
Aydin,Kiki,Kenan dan Renita pulang dari Jepang hari ini dikarenakan Kenshin yang sudah merengek untuk bertemu dengan Mami dan Papinya. Sedangkan Ayah Aydin dan Ferdi, sekretarisnya sudah pulang terlebih dahulu untuk mengurusi perusahaan mereka selama Aydin masih berada di Jepang.
"Mami... Papi....," Ken berlari ke arah Aydin dan Kiki ketika melihat Mami dan Papinya keluar dari pintu keluar bandara.
Kiki menunduk mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Kenshin dan menciumi pipi gembul putra kesayangannya itu.
"Tuan muda apa kabar?" tanya Aydin yang ikut menunduk di samping Kiki dan Kenshin.
"Baik dong. Ken pinter Pi bisa jagain Kakak cantik," ucap Ken penuh percaya diri.
"Oh ya? Benarkah itu cantik?" tanya Kiki pada Raline yang kini sudah ada di samping mereka.
"Iiih apaan, yang ada tuh aku jagain Ken," Raline memprotes ucapan Ken.
"Tapi Ken yang bantuin kakak cantik ngambilin boneka kemarin," ucap Ken tidak mau kalah.
"Cuma sekali aja," sahut Raline tidak terima.
"Banyak, yang kemarin, kemarin, kemarinnya lagi. Buwanyuwaaaaaaak.....," ucap Ken yang masih tidak mau kalah.
"Udah... udah... anak-anak Mami pinter semua," ucap Kiki sambil memeluk Ken dan meraih tubuh Raline untuk dipeluknya juga.
Aydin senang melihat kedekatan Kiki dan Ken juga Raline meskipun bukan anak mereka, tapi dengan adanya Raline bisa membuat keluarga mereka bertambah bahagia.
Ken dan Raline diantar oleh Mama dan Papa Kiki karena Kevin dan Raditya masih berada di tempat kerja mereka.
Raline ikut pulang ke rumah Kiki dan Aydin, sedangkan Renita dan Kenan pulang ke rumah Abah dan Ambu. Renita dan Kenan memang masih tinggal di rumah Abah dan Ambu karena mereka masih kasihan dengan Raline yang masih butuh sosok Renita dalam kesehariannya.
Sepulang bekerja, Raditya menjemput Raline ke rumah Aydin dan Kiki. Sebenarnya Raline tidak mau pulang, dan Kenshin pun tidak mau ditinggal oleh Raline. Tapi setelah diberi Raditya pengertian, mereka berdua menurut.
Raditya bisa dikatakan menjadi sosok Ayah kedua bagi Kenshin. Karena kedekatannya pada Raline, membuat Ken juga dekat dengan Raditya. Begitu juga dengan Raline yang sudah menganggap Aydin dan Kiki seperti orang tua sendiri.
Hari-hari berlalu, sejak saat itu Cindy sudah tidak pernah mengganggu Aydin lagi. Proyek kerja sama mereka ditangani oleh Ayah Aydin dan Papa Cindy. Entahlah Cindy berada dimana, Aydin dan Kenan tidak mau ambil pusing untuk mencari tahu keberadaannya.
Kiki masih menjalani hari-harinya seperti biasa di rumah sakit, bahkan akhir-akhir ini dia bertambah sibuk. Sedangkan Aydin kini jarang sekali untuk ke luar kota ataupun luar negeri. Jika memang pekerjaan itu bisa diwakilkan, maka Aydin mewakilkannya pada Kenan, dan jika tidak bisa diwakilkan maka dengan terpaksa dia akan berangkat ditemani oleh Kiki dan Kenan. Semua itu dilakukannya karena Aydin dan Kiki tidak mau hal yang seperti dilakukan Cindy kembali terulang.
Ceklek!
Pintu ruangan Kiki terbuka, dan di sana menampakkan sosok Aydin yang berdiri membuka pintu.
"Sayang, udah selesai kan? Apa kita pulang sekarang?" tanya Aydin yang masuk ke dalam ruangan Kiki.
"Udah, yuk," ucap Kiki sambil berdiri.
Namun kepala Kiki tiba-tiba berputar-putar, tangan kanannya memegang pelipisnya dan berkata,
"Sayang, apa ada gempa bumi?" tanya Kiki yang merasa kepalanya semakin berat.
