
"Maksud kamu Lin?" tanya Kiki bingung.
"Sakit gak sih hati kamu melihat suami mu jalan atau dekat bahkan mesra dengan wanita lain?" tanya Linda.
"Aku tau arah pembicaraan kami kemana. Tapi ini beda Lin. Aku benar-benar tidak pernah ada niatan merusak hubunganmu dengan suamimu. Dan semua yang kamu lihat tidak benar, hanya salah paham. Kalau yang ini beda, Caroline memang berniat mau mengambil Bang Ay dari ku," jelas Kiki.
"Sama Ki... ini masalah yang sama," Linda mencoba menjelaskan pada Kiki.
"Sama dari mananya?" potong Kiki sebelum perkataan Linda selesai.
Hormon kehamilannya membuatnya sensitif.
"Sama-sama akan jadi salah pahan jika tidak dijelaskan. Berkacalah dari permasalahan ku dengan Raditya. Aku akan tetap salah paham padanya karena aku tidak mencaritahu kebenarannya. Dan juga aku tidak bertanya padanya," senyum Linda kembali mengembang.
"Tapi jika bertanya padanya, bisa saja dia bohong," ucap Kiki.
"Kalau begitu kamu cari kebenarannya. Mintalah bantuan pada Kak Kevin. Pasti dia akan membantu adik kesayangannya ini," Linda menggoda Kiki agar tersenyum.
Di rumah sakit, Vina heran mendengar pertanyaan Aydin tentang Kiki. Segera Vina menghubungi Kevin dan menceritakan padanya. Kevin menjadi gelisah, dia takut terjadi apa-apa dengan adiknya, terlebih Kiki sedang mengandung.
Raditya disuruh Ambu untuk memberitahu keberadaan Kiki pada Kevin. Raditya pun menuruti perintah Ambu, dia menghubungi Kevin dan memberitahu bahwa Kiki ada di rumahnya. Dan memberitahu juga jika Kiki sedang ada masalah dengan Aydin, jadi Kevin dilarang untuk memberitahu Aydin dimana keberadaan Kiki sekarang.
Kevin pun bernafas lega dan mengucapkan terima kasih pada Raditya. Dia berjanji akan dengan cepat menuju ke rumah Raditya dan tidak akan memberitahu Aydin sebelum mengetahui apa yang terjadi. Setelah itu Kevin menghubungi Vina dan mengajak Vina untuk datang bersamanya karena mereka takut dengan keadaan Kiki terutama di masa hamilnya. Mereka tidak ingin kejadian yang dulu terulang kembali.
Sesampainya di rumah Raditya, Kevin dan Vina bertanya pada Kiki apa yang terjadi. Kiki dibantu dengan Raditya menceritakan apa yang tadi terjadi. Mereka tertawa terbahak-bahak ketika mereka mendengar Kiki memberikan Caroline CTM.
"Buat apa dek CTM kamu kasih ke dia?" tanya Kevin yang masih dengan tawanya.
"Biar dia gak kegatelan Kak," jawab singkat Kiki yang kembali kesal karena mengingat kejadian tadi.
"Lah terus ngapain kamu bawa CTM? kamu sakit? Gak boleh sembarangan minum obat Ki," ucap Vina.
"Itu obat titipan Bik Narsih buat cucunya yang alergi," jawab Kiki yang masih kesal.
Semua masih tertawa mendengar Kiki yang masih kesal namun bisa membuat tertawa orang disekelilingnya.
"Pokoknya nih Kak, Kiki gak mau pulang," ucap Kiki yang terlihat sangat kesal setelah menceritakan hal yang dialaminya di restoran tadi.
"Kamu haris dengarkan penjelasan Aydin dulu Dek, baru setelah itu kamu bisa putuskan tetap marah atau malah memaafkannya," tutur Kevin.
__ADS_1
"Maafin, enak aja. Si ulet keket itu gelayutan di tangannya Bang Ay loh kak. Eh Bang Ay nya malah keenakan, diem aja tuh gak nolak. Mereka malah ketawa-ketawa. Palingan juga ngetawain kebodohan aku yang percaya sama dia," ucap Kiki sambil menangis.
Hormon kehamilan Kiki sedang bekerja, sedikit saja dia terluka pasti dia langsung menangis.
"Bisa aja ada alasan dibalik semua itu Ki. Mungkin juga Aydin hanya pura-pura masuk dalam perangkapnya untuk memberi pelajaran sama dia," ucap Vina menghibur Kiki.
