
Dokter Anggi menoleh pada Aydin, karena Dokter Anggi merasa heran dengan Kiki yang tidak mengetahui keadaannya. Aydin duduk di sebelah Kiki, tangan kanannya menggenggam erat tangan Kiki, sedangkan tangan kirinya merangkul pundaknya dengan erat, meletakkan kepala Kiki pada pundaknya untuk memberikan kekuatan padanya. Dokter Anggi lebih mendekat pada Kiki, dan dia memberikan senyuman yang begitu teduh, kemudian dia menceritakan semua yang dialami oleh Kiki dan berakhir dia tahu bahwa janinnya sudah tiada. Tidak ada reaksi apa - apa dari Kiki, dia hanya diam dan matanya yang semula berkaca - kaca ketika Dokter Anggi menceritakan tentang yang dialami olehnya, namun air matanya mulai menetes ketika dia mengetahui bahwa janin yang ada di kandungannya kini telah tiada.
"Sayang... sayang.... udah gapapa, mungkin belum rezeki kita. Nanti pasti ada saatnya kita akan diberikan amanah lagi sebagai orang tua", Aydin mengusap lembut air mata Kiki yang jatuh tidak ada hentinya.
Dokter Anggi menatap iba pada Kiki. Apa yang ditakutkannya tadi, kini benar - benar terjadi. Kiki kembali syok, dan hanya diam dengan pandangan mata kosong dan mengeluarkan air mata tanpa mengeluarkan suara tangisnya. Dokter Anggi menatap Aydin dan menggeleng iba. Bagaimanapun, pasien harus tahu tentang keadaan dirinya. Maka, Dokter Anggi tidak ada pilihan lain selain memberitahukan pada Kiki tentang semuanya.
"Sayang.... sayang... jangan begini, tolong jangan siksa aku", Aydin memeluk erat tubuh Kiki yang menurut jika digerakkan orang lain, seolah tubuhnya tak bertenaga.
Lagi - lagi Kiki seperti mayat hidup yang hanya bisa mengeluarkan air mata dan menatap kosong dalam diam. Bunda tak kuasa menaham tangisnya. Hingga Ayah bergegas masuk ketika baru saja datang sampai di depan pintu dia mendengar suara remang - remang tangisan Bunda dan Aydin dari luar pintu. Setelah melihat keadaan yang mengharu biru di dalam ruangan tersebut, Ayah segera memerintahkan Dokter Anggi untuk memanggil Dokter Vina untuk memeriksa menantunya itu. Dengan segera Dokter Vina datang setelah mendapatkan telepon dari Dokter Anggi yang masih berada di ruang perawatan Kiki. Dokter Vina mendekati Kiki dan meminta tangan Kiki yang berada di genggaman tangan Aydin. Kemudian Dokter Vina memegang telapak tangan Kiki dengan penuh perasaan, dia benar - benar iba dengan kondisi Kiki yang setelah pulih malah mendapatkan pukulan kembali sehingga membuat dirinya kembali syok.
Aydin masih duduk di sebelah Kiki, namun tangannya sudah lepas dari tangan dan pundak Kiki. Kini dia memberi kesempatan pada Dokter Vina untuk lebih dekat dengan Kiki dan menenangkannya untuk bisa segera memulihkannya.
Dokter Vina memeluk tubuh Kiki dengan lembut dan penuh perhatian.
"Gapapa... jangan sedih ya, jangan nangis lagi. Kamu pasti akan baik - baik saja. Kamu kuat, kamu wanita hebat. Kiki yang saya kenal adalah Kiki yang bisa menghadapi semuanya, karena seorang Kiki adalah wanita yang mendapatkan banyak cinta dari orang - orang di sekitarnya. Jadi kamu harus bisa melupakan semua ini, karena kamu harus bersiap menerima sesuatu yang akan diberikan Allah untuk menggantikan rasa kehilangan yang kamu rasakan saat ini. Yuk kembali senyum, kembali sehat dan kembali beraktifitas lagi seperti dulu", Dokter Vina mengurai pelukannya.
Dia menatap dalam mata Kiki yang penuh luka di dalamnya. Dokter Vina menatapnya dan mengusap air matanya sambil berkata,
"Gapapa.... udah jangan nangis lagi ya. Ini semua sudah menjadi takdir dari Allah", Dokter Vina senyum ketika mata Kiki merespon menghadap wajahnya.