"Gempa bumi? Sayang kamu kenapa?" seketika Aydin berlari menuju tempat duduk Kiki dan dengan sigapnya dia menangkap tubuh istrinya itu.
"Kepalaku... kepalaku berputar-putar," jawab Kiki lirih dengan mata tertutup.
__ADS_1
"Sayang tiduran di sini dulu ya," ucap Aydin
Aydin membawa tubuh Kiki dan diletakkan di atas ranjang, kemudian dia memanggil dokter untuk memeriksa Kiki melalui telepon yang berada di meja Kiki.
Kiki masih saja memejamkan matanya, kepalanya masih sangat berat dirasa.
"Sayang, aku mencintaimu, bangunlah, aku gak mau kehilanganmu. Bangun Sayang... aku mencintaimu....," ucap Aydin berkali-kali dengan harapan istrinya baik-baik saja.
Hingga ada dokter Anggi yang masuk ke dalam ruangan Kiki, barulah mata Kiki terbuka karena merasakan stetoskop yang menempel pada tubuhnya.
"Dokter Anggi?" ucap Kiki kaget.
Dokter Anggi tersenyum dan berkata,
"Apa dokter Kiki tidak merasakannya?"
"Saya kenapa dok? Kok bisa dokter Anggi yang memeriksa saya?" ucap Kiki bingung.
"Tadi perawat yang menerima telepon dari Pak Aydin, dan kebetulan saya sedang ada di sana, jadi saya yang datang ke sini," jawab dokter Anggi.
"Istri saya kenapa dok?" tanya Aydin yang tidak sabar menunggu penjelasan dari dokter Anggi.
Sejak tadi Aydin masih saja menemani Kiki di sampingnya dengan menggenggam tangannya dengan gelisah. Dia selalu membisikkan kata cinta dan tidak mau kehilangan Kiki di telinga Kiki sedari tadi.
Dokter Anggi tersenyum melihat Aydin yang sangat khawatir pada istrinya. Dan dokter Anggi pun mengetahui Aydin yang berkali-kali mengatakan bahwa dia mencintai istrinya.
"Selamat Pak, dokter Kiki sedang mengandung. Jika ingin tahu lebih jelasnya lagi mari ikut saya ke ruang periksa," ucap dokter Anggi.
Aydin dan Kiki melongo karena kaget, mereka tidak mengira jika kini mereka akan diberi karunia kembali oleh Allah. Sejak dulu Aydin dan Kiki mengharapkan seorang anak ketika usia Kenshin menginjak tiga tahun, namun mereka tak kunjung diberikan anak. Sehingga mereka tidak lagi berharap lebih, mereka hanya menyerahkan semuanya pada Allah yang memberikan segalanya.
"Eh be-beneran dok?" tanya Kiki penasaran.
"Usia kandungannya berapa dok?" tanya Aydin.
"Dokter Kiki harusnya mens tgl berapa?" tanya dokter Anggi memastikan.
"Kurang lebih dua minggu yang lalu sih dok, cuma memang bulan ini belum. Tapi biasanya juga gitu dok, biasa kecapekan dan stress," jawab Kiki.
"Tepat sekali. Menurut pemeriksaan saya memang sekitar dua mingguan, tapi untuk lebih jelasnya lebih baik kita periksa saja ya dok," ucap dokter Anggi.
"Kita periksa sekarang saja ya dok, sekalian," ucap Aydin yang kini sudah memeluk tubuh Kiki dengan penuh kebahagiaan.
"Baiklah Pak, saya tunggu di ruangan saya. Mari Pak, Dok," dokter Anggi berpamitan dan keluar dari ruangan Kiki.
"Sayang... Mami...," ungkapan kebahagiaan Aydin dengan memeluk erat Kiki dan berkali-kali menciumnya.
Kiki tertawa bahagia melihat kebahagiaan Aydin yang sangat membuatnya bahagia.
"Sayang, kalau memang benar usia kandunganku sekitar dua minggu, berarti ini buatan Jepang dong," ucap Kiki sambil terkekeh.
"Iya juga ya," Aydin ikut terkekeh mengingat malam mereka di Jepang waktu itu.
__ADS_1
"Yuk Sayang ke ruangan dokter Anggi, tapi aku gendong aja ya," ucap Aydin yang sudah bersiap meletakkan tangannya di punggung dan kaki Kiki.
