Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
200


__ADS_3

Satu minggu sudah Resti diskors dari sekolahnya. Dan hari ini merupakan hari di mana dia akan kembali masuk sekolah.


Sebenarnya ada perasaan enggan untuk masuk sekolah, namun dia tidak tahu akan pergi ke mana lagi jika tidak berada di sekolah .


Seminggu ini, dia tidak berada di rumah ketika jam sekolah. Kedua orang tuanya tidak ada yang tahu jika Resti diskors dari sekolahan selama satu minggu.


Selama satu minggu itu, Resti berangkat dari rumah menggunakan seragam sekolahnya di jam yang sama seperti biasanya. Dan dia hanya berjalan tak tentu arah dengan berganti pakaian terlebih dahulu di toilet umum yang berada di pasar.


Dan hari ini dia benar-benar senang bisa masuk kembali ke sekolah meskipun tidak tahu nantinya hukuman apa yang akan dia dapatkan setelah ini.


Namun rasa takut juga menghinggapinya. Takut dicemooh teman-temannya karena kebohongannya dengan memfitnah Raline dan takut dicemooh karena apa yang difitnahkan pada Raline sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya.


Ah, tapi sepertinya mereka tidak tau tentang diriku karena waktu itu aku hanya meminta maaf saja pada mereka. Iya, benar, buat apa aku takut? Aku udah minta maaf padanya, Resti berkata dalam hatinya untuk menyemangati dirinya sendiri.


Resti pun melangkahkan kakinya dengan harap-harap cemas. Namun dia kembali meyakinkan dirinya bahwa dia akan baik-baik saja seperti biasanya.


Dan kini Resti sudah berada di depan gerbang sekolahnya. Dipandangnya gerbang sekolah itu dengan perasaan takut dan was-was.


Ayo, semangat Resti! Kamu bisa! Kamu udah sejauh ini bisa berada di sekolah elit ini. Jangan sampai kamu menyerah dan ditendang dari sekolah ini. Ayo semangat... semangat... semangat...!!! Resti meneriakkan semangatnya dalam hatinya.


Kemudian dia melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah tersebut dengan rasa takut namun bisa berhasil dia kelabuhi dengan tampilan percaya dirinya seperti yang biasanya dia tampilkan setiap hari.


Langkah kakinya terhenti ketika dia berada di depan pintu kelasnya. Pintu kelas itu serasa beraura horor ketika akan memasukinya.


Terdengar kasak kusuk yang masuk di indera pendengarnya. Ingin rasanya dia mundur satu langkah saja dan lari keluar dari sekolahannya, namun tekadnya untuk bersekolah di sekolahan itu membuatnya tetap melangkah maju memasuki pintu yang terasa mencekam itu.


"Ssttt... lihat tuh, gak tau malu. Bisa-bisanya dia berani masuk ke sekolah ini lagi."


"Dia kan gak punya rasa malu. Urat malunya udah putus."


Terdengar ejekan-ejekan serta kekehan dan tawa ejekan dari teman-temannya yang berada dalam kelas itu.


Malu, sungguh Resti sangat malu berada dalam ruangan itu. Ingin rasanya dia keluar dan tidak kembali lagi ke sekolah itu.

__ADS_1


Resti hanya menunduk dan diam karena rasanya percuma saja jika dia melawan sebegitu banyaknya orang yang berada di dalam kelasnya.


"Res-"


"Udah Ra, gak usah dideketin," Rania menyela Raline ketika akan memanggil Resti.


Rania menarik tangan Raline yang sudah berjalan mendekati Resti. Rania melarang Raline untuk kembali dekat dengan Resti karena Rania takut Raline akan terluka kembali jika bersamanya.


Sedangkan Resti dengan percaya dirinya menatap Raline dengan tatapan kesal dan penuh amarah. Dia sangat tidak suka dengan kehadiran Raline disekitarnya.


Resti merasa Raline telah mengambil semua yang akan menjadi miliknya. Beasiswa, prestasi, bahkan Tristan. Dia berpikir jika Raline tidak ada disekitarnya, maka dialah siswa berprestasi nomer satu yang mendapatkan beasiswa dan Tristan pun akan menjadi pacarnya.


Namun semua itu hanya khayalannya saja karena Raline benar-benar nyata ada di sekitarnya dan menghancurkan semua keinginannya.


