Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
196


__ADS_3

"Raline, kok mobil jemputan kamu gak kelihatan?" tiba-tiba siara Tristan yang berada di sebelahnya mengagetkan Raline yang sedang berbalas pesan dengan Kenshin dan Miyuki.


Miyuki dan Kenshin sedang mengikuti les privat yang dilakukan sepulang sekolah oleh guru mereka masing-masing.


Kiki memang menyuruh Kenshin dan Miyuki mengikuti les privat dengan gurunya sepulang sekolah dan dilaksanakan di sekolahan agar mereka berdua tidak ada alasan untuk tidak mau melakukannya.


Memang benar Miyuki dan Kenshin merupakan siswa yang berprestasi, hanya saja Kiki mengkhawatirkan tentang nilai mereka untuk ujian akhir yang sebentar lagi akan diadakan.


Sebentar lagi, Miyuki akan keluar dari Sekolah Dasar dan masuk ke SMP. Miyuki memang dua kali lompat kelas karena dia memang sangat pandai dalam berbagai bidang.


Sedangkan Kenshin akan keluar dari SMP dan masuk ke SMA. Berbeda dengan Raline yang akan segera keluar dari SMA dan akan segera menjadi mahasiswa.


"Aku sedang ingin menggunakan taksi," jawab Raline dengan senyuman manisnya.


Tristan terpanah oleh senyuman manis Raline yang selalu membuat Tristan terpanah dan dia akan merindukan senyuman itu jika dia tidak bertemu dengannya.


"Ayo aku antarkan kamu pulang," ucap Tristan sambil menggandeng tangan Raline dan menariknya menuju mobil Tristan.


Raline kini tidak menolaknya, berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Dulu Raline paling anti dan takut jika diantar pulang oleh laki-laki manapun meskipun laki-laki tersebut adalah temannya.


Dan sekarang dia sudah tidak menolak ajakan Tristan karena Tristan sudah banyak berjasa untuknya. Sehingga kini Tristan dan Raline sudah berteman dekat.


Tristan membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Raline masuk ke dalam nya. Kemudian Tristan berputar dan masuk ke dalam mobilnya di bagian kemudi.


"Ra, kita makan dulu yuk!" ucap Tristan sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Makan? Makan di mana Tris?" tanya Raline pada Tristan untuk menanggapi ajakan Tristan padanya.


"Di mana ya... kamu mau di cafe atau restauran?" tanya Tristan ingin mengetahui selera Raline.


"Mmm... kalau suasananya kayak gini sepertinya lebih enak makan di cafe deh Tris. Kalau kamu gimana?" Raline memberikan pendapatnya dan meminta pendapat dari Tristan juga.


"Iya juga, kalau di restauran enaknya pas dinner ya? Lalu kamu mau kita makan di cafe mana?" Tristan bertanya kembali pada Raline.


"Ehmmm... apa boleh aku milih cafenya?" tanya Raline pada Tristan.

__ADS_1


"Tentu saja cantik," jawab Tristan menirukan panggilan sayang dari keluarga Raline.


Pipi Raline merona, dan dia menyembunyikannya dengan menghadap ke jendela mobil berpura-pura melihat pemandangan di sepanjang jalan.


Tristan mengerti apa yang sedang terjadi. Dia sengaja tidak berbicara apa-apa lagi, dia hanya ingin menikmati wajah Raline yang tersipu malu karena panggilan sayang darinya yang dia tiru dari keluarga Raline.


Setelah beberapa menit, akhirnya Tristan bertanya pada Raline.


"Jadi makan di mana kita?" tanya Tristan sambil melihat sekilas wajah Raline.


"Emmm... aku tunjukin aja ya jalannya," jawab Raline dan diangguki oleh Tristan serta senyumannya.


"Di sini tempatnya?" tanya kembali Tristan pada saat mobilnya berada di depan cafe milik Aydin.


"Yuk Tris kita masuk. Pasti kamu akan senang makan di sana. Makanannya enak-enak loh," ucap Raline yang sedang mempromosikan cafe milik Aydin bak seorang marketing.


"Tau banget, kamu sering ke sini ya?" tanya Tristan dengan penasaran.


"Sering banget, hampir tiap hari malah," jawaban Raline membuat Tristan lebih penasaran lagi.


"Dengan siapa? Cewek apa cowok?" Tristan bertanya kembali.


"Siapa?" tanya Tristan yang sangat penasaran dan cemburu.


