
Resti memang mengakui semua bukti itu memanglah benar, itupun karena bukti yang diberikan sangatlah jelas dan dia tidak bisa memungkirinya lagi.
Sialan, dapat dari mana dia semua itu? Jadi selama ini dia sebenarnya udah tau semua tapi gak pernah mempermasalahkannya. Berarti dia cinta beneran dong sama aku. Ok, kamu pasti akan jadi milikku Ali. Meskipun ini bukan anakmu, akan ku pastikan jika kamulah ayah dari anak yang ku kandung, Resti berkata dalam hatinya dengan derai air mata yang dia buat agar semua mengiba padanya.
"Kamu jahat Ali! Ini anakmu Ali, kamu harus mengakuinya," ucap Resti dengan berurai air mata.
"Akan aku buktikan bukan aku ayah dari anak itu!" ucap Ali sambil berdiri dari duduknya.
Ali membisikkan sesuatu pada sahabat-sahabatnya dan mereka segera meninggalkan rumah Ali untuk menjalankan perintah dari Ali.
"Kalian tunggu di sini. Dan pastikan kamu tidak akan kaget nanti," Ali menunjuk Resti sambil menunjukkan raut muka kemarahannya.
Resti menoleh pada ayahnya. Dan ayahnya menganggukkan kepalanya untuk menenangkan Resti.
Kamu pikir hanya kamu saja yang sudah menyiapkan semuanya? Bahkan aku lebih pintar dari kamu Ali, Resti berkata dalam hatinya dengan senyum tipis ketika melihat Ali yang sangat yakin bisa lepas dari tuntutan Resti.
Tak lama kemudian datanglah Putra bersama sahabat-sahabat Ali. Ternyata bukti yang dimaksudkan Ali adalah Putra yang sebenarnya menjadi pelaku dan saksi kuat untuk membebaskan Ali dari tuduhan Resti.
Tentu saja Resti kaget melihatnya. Dia tidak mengira jika Putra akan dibawa Ali ke hadapan mereka.
Yang membuat Resti menjadi heran adalah begitu mudahnya Putra bisa didatangkan oleh mereka ke rumah Ali. Karena setahu Resti, Putra bukan tipe orang yang suka diatur dengan mudahnya. Hingga orang tuanya saja tidak bisa mengaturnya. Bahkan dia tidak pernah memiliki pacar karena tidak suka dikekang ataupun diatur oleh pacarnya. Dan karena itulah Resti hanya dijadikan pelampiasannya saja selama ini.
"Dia Putra, laki-laki yang akhir-akhir ini berhubungan dengan Resti. Dan dia juga yang ada dalam video yang kita lihat tadi," Ali memperkenalkan Putra yang kini sudah berdiri di hadapan mereka.
"Benar begitu?" tanya ayah Ali pada Putra.
Putra hanya diam saja seolah tidak mendengar apapun dan itu membuat Resti tersenyum senang. Resti merasa dia akan dengan mudah mempermalukan Ali dan mendapatkannya tanpa usaha yang lebih menguras air matanya lagi.
Ali menatap Putra dengan tatapan bengis dan itu berhasil membuat Putra menjawab pertanyaan dari ayah Ali.
"Iya Pak," jawabnya singkat.
__ADS_1
"Berarti anak dalam kandungan Resti adalah anakmu?" tanya ayah Ali kembali pada Putra.
Resti dan ayahnya cemas, mereka khawatir jika Putra menjawab yang sebenarnya.
Ayah Resti tidak mengetahui perihal Putra. Hanya saja dia tidak menginginkan Putra menjadi suami Resti karena menurutnya Putra tidak memiliki masa depan yang cerah untuk keluarga mereka.
Ayah Resti berusaha untuk mendukung Resti mendapatkan Ali untuk bertanggung jawab pada kehamilan Resti. Cara apapun akan dilakukannya agar keluarganya tidak malu dengan apa yang terjadi pada Resti.
"Saya memang sering melakukannya bersama dengan Resti, tapi saya tidak yakin jika itu anak saya," jawab Putra dengan entengnya.
"Maksud kamu?" tanya ayah Ali kembali.
"Dia perempuan yang gampang sekali diajak melakukan itu dengan laki-laki. Jadi saya tidak yakin jika itu adalah anak saya," jawab Putra dengan senyum yang merendahkan ketika melihat Resti.
