Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
188


__ADS_3

"Gimana Ran, kamu percaya padaku kan?" tanya Ali pada Rania yang masih sedikit syok karena tidak pernah dalam keadaan seperti itu sebelumnya.


"Mmm...," Rania bingung akan menjawab apa.


"Kenapa Ran? Kamu masih ragu sama aku?" tanya Ali pada Rania.


Kemudian Ali tidak lagi meletakkan telapak tangan Rania di dadanya, kini telapak tangan Rania dipegang erat oleh Ali agar Rania bisa merasakan ketulusan hatinya.


Namun sepertinya ini menjadi boomerang bagi Rania. Jantung Rania kini berdegup kencang. Rania merasa jika dirinya tertular debaran jantung milik Ali. Rasanya berdebar kencang hampir sama dengan milik Ali ketika dipegang oleh Rania tadi.


Kenapa sekarang jadi aku yang berdebar gini? Apa aku juga perlahan menyukainya? Apa ini benar-benar yang namanya cinta? Tapi aku baru mengenalnya. Hai jantung... kondisikan detakmu! Rania mengomel dalam hatinya sambil melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ali.


"Al, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Tapi aku gak yakin jika kamu gak akan marah padaku," Rania mengatakannya dengan ragu.


"Apa Ran? Ada apa? Sepertinya serius sekali," Ali berucap dengan wajah seriusnya.


"Al...mmm...," lagi-lagi Rania ragu untuk mengatakannya.


"Tau gak Ran, aku suka kamu manggil aku Al, ya... seperti nama kesayangan kamu untuk aku aja. Biasanya kan yang lain manggil aku Ali atau Li, gitu," ucap Ali sambil terkekeh.


Rania merutuki dirinya sendiri, karena seharusnya misinya sudah selesai sekarang. Karena dia sudah mengantongi bukti rekaman percakapannya dengan Ali yang mengaku tentang akhir pekannya bersama Resti di villa puncak.


Tapi entah kenapa Rania malah akan mengatakan yang sebenarnya pada Ali. Namun dia tidak bisa mengatakannya karena takut jika Ali marah dan membencinya.


Kenapa aku jadi takut Ali marah padaku? Harusnya aku gak masalah akan hal itu karena aku udah tau konsekuensinya sejak awal. Aaaaah.... ada apa denganku? Rania berkata dalam hati, dia sangat frustasi memikirkan tentang hatinya saat ini.


"Ran.... Rania... Rania...," Ali melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Rania.


"Eh, i-iya.... Kenapa?" Rania tergagap seperti ketahuan sedang melakukan sesuatu.


"Kamu melamun? Kenapa? Apa yang akan kamu bicarakan denganku tadi?" Ali mencerca Rania dengan beberapa pertanyaan.

__ADS_1


"Tapi aku takut kamu marah Al," tukas Rania sambil menundukkan kepalanya.


"Gak akan Ran, aku gak akan bisa marah sama kamu. Aku janji deh gak akan marah sama kamu. Sekarang kamu katakan padaku apa yang membuatmu gelisah seperti ini?" ujar Ali dengan sangat lembut pada Rania.


Rania berpikir sejenak, dia memejamkan matanya, dan memantapkan pikirannya. Akhirnya Rania memutuskan untuk mengatakan segalanya pada Ali dengan tujuan Ali bisa membantunya untuk menjadi saksi.


"Al, sebenarnya.... hufft....," Rania berhenti sejenak, dia mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan untuk menenangkan hatinya.


Setelah itu Rania mengatakan pada Ali apa yang dilakukan oleh Resti pada Raline di sekolah. Mulai dari Resti yang membenci Raline karena dia tidak bisa mendekati Tristan dan Tristan lebih memilih Raline, oleh sebab itu Resti memfitnah Raline. Bahkan fitnahan Resti pada Raline pun diberitahukan oleh Rania pada Ali.


Wajah Ali berubah menjadi tegang. Dia sadar bahwa selama ini dia dipermainkan oleh Resti, bahkan dia selalu memberikan Resti apapun yang dia mau, termasuk uang yang lebih dari cukup setiap beberapa hari sekali.


