Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
163


__ADS_3

Hari demi hari kesehatan Aydin semakin membaik. Dengan setia Kiki menemani Aydin yang menjalani terapi dengan selalu mendukung dan menjadi penyemangatnya.


Tentu saja Aydin sangat senang dan bertambah semangat didampingi istri tercintanya dan anak-anaknya yang sangat menggemaskan.


"Papi.... semangat Pi... semangat... semangat...!" Miyuki bersorak memberi semangat Papinya dan diikuti oleh Kenshin karena dia tidak pernah mau kalah dari adiknya.


"Ssssttt... kalian pikir jadi suporter bola? Ini rumah sakit, kalian tau kan di rumah sakit dilarang ramai ataupun berteriak?" Kiki menghentikan teriakan Miyuki dan Kenshin.


Seketika bibir Kenshin dan Miyuki mengatup. Hal yang paling ditakuti oleh mereka adalah jika Kiki marah dan mendiamkan mereka. Oleh sebab itu mereka tidak berani membantah Kiki karena mereka tidak mau didiamkan dan diacuhkan oleh Maminya.


Aydin tertawa melihat tingkah kedua anaknya. Hanya melihat mereka berdua saja membuat semangat Aydin bertambah. Demi mereka berdua dan demi istrinya Aydin berjuang untuk tetap hidup dan untuk bisa kembali ke dunia ini. Dan sekarang dia harus kembali berjuang agar bisa secepatnya pulih kembali dan bisa bermain bersama mereka lagi.


"Anak-anak Bapak lucu ya. Sangat menggemaskan. Tapi sepertinya mereka sangat penurut sama dokter Kiara," salah satu dokter ahli fisioterapi yang sedang menangani Aydin memuji Kenshin dan Miyuki.


"Karena mereka sangat sayang dengan Maminya," jawab Aydin yang masih berusaha berjalan dengan sesekali melihat ke arah anak-anaknya dan istrinya berada.


"Kelihatan sekali Pak keluarga kalian sangat bahagia. Semoga kalian bisa selalu bahagia. Kita turut senang Pak hanya dengan melihat kalian bahagia. Kami tau sendiri betapa sedihnya dokter Kiara ketika menunggu Pak Aydin di ruang ICU. Bahkan dia tidak mengurus dirinya sendiri, tidak mengurus penampilannya ataupun kesehatannya. Kami sangat prihatin," ucap dokter itu kembali.


"Dia memang istri terbaik dok," jawab Aydin dengan tersenyum bangga memiliki Kiki sebagai istrinya.


Dokter tersebut ikut senang karena dengan membicarakan istrinya, berdampak besar bagi Aydin. Benar saja Aydin bertambah semangat dan bisa melakukan terapi tanpa mengeluh serta Aydin mendapatkan kemajuan dalam terapinya.


Sudah hampir satu bulan ini Aydin menjalani terapi dan hasilnya sangat memuaskan. Semangat Aydin mampu membuat Aydin bisa sedikit demi sedikit berjalan kembali. Yang tadinya dia harus memakai tongkat untuk berjalan, kini dia berjalan tanpa memakai alat bantu apapun.


"Yeeee.... Papi udah sembuh..," Miyuki berteriak kegirangan melihat Aydin berjalan menghampirinya ketika mereka turun dari mobil sepulang dari sekolah.

__ADS_1


"Yeee... Papi udah bisa jalan lagi...," Kenshin bersorak kegirangan tidak kalah dengan Miyuki.


Kenshin dan Miyuki berlari ke arah Aydin yang sedang berjalan menghampiri mereka. Kiki hanya memperhatikan dari teras suami dan anaknya yang sedang melakukan perayaan ala mereka. Kiki masih belum melakukan tugasnya sebagai dokter di rumah sakit, dia hanya bekerja dari rumah untuk urusan rumah sakit.


Kiki ingat beberapa hari yang lalu Aydin bercerita padanya tentang mimpinya pada saat dia masih belum sadar. Sungguh trenyuh hati Kiki mendengarnya. Aydin berjuang keras untuk bisa kembali ke dunia ini agar bisa berkumpul bersama dengan anak-anak dan istrinya. Sudah tidak bisa diragukan lagi kesetiaan dan cinta Aydin padanya.


Kiki mengambil ponselnya dan mengabadikan tiap kejadian di depannya yang membuatnya tak henti-hentinya bersyukur. Di kirimnya foto-foto itu pada grup keluarga besar mereka dan grup yang berisikan sahabat-sahabat mereka.