Resti sangat kesal pada ucapan Putra, karena Putra yang menjelek-jelekkannya. Bahkan dia sangat marah ketika ingat semua yang dilakukannya untuk menyenangkan Putra.
Sontak saja ayah Resti berdiri dari duduknya dan berteriak pada Putra,
Putra hanya menertawakan reaksi ayah Resti yang tidak terima akan kebenaran tentang putrinya yang dia sampaikan di hadapan semua orang.
"Sudah jelas bukan jika aku bukan yang menghamilinya? Sekarang lebih baik kalian pergi dari sini dan berbicaralah sendiri pada laki-laki ini agar mau mempertanggung jawabkannya," Ali tersenyum dan beranjak akan masuk ke dalam rumahnya.
"Tapi aku yakin ini anakmu Ali. Pokoknya kamu harus mempertanggung jawabkannya," ucap Resti dengan mengeluarkan air matanya.
Resti beranjak dari duduknya dan menghalau jalan Ali dengan berdiri di hadapannya sambil memegang tangan Ali dengan eratnya.
Dengan sigapnya Ali segera menghempaskan tangan Resti yang memegangnya dengan erat.
"Lepaskan!" Ali berteriak dengan memberikan wajah bengisnya.
Belum sempat Ali masuk ke dalam rumah, ternyata banyak rombongan warga sekitar yang datang ke rumahnya untuk menuntut Ali agar bertanggung jawab atas kehamilan Resti.
__ADS_1
Mereka merupakan orang-orang yang dimintai tolong oleh ayah Resti untuk membantunya menuntut Ali. Ayah Resti memberitahu pada mereka bahwa Ali tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan Resti, sehingga mereka dimintai tolong agar berbondong-bondong datang ke rumah Ali untuk membantunya menuntut Ali mempertanggung jawabkan atas perbuatannya pada Resti.
Mata kedua orang tua Ali terbelalak mendapati hampir seluruh warga datang ke rumahnya hanya untuk menuntut Ali bertanggung jawab pada kehamilan Resti.
Bahkan Ali dan sahabat-sahabatnya tidak mengira jika Resti dan ayahnya akan selicik itu, menggunakan warga setempat untuk membantu mereka mendapatkan keinginannya.
Dan yang lebih parahnya lagi, Ali tidak mengetahui jika Resti telah menghubungi Rania untuk memberitahukan semuanya, memberitahukan bahwa dia hamil anak dari Ali.
Syok, sangat sedih dan terpukul sekali yang dirasakan Rania saat ini. Tidak henti-hentinya dia menangis, hingga pada saat yang tepat Raline menghubunginya.
Mengetahui sahabatnya yang sedang menangis hingga tersedu-sedu itu, Raline merasa bahwa dirinya sangat dibutuhkan oleh Rania saat ini.
Kebetulan sekali saat itu Raline berada di rumah Kenshin sehingga Kenshin menemani Raline untuk mendatangi rumah Rania.
"Mau ke mana kalian?" tanya Kiki ketika melihat Raline dan Kenshin membawa tas mereka.
"Mau ke rumah Rania Mi. Maaf Mi Raline terburu-buru. Nanti Raline ceritakan, sekarang biarkan Raline ke rumah Rania sekarang," jawab Raline dengan terburu-buru.
"Ken yang mengantar Raline kan?" tanya Aydin pada Raline dan Kenshin yang akan beranjak dari tempatnya berdiri.
"Iya Pi, Ken akan tunggu dia dan membawanya ke rumah ini lagi," jawab Kenshin dengan cepat.
"Baiklah, hati-hati. Dan jangan terlalu malam," ucap Aydin dan diangguki oleh Raline dan Kenshin.
"Ken, ayo buruan. Kasihan Rania, dia sedang butuh aku," Raline berkata dengan cemas pada Kenshin.
"Pak, percepat lajunya tapi harus tetap hati-hati. Jika ragu, jalan dengan kecepatan biasa saja," perintah Kenshin pada sopir yang mengantarkan mereka.
Raline menatap kesal pada Kenshin, karena dia tidak menuruti apa yang diperintahkan olehnya.
Bukannya menyuruh Pak supir untuk mempercepat lajunya malah menyuruh agar berkendara dengan kecepatan biasa aja. Sumpah deh Ken nyebelin banget. Dan memang bukan Kenshin namanya kalau gak nyebelin kayak gitu, Raline berkata dalam hatinya yang sedang kesal pada Kenshin.
__ADS_1