Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
133


__ADS_3

"Re, sepertinya kamu.... mmm lebih baik aku periksa kamu sebelum aku mengatakannya, aku harus memastikannya dulu," ucap Kiki disela makannya yang masih disuapi oleh Aydin bergantian dengan menyuapi dirinya sendiri.


"Periksanya dimana?" tanya Kenan bingung.


"Terserah, mau di hotel ini? tapi di kamar kalian aja, karena kita barusan check out," jawab Kiki.


"Aku juga udah check out tadi, kan disuruh Pak Bos sekalian check out tadi pas ditelepon," ucap Kenan dengan menekankan setiap katanya dan melihat ke arah Aydin agar Aydin merasa tersindir.


Namun Aydin tetap cuek dan sibuk menyuapi Kiki dan dirinya sendiri. Dia tidak terpengaruh oleh ciutan dari Kenan.


"Ki, emangnya Renita kenapa? Jangan nakut-nakutin Ki, ini di Jepang loh sekalian honeymoon, kalau kamu nakut-nakuti, bisa-bisa kita gak jadi honeymoon," ucap Kenan resah.


"Apaan sih Bang Ke, pikirannya aneh-aneh aja," Kiki melempar gulungan tisu pada Kenan.


"Issh Ki, gak elegan banget ditimpuk pakai gulungan tisu, pakai gulungan duit aja pasti akan dengan senang hati aku terima," ucap Kenan dengan tersenyum lebar memperlihatkan giginya.


"Husss... ini di Jepang, malu-maluin aja berantem di restoran hotel," Aydin mulai bersuara menghentikan perdebatan Kiki dan Kenan.


Tiba-tiba suara ponsel Aydin berdering, namun setelah dia melihat layar ponselnya, dia tetap tidak mengangkat telepon tersebut. Panggilan telepon itu diacuhkan, itu berarti ada yang tidak beres dengan panggilan telepon tersebut.


Kiki menatap heran suaminya, namun dia tersenyum ketika Aydin kembali menyuapinya sambil tersenyum padanya. Bagaimana bisa marah pada suami yang seperti ini? Sungguh sangat bersyukur Kiki mempunyai suami yang sangat mencintainya dan menghargainya benar-benar sebagai seorang istri.


Seperti yang selalu dikatakan oleh Aydin, istrinya adalah permata kehidupannya, jadi Kiki harus dia jaga dan perlakukan dengan sangat baik agar tetap bercahaya dalam kehidupannya.


Beberapa detik kemudian dering ponsel Kenan terdengar. Kenan mengambil ponselnya dan melihatnya, kemudian dia melihat Aydin dan berkata,


"Bro, Cindy. Gimana ini?" tanya Kenan pada Aydin dengan memperlihatkan ponselnya di depan Aydin.


"Jawab aja, palingan urusan bisnis. Selain itu aku gak mau," jawab Aydin dengan tegas.


"Sayang, apa itu tadi Cindy yang menghubungimu?" tanya Kiki yang merasa cemas.


"Iya. Sepertinya dia tergolong wanita yang tidak tau malu. Setelah kejadian kemarin, dia masih berani menghubungiku," jawab Aydin dengan memandang wajah Kiki dan mengusap lembut pipinya untuk menenangkannya.


"Apa sering dia menghubungimu?" tanya Kiki yang masih merasa resah.


"Awalnya untuk urusan bisnis. Setelah lama-kelamaan dia selalu menghubungiku dan tidak pernah aku jawab," Aydin menjawab jujur pertanyaan Kiki.

__ADS_1


Kiki merasa bertambah resah dan gelisah, karena wanita pengganggu suaminya merupakan klien yang harus ditemuinya. Dia tidak bisa melepaskan suaminya pergi karena wanita tersebut sangat licik. Tapi Kiki merasa tidak adil bagi suaminya jika dia selalu mengikuti suaminya.


"Percayalah Sayang, aku tidak pernah mengangkat panggilan telepon darinya. Kenan yang selalu aku suruh untuk mengangkatnya," ucap Aydin untuk menenangkan hati istrinya yang sepertinya sedang resah karena kehadiran Cindy.


