Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
168


__ADS_3

Siang ini Raditya tergesa-gesa karena tiba-tiba saja Kiki memintanya untuk mengantarkannya menyiapkan pesta untuk ulang tahun pernikahannya bersama dengan Aydin.


Aydin memang sudah mulai kembali bekerja dan siang ini dia dijaga ketat oleh Kenan berdasarkan perintah dari Kiki. Kenan diperintahkan Kiki untuk menjaga Aydin agar tidak ke mana-mana karena Kiki akan mempersiapkan kejutan ulang tahun pernikahan mereka bersama Raditya siang ini. Mau tidak mau Kenan harus mematuhi perintah dari Ibu negara kerajaan yang dibangun oleh Aydin.


"Mau ke mana Bro? Ini banyak banget yang harus dikerjakan," ucap Kenan sambil membawa tumpukan map yang menjulang tinggi hingga hampir menutupi penglihatannya.


"Mau ketemu bini sama anak, kangen aku sama mereka. Lah tuh ngapain kamu bawa tumpukan map segitu banyaknya?" tanya Aydin pada Kenan dengan heran sambil memakai jasnya.


"Kerjain nih semua," perintah Kenan pada Aydin sambil meletakkan map-map tersebut di atas meja kerja Aydin.


"Gak waras kamu? Segitu banyaknya?" tanya Aydin kesal.


"Yo'i Bro, harus selesai hari ini juga," jawab Kenan dengan senyum lebarnya.


"Kamu pikir aku guru yang harus meriksa satu-satu tugas muridnya?" Aydin semakin kesal mendengar jawaban dari Kenan.


Kenan enggan menjawab karena dia mengerti jika Aydin sekarang sedang marah dan kesal padanya, dia hanya tersenyum lebar dan misinya harus berhasil untuk mencegah Aydin pergi dari kantor. Jika dia gagal, sudah pasti Kiki akan marah besar padanya.


"Udah Bro buruan kerjain biar bisa cepat pulang, biar bisa cepat ketemu bini sama anak-anak," Kenan mencoba mempengaruhi Aydin agar mau mengerjakan map-map yang ada di atas meja kerjanya.


"Ck, padahal udah semangat mau ketemu sama anak-anak," Aydin mencebik kesal.


"Semangat nemuin anak-anak apa bini?" Kenan meledek Aydin yang terlihat sangat kesal padanya.


"Udah tau pakai nanya," jawab Aydin yang semakin kesal pada Kenan.


Aydin menatap tajam Kenan. Namun tak ayal Aydin melepas kembali jasnya dan kembali duduk di kursinya. Map pertama dia buka, namun alisnya mengernyit dan membolak-balikkan map yang dia pegang.


"Bro, ini beneran harus dikerjakan sekarang?" Aydin bertanya pada Kenan dengan wajah bingung.


"Iya, kenapa?" tanya Kenan sambil duduk santai dengan kakinya yang menyilang.


"Kami gak ngibulin bos kamu ini kan? Ini bukannya proyek pada saat aku lagi sakit?" Aydin menunjukkan lembaran file yang sedang dia pegang untuk dikerjakan dengan menekankan kata 'bos' ketika mengucapkannya agar Kenan sadar dia berhadapan dengan siapa sekarang ini.

__ADS_1


Kenan kikuk, dia takut jika Aydin benar-benar mengetahui dirinya sedang berbohong mengenai semua map yang ada di hadapannya.


Waduh gawat! Gimana ini kalau Aydin sampai tau? Bisa dijadikan pepes aku, Kenan berkata dalam hati sambil memasang senyumnya agar tidak terlihat jelas jika dia sedang berbohong.


"Enggak lah. Udah kamu kerjain dulu itu, aku tungguin di sini," Kenan memberikan perintah pada Aydin seperti layaknya seorang bos.


"Kamu ngapain di sini? Ke ruangan kamu sendiri sana," ucap Aydin penuh dengan kekesalan.


"Kerjaanku udah selesai Bro. Sekarang aku mau nungguin kamu di sini. Siapa tau bosku ini butuh bantuan dariku," ucap Kenan dengan senyum lebarnya menutupi kecemasannya.


Aydin sangat kesal hingga dia tidak bisa fokus untuk mengerjakan satu pun map yang ada di depannya. Sedangkan Kenan was-was, dia takut jika Aydin benar-benar mengetahui kebohongannya.


Tring!


Suara notifikasi pesan terdengar dari ponsel Kenan. Dilihatnya layar ponselnya, tertera nama Kiki di sana.


[Bang Ke, aman kan?]


[Aman. Cepetan sebelum singa kembali mengaum. Dari tadi ngomel pengen pulang nemuin bininya]


Sudah sepuluh menit Kenan menunggu balasan pesan dari Kiki, namun balasan pesan dari Kiki tak kunjung datang. Kini giliran Kenan yang kesal karena dia harus standby kapan pun Kiki memerintahnya meskipun dalam bentuk pesan ataupun telepon.


