
Raline menghela nafasnya dengan berat. Dia tidak menyangka jika kehidupan yang dilihat oleh orang lain membuat mereka iri dan menginginkan berada di posisinya.
Tanpa mereka sadari jika sebenarnya kehidupan Raline tidak sebahagia yang mereka lihat. Ada kalanya Raline merindukan sosok Bundanya yang meninggalkannya sejak kecil. Hanya saja Raline tidak pernah memperlihatkannya pada siapapun.
Kiki mengetahui apa yang dirasakan oleh Raline. Dengan segera Kiki mendekati Raline dan memeluknya untuk memberikan ketenangan padanya.
Raline hanya tersenyum getir pada Kiki ketika Kiki mengurai pelukannya. Sebenarnya dia ingin sekali menangis, namun tidak bisa karena di depannya sekarang ini ada orang-orang yang paling dia cintai.
"Cantik gak boleh sedih ya. Ingat, kita semua selalu ada untuk kamu," Kiki berbisik di telinga Raline.
Hal itu membuat Raline menjadi terharu. Tanpa terasa air mata Raline menetes di pipinya pada saat dia tersenyum mendengar bisikan Kiki.
Raline segera menghapus air matanya sebelum Ayahnya, Mami dan Papinya tahu. Bisa dipastikan mereka akan bertanya dan khawatir jika Raline terlihat mengeluarkan air matanya.
"Terima kasih Pak atas bantuannya. Kami sangat berterima kasih karena dengan bantuan dari Bapak nama anak kami bisa kembali bersih," Aydin menjabat tangan Kepala sekolah tersebut dan mengucapkan terima kasihnya.
"Tidak mungkin kami akan mengabaikan permintaan dari Pak Aydin sang pemilik sekolah ini," ucap Kepala sekolah tersebut sambil menjabat tangan Aydin.
Raditya dan Raline membelalakkan matanya, mereka berdua terkejut mendengar bahwa Aydin adalah pemilik dari sekolah yang sangat elit itu. Memang tidak ada yang tahu jika Aydin lah pemilik dari sekolah itu, karena dia tidak menginginkan dirinya terekspos lebih jauh lagi.
"Besok akan diadakan rapat dewan guru untuk membicarakan masalah Raline. Apa Pak Aydin akan datang?" tanya Kepala sekolah tersebut pada Aydin.
"Akan saya usahakan Pak. Dan apabila nantinya saya tidak bisa datang, mohon keputusan yang akan diambil dilaporkan terlebih dahulu pada saya," ucap Aydin pada Kepala sekolah.
"Pi, Resti gak bakalan dikeluarin kan?" tanya Raline pada Aydin setelah dia mendekati Aydin yang sedang berbicara dengan Kepala sekolah.
__ADS_1
"Papi belum tau cantik, nanti ya kita pasti akan tau setelah rapat dewan guru selesai diadakan," jawab Aydin menanggapi pertanyaan dari Raline.
Sebenarnya Aydin dan Raditya sudah sangat marah pada Resti. Mereka sudah mengharapkan agar Resti keluar dari sekolah itu.
Kiki pun mendukung keputusan suaminya. Dia juga tidak mau jika Raline difitnah dan dicemarkan nama baiknya oleh siapapun. Dan bisa dipastikan jika mereka tahu Raline dihina oleh seisi sekolahan, pasti mereka akan bertindak langsung tanpa menggunakan dewan guru.
Kini semua penghuni sekolahan sedang berkumpul di lapangan sekolah. Mereka sangat penasaran dengan perintah yang mengharuskan mereka untuk berkumpul di lapangan sekolah pada siang hari yang sangat panas itu.
"Ngapain sih kita disuruh kumpul di sini panas-panas begini?" ucap salah satu murid sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya untuk mengipasi wajahnya yang sedang kepanasan.
"Gak tau. Gerah iiih.... panas...," jawab murid yang disebelahnya dengan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan temannya tadi.
"Setelah itu terdengar suara Tristan yang mengalihkan perhatian mereka semua menuju arah depan layaknya mereka sedang melakukan upacara bendera tiap hari senin.