Dengan seketika mereka semua mengatakan akan datang ke rumah Aydin dan Kiki untuk merayakan kesembuhan Aydin. Seperti biasanya mereka berkumpul dan mengadakan makan bersama serta menginap bersama di rumah Aydin dan Kiki.


Benar saja, tak menunggu waktu lama, mereka sudah datang dengan membawa banyak bahan makanan dan makanan yang sudah jadi, bahkan snack serta minuman kaleng mereka beli untuk acara dadakan tersebut.


Acara itu diadakan di tempat seperti biasanya, di taman belakang yang terdapat kolam renang pula di sana. Hingga dini hari, baru mereka tidur di tempat biasanya mereka tidur jika menginap di rumah itu.


Sedangkan Aydin dan Kiki meninggalkan mereka ketika jam istirahat Aydin sudah tiba.


"Sayang, maaf ya udah banyak menyulitkan. Kamu pasti berkorban banyak hal untuk menungguiku waktu itu dan merawatku sekarang ini. Aku udah sembuh, kamu udah bisa beraktifitas seperti biasanya. Dan biar aku aja yang merawat anak-anak sebelum aku kembali bekerja," ucap Aydin sambil menyelipkan rambut Kiki ke belakang telinga.


"Sudah menjadi tugasku sebagai seorang istri dan seorang ibu. Aku gak suka jika suamiku merasa bersalah dengan kewajibanku itu," Kiki menjawab dengan menatap lekat manik mata suaminya.


"Sepertinya sudah lama ya kita tidak romantis-romantisan seperti dulu. Bahkan ada yang mengajakku ke villa dan perkebunan teh jika aku udah sembuh. Kira-kira ingat gak ya orangnya?" Aydin menyindir Kiki dengan melirik Kiki yang kaget bercampur malu mendengar ucapan Aydin.


"Hah? Jadi.... jadi Bang Ay dengar?" tanya Kiki ragu karena malu.


Aydin mengangguk dan itu membuat Kiki bertambah malu, kemudian Aydin berkata,

__ADS_1


"Semuanya. Aku dengar semuanya apa yang kamu bicarakan, apa yang kamu ceritakan, apa yang kamu janjikan dan bahkan aku tau kapan aja kamu menangis," ucap Aydin sambil mengusap pipi Kiki yang berhari-hari semakin membuatnya bertambah cinta padanya.


"Apa benar? Jadi semuanya... aku...," ucapan Kiki menggantung karena dia malu menyebutkannya.


"Yuk aku gendong. Katanya istri cantikku ini minta digendong seperti waktu kita pertama kali di villa dan kebun teh waktu itu," Aydin bersiap dengan posisi akan menggendong Kiki.


"Iiih apa-apaan sih Bang. Sayang tuh baru aja sembuh gak boleh capek-capek ataupun angkat yang berat-berat. Lagian siapa yang minta digendong?" Kiki mengelak dari ucapannya yang dia ucapkan di ruang ICU rumah sakit waktu itu.


"Meskipun gini Abang kuat loh. Cuma gendong wanita cantik ini sih gak akan buat aku jatuh sakit lagi. Percaya deh," ucap Aydin yang ingin sekali menyenangkan Kiki.


"Enggak. Gak usah. Untuk sekarang turuti aja perintah dokter dan larangan-larangnnya gak boleh di langgar. Tau kan apa akibatnya kalau sampai dilanggar?" Kiki mencoba menakut-nakuti Aydin seperti biasanya.


"Siap Bu Bos. Ucapan anda adalah perintah bagi saya. Sekarang mari kita tidur dengan nyenyak agar cepat pulih dan bisa buatin Miyuki adek lagi," ucap Aydin sambil merangkul pundak Kiki berjalan menuju ranjang mereka.


"Mau adek lagi?" Kiki bertanya pada Aydin dengan heran.


"Iya dong biar tambah ramai," jawab Aydin sambil menaik turunkan alisnya.


Tiba-tiba ponsel Kiki berbunyi. Dan dengan segera Kiki melihatnya karena hari memang sudah larut malam. Dia takut ada hal yang penting jika ada yang menghubunginya selarut itu.


"Siapa?" tanya Aydin.


"Raline," jawab Kiki.


"Kenapa? Gak biasanya dia telepon jam segini. Apa ada yang terjadi?" tanya Aydin yang mendapat gelengan kepala dari Kiki.

__ADS_1


"Sayang gawat. Raline...."


__ADS_2