Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
119


__ADS_3

"Ba-Bapak? kenapa Bapak ada di sini?" Linda kaget dan bingung dengan menutupi bagian atas dan bagian bawah tubuhnya menggunakan tangannya.


"Gak usah ditutupi gitu, saya sudah lihat tadi," senyum Pak Gunawan benar-benar merekah melihat Linda yang memakai lingerie pilihannya.


"Tapi Pak saya malu, ini terlalu terbuka. Sebentar saya mau ambil baju dulu," Linda berbalik akan ke kamar mandi namun badannya sudah ditahan Pak Gunawan.


Kedua tangan Pak Gunawan melingkar di pinggang Linda. Dari belakang, tangan Pak Gunawan yang sebelah kanan sudah menyentuh bagian atas dari tubuh Linda dan sebelah kirinya kini berpindah ke bagian bawah tubuh Linda.


Linda memberontak, namun kekuatan Pak Gunawan tidak bisa dia lawan. Hingga Linda sedikit mengeluarkan desisan ketika berbicara pada Pak Gunawan.


"Pak...sst..sa-saya...," kini Linda sudah tidak bisa meneruskan ucapannya lagi karena tangan Pak Gunawan semakin gencar membuainya.


Setelah Linda terbuai oleh sentuhannya, Pak Gunawan mengangkatnya untuk berpindah ke atas ranjang. Badan Linda di rebahkan ke atas ranjang dengan tetap diberikan sentuhan-sentuhan nakal oleh tangannya.


"Minumlah ini Linda sebelum kita bersenang-senang," Pak Gunawan memberikan Linda satu gelas minuman yang dia bawa, dan Pak Gunawan juga meminum satu gelas minuman yang tadi dia bawa.


"Tapi Pak, ini tidak benar," ucap Linda ketika Pak Gunawan membuka bajunya.


"Tidak ada yang tahu Lin. Ayolah temani aku, kamu akan aman bekerja denganku dan kamu bisa meminta apapun padaku, asal tidak ada yang tahu dan kamu akan selalu mau aku ajak bersenang-senang," ucap Pak Gunawan sambil melepas celananya, dan kini Pak Gunawan sudah tidak memakai apapun.


"Tapi Pak... huuuft...," Linda merasa kepanasan, banyak bulir keringat yang menetes di pelipisnya.


Akhirnya obat itu bereaksi, dan gawat ini punyaku juga sudah bereaksi, batin Pak Gunawan ketika melihat Linda yang kepanasan dan Pak Gunawan juga merasakan hal yang sama.


Pak Gunawan mendekati Linda dan mulai menyentuh bagian tubuh Linda dengan tangannya dan memanjakan bagian tubuh Linda yang lain menggunakan mulutnya.


Linda tidak bisa mengelak lagi. Dia sungguh membutuhkan sentuhan tangan dari Pak Gunawan dan hal yang lebih untuk menuntaskan keinginannya sekarang juga.


Lenguhan dari keduanya sudah tidak bisa ditahan lagi. Kamar tersebut menjadi berisik dengan suara lenguhan,desisan dan suara hentakan keras dari tubuh mereka.


Linda dan Pak Gunawan sama-sama menikmatinya hingga ranjang mereka berantakan dan mereka berpindah-pindah tempat untuk melakukan semua gaya bercinta mereka.

__ADS_1


Setelah mereka melakukan pelepasan, ternyata mereka masih saja ingin melakukannya, dan seolah tenaga mereka tidak ada habisnya, mereka melakukannya dengan penuh gairah, sehingga berkali-kali mereka lakukan dan keinginan mereka untuk berhenti pun tidak ada.


"Masih kuat?" tanya Pak Gunawan pada Linda yang kini berada di bawah kungkungannya setelah mereka sama-sama melakukan pelepasan.


Linda mengangguk dan mengusap peluhnya. Kemudian Pak Gunawan turun dari ranjang dan mengangkat tubuh Linda.


"Kita mandi saja sekarang, setelah itu kita istirahat dulu, karena besok kita akan berkerja," ucap Pak Gunawan sambil mengangkat tubuh Linda menuju kamar mandi.


Di dalam kamar mandi pun mereka berdua tidak bisa menahannya. Kini mereka kembali melakukannya di bawah guyuran air shower dengan sensasi yang berbeda. Sungguh luar biasa obat yang dimasukkan Pak Gunawan dalam minuman mereka tadi.


Setelah selesai, kini mereka berdua tidur di ranjang yang sama. Linda sudah tidak canggung lagi pada Pak Gunawan, malah dia menempel sekali pada tubuhnya ketika tidur, karena tangan mereka berdua sama-sama masih memainkan bagian tubuh lawannya.


Hingga dini hari, mereka baru bisa tidur karena memang sangat mengantuk. Namun di pagi hari mereka melakukannya sekali lagi sebelum mereka mandi.


Pak Gunawan kini sudah berpakaian rapi duduk di sofa, dan Linda baru saja selesai memakai bajunya.


