Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
99


__ADS_3

"Sialan!" umpat Kenan melihat Linda duduk berbicara dan berdekatan sambil berpegangan tangan dengan Riko.


Raditya dan Kenan memperhatikan dari jauh namun terlihat sangat jelas bahwa itu mereka berdua, Linda dan Riko.


Raditya melihat dari jauh apa saja yang mereka berdua lakukan di tempat terbuka pada jam malam seperti ini.


Kenan tak habis pikir dengan Linda yang menurut Kenan kurang bersyukur. Karena kini Kenan merasakan sendiri berada di tengah-tengah keluarga Raditya begitu nyaman dan menyenangkan, sama seperti yang dikatakan oleh Kiki.


"Gimana Bro, apa kita datangi mereka?" Kenan sih ayo-ayo aja masalah labrak-melabrak dia tidak keberatan sama sekali.


"Hufftt... aku udah lelah Bang. Aku menolak untuk sakit hati lebih dalam lagi. Mendingan aku menyiapkan diri untuk hal yang terburuk mulai dari sekarang," Raditya mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar Linda dan Riko dengan sebanyak mungkin sebagai perlengkapan buktinya.


Setelah dirasa cukup, Raditya mulai menyalakan motornya.


"Tunggu, tunggu. Bro liat deh mereka juga mau pergi tuh. Kita buntuti aja yuk, penasaran pengen tau mau kemana," Kenan menyalakan motornya namun matanya masih memperhatikan Linda dan Riko.


Raditya dan Kenan mengikuti motor Riko menuju suatu tempat. Motor itu masuk ke dalam suatu kos-kosan yang menurut sepengetahuan Raditya adalah kamar kos milik Riko.


Dada Raditya bergemuruh. Jantungnya seolah berdetak tidak beraturan. Nafasnya naik turun menahan kemarahannya.


Kenan melihat Raditya sangat marah dari ekspresi wajahnya. Untuk yang pertama kalinya kini Kenan tau rasanya menangkap basah pasangan yang sedang selingkuh.


"Maaf Bro, kamu jadi menyaksikan ini," ucap Kenan menyesal.


"Gapapa Bang, aku udah punya semua buktinya. Hanya saja baru kali ini aku melihatnya sendiri," ucap Raditya.


Kenan kaget karena sudah sejauh itu Raditya mengetahuinya. Dan si Linda itu memang benar-benar tidak tahu diuntung.


"Apa kita tunggu di sini aja?" tanya Kenan ingin tahu rencana Raditya selanjutnya.


"Mereka lama Bang, orang lagi indehoy ditungguin," jawab Raditya lagi-lagi dia tersenyum getir.


"Serius? Mereka udah sampai tahap itu?" tanya Kenan tidak percaya.


"Berkali-kali, dan mungkin tiap hari," ucap Raditya getir sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


Kenan melangkah mundur, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Sebab inilah kita perlu mempunyai istri pilihan yang bukan hanya baik luarnya tapi juga akhlaknya.


"Sumpah, kalau aku udah gak bisa terima ini semua. Mending kita pisah dan cari yang benar-benar baik," Kenan merasa tidak terima Raditya diperlakukan seperti itu oleh Linda.


"Aku udah bicarakan sama dia Bang, sepertinya dia udah memilih. Huffft.... yuk Bang balik. Kita kayak nungguin kucing bertelur," candaan Raditya menyembunyikan luka hatinya.


Kenan ikut tertawa mendengar candaan Raditya, namun dia tau jika calon kakak iparnya yang lebih muda darinya ini menyimpan banyak luka yang harus dia tanggung dan dia harus mencoba sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya.


Sesampainya di rumah Raditya, Renita sudah menyambut di depan gerbang. Dia sengaja menunggu kakaknya di teras rumah dengan cemas. Apalagi sekarang Linda tidak ada di rumah. Renita takut kakaknya menjadi murka.


"A', Aa' gapapa kan?" tanya Renita cemas sambil menghampiri kakaknya.


Raditya menggeleng sambil tersenyum dan mengusap-usap kepala Renita, dia senang adiknya masih sangat perhatian padanya dan Raline, anaknya.


"Aa' ke dalam dulu ya," ucap Raditya.


"A' Teh Linda keluar tadi setelah Aa' pergi," ucap Renita agak takut.


Raditya tersenyum dan mengangguk. Kemudian dia meneruskan langkahnya menuju ke dalam rumah.