Aku benci kamu Raline, benci.... benci... benci...!!! Resti kembali berteriak dalam hatinya sambil mencengkeram kertas yang bukunya dalam keadaan terbuka di atas mejanya.


"Eh tukang kibul udah masuk nih," Naufal berseru ketika baru masuk ke dalam kelas dan dia melihat Resti sedang duduk di kursinya.


"Hah?! Tapi.....," ucapan Raline menggantung karena dia bingung akan beralasan apa untuk menolaknya.


"Tenang aja, aku akan ijin sama Papimu. Gimana?" Tristan mulai mencari cara untuk mendekati Raline.


"Hah, gimana caranya kamu minta ijinnya?" tanya Raline pada Tristan dengan wajah herannya.


Seketika Tristan mengeluarkan ponselnya dari sakunya dan menggerak-gerakkan ponselnya ke kiri dan ke kanan di depan wajah Raline.


"Kamu punya nomernya Papi?" Raline bertanya dengan heran.


"Ya iya dong, aku kan calon mantunya, jadi harus punya nomernya," jawab Tristan dengan senyum manisnya.


Rania tersenyum mendengar ucapan dari Tristan, sedangkan Raline kaget dan tidak mengira Tristan akan mengatakannya di tempat yang banyak orang bisa mendengarnya.


"Gimana Ra, mau ya?" Tristan bertanya kembali pada Raline.

__ADS_1


"Mmm... liat nanti aja ya, aku juga nanti mau ijin dulu," jawab Raline yang tidak tahu nantinya akan memberi jawaban apa pada Tristan.


"Ok cantik," ucap Tristan sambil mengedipkan sebelah matanya pada Raline yang membuat Raline kembali kaget melihat tingkah Tristan yang tidak biasanya padanya.


Kemudian Tristan berjalan menuju mejanya dengan bersiul dan wajah sumringahnya. Namun wajahnya berubah menjadi kesal ketika melihat Resti duduk di kursinya dengan memandang ke arah Tristan.


"Kenapa gak dikeluarin aja sih tuh hama?" Tristan menggerutu di tempat duduknya.


"Tau tuh, apa belum keluar hasil rapat dewan sekolah untuk hukuman ular betina itu?" kini Naufal ikut mengomel menimpali ucapan Tristan.


"Udah, sekarang tugas kamu mantau dia. Aku akan mencari cara untuk mendapatkan Raline," ucap Tristan dengan bibirnya yang melengkung ke atas ketika melihat punggung Raline yang duduk di barisan depan, sedangkan Tristan duduk di deretan belakang.


Dengan menatap punggung Raline pada saat ini, Tristan mengingat pembicaraannya dengan Rania di cafe pada saat itu.


"Tristan, kamu suka ya sama Raline?" tanya Rania pada Tristan.


"Iya, banget malahan," jawab Tristan sambil tersenyum membayangkan pertemuan pertamanya dengan Raline yang membuatnya langsung jatuh cinta padanya.


"Sejak kapan?" tanya Rania kembali pada Tristan.


"Sejak pertama kali kita bertemu," jawab Tristan kemudian.


"Hah, seriusan? Udah lama banget dong?" Rania bertanya pada Tristan seolah dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Tristan.


Tristan pun mengangguk dan tersenyum. Kemudian dia berkata,


"Raline tuh beda banget sama semua cewek yang ngejar-ngejar aku. Dia malah sama sekali gak mau dekat sama aku," ucap Tristan sambil tersenyum membayangkan masa-masa selama ini dia mendekati Raline.


"Kenapa gak langsung ditembak aja biar kalian bisa ke mana-mana bareng. Dan pasti keluarganya akan mengijinkan kamu mengantar jemput dia jika tau kamu pacar anaknya," kini Ali yang memberi nasehat pada Tristan.


"Gimana caranya? Dia aja gak pernah mau aku ajak pulang bareng. Ini tadi aja karena terpaksa dia lama nunggu jemputannya. Dan juga, setiap aku mau menyatakan perasaanku, selalu saja ada gangguan. Selalu saja ada hal yang membuat aku gak bisa dapat jawaban darinya," jawab Tristan menyuarakan isi hatinya.


"Gampang, nanti kita akan bantu," ucap Rania yang membuat Tristan mengangguk dan tersenyum senang.

__ADS_1


__ADS_2