"Sini Sayang, mendekatlah padaku," Pak Gunawan melambaikan tangannya untuk memanggil Linda.


Linda pun menurut dan mendekat padanya. Namun tubuh Linda ditarik Pak Gunawan dan didudukkan di atas pangkuannya.


Pak Gunawan tersenyum melihat Linda yang kini bisa nyaman bersamanya dan lebih dari hanya sekedar dekat saja. Linda malu ketika Pak Gunawan tersenyum melihatnya. Namun Linda sudah tidak malu lagi ketika dagunya di angkat oleh tangan Pak Gunawan untuk menatap matanya, kemudian Pak Gunawan mengecup sekilas bibir Linda. Seketika itu merubah ekspresi Linda yang tadinya malu kini berubah menjadi lebih nyaman, buktinya Linda sudah bisa tersenyum ketika kecupan sekilas yang diberikan oleh Pak Gunawan tadi.


"Yuk berangkat, setelah itu baru kita bersenang-senang lagi," ucap Pak Gunawan yang masih menatap wajah Linda seolah dia sedang jatuh cinta padanya.


Linda mengangguk dan turun dari pangkuan Pak Gunawan. Setelah mengambil tasnya, mereka keluar dari kamar dan masuk ke dalam lift dengan tangan Pak Gunawan yang masih saja bertengger di pinggang Linda membuat tubuh mereka sangat dekat tak berjarak.


Di dalam lift yang masih kosong, Pak Gunawan membuat tubuh Linda semakin menempel padanya dan menciumi pipi dan ceruk leher Linda yang membuat Linda mengeluarkan suara yang tak seharusnya dikeluarkan di tempat umum.


Aksi Pak Gunawan pun berhenti ketika pintu lift terbuka, dan mereka segera keluar dari lift tersebut.


"Apa kita perlu sarapan Sayang? Kita harus mengisi perut untuk tenaga kita nanti," tanya Pak Gunawan yang kini sudah memanggil Linda dengan kata Sayang.

__ADS_1


"Apa kita tidak terlambat?" tanya Linda yang pinggangnya masih terdapat tangan Pak Gunawan di sana.


"Aku rasa tidak apa jika hanya sebentar," ucapan Pak Gunawan mendapat anggukan dan senyuman dari Linda.


Sepertinya Linda sudah sangat nyaman dengan Pak Gunawan hingga dia sudah tidak terpikirkan hal apapun.


Setelah beberapa menit mereka sarapan di restoran hotel, segera mereka masuk ke dalam mobil mereka.


Sebelum mesin mobil dinyalakan, Pak Gunawan melihat Linda yang roknya menyibak sedikit karena belum dirapikan sesudah duduk tadi.


Tangan Pak Gunawan perlahan-lahan masuk kedalam rok Linda. Nyatanya Linda sangat menikmatinya karena kini keluar suara lenguhan dari mulutnya.


"Sayang, rasanya aku mau sekarang," sepertinya efek dari obat semalam masih belum hilang sepenuhnya, karena Linda pun merasakan yang sama hanya karena disentuh oleh Pak Gunawan.


"Tapi-ssst.... ki-kita sudah ditunggu Pak...," ucapan Linda bersela dengan desisan yang keluar dari mulutnya.


"Ayolah sebentar saja Sayang, ini kamu sudah basah," Pak Gunawan memaksa Linda karena miliknya sudah tidak bisa ditaklukan lagi.


Dan Linda pun mengangguk karena dirinya pun sekarang sudah menginginkan hal yang lebih dari sekedar permainan tangan dari Pak Gunawan.


Linda duduk di pangkuan Pak Gunawan dan mulailah mereka saling menghentakkan tubuh mereka dengan cepat agar kegiatan mereka cepat selesai. Kaca mobil Pak Gunawan memang gelap sehingga tidak bisa dilihat dari luar.


Hingga beberapa menit berselang, kegiatan mereka akhirnya selesai dan keduanya tersenyum puas. Setelah itu mereka merapikan penampilan mereka dan mobil mereka kini meninggalkan hotel menuju kantor cabang perusahaan.


Sesampainya di kantor, Pak Gunawan dan Linda benar-benar profesional dalam bekerja. Mereka tidak menampakkan hubungan mereka dama sekali.


Pak Gunawan bersikap seperti biasanya, bersikap tegas dan berwibawa hingga ditakuti oleh semua karyawan yang ada. Dan Linda pun bersikap layaknya seorang sekretaris yang juga ditegur jika salah. Jadi tidak ada yang mengira jika Linda dan Pak Gunawan memiliki hubungan lebih dekat daripada sebagai atasan dan bawahan.


"Apa kamu mau menambah hari kita di luar kota?" tanya Pak Gunawan tiba-tiba ketika mereka sudah berada di dalam mobil setelah pekerjaan mereka selesai.


Linda diam dan berpikir. Selang beberapa detik dia menjawab,

__ADS_1


"Mmm... itu..."


"Aku tau jawabannya," Pak Gunawan menyeringai dan melajukan mobilnya meninggalkan kantor tersebut.


__ADS_2