"Al, apa kamu marah padaku? Maaf Al, aku sangat minta maaf padamu jika memang apa yang aku lakukan untuk mencari informasi darimu tadi membuatmu marah padaku. Hanya saja aku gak bisa membiarkan sahabatku difitnah dengan keji seperti itu oleh Resti. Aku akan terima jika memang kamu marah pada-"


Tiba-tiba perkataan Rania berhenti ketika tangannya di genggam oleh Ali.


"Terima kasih Ran, aku sangat berterima kasih padamu. Kamu benar-benar membuka mataku dan hatiku. Terima kasih," ucap Ali sambil tersenyum manis pada Rania, namun hatinya sedang bergemuruh, marah pada Resti.


"Al, kamu gak marah sama aku?" Rania bertanya dengan mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Hah?!" Rania bingung dengan apa yang dikatakan oleh Ali.


Sebenarnya Rania mengira jika Ali akan marah padanya, dan lebih kasarnya lagi Ali akan menamparnya. Tapi ini... apa yang dilakukan Ali pada Rania malah sebaliknya, dia tidak marah sedikitpun pada Rania.


Apa aku yang dikerjain sama dia ya? Apa sebenarnya dia pura-pura tidak marah padaku tapi nantinya dia akan membalasku, apa iya Ali seperti itu? Rania sibuk bertanya dalam hatinya.


"Ran, kamu sedang mikir apa? Kami ragu sama perasaanku padamu? Aku berani bersumpah demi apapun Ran. Aku gak pernah merasakan ini sebelumnya, bahkan pada Resti sekalipun," Ali mencoba meyakinkan Rania.


"Apa kamu gak berniat membohongiku?" tanya Rania dengan muka polosnya.


Seketika Ali tertawa mendengar ucapan dari Rania. Ali tidak pernah tertawa lepas seperti ini bersama dengan Resti. Dan dia menyadari jika hari-harinya akan lebih bahagia dan berwarna jika bersama dengan Rania.

__ADS_1


"Bohong apa sih Sayang...?" ucap Ali tanpa sadar memanggil sayang pada Rania disela tawanya.


Seketika wajah Rania merona karena malu. Dia tidak pernah mendapat panggilan sayang dari lawan jenisnya.


"Ran... Rania...," Ali menggerak-gerakkan Tristanlengan? Rania untuk menyadarkannya.


"Kamu kenapa Ran?" tukas Ali.


"Eh eng-engak apa-apa. Aku... aku hanya... Eh Al, apa kamu sengaja melakukan ini agar kamu bisa balas dendam sama aku nantinya?" Rania bertanya dengan jujur.


Sontak saja Ali mengernyitkan dahinya. Setelah itu dia kembali tertawa. Sungguh dia merasa senang sekali bersama dengan Rania.


"Gak akan Sayangku.... Aku janji. Kamu boleh kasih hukuman ke aku apa aja kalau aku sampai ingkar janji," ucap Ali dengan menatap intens mata Rania.


"Sekarang apa kamu percaya padaku?" tanya Ali pada Rania yang masih menatapnya dengan intens.


Layaknya orang yang terhipnotis, Rania mengangguk dengan perlahan tapi pasti.


"Apa kamu mau menjadi pacarku?" tanya Ali dengan nada serius.


"Tapi Resti...," jawab Rania ragu.


"Akan aku bereskan semuanya dengan Resti," tukas Ali dengan antusias.


"Bagaimana? Apa kamu mau jadi pacarku?" tanya Ali kembali pada Rania.


"Lama banget sih mereka. Ngapain aja sih?" Naufal mengomel dari tempatnya mengintai saat ini.


"Tau tuh lama banget. Lagi pacaran kali mereka," Tristan menimpali dengan sewot.


Karena rasa tidak sabarnya, Naufal mengambil ponselnya dan menekan nomer Rania. Dari tempatnya saat ini dia melihat Rania yang sedang mengambil ponselnya dari saku jaketnya.

__ADS_1


Saat Ali kembali bertanya pada Rania tentang jawaban ungkapan perasaannya, pada saat itu juga ponsel Rania bergetar. Dia ambil ponselnya itu dari saku jaketnya dan dengan seketika matanya melotot karena melihat nama Naufal pada layar tersebut.


"Kenapa Ran? Siapa yang telepon?" tanya Ali yang membuat Rania gugup.


__ADS_2