"Bro, Cindy mengajak bertemu untuk pertemuan yang membahas tentang kelanjutan proyek yang kemarin. Bagaimana?" tanya Kenan yang baru saja datang setelah mengangkat panggilan dari Cindy.


"Ya sudah, jika tentang pekerjaan kita lakukan agar cepat selesai dan tidak bertemu dengannya lagi. Tapi... kamu ikut ya Sayang," ucap Aydin menjawab pertanyaan Kenan dan dia mengajak Kiki untuk ikut dengannya.


"Apa tidak masalah?" tanya Kiki ragu.


"Siapa yang berani mempermasalahkan kehadiran istriku? Jika ada yang keberatan dnegan kehadiran istriku, lebih baik aku mundur saja dari proyek ini," ucap Aydin meyakinkan Kiki.


Reflek saja Kiki berhambur memeluk Aydin yang duduk di sebelahnya.


"Ehemm... aku juga bisa kayak gitu," ucap Kenan yang dengan segera memeluk Renita, tapi badan Kenan dijauhkan oleh Renita dari tubuhnya.


"Kenapa Sayang? Abang pengen kayak mereka loh," ucap Kenan dengan mengiba.


"Perut aku gak enak, mual, pengen mun-" ucapan Renita terjeda karena rasa mualnya kembali dirasa.


Aydin pun mengikuti Kiki di belakangnya, namun dengan langkah lebarnya dia berhasil menyusul langkah kaki Kiki dan berjalan bersama dengan tangannya yang berada di pinggang Kiki.


Sesampai di dalam mobil, Kiki segera mengambil perlengkapannya yang dari kemarin masih ada di tas, belum dibongkar sama sekali karena mereka langsung masuk ke dalam hotel tanpa membawa koper mereka, hanya tas mereka saja yang mereka bawa.


Kiki tersenyum ketika memeriksa perut Renita, dan dia berdoa dalam hati agar Renita dan Kenan segera diberikan keturunan.


"Bang Ke, bisa berhenti di apotek gak? Aku mau beli sesuatu untuk Rere karena aku ingin memastikan sesuatu," ucap Kiki sambil mengembalikan lagi stetoskop yang dia pakai ke dalam tas perlengkapannya.


Sebagai seorang dokter, Kiki selalu sigap. Dia selalu membawa perlengkapan untuk memeriksa ke mana pun dia berada sebagai antisipasi jikalau ada yang membutuhkannya.


Dan benarlah, selalu saja sering dia gunakan peralatan tersebut untuk membantu orang. Tak terkecuali suaminya yang kemarin sempat dia periksa di mobil sewaktu dalam perjalanan di mobil sehingga dia bisa membeli obat tidur untuk Aydin di apotek yang dia jumpai di jalan kemarin.


Kiki membeli test pack dan memberikannya pada Renita ketika mereka sampai di hotel yang beberapa hari sudah ditempati oleh Aydin dan Kenan.


Aydin sengaja menyuruh Kenan untuk mengubah tempat meeting mereka ke hotel yang mereka tempati agar tidak ada lagi kejadian seperti kemarin. Dan mau tidak mau Cindy dan Papanya setuju untuk bertemu di hotel mereka.


Kiki mengikuti Aydin ke dalam pertemuan setelah mengganti baju mereka di dalam kamar Aydin. Dan Renita pun mulai memakai testpack tersebut di kamar Kenan.

__ADS_1


Dengan jalan yang sangat hati-hati Kiki mencoba berjalan anggun dan tersenyum agar Cindy terintimidasi olehnya. Tatapan yang diberikan oleh Kiki pada Cindy sangat mengintimidasinya, namun Cindy yang memang merupakan wanita tidak tahu malu, dia merasa biasa saja seperti tidak ada apa-apa diantara mereka.


Dengan bangganya Aydin memperkenalkan Kiki sebagai istri yang sangat dicintainya. Bahkan kata sangat dicintainya itu diucapkan Aydin di hadapan orang banyak, sehingga mereka semua tertawa dan memuji cinta Aydin pada Kiki. Dan mereka juga memuji Kiki yang sangat cantik, anggun dan terlihat cerdas.