"Dok, kenapa ini bisa terjadi?" Kiki bertanya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Semua mata tertuju pada Kiki yang pertama kalinya mengeluarkan suara setelah mendengar penjelasan dari Dokter Anggi tadi. Dokter Vina duduk di kursi samping bed Kiki, dia tersenyum menenangkan dan berkata,
"Semua sudah menjadi ketentuan dari Allah. Kita hanya harus ikhlas dan sabar menerimanya", Dokter Vina lebih lega sekarang karena Kiki dengan cepat mau meresponnya.
Tiba - tiba Kiki bergerak, tangannya menggapai nakas dan mengambil pisau dari keranjang buah. Semua orang terkaget dan berteriak ketika melihat Kiki meraih pisau dan mengarahkannya pada pergelangan tangannya. Mereka tidak mengira jika Kiki akan mengambil pisau yang berada di keranjang buah di atas nakas. Mereka kira Kiki akan mengambil minum atau ponsel yang barusan ditaruh Ayah di atas nakas setelah dibawakan Ayah dari rumah tadi sewaktu mengambil gelas susu di kamar Aydin.
"Sayang.... jangan...", Aydin panik dan berteriak, dia mencoba meraih pisau dari tangan Kiki. Dia begitu histeris dan air matanya lolos jatuh begitu banyak tak kuasa melihat wanita yang dicintainya melakukan hal itu di depannya, wanita itu kini yang hatinya sedang terluka mencoba melukai dirinya di depan matanya. Dia bingung harus bagaimana, karena dia takut jika dia merebut dengan paksa malah akan melukai istrinya.
Dokter Vina mencoba mendekatinya, namun Kiki mengarahkan pisaunya lebih dekat pada kulit pergelangan tangannya, hingga kulitnya sedikit tergores. Semua yang melihat itu menjadi panik.
__ADS_1
"Tolong letakkan pisau itu, kita bicara seperti waktu itu, ok?!" Dokter Vina mencoba merayu dan bernegosiasi dengan Kiki. Dokter Vina hendak mengambil pisau tersebut, namun Kiki lebih mengeratkan pada pergelangan tangannya, dan goresan tipis di kulit pergelangan tangan Kiki pun mengeluarkan darah yang mampu dilihat oleh semua mata meskipun darahnya hanya sedikit dan tipis.
Bunda menjerit tak kuasa hingga jatuh pingsan.
Kiki menggeleng, "Tidak, aku tidak pantas hidup. Aku udah bunuh bayi dalam kandunganku. Aku jahat, aku tidak pantas hidup, aku harus mati. Aku harus bertemu dengan bayi ku dan meminta maaf padanya", Kiki meracau dengan wajah kebingungan dan air mata yang selalu menetes deras di pipinya.
"Tidak.... tidak sayang... tidak, ini bukan salah kamu", Aydin meraih tubuh Kiki dan memeluknya dengan paksa meskipun Kiki menghindar dan meronta memberontak sebagai tanda dia meminta untuk dilepaskan. Kesempatan untuk Dokter Vina mengambil pisau dari tangan Kiki, namun pisau itu dipegang dengan erat oleh Kiki, sehingga Dokter Vina tidak bisa mengambilnya, maka terjadilah adegan tarik menarik pisau, namun Dokter Vina takut jika pisau itu nantinya akan melukai siapapun, jadi lebih baik dia menahannya. Tangan kiri Dokter Vina memegangi tangan kanan Kiki, sedangkan tangan kiri Dokter Vina menahan tangan kanan Kiki yang membawa pisau. Aydin masih menahan tubuh Kiki dalam pelukannya. Mencoba menenangkan istrinya itu dengan cinta dan kasih sayangnya. Dia yakin perasaannya itu akan tersalurkan dan dapat dirasakan oleh Kiki lewat pelukan yang diberikannya saat ini.
Ayah bingung karena keadaannya jadi seperti ini. Saat ini Ayah sedang menolong Bunda yang sedang pingsan dan membopongnya, memindahkannya ke ranjang yang tidak jauh dari ranjang Kiki yang masih ada dalam ruangan tersebut. Ayah hendak membantu Dokter Vina untuk mengambil pisau yang dibawa Kiki setelah memindahkan Bunda ke ranjang.
