Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
104


__ADS_3

Linda berada di depan jendela kamar kos Riko. Awan hitam yang bergelayutan di langit seakan menjadi simbol kekalutan hatinya. Kedua orang tuanya sudah datang ke kota ini setelah mendengar bahwa Linda memutuskan untuk bercerai.


Marah? Sudah pasti mereka marah. Mereka seolah mengkhianati kepercayaan dan wasiat dari orang tua mereka yang sudah menjodohkan cucu mereka.


Kini awan yang mendung perlahan mengeluarkan air hujan yang seolah mengerti hati Linda yang bergemuruh menahan air mata yang akan keluar. Namun, suara petir yang begitu kencangnya membuat air mata Linda keluar dengan sendirinya.


Tidak, tidak... aku tidak menangis sedih karena perceraianku, aku menangis hanya karena takut petir, Linda membatin untuk menghibur dan menguatkan dirinya.


"Apakah benar keputusanku? Petir? Raline sangat takut petir, pasti dia menangis jika mendengar suara petir. Aku harus meneleponnya," tanpa pikir panjang Linda mengambil ponselnya dan menghubungi nomer Raditya.


Berkali-kali Linda menghubungi Raditya tetapi tidak diangkat. Karena merasa diabaikan oleh Raditya, kini Linda menghubungi nomer Renita. Pada dering kedua, panggilan Linda akhirnya diangkat oleh Renita.


"Halo Ren, apa Raline baik-baik aja? Dia gak nangis kan ada suara petir?" Linda berucap melalui telepon.


Masih ingat anak Teh? Kenapa baru sekarang Teh Linda ingat sama Raline. Kemarin-kemarin Teteh keman aja? Bahkan Teteh tidak tau kan Raline udah bisa apa aja? Renita menjawab dari seberang sana.


"Ren, aku sibuk kerja. Kamu tau sendiri kan aku bekerja dan pekerjaanku seperti apa," Linda kesal dengan jawaban Renita di telepon.


Sibuk kerja? Kerja apaan Teh? Kerja tidur sama laki-laki lain? cibir Renita dari seberang sana.


"Ren, kamu lama-lama gak sopan ya? Kamu-"


Itu fakta Teh, kenyataan. Gak sopan dari mananya? Renita emosi dan merasa lucu dengan jawaban Linda.

__ADS_1


Linda terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Renita, karena apa yang dikatakan oleh Renita adalah benar. Kebenaran yang memalukan namun tanpa pikir panjang dilakukan oleh Linda karena memenuhi kesenangannya.


Kenapa gak jawab Teh? Benar kan yang aku katakan? Tapi sepertinya Teteh sangat menikmatinya sampai-sampai Aa' udah merendahkan harga dirinya untuk memulai kembali dengan Teteh, tetep aja Teteh nolak, malah bawa pengacara yang ngurus surat cerainya. Semoga saja Aa' dan Raline lebih bahagia ketika tidak bersama Teteh, Renita mengeluarkan semua unek-uneknya pada Linda melalui telepon.


Tanpa berpamitan, Linda menutup teleponnya karena tidak tahan dengan kata-kata yang diucapkan oleh Renita. Semua benar adanya, semua yang dikatakan oleh Renita sangat menusuk hatinya.


Disimpannya ponselnya itu pada saku celananya. Linda kembali menatap langit yang hitam kelam seperti suasana hati dan hidupnya. Bayangan kebahagiaannya bersama Raditya dan Raline tergambar jelas di langit yang kelam itu. Jauh di lubuk hatinya berkata,


Kenapa aku meninggalkan mereka? Demi apa? Riko? Apa yang spesial darinya sehingga aku meninggalkan kebahagiaan nyata dan mempertahankan kebahagiaan yang semu?


Namun sepersekian detik gambaran Linda bersama Riko yang sedang memadu kasih terlihat pada langit yang kelam itu menggantikan gambaran kebahagiaan keluarga kecilnya.


Terasa tangan kekar yang melingkar di pinggangnya. Linda menoleh dan menghirup aroma kekasihnya yang berhasil menjauhkannya dari kebahagiaan keluarga kecilnya.


"Mikirin apa sayang?" tanya Riko dengan mengendus-endus leher dan pundak Linda.


Ini lah yang Linda suka dari Riko, perlakuannya kepadanya. Padahal Raditya pun memperlakukannya seperti itu, bahkan tidak tergesa-gesa karena takut ketahuan. Namun Linda lebih memilih Riko.