"Pakai kursi roda aja Sayang," ucap Kiki yang takut suaminya kelelahan karena baru pulang bekerja.
"Enggak, ngapain pakai kursi roda, Papi masih kuat Sayang," jawab Aydin menolak perintah Kiki.
Dan tanpa aba-aba Aydin mengangkat tubuh Kiki untuk dibawa menuju ruangan dokter Anggi. Di sana Kiki diperiksa secara menyeluruh dan seperti perkiraan, usia kandungan Kiki menginjak usia dua minggu.
Berita ini langsung tersebar di rumah sakit. Kebetulan Ayah Aydin sedang berkunjung di rumah sakit setelah Kiki pulang dari rumah sakit. Jajaran pihak dokter yang berjabatan tinggi menyambut Ayah Aydin dengan ucapan selamat.
Tentu saja Ayah Aydin sangat senang mendengar berita tersebut. Sempat Ayah Aydin tidak percaya atas berita yang mereka berikan padanya, namun ketika Ayah Aydin menghubungi Aydin, dengan seketika dia mengucap syukur atas berita yang menyatakan kehamilan menantu kesayangannya itu.
"Sayang, ada yang kamu mau?" tanya Aydin dengan menggenggam tangan Kiki namun matanya masih fokus melihat ke depan kemudi.
"Pengen tiduran, istirahat," Kiki mengeratkan tangannya yang melingkar di lengan Aydin dan meletakkan kepalanya di pundak Aydin, sedangkan jari-jari tangan mereka masih bertautan.
"Mau beli makanan gak? Bakso mungkin," Aydin menawari Kiki mengingat pada saat malam kelahiran Ken Kiki menyempatkan diri makan bakso terlebih dahulu sebelum kendaraan kembali dijalankan ke rumah sakit.
"Belum pengen, pengennya tiduran, dipeluk gini," ucap Kiki sambil memeluk pinggang Aydin.
"Wah kalau itu sih siap selalu Sayang, gak usah diminta pun aku selalu bersedia," ucap Aydin dengan tawa kebahagiaan.
Sesampainya di rumah, mereka disambut oleh semua anggota keluarga. Di sana sudah ada Bunda, Mama, Papa, Kevin, dan Kenshin. Hanya Ayah saja yang belum datang karena masih berada di rumah sakit.
Mereka semua berkumpul karena Ayah yang menghubungi mereka dan memberitahukan kabar kehamilan Kiki pada mereka semua. Dan mereka sepakat untuk berkumpul di rumah Aydin dan Kiki.
Kevin pun memberitahukan kabar gembira itu pada semua sahabatnya, dan dengan sigap mereka semua berkumpul di rumah Aydin dan Kiki untuk ikut serta merayakan kehamilan Kiki.
"Mami... Papi....," Ken berlari menyambut Aydin dan Kiki yang baru keluar dari mobil.
"Yeeee... Ken punya adik," ucap Ken ketika berhasil masuk dalam pelukan Mami dan Papinya.
"Loh kok Ken tau?" tanya Kiki heran sambil menoleh ke arah Aydin.
Aydin pun menggeleng seolah mengatakan bahwa bukan dia yang mengatakannya.
"Ken pinter kan Mi bisa tau," ucap Ken yang selalu haus akan pujian bahwa dia pintar.
"Iya dong, Tuan muda Permana harus pintar," ucapan Aydin membuat Ken menjadi bangga akan dirinya sendiri.
"Ayah yang kasih tau kita semua," sahut Bunda yang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Kok Ayah bisa tau Bun?" tanya Kiki kembali karena rasa ingin tahunya.
"Loh kalian gak ketemu dengan Ayah? Ayah sedang kunjungan ke rumah sakit tadi," jawab Bunda.
"Pasti kita tadi sedang di ruangan dokter Anggi Sayang, saat memeriksakan kandunganmu tadi," ucap Aydin pada Kiki.
"Mami.....," suara seorang anak wanita yang mereka kenal membuat mereka menoleh ke belakang.
Raline berlari ke arah Kiki dan memeluknya dengan erat. Matanya penuh dengan kesedihan.
__ADS_1
"Ada apa cantik? Kenapa kamu sedih?" tanya Kiki ketika melihat wajah sedih Raline.
"Mami... Mami gak akan lupa sama Raline kan?" suara Raline bergetar menanyakan pertanyaan itu pada Kiki.