Sedangkan Dokter Anggi akan membantu Dokter Vina, namun ponselnya bergetar dari saku jasnya. Dokter Anggi menghiraukan ponselnya, namun getaran itu terus saja tidak berhenti, Dokter Anggi takut jika itu merupakan panggilan darurat, Akhirnya dia mengangkat teleponnya dan melihat pesan yang dikirim seseorang.
"Semua ini bukan salahmu, ada yang sengaja memberikan obat penggugur kandungan dalam dosis besar yang dilarutkan pada susu yang kamu minum habis tadi pagi", Dokter Anggi berniat menghentikan tindakan Kiki dengan memberitahukan tentang hasil pemeriksaan tadi, dan dia memperlihatkan hasil pemeriksaan yang dikirimkan melalui pesan oleh petugas yang memeriksa gelas dan sisa susu yang diminum oleh Kiki tadi pagi.
Ayah mendekat ke Dokter Anggi setelah mendengar penjelasan Dokter Anggi tadi. Dia melihat hasil laboratorium yang terdapat pada ponsel Dokter Anggi. Ayah menggeleng tidak percaya bahwa ada yang mencelakai menantunya dan cucu yang dia harapkan. Wajah Ayah yang tegas kini meradang marah tidak bersahabat. Dia ingin mengetahui siapa yang telah berbuat sekeji ini, menghancurkan kebahagiaan keluarganya.
"Maksudnya Dok?" kini Aydin yang bertanya penasaran pada hal yang disampaikan oleh Dokter Anggi.
Ayah mengepalkan tangannya, dengan wajah murkanya dan suara marahnya Ayah berhasil membangunkan Bunda dari pingsannya.
"Kurang ajar!!! Siapa yang berani melakukan itu?"
Suara Ayah berhasil masuk ditelinga Bunda dan mengangetkan nya sehingga Bunda seketika membuka matanya.
Aydin hanya memejamkan matanya, dia merasa sangat marah namun kecewa dengan dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga menjaga istri dan anaknya yang masih dalam kandungan.
Kiki kini melemah, dia tidak lagi memberontak setelah mendengar penjelasan dari Dokter Anggi. Dia tidak percaya semua ini. Dia tidak tahu siapa yang harus disalahkan atas kejadian ini, yang dia bisa lakukan hanya menyalahkan dirinya sendiri. Kini tubuhnya kembali lemas tak bertenaga, pisau yang tadinya di genggamnya dengan erat, kini jatuh karena tangannya yang sudah tak bertenaga. Dia kembali menangis dalam dekapan Aydin. Suaminya itu memeluk erat tubuh Kiki yang bergetar bahunya naik turun karena menangis. Tangan Kiki mencengkeram erat baju Aydin, menyalurkan kekecewaan dan kemarahannya saat ini. Aydin hanya bisa memeluknya untuk memberitahukan pada istrinya itu bahwa dia selaku ada di dekatnya dan melindunginya. Aydin masih terdiam kecewa dan dia berpikir apa yang akan dilakukannya untuk mengembalikan istrinya seperti semula dan mencari tahu siapa dalang dari kejadian tersebut.
Bunda mengerjapkan matanya dan berusaha bangkit dari tidurnya setelah mendengar umpatan kemarahan dari Ayah.
"Ayah... ada apa?" Bunda berusaha duduk dan mengumpulkan ingatannya.
__ADS_1
"Bunda.... Bunda sudah sadar?" Ayah mendekat dan memeluk Bunda. Dia tidak kuasa memberitahukan pada Bunda, pasti dia juga akan sangat bersedih jika mendengar ada yang sengaja mengenyahkan cucu mereka yang masih dalam kandungan.
"Ayah... ada apa sebenarnya? Kenapa semua menangis? Cepat beritahu Yah", Bunda menggoyang - goyangkan lengan Ayah agar dia cepat memberitahu apa yang sebenarnya telah terjadi.
Dengan terpaksa Ayah bercerita tentang hasil dari pemeriksaan susu yang diminum Kiki tadi pagi. Bunda begitu kaget, dia menggeleng tidak percaya karena dia sendiri yang membuatkan susu itu, namun memang benar adanya firasat Bunda tidak enak pada saat Bik Sum akan memberikan susu itu pada Kiki. Ah benar, Bik Sum, apa mungkin Bik Sum yang puluhan tahun bekerja dengannya tega melakukan hal seperti itu? Sepertinya hal itu tidak mungkin, karena setahu Bunda, Bik Sum juga menyayangi Kiki dan turut senang akan pernikahan Aydin dengan Kiki. Tapi lantas kenapa susu itu bisa mengandung obat penggugur kandungan yang diberikan dalam jumlah dosis yang begitu besar, sehingga efeknya langsung bereaksi.