"Masuk dulu yuk, nanti pasti kamu akan tau deh aku ke sini sama siapa," jawab Raline tanpa tahu jika Tristan saat ini dalam mode cemburu.


Ketika Raline masuk, seketika semua karyawan cafe tersebut tersenyum ramah dan menunduk menyapa Raline seperi menyapa anggota keluarga Aydin yang lainnya.


"Eh Mbak Raline, ke sini sama siapa nih? Cowoknya ya?" tanya salah satu pelayan yang memang sedari dulu selalu kepo pada orang lain.


"Bukan Mbak, udah deh bawain menu yang biasanya ya," tukas Raline pada pelayan tersebut.


"Mbak Raline, bisa nitip laporan ini untuk si Bos?" tanya manager cafe tersebut pada Raline.


"Memangnya Papi belum ke sini ya Pak?" tanya Raline pada manager tersebut sambil mengotak atik ponselnya untuk mencari nama Aydin.

__ADS_1


"Belum Mbak, mumpung Mbak Raline ke sini jadi saya nitip aja ya Mbak, takutnya Bapak pas ke sini sayanya pas libur," di manager tersebut menjelaskannya pada Raline.


"Halo, Papi ini Pak Jefry mau nitip laporan cafe untuk Papi. Raline bawa atau gak usah Pi?" tanya Raline pada Aydin yang berada di seberang sana.


"Oh... Oke Papi sampai ketemu di rumah," ucap Raline sebelum dia menutup panggilan teleponnya dengan Aydin.


"Saya bawa aja Pak. Biar saya berikan saya Papi nanti," ucap Raline sambil menerima map dari tangan Pak Jefry, manager restauran tersebut.


"Hai cantik...!" terdengar suara laki-laki sedang menyapa Raline.


Raline dan Tristan menoleh bersamaan mencari orang yang memanggil Raline. Dan Raline pun tersenyum ketika melihat sosok yang dikenalnya.


"Uncle Dion!" Raline berseru memanggil nama sahabat dari Papinya yang sejak dari dulu diberi kewenangan oleh Aydin untuk mengelola cafe tersebut.


"Wuih... ke sini bawa cowok euy.... laporin sama Papi sama Ayah ah... pasti mereka langsung datang ke mari," ucap Dion yang bermaksud untuk menggoda Raline saja.


"Mereka udah tau Uncle, jadi Uncle gak perlu repot-repot," ucap Raline dengan terkekeh menanggapi ucapan dari Dion.


"Hah, beneran?" tanya Dion dan diangguki dengan cepat oleh Raline.


"Waaah... Uncle ketinggalan dong. Eh tapi bisa dong Uncle jadi yang pertama kenalan sama cowoknya cantik?" Dion masih saja ingin menggoda Raline.


"Bukan yang pertama juga Uncle, karena yang sebenarnya Ayah sama Papi udah kenal sama dia," jawab Raline yang masih terkekeh melihat raut wajah Dion dari senang menjadi kesal.


"Ah males ah, Raline gak pren sama Uncle," ucap Dion yang sedang sebal sambil berlalu masuk ke dalam ruangannya.


Raline masih juga sibuk menertawakan Dion yang tidak mendapatkan gelar pertama dalam berbagai hal.


"Jadi cafe ini..," ucapan Tristan menggantung, dia berharap Raline akan menyambung ucapan Tristan yang belum selesai.


"Iya, cafe ini milik Papi sejak Papi SMA. Mungkin itu yang membuat Papi welcome sama kamu. Karena ya memang kalian berdua memiliki kesamaan," tutur Raline pada Tristan.


"Kesamaan? cafe ini?" Tristan bingung sehingga kata-katanya kurang dimengerti oleh orang lain.


"Kalian sama-sama dari keluarga kaya raya, tapi di usia kalian yang masih SMA, usia yang biasanya masih mengandalkan orang tua dan hanya suka bermain-main saja, kalian berdua memilih bekerja keras untuk kesuksesan kalian. Aku salut pada Papi dan kamu Tris," jawab Raline dengan senyumnya yang menceritakan tentang keluarga keduanya.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Tristan pada Raline dan diangguki oleh Raline dengan antusias.


Wah lampu hijau nih, bisa jadi lebih dekat lagi sama Papinya Raline nanti, Tristan berkata dalam hatinya dan dia benar-benar tersenyum sangat senang.


__ADS_2