
Di tengah perjalanan, Kevin mengajak Dokter Vina untuk makan di sebuah Restauran karena sudah waktunya makan siang dan entah kenapa rasanya Kevin ingin berlama-lama dengan Dokter Vina. Pembawaan Kevin yang humoris dan santai membuat Dokter Vina nyaman dan hanyut dalam candaan dan obrolan yang dilontarkan oleh Kevin. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan, namun kali ini perjalanan mereka tidak canggung seperti sebelumnya. Kini mereka sudah lebih akrab dan selalu diselingi dengan candaan di setiap obrolan mereka.
Pada saat Kevin menurunkan Dokter Vina di depan rumahnya, tiba-tiba ponsel Kevin berbunyi, Aydin mengajak Kevin bertemu, karena kebetulan Kevin sedang berada di sekitar tempat yang dijanjikan maka dia mendatangi Aydin untuk sekalian membicarakan tentang Kiki.
Kini mereka bertemu di cafe milik Aydin.
"Bro, apa kabar?" Kevin menyapa Aydin yang sudah duduk di salah satu meja yang berada di pojok.
Aydin tersenyum getir, "Ya gini ini."
Kevin duduk di kursi berhadapan dengan Aydin. Kemudian Aydin meletakkan ponselnya di hadapan Kevin.
Kevin memandang heran ponsel Aydin yang di hadapannya kemudian dia memandang Aydin dengan tatapan bingung.
"Udah kamu liat aja dulu," Aydin memutar video rekaman CCTV di rumahnya pada saat Naila mencampurkan obat penggugur kandungan ke susu Kiki dan rekaman CCTV di kamar Naila pada saat Aydin dan Ayahnya mengambil bukti botol obat dan sendok yang dipakai untuk mengaduk susu di tempat sampah kamar Naila serta kejadian dimana Kiki melihat Aydin bersama Naila dalam posisi yang terlihat sangat intim.
Kevin melihat video itu dan dia menghela nafas panjang serta menggelengkan kepalanya, dia merasa Kiki dan Aydin harus meluruskan semuanya.
"Aku percaya kamu, tapi aku ingin kamu memberikan waktu untuk Kiki menenangkan diri dulu agar bisa kembali seperti dirinya sendiri dan setelah itu silahkan selesaikan masalah kalian. Aku harap kalian akan bisa menyelesaikannya dengan baik dan kembali menjadi pasangan yang harmonis dan romantis seperti dulu lagi," Kevin tersenyum menguatkan Aydin yang terlihat sangat lesu.
"Aku mohon Vin, tolong bantu aku bertemu dengan istriku. Aku sangat merindukannya. Aku tidak mau jauh darinya. Tolong aku Vin... aku bisa gila kalau begini terus," Aydin mengiba pada Kevin untuk dipertemukan dengan Kiki.
"Aku tau. Tapi aku bisa apa? Kiki masih butuh waktu, dan itu tidak lama, kata dokter yang menanganinya dia sudah lebih baik dan kemungkinan dalam beberapa hari lagi dia bisa bertemu denganmu. Biarkan dia sekarang menyiapkan mental dan hatinya untuk bertemu kembali denganmu agar masalah kalian bisa cepat selesai," Kevin menyodorkan kembali ponsel Aydin setelah dia mengirimkan video tersebut ke nomer ponselnya.
"Bisakah aku menemuinya sekarang? Aku yakin dia akan baik-baik saja. Percayalah Vin, aku pasti bisa membuatnya kembali menjadi Kiki yang dulu," Aydin kembali mengiba pada Kevin.
"Maaf Bro, bukannya aku tidak mau membantu, lebih baik aku saja yang menjelaskan semuanya pada Kiki, setelah itu kalian bisa bertemu. Gimana? Ini video sudah aku kirim ke ponselku, aku akan membantumu menjelaskannya pelan-pelan pada Kiki," Kevin menunjukkan ponselnya yang sedang memutar video yang tadi dia kirim dari ponsel Aydin.