"Teman-teman, sekarang ini teman kita yang bernama Resti akan mengatakan sesuatu," ucap Tristan sebagai pembuka sebelum Resti memberikan pernyataan maafnya pada Raline.
Raline merasa terpojok , dan dia tidak ada pilihan lain selain mengakui kesalahannya di depan seluruh penghuni sekolah tersebut.
Semuanya bersorak pada Raline mereka kini menilai Raline sangat rendah. Karena sebagian anak yang berada di dalam kelas mereka waktu itu mendengar bahwa apa yang dikatakan oleh Resti tentang Raline adalah membicarakan dirinya sendiri.
Setelah mendapatkan cacian dan hinaan, Resti segera berlari menuju kelas untuk mengambil tasnya. Kemudian dia segera berlari keluar dari gerbang sekolahnya.
Ali yang sedang libur kuliah sudah berada di depan gerbang untuk menunggu kekasih hatinya. Namun yang dia lihat saat ini adalah Resti yang dengan berlinang air mata keluar dari gerbang sekolah tersebut.
Itu Resti kan? Ada apa ya kok sepertinya sedang menangis. Oh iya benar, mungkin tadi mereka sudah membereskan kebohongan Resti, Ali berkata dalam hatinya, dan bibirnya tersenyum mengingat hari-harinya kini pasti akan lebih bahagia bersama dengan Rania.
__ADS_1
Sebelumnya tadi Ali mengabari Rania bahwa dirinya sudah ada di depan gerbang dan akan terus menunggu Rania sampai jam pulang sekolah nanti.
Entah mengapa, Rania ingin sekali segera bertemu dengan Ali. Karena jam pelajaran sedang kacau dikarenakan acara pengakuan dan permintaan maaf Resti pada Raline, Rania merasa itu adalah kesempatannya untuk bertemu dengan Ali di gerbang.
Saat Rania akan sampai di gerbang, ternyata Ali sedang bersama dengan Resti. Rania melihat Resti sedang berusaha untuk memegang tangan Ali, namun dengan sigap Ali menolaknya.
Namun sepertinya Resti tidak putus asa, dia menangis di hadapan Ali untuk mendapatkan simpatinya. Dan lagi-lagi Ali tidak mau tahu. Bahkan dia mendorong tubuh Resti agar menjauh darinya.
Rania akan mendekati mereka, namun Resti dengan tidak tahu malunya memeluk pinggang Ali ketika Ali membelakanginya.
Sontak saja Ali segera menghempaskan tangan Resti dari pinggangnya, sehingga Resti mendengus kesal.
"Kenapa sih Li? Kamu kenapa berubah drastis kayak gini? Apa aku bersalah padamu?" Resti berbicara dengan wajah sedih dan memelas pada Ali.
"Kita sudah lama putus dan jangan ungkit-ungkit lagi hubungan kita yang hanya beberapa hari itu saja," ucap Ali sambil menatap bengis pada Resti.
"Tapi Li bukannya kamu ingin tidur lagi bersamaku. Kenapa tidak sekarang saja, aku sedang bebas pelajaran sekarang. Aku janji aku akan membuatmu bahagia dan ketagihan nanti," Resti mengatakan itu sambil mengerlingkan sebelah matanya pada Ali.
"Maaf, aku tidak pernah menjanjikan itu dan aku tidak ada keinginan sedikit pun untuk berbagi wanita dengan bapak tirinya," ucap Ali dengan senyum meremehkan pada Resti.
"Apa maksudmu? Jangan mengada-ada Li. Aku tidak suka jika kamu mengatakan kebohongan tentang diriku," ucap Resti dengan sedikit emosi.
"Jika kamu yang memfitnah teman baikmu gimana?" tanya Ali pada Resti yang tidak tahan untuk segera pergi dari hadapannya.
"Oh iya, Apa kamu bertemu dengan temanku satu sekolah ini? Dan apa yang mereka tanyakan padamu?" tanya Resti berturut-turut pada Ali.
__ADS_1
"Oh iya harusnya kamu membantu orang tuamu, bukannya menjerumuskannya," jawab Ali pada Resti.
"Menjerumuskan? Apa maksudmu?"