Pernah Linda ditanya oleh Raditya tentang hal ini, dan jawaban Linda sangat membuat Raditya marah. Linda menjawab bahwa mereka sama-sama memuaskannya, namun sensasi mereka berbeda. Dan Raditya pun mengatakan bahwa sensasi maling memang berbeda, karena mereka melakukannya dengan was-was, terburu-buru dan takut ketahuan.


Dan yang membuat Raditya marah adalah, Linda mengatakan bahwa mereka tidak melakukannya dengan terburu-buru karena mereka melakukannya dengan penuh perasaan.


Hati suami mana yang bisa tegar dan sabar mendengar jawaban istrinya seperti itu? Istrinya memuji laki-laki lain tentang hubungan ranjangnya, padahal istrinya juga mengatakan perlakuan mereka sama-sama memuaskan dirinya.

__ADS_1


Sungguh gila menurut Raditya jawaban Linda kala itu. Oleh sebab itu Raditya memutuskan untuk menceriakan Linda, namun ketika dia melihat wajah Raline, anaknya yang masih membutuhkan sosok seorang Ibu meskipun Linda tidak pernah ada untuknya, Raditya menjadi luluh, dia mau memulai kembali dengan Linda meskipun dia jijik untuk menyentuhnya. Dan untungnya saja, Linda lebih dulu memutuskannya untuk bercerai.


Linda kini terbuai oleh permainan jari dan lidah Riko sehingga dia mencapai titik kenikmatannya dimana dia menjadi puas dengan apa yang dia lakukan sekarang ini.


Bodohnya Linda, dia tidak pernah menuntut apa-apa dari Riko. Sampai saat inipun dia hanya tinggal dengan Riko di kamar kosnya yang sempit. Bahkan Ayah dan Ibu Linda pun lepas tangan karena kecewa dengan keputusan anaknya yang meminta bercerai dari suaminya tanpa berkonsultasi terlebih dahulu pada mereka.


Mereka sangat marah dan kecewa mengetahui alasan putrinya ingin bercerai. tentu saja mereka sangat malu pada keluarga Raditya yang merupakan anak dari sahabat kakeknya Linda.


Mereka sudah lepas tangan pada Linda. Mereka tidak ingin ikut lebih jauh dengan kehidupan Linda karena pada saat Ayah dan Ibunya marah karena keputusannya bercerai, Linda malah mengatakan bahwa dia tidak salah pilih dan lebih memilih untuk bersama Riko dibanding dengan Raditya.


Cukup disitu saja kedua orang tua Linda membahasnya. Mereka tidak ingin sakit hati dan kecewa terlalu dalam pada anaknya. Dan pada saat itu juga mereka langsung memutuskan untuk pulang ke kota mereka. Jauh-jauh mereka datang dari kota mereka hanya untuk mendengar kegilaan anaknya.


Perut Linda berbunyi kelaparan. Linda membangunkan Riko, namun Riko tak rela bangun dari tidurnya. Linda mendesah, saat begini dia rindu dengan saat-saat di bersama Raditya. Linda ingat pernah dalam situasi seperti ini dan dengan muka mengantuknya, Raditya bangun dari tidurnya dan mengajaknya berkendara untuk membeli makanan di luar.


Dalam sudut hatinya yang paling dalam dia berkata, Apa ini yang aku mau? Apa ini yang harus aku dapatkan? Apa udah benar pilihanku?


Linda menatap wajah Riko yang tak kalah tampan dari Raditya. Dia beruntung bisa berhubungan dengan dua lelaki tampan yang juga mencintai dirinya.


Diraihnya ponselnya yang tergeletak di meja kasur karena aksi panasnya tadi bersama Riko. Rasanya dia ingin sekali melihat wajah Raline, wajah yang lebih dominan pada Raditya. Dalam hati dia bertanya,


Bisakah aku memisahkan mereka? Bisakah aku mendapatkan putriku?


Namun ada suara yang terngiang di telinganya.

__ADS_1


Apa kamu bisa menanggung hidup putrimu sedangkan sekarang saja kamu hanya menumpang? Jika kamu bekerja, bagaimana dengan putrimu?


Dan suara itu adalah suara Raditya yang berdebat masalah hak asuh Raline dengannya pada waktu itu.


__ADS_2