"Gak mungkin. Ada Bang Ke disitu, dia diem aja tuh. Gak ngasih kode apa-apa sama Kiki. Harusnya kalau memang lagi jalanin rencana kan pasti kasih kode gitu ke Kiki. Dan juga nih ya, yang nyuruh Kiki datang ke sana kan Bang Ay sendiri. Mungkin biar aku bisa lihat kalau dia udah balik lagi dengan ulet keket itu," tiba-tiba tangisan Kiki berhenti dan dia mengatakannya dengan kesal dan berapi-api.
"Huft... ya udah nanti Kakak tanyain dulu ke Kenan. Terus kamu ini gimana sekarang? Mau pulang ke rumah kita?" tanya Kevin.
"Ogah, takut dian nyamperin ke sana. Males aku lihat mukanya," jawab Kiki yang masih sebal.
"Terus kamu dimana dong Dek?" tanya Kevin frustasi.
"Bayarin di hotel ya," jawab Kiki dengan mengeluarkan jurus andalannya, dia mengatakannya dengan manja agar dikabulkan permintaannya.
"Enggak.Kamu tuh lagi hamil Dek. Kalau di hotel gak ada yang jagain kamu," Kevin menolak dengan tegas permintaan Kiki yang membuat Kiki mengerucutkan bibirnya kesal keinginannya tidak dipenuhi.
"Tinggal di rumah kakak aja gimana Ki? Rumah kakak kan besar, tapi sendirian," Vina memberikan saran dan itu sukses membuat bibir manyun Kiki mundur dan berganti dengan senyuman.
"Mau... mau... Kiki mau Kak," mata Kiki berbinar dan senyum mengembang di bibirnya.
"Emm Kak apa boleh aku tanyain ke Bang Kenan? Tapi aku pura-pura gak tau kok. Aku cuma hubungi atau kirim pesan seperti biasa aja gimana?" tanya Renita tiba-tiba.
Renita merasa tidak enak karena masalah ini juga menyangkut Kenan. Apalagi Kiki sudah menjadi kakak kesayangan bagi Kiki.
Semua menoleh pada Renita. Kiki diam untuk menimbang-nimbang saran dari Renita. Setelah itu dia mengangguk cepat menyetujui usulan Renita.
Renita mulai menghubungi Kenan di depan semua orang dan menekan tombol loud speaker agar semua bisa mendengar perbincangan mereka.
Renita berpura-pura mengajak Kenan pergi nonton sekarang. Namun seperti dugaan mereka, Kenan tidak bisa menuruti kemauan Renita untuk nonton bersama sekarang karena ada masalah penting yang telah terjadi. Renita memancing terus agar Kenan mau bercerita. Akhirnya Kenan mengatakan semuanya.
Awalnya Aydin dan Kenan tidak tahu jika perusahaan yang mengajukan kerja sama adalah perusahaan baru milik Caraoline. Dan baru tadi siang setelah kejadian di restauran itu, Kenan mencari tahu, ternyata perusahaan milik Caroline adalah harta gono-gini dari perceraiannya bersama sahabat yang menghamilinya dulu itu. Setelah bercerai dan mendapatkan perusahaan dari suaminya, Caroline kembali kesini untuk mendekati Aydin dan mengajaknya untuk menikah dengannya. Namun dikarenakan Aydin menolaknya, Caroline menjadikan Om nya sebagai senjata untuk menekan Aydin.
Om Caroline adalah salah satu klien yang bekerja sama dengan perusahaan Aydin sejak dulu sampai sekarang. Dan dia meminta Aydin agar menemani dan membimbing Caroline serta bekerja sama dengannya. Jika Aydin menolak dan menyakiti Caroline, Om Caroline akan menghentikan kerja sama mereka dengan kita. Dan bisa dipastikan itu membuat kerugian yang besar bagi perusahaan Aydin.
Kenan juga menjelaskan bahwa Aydin belum memberi jawaban atas permintaan Pak Hermawan yang merupakan Om Caroline. Namun Pak Hermawan mengatakan bahwa yang tadi dia bicarakan itu bukan permintaan, tapi perintah. Bisa dibayangkan bagaimana pusingnya Aydin.
Kenan juga menceritakan kejadian dimana Kiki melihat Aydin digandeng oleh Caroline. Aydin diam saja bukan berarti dia menikmatinya, tapi dia sedang bingung menentukan langkahnya selanjutnya.
__ADS_1
Kenan juga menceritakan bagaimana Kiki bertindak sewaktu berhadapan dengan Aydin yang sedang bersama Caroline. Kenan memberitahu Renita tentang CTM yang diberikan Kiki pada Caroline.