Tring...
Tiba-tiba ponsel Aydin berbunyi tanda notifikasi pesan masuk dari Manager pabrik teh Aydin. Dibukanya pesan tersebut. Mata Aydin membelalak kaget, namun sedetik kemudian sudut bibirnya terangkat tersenyum melihat pesan masuk tersebut. Ternyata dalam pesan tersebut terdapat foto Kiki yang berada di kebun teh. Sebenarnya pada saat itu Kiki bersama Raditya, namun pada saat foto itu diambil pas sekali Raditya sedang berjongkok di depan Kiki untuk mengikat tali sepatu Kiki yang terlepas, sehingga Raditya tidak terlihat oleh kamera yang terhalang tanaman teh. Dalam foto itu hanya ada Kiki yang berdiri diantara tumbuhan teh.
"Ada apa?" Kevin menatap curiga Aydin yang melihatnya ponselnya dengan ekspresi yang berbeda.
"Gak ada apa-apa. Oh iya, sekarang kamu mau kemana?" tanya Aydin pada Kevin untuk mengalihkan pertanyaan Kevin barusan.
"Mau pulang ketemu nyokap, kasihan dari kemarin-kemarin gak ketemu anaknya yang ganteng ini," canda Kevin untuk mencairkan suasana.
Aydin hanya tersenyum tipis, karena hatinya masih sangat bersedih jauh dari istrinya yang kini membencinya.
"Kiki, gimana kabarnya?" Aydin kembali bersedih mengingat istrinya.
"Sans Bro, dia baik-baik aja kok, tenang aja kalian pasti akan kembali bersatu. Percaya deh sama kakak ipar mu ini," seloroh Kevin agar Aydin tidak bersedih lagi.
"Pasti dia senang tidak bersamaku, dia benci banget ya sama aku, sampai-sampai gak mau ketemu," tak terasa air mata Aydin menetes, namun segera dihapusnya.
"Kamu gak tau kan kalau dia tiap malam mengigau namamu dan menyuruhmu untuk tidak meninggalkannya," Kevin menatap serius mata Aydin.
__ADS_1
Aydin terkejut, dia menatap serius mata Kevin dan sepertinya apa yang diucapkan Kevin itu jujur, dia tidak menemukan kebohongan dalam raut wajah dan mata Kevin.
"Benarkah?"
Kevin mengangguk membenarkan ucapannya.
" Ayolah Bro, temukan aku dengan dia," Aydin memohon kembali pada Kevin.
"Nanti, aku akan tanyakan Kiki dulu, tapi aku pasti bantu kamu," Kevin mengambil kunci mobilnya di atas meja.
"Aku pulang dulu, Mama sudah menunggu. Apa kamu mau ikut?" Kevin menawari Aydin untuk ikut dengannya.
Aydin menggeleng dan berkata, "Hati-hati."
Kevin pun mengangguk dan kemudian dia berlalu pergi menuju mobilnya.
Aydin segera menghubungi manager pabrik teh yang mengirimkan foto Kiki di kebun teh tadi. Setelah itu dia segera berlari menuju mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh agar cepat sampai ke kebun teh untuk bertemu istrinya.
Sedangkan Kevin menuju ke rumahnya untuk bertemu Mama dan Papanya. Kevin berniat memperlihatkan video yang diperoleh dari Aydin tadi agar mereka mengetahui kebenarannya.
Di dalam Villa milik keluarga Raditya, Kiki sedang bercanda tawa dengan Raditya sambil bernyanyi. Seperti biasanya, Kiki sebagai vokalis dan Raditya yang memainkan gitarnya sambil bernyanyi bersama Kiki. Mereka begitu bahagia, terpancar jelas di raut wajah mereka.
