
Walaupun kedua orang tua Linda sangat kecewa padanya, mereka masih peduli padanya. Mereka berdua datang ke kantor polisi dan meminta penjelasan pada pihak polisi tentang kasus Linda.
Linda menemui kedua orang tuanya dengan perasaan malu dan bersalah. Kepala Linda menunduk takut dan malu menghadap kedua orang tuanya.
Ibu Linda meneteskan air matanya melihat badan Linda kini tidak terurus semenjak di penjara dan wajahnya tidak sesegar biasanya. Ibunya sangat menyayangkan perbuatan Linda yang tidak bersyukur dengan apa yang sudah dia miliki sekarang.
"Mana laki-laki sialan itu? Kenapa dia tidak ada bersamamu?" Ayah Linda bertanya dengan wajah tegas dan amarah serta emosi yang dirasakan oleh setiap orang yang mendengarkannya.
"A-anu Yah, dia... dia lebih dulu bebas karena jaminan dan sekarang dia sedang mencari uang untuk membayar jaminanku," Linda menjawab dengan gagap karena takut pada Ayahnya.
"Sialan! Berani sekali dia meninggalkan kamu sendiri di dalam sel tahanan ini!" Ayah Linda tidak bisa lagi menahan emosinya sambil menggebrak meja.
Linda dan Ibu Linda kaget serta takut melihat Ayah Linda yang emosinya sudah tidak bisa terkontrol lagi.
Akhirnya, Ayah dan Ibu Linda mencari jalan damai dengan mendatangi rumah Raditya, berharap Raditya bisa membantu mereka mengeluarkan Linda dari sel tahanan.
Dengan perasaan menahan malu yang sangat mendalam, Ayah dan Ibu Linda datang ke rumah keluarga Raditya dan mengutarakan permintaan maaf mereka, serta mereka ingin Raditya membantu Linda untuk keluar dari sel tahanan yang membatasi ruang gerak Linda sudah seminggu lamanya.
"Permintaan Ayah dan Ibu saya terima, tapi maaf, untuk membantu Linda saya tidak bisa. Dan Ayah juga Ibu harus tau jika korban Linda dan Riko adalah sahabat baik saya. Mereka yang membantu saya untuk merawat dan memberikan kasih sayang pada Raline disaat Linda sedang asyik-asyiknya dengan Riko tanpa memikirkan anaknya di rumah yang selalu merindukan dan menanyakannya," Raditya menahan amarah di dadanya hingga sesak rasanya ketika mengatakan semua hal yang menyakitkan itu.
"Tolonglah Nak, kami mohon. Memang kami juga membenci perbuatan Linda, tapi setelah kami melihatnya berada di dalam sel tahanan, kami merasa kasihan padanya," Ibu Linda mengiba pada Raditya.
"Maaf sekali lagi Bu, yang melaporkan Linda bukan saya, jadi saya tidak bisa membantu anak Ibu. Maaf saya harus berangkat sekarang," Raditya terpaksa pergi keluar karena ingin menghindari Ayah dan Ibu Linda.
Kebetulan sekali ada Raline dan Renita yang baru saja datang berjalan-jalan, Raditya mengajak Raline dan Renita ikut dengannya. Karena mengajak Raline, Raditya kali ini tidak membawa motornya, Raditya lebih memilih menggunakan mobil agar lebih aman untuk Raline.
__ADS_1
Ayah dan Ibu Linda pun memohon pada Abah dan Ambu agar bisa membantu mengeluarkan Linda dari sel tahanan, namun Abah dan Ambu pun tidak bisa menjanjikan apa-apa. Sampai-sampai Ayah dan Ibu Linda merendahkan harga diri mereka dengan berlutut di hadapan Abah dan Ambu, dan hasilnya pun tetap sama. Abah dan Ambu tidak memiliki wewenang apa-apa untuk membantu Linda bebas dari sel tahanan.
"Kita mau kemana A'?" tanya Renita ketika sudah berada di dalam mobil.
"Gak tau Re, kita kemana ya? Aku tadi cuma ingin menghindari kedua orang tuanya wanita itu saja," Raditya sudah tidak mau menyebut nama Linda lagi sejak mereka bercerai, hanya tadi saja menyebut nama Linda dihadapan kedua orang tua Linda membuat Raditya dadanya sesak karena terhimpit kembali kenyataan yang harus dia hadapi.
"Ayah.. Ayah... kita ke rumah Tante Kiki aja ya," Raline memberikan saran yang membuat Raditya berpikir dua kali.
"Ayo A' kita ke rumah Mbak Kiki, aku kabari juga Bang Kenan, biar seru rame-rame kayak biasanya," Renita menyetujui ide Raline.