Dengan bangganya Aydin memberitahukan bahwa Kiki merupakan pimpinan di rumah sakitnya. Dan semua orang benar-benar kagum padanya. Kecuali Cindy yang menatap Kiki dengan penuh permusuhan.


Kiki duduk di sebelah kanan Aydin dan Kenan duduk di sebelah kiri Aydin. Kenan membantu Aydin tentang pekerjaannya, namun Kiki membantu Aydin dengan merawatnya, seperti mengambilkannya minum, mengelap keringatnya dan lain sebagainya.


Untung saja Aydin tidak mencampur adukkan masalah kemarin dengan pekerjaan, karena bisa dipastikan jika Aydin memberitahu orang-orang semuanya tentang perbuatan Cindy padanya kemarin, sudah pasti Papanya akan malu olehnya.


"Aydin, aku ingin berbicara sesuatu denganmu," ucap Cindy menghentikan Aydin yang akan meninggalkan mejanya.


Cindy memang sengaja tidak keluar dari ruangan tersebut karena Aydin selalu keluar ruangan terakhir kali, sehingga semua orang sudah keluar dari ruangan tersebut.


"Maaf, aku tidak bisa," ucap Aydin tegas seraya membantu Kiki untuk berdiri daei tempat duduknya.


"Jadikan aku istri keduamu," ucap Cindy dengan lantang dan tidak tahu malu.


Sontak saja Kiki dan Aydin menoleh pada Cindy. Mereka tidak percaya ada wanita yang dengan tidak tahu malunya mengatakan hal seperti itu pada sepasang suami istri.


"Kamu gila!" seru Aydin dengan emosi.


"Munafik jika kamu tidak tergoda denganku. Aku cantik, pintar dan juga mapan, tidak kalah dengan istrimu, lalu apa yang membuatmu ragu?" ucap Cindy yang masih dengan tidak tahu malunya.


"Cih, aku jijik dengan wanita sepertimu! Bagiku wanitaku hanya dia, istriku, tidak ada yang lain. Cantik, pintar, seksi, mapan, apalagi yang tidak dia punya? Oh iya dia sangat baik hati, tidak sepertimu yang berhati biadab!" seru Aydin tidak bisa menahan emosinya lagi.


Kiki memegang lengan Aydin untuk menenangkannya sedangkan Kenan hanya tersenyum melihat Cindy yang diberikan kata-kata hinaan oleh Aydin.


"Jangan hubungi saya lagi jika tidak ingin malu dihadapan orang banyak!" seru Aydin kembali mengingatkan Cindy yang menurutnya sangat tidak tahu malu itu, kemudian dia meninggalkan ruangan dengan menggandeng istrinya.


Kenan menyeringai menatap Cindy yang berwajah kesal setelah Aydin meninggalkan ruangan tersebut dengan menggandeng pinggang Kiki seperti biasanya.


"Dasar wanita tidak tahu malu. Di mana-mana wanita yang benar itu tidak mau dijadikan istri kedua, nah ini malah menawarkan diri. Gak ada akhlak nih orang," cibir Kenan dengan suara yang sengaja dibesarkan agar Cindy mendengarkan ucapannya sambil berjalan keluar dari ruangan tersebut.


Cindy sangat kesal dan emosi. Baru kali ini dia ditolak oleh seorang lelaki. Dan dia lebih kesal dan emosi ketika keinginannya tidak bisa terpenuhi. Cindy mempunyai harga diri dan ego yang tinggi sehingga dia tidak mau dikalahkan oleh siapapun, tak terkecuali oleh Kiki. Dan mulai detik itu juga, Cindy ingin menghancurkan Kiki sehingga Aydin bisa dia miliki, entah itu secara paksa atau tidak, dia sama sekali tidak peduli, yang dia tahu adalah keinginannya bisa terpenuhi dan harga dirinya tidak lagi merasa diinjak-injak oleh orang lain.


Kalian lihat saja nanti, apa yang akan aku perbuat dan apa yang nantinya akan terjadi pada kalian, Cindy berkata dalam hatinya dengan senyum licik yang selalu ditampilkannya apabila dia sedang menginginkan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2