Aydin sudah sampai di kebun teh miliknya. Dia menemui orang yang memberi tahu keberadaan Kiki tadi. Dia bilang jika Kiki tadi berjalan menuju Villa dengan seorang lelaki. Mendengar Kiki bersama seorang lelaki, Aydin pikir jika lelaki itu adalah Kevin. Dia segera menuju ke villanya, namun ketika melintasi Villa milik keluarga Raditya dia melihat Kiki di taman bercanda dan tertawa dengan Raditya yang sedang memainkan gitar sambil bernyanyi bersama. Hatinya begitu dikuasai emosi. Dia hentikan mobilnya dan segera berjalan cepat ke arah mereka.
Kiki dan Raditya yang pada saat itu sedang bernyanyi dan diselingi tawa seketika berhenti ketika Aydin tiba-tiba ada di hadapannya.
"Sayang... ," Aydin mendekati Kiki dan berlutut di depan Kiki yang sedang duduk.
Tiba-tiba saja Raditya mencengkeram kerah baju Aydin hingga Aydin ikut tertarik berdiri.
"Kurang ajar kamu. Beraninya kamu menampakkan diri setelah membuat Kiki menderita? Bang... sat.... !"
Kepalan tangan Raditya mengarah ke wajah Aydin, namun dihentikan oleh Kiki.
"Didi... jangan.... ," Kiki menghalangi pukulan tangan Raditya dengan badannya.
Aydin kaget dengan reaksi Kiki yang melindunginya. Reflek dia memeluk Kiki dari belakang.
"Ki, minggir, biar aku hajar dia," Raditya masih mempertahankan kepalan tangannya ingin memukul Aydin.
"Jangan Di, biar aku sendiri yang menyelesaikannya. Jika memang dia bersalah, biarkan aku yang menghukumnya," Kiki menghempaskan kedua tangan Aydin yang melingkar di pundaknya.
Kemudian Kiki menggandeng Raditya dan mendudukkannya di kursi taman yang mereka duduki tadi.
Aydin menatap tajam Raditya yang di gandeng oleh Kiki. Dia tidak terima istrinya menggandeng cinta pertamanya.
Ah, andai saja aku tidak dalam situasi seperti ini pasti akan aku hajar dia. Andai saja Kiki sedang tidak marah denganku, pasti aku akan menggendongnya sekarang masuk ke dalam mobil , batin Aydin.
__ADS_1
Kiki kembali berjalan mendekati Aydin.
"Ada apa?" Kiki berkata ketus tanpa melihat wajah suaminya.
"Sayang aku kesini menjemputmu, aku minta maaf atas semua yang terjadi. Ayo kita pulang sekarang," Aydin memendam kemarahannya tadi dan dia memberikan senyuman manisnya agar istrinya mau pulang bersamanya.
"Enggak mau. Aku mau tetap disini. Kamu jahat, aku gak mau sama kamu," Kiki benar-benar hanyut dalam perkataannya, air matanya kini tidak bisa dibendung lagi.
"Sayang, maafkan aku, ini aku akan perlihatkan sesuatu agar kamu percaya. Sayang, ayolah kita pulang, aku tidak bisa hidup tanpa kamu," Aydin mengiba memohon, dia memegang kedua tangan Kiki dan kembali berlutut di hadapannya.
"Kamu bohong, buktinya kamu masih bisa hidup sampai hari ini meskipun tanpa aku kemarin-kemarin. Dasar pembohong!" Kiki menghempaskan tangan Aydin dan dia mundur ke belakang satu langkah dari tempatnya berdiri saat ini agar tidak terlalu dekat dengan Aydin.
"Hpphhff.... sukurin...," Raditya menahan tawanya dan meledek Aydin.
"Sayang, kamu ingin aku mati?" Aydin tidak bis berkata-kata mendengar jawaban Kiki yang tidak diprediksinya sama sekali.
"Ya bukan seperti itu, cuma katanya kan gak bisa hidup tanpa aku, lah ini buktinya masih hidup, apa karena ada wanita ular itu jadi masih bisa bertahan hidup?" Kini Kiki mengatakannya dengan nada sewot.