"Keterlaluan istrinya. Dia sekarang berada di kosannya Riko. Kata Raditya dia sering seperti itu, hampir tiap hari malah. Hubungan mereka sudah terlalu jauh. Jika aku diposisi Raditya pasti aku sudah tidak mau lagi menyentuhnya," Kenan menjawab dengan emosi.


"Udah lama kok Aa' gak tidur sekamar sama Teh Linda. Sejak Aa' punya bukti perselingkuhannya, Aa' bertengkar hebat dengan Teh Linda sampai Aa' bilang jijik dan najis gitu sama Teh Linda," Renita mengungkapkan semua yang dia tahu.


"Ya iyalah, siapa yang mau berbagi istri dengan pria lain apalagi tubuh istrinya habis dipakai pria lain," Kenan bergidik ngeri.


"Astaghfirullahaladzim.... kasihan Aa' yang melihat dengan mata kepalanya sendiri," ucap Renita sedih.


"Bantu kakakmu agar dia bisa kuat mengahadapi masalah ini, dan bantu dia untuk merawat Raline karena Ibunya sepertinya sudah tidak peduli lagi dengannya," Kenan mengusap rambut Renita dan berpamitan padanya untuk pulang.


"Abang pulang dulu ya. Assalamu'alaikum...," ucap Kenan sambil melambaikan tangannya pada kekasih hatinya.


"Wa'alaikumussalam... hati-hati Abang...," ucap Renita sambil melambaikan tangannya ke arah Kenan hingga sudah tidak terlihat lagi.


Raditya melangkahkan kakinya ke arah kamarnya, namun dia berhenti di kamar Renita dan melihat Raline yang sudah tertidur dengan nyenyak.

__ADS_1


Raditya mengusap pipi anaknya dan air matanya menetes dengan sendirinya. Dia tidak bisa melihat anaknya sedih dan hidup tanpa kehadiran seorang ibu. Namun jika terus seperti ini, bukan hanya dirinya yang menderita tapi juga keluarganya, dan dikemudian hari pasti Raline juga akan malu dan sedih jika mengetahui perbuatan ibunya.


Diraihnya tubuh anaknya itu dan digendongnya masuk ke dalam kamarnya. Untuk malam ini Raditya akan tidur di kamar ini karena Linda sudah bisa dipastikan tidak akan pulang malam ini. Entah dia akan pulang atau tidak Raditya sudah tidak mau tahu lagi.


Ketika Renita masuk ke dalam kamarnya, dia panik karena tidak mendapati Raline yang tertidur di ranjangnya. Kemudian Renita pergi ke kamar kakaknya, dan dia tersenyum lega melihat Raline didalam pelukan Raditya.


Mulai dari sekarang dia sudah membenci kakak iparnya itu. Kemarin-kemarin dia hanya diam saja karema masih merasa bukan urusannya meskipun sangar ingin membantu kakaknya, dan sekarang sikap dan perbuatan kakak iparnya itu sungguh keterlaluan menurutnya.


Adzan subuh menggema, Linda pulang disaat Abah dan Ambu sudah bisa dipastikan sedang menjalankan shalat subuh di Mushala.


Linda mengendap-endap agar tidak ketahuan Jika dia baru pulang sekarang.


"Baru pulang Neng?" tanya Kang Suta yang menangkap basah Linda yang berjalan mengendap-endap seperti maling.


"E-enggak Kang, ini tadi.... mau ke dapur," jawab Linda gugup.


"Oooow...," jawab Kang Suta sambil manggut-manggut.


Langsung saja Linda masuk ke dalam kamarnya dan melihat Raline tidur dalam pelukan Raditya.


Tak disadarinya bibirnya tersenyum. Tanpa sadar dia ikut bergabung dengan anak dan suaminya. Linda merebahkan tubuhnya di samping Raline dan memeluknya. Sungguh nyaman dan bahagia rasanya seperti ini, sama seperti waktu dulu.


Raditya merasakan pergerakan pada ranjang dan merasakan ada tangan yang memegangnya.


Pelan-pelan dibukalah matanya, dan betapa kagetnya dia melihat Linda dengan santai dan nyamannya tidur bersama Raline dan dirinya.


Raditya menghempaskan tangan Linda sehingga mata Linda terbuka.


"Apaan sih A' aku ngantuk," ucap Linda kemudian kembali memejamkan matanya.


"Aku mau dengar jawaban kamu sekarang," ucap Raditya tegas.


"Jawaban apa?" ucap Linda dengan memejamkan matanya.


"Kamu mau berhenti kerja dan meninggalkan pria itu atau kita pisah?"

__ADS_1


__ADS_2