamu yang datang, mereka selalu meminta maaf dan menjelaskan bahwa restoran sedang disewa untuk acara.


"Ok... ready!" Ken berteriak memberikan instruksi pada semuanya untuk melihatnya.


Ken memang suka sekali menjadi pusat perhatian. Jika tidak ada yang memperhatikannya, pasti dia akan mendekati orang tersebut dan mengajaknya berbicara terus menerus.


"Ready....!" jawab mereka semua.


Dan benarlah apa yang terjadi, sesuai prediksi mereka semua. Belum juga mereka membuat adonan, kini tubuh Ken dari atas sampai bawah penuh dengan tepung. Dan parahnya lagi, Ken juga menaburi tubuh Raline dengan tepung. Semakin Raline menghindar, semakin gencar Ken melempar tepung ke tubuh Raline. Dan jadilah mereka berdua adonan manusi yang berlumur tepung.


Semua itu berhasil diabadikan oleh Aydin menggunakan kamera dan dibagikan pada mereka semua melalui grup seperti biasanya.


Kini Raline terlihat sangat bahagia. Raditya menatap putrinya itu dengan senyum lega dan bahagia karena Raline bisa tumbuh dengan baik dan penuh kebahagiaan tanpa ibu kandungnya yang meninggalkannya.


"Di, gak mau nikah lagi?" tiba-tiba Kiki duduk di sebelah Raditya dan mengagetkannya dengan pertanyaannya.


"Buat apa Ki? Pacar aja gak kepikiran apalagi nikah," Raditya terkekeh menjawab pertanyaan Kiki.


"Beneran gak butuh sosok istri?" Kiki mencoba menggoda Raditya dengan ucapannya.


"Beneran Ki, ngapain punya istri tapi yang di hati malah orang lain," Raditya menjawabnya dengan terkekeh.


"Di... gak isah mulai deh," Kiki sungguh takut jika Raditya tidak bisa move on darinya.

__ADS_1


"Hahaha... bercanda Ki... lagian kamu tuh nyuruh aku nikah, padahal Raline aja gak pengen punya ibu sambung. Dia udah bahagia punya Mami kayak kamu dan semua keluarga di sini yang menyayanginya," Raditya tersenyum tulus melihat Kiki.


Aydin memperhatikan mereka dari tempatnya berada. Dia memang cemburu melihat Kiki jika bersama Raditya, namun Aydin yakin jika Raditya tidak akan mengingkari janjinya meskipun Aydin tahu dari tatapan mata Raditya masih menyimpan rasa cinta untuk Kiki.


__ADS_2