Dan hal itu membuat orang yang berada di rumah Raditya menahan tawa karena mendengar cerita itu kembali.
Kenan segera menutup teleponnya karena Aydin sedang membutuhkannya. Aydin dan Kenan sekarang sedang berada di kantor Ayah untuk berkonsultasi dan menceritakan semua yang terjadi. Ayah menyayangkan sikap Aydin yang lemah hanya dengan gertakan Pak Hermawan saja. Ayah mengatakan bahwa dia yang akan mengurus semuanya. Dan Aydin diperintahkan oleh Ayah untuk membawa kembali pulang menantu dan cucu yang ada di dalam kandungan itu.
Aydin sedikit lega karena Ayah mau membantunya untuk menyelesaikan masalahnya. Sebenarnya Aydin bisa saja menolak dengan tegas pada saat Pak Hermawan membicarakan permintaannya di ruang VIP restoran kemarin, namun Aydin memikirkan perusahaan yang sudah dirintis Ayahnya dari nol sampai sekarang berkembang pesat. Dia tidak mau egois mengambil keputusan penting yang akan merugikan keluarganya. Oleh sebab itu, Aydin masih memikirkan cara lain untuk menolak permintaan Pak Hermawan tanpa merugikan perusahaannya.
Air mata Kiki menetes dengan sendirinya. Air matanya menetes deras di pipinya. Dia tidak mengira jika dirinya salah paham dengan Aydin.
"Mangkanya Dek dengerin dulu, jangan asal kabur aja," sindir Kevin yang melihat Kiki mengeluarkan air mata.
"Meskipun begitu kejadiannya, harusnya Bang Ay gak mau lah digelayutin gitu tangannya sama si ulet keket. Kan kelihatan kayak beneran menikmati gitu. Harusnya dia lepasin tangannya kalau emang benar-benar gak mau. Lah ini malah dinikmati, mana sambil ketawa-ketawa lagi. Pokoknya Kiki gak mau pulang. Kiki mau sembunyi aja di rumah Kak Vina. Awas ya kalau Kak Kevin bilang ke Bang Ay Kiki di rumahnya Kak Vina," jawab Kiki panjang lebar disertai ancaman bagi Keviin.
"Dasar bumil labil. Sedikit-sedikit nangis, sedikit-sedikit marah," sindir Kevin pada Kiki.
"Eh... eh.. awas ya ati-ati kalau ngomong. Lihat aja kalau istri kakak hamil pasti lebih parah," Kiki menyumpahi Kakaknya.
"Sayang, kamu kalau hamil jangan ngesusahin orang kayak boncel ini ya," Kevin mengatakannya pada Vina.
"Liat aja anak Kak Kevin pasti kayak Kiki 100% ," Sumpah Kiki kembali pada Kevin.
"Amit-amit jabang bayi, ngapain jadi mirip kamu, orang bikinnya sama Vina," sahut Kevin tanpa malu mengatakannya di depan semua orang.
"Ck, kayak udah tau rasanya bercocok tanam sama bikin adonan aja," ledek Kiki pada Kevin.
"Belum merasakan tapi udah tau tutorialnya," jawab Kevin.
Semua orang yang berada disitu melongo melihat perdebatan kakak beradik yang unfaedah ini, namun sukses menjadi hiburan tersendiri bagi mereka.
Vina hanya tertunduk malu mendengar ucapan-ucapan Kevin yang vulgar dan di dengar banyak orang.
Kini masalah yang dihadapi oleh Aydin tinggal separuh saja bebannya. Kini dia berpikir kemana kiranya Kiki pergi. Karena Aydin dan Kenan sempat ke rumah orang tua Kiki namun Kiki tidak ada di sana.
Sampai akhirnya ada pegawai rumah sakit kepercayaan Ayah melaporkan pada Aydin jika Kiki ijin selama beberapa hari untuk beristirahat. Dan yang memintakan ijin ke pihak rumah sakit adalan Dokter Vina.
Aydin kaget dan merutuki kebodohannya sendiri karena tidak mengingat kedekatan Kiki dengan Dokter Vina yang juga calon kakak iparnya.
Segera Aydin pergi ke rumah Vina. Dan setibanya di rumah Vina, Aydin melihat Kiki berhadapan dengan seorang laki-laki yang tidak asing bagi Aydin. Mereka berada di teras depan rumah Vina. Lelaki itu mengusap lembut pipi Kiki dan tersenyum padanya.
__ADS_1