"Gak enak Re, masa' iya kita ngerepotin Kiki sama Bang Aydin terus?" jawab Raditya yang masih fokus menyetir melihat ke depan jalan.
"Pasti Mbak Kiki seneng banget kita datang ke sana A', coba aja deh kalau gak percaya," Renita benar-benar mendukung ide Raline untuk pergi ke rumah Kiki dan Aydin.
"Ayo Yah... ayo ke rumah Tante Kiki sama Om Aydin," Raline merengek meminta ke rumah Kiki dan akhirnya Raditya melajukan mobilnya menuju rumah Aydin dan Kiki.
"Tante... tante...," Raline berlari menuju Kiki dan memeluknya dengan erat ketika Kiki sudah merendahkan tubuhnya sejajar dengan Raline dan membuka lebar kedua tangannya untuk menangkap tubuh Raline yang berlari kearahnya.
"Maaf Ki, tadi Raline memaksa minta main ke sini, padahal sudah aku larang, tapi dia memaksa," Raditya merasa menyesal dan tidak enak pada Kiki dan Aydin.
"Apaan sih Di, biar aja Raline main ke sini tiap hari juga boleh. Iya kan Bang?" Kiki meminta persetujuan Aydin.
"Boleh dong biar Ken ada temannya," jawab Aydin yang sedang menggendong Baby Ken.
"Bang, boleh kita ngobrol sebentar?" Raditya meminta Aydin untuk berbicara berdua dengannya.
__ADS_1
"Bentar," Aydin memberikan Baby Ken pada Kiki.
"Ayo Bro kita ke belakang," Aydin dan Raditya berjalan menuju taman belakang.
"Ada masalah? Kok kelihatannya kamu sedang kesal gitu," Aydin bertanya karena melihat Raditya yang tidak seperti biasanya.
"Tadi kedua orang tua Linda datang Bang, mereka meminta bantuanku untuk membebaskan Linda dari sel tahanan. Sedangkan Riko sudah keluar seminggu yang lalu," Raditya sangat kesal mengatakannya.
"Riko bebas? Kok gak ada yang ngabari kita? Coba nanti aku tanya ke mereka bagaimana caranya Riko bisa lepas dengan mudah. Lalu, Linda bagaimana? Apa kamu mau membebaskannya?" tanya Aydin penasaran.
"Jangan Bang, biarkan saja dia merenung di dalam sana, biar dia tahu semua kesalahannya. Tadi kedua orang tuanya memaksa, mangkanya aku cepat-cepat pergi dari rumah mengajak Raline, eh malah pas di jalan Raline minta ke sini," Raditya kembali merasa tidak enak pada Aydin.
"Sans Bro, masalah Raline gak usah ngerasa gak enak sama kita. Raline bebas main ke sini kapanpun doa mau. Kalau mau dia boleh panggil kita Mami Papi sama kayak Ken manggil kita," ucap Aydin sambil memukul-mukul pelan pundak Raditya.
"Makasih Bang," Raditya tersenyum tulus mendengar perkataan Aydin, dia sungguh bersyukur kini mempunyai sahabat-sahabat yang begitu baik dan perhatian dengan Raline.
Raditya tidak bisa menyangka jika Aydin bisa sebaik itu dengannya dan Raline, mengingat masa dulu Aydin selalu cemburu padanya jika dirinya berdekatan dengan Kiki. Ternyata dengan perceraiannya Raditya dan Linda membawa berkah bagi Raditya. Dan Raditya yakin jika Allah telah memberikan takdir yang indah untuknya nanti.
......................
Di suatu Villa yang berada di pulau Lombok, terdapat sepasang kekasih yang saling mengkhianati pasangannya. Mereka berlibur berdua dengan nyamannya seolah mereka tidak memiliki pasangan.
Mereka berencana untuk tinggal di sana selama satu bulan karena suami sang wanita tersebut sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis. Sedangkan sang pria, yaitu Riko, dia melupakan janjinya pada Linda.
Berkali-kali Linda menghubunginya namun selalu saja tidak aktif. Memang ponsel Riko tidak aktif karen sang wanita tidak memperbolehkan Riko mengaktifkan ponselnya agar liburan mereka tidak terganggu, apalagi jika mereka sedang melakukan kegiatan panas mereka, sang wanita tidak ingin diganggu dengan alasan apapun.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel Riko yang mengganggu kegiatan panas mereka di ranjang.
"Riko, kamu nyalakan ponsel kamu?" tanya wanita tersebut yang bernama Tere dengan nada marah.