Bunda berpikir sambil meracau mengeluarkan isi pikirannya dengan suara pelan secara tidak sadar, namun karena kondisi ruangan yang sepi jadi mereka dengar apa yang Bunda gumamkan tadi.
Mereka semua menyimak apa yang digumamkan oleh Bunda. Kiki mengeratkan pelukannya pada tubuh Aydin. Dia mencari kenyamanan dan perlindungan, dia tidak mengira jika ada yang ingin mencelakakan dia dan bayi yang masih ada dalam kandungannya.
Sedangkan Aydin makin mempererat pelukannya ketika tangan Kiki melingkar di pinggangnya dengan erat. Dia tahu akan kesedihan dan rasa kehilangan yang begitu besar dalam hati Kiki, sama seperti yang dia rasakan, namun dia harus kuat dan sabar agar bisa melindungi dan memulihkan Kiki, dan jika mereka berdua terpuruk malah akan menjadi lebih buruk lagi.
Dokter Anggi dan Dokter Vani saling menatap dan saling menggeleng, kemudian mereka mengedarkan pandangannya masing - masing pada semua anggota keluarga Aydin yang sedang diselimuti kesedihan. Mereka berdua menatap iba pada mereka, terutama pada pasangan suami istri yang baru kehilangan bayi mereka yang masih dalam kandungan akibat perbuatan seseorang di luar sana yang tidak menginginkan mereka bahagia.
Ayah menenangkan Bunda, dia duduk di sebelah Bunda dan merangkul pundaknya.
"Sayang, tenang ya, nanti kita pasti akan cari tahu siapa yang berani melakukan ini pada keluarga kita", Ayah mengelus pundak Bunda.
"Siapa Yah yang tega merenggut kebahagiaan keluarga kita? Kenapa dia bisa melakukan itu? Ah bodohnya aku, seandainya waktu itu aku langsung memberikan susu yang sudah aku buat tadi pada Kiki, pasti tidak akan terjadi semua ini", kini Bunda menyalahkan dirinya sendiri.
"Tidak, kalian semua tidak ada yang salah. Ayah mohon kalian semua jangan menyalahkan diri kalian sendiri. Yang salah dia, orang yang telah dengan sengaja mencampur obat itu dalam susu yang Bunda buat tadi. Tenang saja,Ayah akan mencari tahu siapa orangnya. Tapi Ayah mohon kalian harus ikhlas dan sabar, kita lupakan semua ini agar Allah bisa cepat memberikan anugerahnya kembali pada Aydin dan Kiki", Ayah sangat geram pada orang yang menghancurkan kebahagiaan keluarganya.
Semuanya diam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ayah. Kemudian Dokter Anggi dan Dokter Vina memohon ijin pamit untuk kembali bertugas.
"Maaf, saya pamit untuk kembali bertugas", Dokter Anggi berpamitan pada semuanya.
Dokter Vina mendekati Kiki yang masih dalam pelukan Aydin. "Saya pamit dulu untuk kembali bertugas. Nanti saya akan kembali lagi ke sini untuk mengobrol dengan Mbak Kiki. Dan tolong jauhkan semua barang yang sekiranya berbahaya ." Dokter Vina mengelus punggung Kiki untuk menenangkan sekaligus berpamitan.
Aydin mengangguk dan Ayah pun mengangguk ketika Dokter Vina dan Dokter Anggi menundukkan kepalanya untuk berpamitan.
Bunda mendongakkan kepalanya, "Yah, apa kita tanyakan saja pada Bik Sum?"
__ADS_1
"Jangan Bun, Ayah rasa lebih baik kita mencari tahu dengan diam - diam agar tidak ada yang curiga. Tapi jika Bunda ingin bertanya tentang apa saja yang terjadi ketika Bik Sum mengantarkan susu ke kamar Aydin sih gapapa. Cuma Ayah takutnya jika orang yang melakukannya itu dengar dia akan curiga kalau kita sudah tahu", Ayah berpendapat seperti itu, namun dia juga bingung harus mencari tahu mulai dari mana.