Raditya kembali tertawa, namun kali ini tidak bisa ditahannya. Aydin menatap tajam pada Raditya. Rasanya dia ingin mengulitinya, mencincangnya dan merebusnya.
Namun ditahannya, karena misinya kali ini adalah membujuk istrinya agar mau pulang dengannya.
"Bukan seperti itu sayang, aku bertahan hidup demi kamu, dan karena aku ingin kembali memiliki anak denganmu," Aydin mendekat dan memeluk erat tubuh Kiki sehingga Kiki tidak bisa memberontak untuk melepaskan diri.
"Lepas... lepasin... lepas aku bilang," Kiki memberontak menggerak-gerakkan badannya agar terbebas dari pelukan suaminya.
"Tidak, sampai kamu mau mendengarkan penjelasan ku," Aydin tetap tidak melepaskan pelukannya.
"Wooi... Bang lepasin Kiki, kasian itu gak bisa nafas," Raditya mencoba melerai pelukan Aydin pada Kiki.
"Diem kamu, jangan ikut campur urusan kita," Aydin membentak dengan tegas membuat Raditya seketika melepaskan tangannya dari lengan Aydin. Sedangkan Kiki yang kaget karena bentakan Aydin seketika tubuhnya berhenti bergerak untuk memberontak.
"Sayang, dengarkan aku. Sampai kapan pun aku akan selalu setia padamu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku sangat mencintaimu. Selamanya," Aydin lebih erat mendekap tubuh Kiki.
Entah kenapa air mata Kiki jatuh tak tertahankan. Dia diam meresapi setiap perkataan suaminya, begitu menyentuh dan menggetarkan hati, Kiki merasakan kesungguhan dalam perkataan dan dekapan suaminya.
Akhirnya dia menyerah. Tubuhnya diam tak bergerak. Aydin pun mulai mengendurkan pelukannya dan akhirnya dia mengurai pelukannya, dia tatap dalam mata istrinya kemudian dia mulai mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan video rekaman CCTV yang sama dengan yang dia tunjukkan pada Kevin tadi.
Kiki mengambil alih ponsel Aydin, dan dia menatapnya tak percaya. Kiki menutup mulutnya dan air matanya kembali mengalir jatuh ke pipinya.
Aydin mengusap lembut air mata Kiki dan seperti biasanya, dia mencium kedua mata Kiki dengan perasaan sayang yang begitu dalamnya. Kiki mendongak menatap wajah suaminya, namun dia kembali menangis karena rasa penyesalan yang mendalam.
"Maaf... maafkan aku," Kiki mengatakannya disela isakan tangisnya.
Aydin menggeleng dan berkata, "Enggak sayang, kamu gak salah, aku yang salah gak bisa menghindari wanita itu. Sekarang dia sudah ditahan di kantor polisi. Aku waktu itu pulang ke rumah karena membawanya ke kantor polisi, tapi pada saat itu kamu malah pergi meninggalkanku. Tolong jangan pergi lagi dari hidupku, aku gak akan sanggup," Aydin menciumi semua wajah Kiki.
Raditya muak melihat adegan itu langsung di depan matanya. Dia tidak kuat menahan rasa sakit hatinya. Dia pergi meninggalkan mereka masuk ke dalam Villa. Dicengkeramnya dengan kuat kaleng soft drink yang dia minum habis tak tersisa, setelah itu dia lempar dengan kuat dan jauh.
__ADS_1
"Aaaarghhhh.... ," Raditya berteriak melepaskan rasa sesak dalam hatinya.
Ya Allah kenapa sesakit ini, kenapa rasa ini tidak hilang juga jika kita memang tidak berjodoh? Aku tidak rela jika kehilangannya , Raditya membatin dengan rasa frustasinya menjambak rambutnya dan duduk di belakang pintu kamar yang ada di salah satu villa.