......................


Di sebuah butik ternama yang biasanya keluarga Aydin dan Kiki kunjungi, kini Kiki diantar oleh Raditya untuk mengambil gaun milik semua anggota keluarganya, tak terkecuali Raline. Sudah menjadi rahasia publik jika di setiap kesempatan Raline selalu hadir menemani Kenshin dan Miyuki bersama Aydin dan Kiki. Jadi butik tersebut sudah mengetahui semua ukuran anggota keluarga Aydin dan Kiki.


"Di, ini jas milikmu, cobalah," ucap Kiki sambil memberikan jas yang dipesannya untuk Raditya menghadiri acara peringatan ulang tahun pernikahan Kiki dan Aydin.


Raditya mendekat dan mengambil jas tersebut dari tangan Kiki. Di hadapan cermin yang ada di dekat mereka, Raditya memakainya dan membalikkan badannya ke samping kiri, kanan dan belakang untuk melihat dari cermin.


"Bentar deh, ini kurang rapi," ucap Kiki sambil merapikan kerah jas tersebut.


"Wah.... wah... wah... kalian akan menikah?" tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang tidak asing di telinga mereka dari arah belakang mereka.

__ADS_1


Ternyata suara tersebut adalah suara milik Linda. Dia baru memasuki butik tersebut dan melihat Kiki yang merapikan jas yang dipakai oleh Raditya dari pantulan cermin yang berada di hadapan mereka.


Linda memakai setelan baju mewah dengan menjinjing tas mewahnya memasang wajah angkuh di depan Raditya dan Kiki.


Pantas saja Linda mengira Kiki dan Raditya akan menikah, karena sekarang Kiki sedang memakai gaun putih yang akan dia kenakan di pesta perayaan ulang tahun pernikahannya dengan Aydin esok hari. Sedangkan Raditya sekarang memakai jas warna hitam yang sangat pas dipakai di tubuh Raditya yang kekar karena sekarang Raditya selalu menemani Aydin untuk berolahraga baik di gym maupun olahraga beladiri dan basket.


Linda salah sangka pada Raditya, padahal harusnya Aydin lah yang akan bersanding kembali dengan Kiki pada perayaan hari ulang tahun pernikahan mereka dengan setelan jas warna senada dengan Kiki, yaitu warna putih. Sedangkan jas yang dipakai Raditya warna hitam.


Namun memang jika orang tidak mengetahui hubungan mereka, pasti akan mengira mereka adalah pasangan suami istri yang bahagia. Sikap mereka dari dulu tidak berubah, sangat dekat seperti saudara dan bercanda di setiap kesempatan.


Seperti sekarang ini, Kiki merapikan kerah jas Raditya, pasti orang akan berpikiran jika mereka adalah pasangan suami istri. Padahal mereka sahabat dan.... saudara sepersusuan kata Kiki.


"Ngapain kamu di sini?" Raditya balik bertanya pada Linda dengan nada tidak. bersahabat.


"Memangnya aku gak boleh datang ke butik ini?" Linda balik bertanya pada Raditya.


"Orang sepertimu harusnya dilarang masuk ke tempat seperti ini," jawab Raditya dengan ketus.


"Orang sepertiku? Seperti apa maksudmu? Asal kalian tau aja ya, aku gak segembel yang kalian pikir," ucap Linda dengan emosi.


"Kalau jadi simpanan bapak-bapak tapi masih gembel juga, berarti gak sukses jadi simpanan. Mending sekalian jual diri aja," Raditya tidak kalah emosi dengan Linda.


Memang sejak kejadian Linda menemui Raline dan menyuruh Raline menjauhi keluarga Raditya waktu itu, Raditya sangat emosi dan ingin menghabisi Linda. Namun Aydin dan Kiki melarangnya. Dan kini emosi Raditya kembali ketika melihat wajah Linda yang dengan tidak tahu dirinya memulai percakapan dengan menuduh Kiki dan Raditya.


"Kamu berubah, sekarang omongan kamu tidak mencerminkan seorang Raditya yang dulu aku kenal. Apa karena cinta pertamamu ini?" ucap Linda dengan angkuhnya.


Raditya semakin marah dan dia ingin sekali memukul wanita yang ada di hadapannya itu. Terlihat jelas jika Raditya marah, tangannya mengepal, raut wajahnya mencerminkan kemarahannya yang teramat sangat pada Linda. Kiki mengetahui itu, dan Kiki tidak ingin memperburuk keadaan. Oleh sebab itu Kiki segera mengajak Raditya untuk pergi dari butik tersebut karena urusan mereka sudah selesai.


"Di, udah biarin aja. Yuk pulang," Kiki menarik tangan Raditya menjauhi Linda.


"Kasihan ya Kak Aydin yang sangat baik malah dikhianati oleh istrinya yang gak tau diri," Linda menyindir Kiki dengan angkuhnya.


Plak!

__ADS_1


__ADS_2