Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
100


__ADS_3

Flashback


"Baby Ken... yuhuuuu... Daddy datang....," seru Kenan dari pintu masuk hingga ruang tamu.


"Baby Ken.... Dad-"


"Huss gak usah teriak-teriak, kayak di hutan aja," sewot Aydin yang keluar dari ruang makan.


"Cielaaa si Panda ngamuk. Hahahahaha...," ledek Kenan.


"Ngapain kesini?" tanya Aydin kesal.


"Sewot banget. Baby Ken... yuhuuuu... Daddy datang," teriak Kenan lebih keras.


"Bisa diam gak? Bisa diam gak?" tangan Aydin membekap mulut Kenan.


"Aihmmmph.....," Kenan berbicara tidak jelas karena mulutnya di dekap oleh Aydin.


"Apaan nih ribut-ribut?" Kiki menggendong Baby Ken keluar kamar.


"Ini makhluk datang teriak-teriak, dikira hutan apa," Aydin membuka bekapan mulut Kenan dan menoyor kepalanya.


"Sadis banget Lu," Kenan berlari kecil mendekati Baby Ken.


"Eh... eh.. eh jangan dekat-dekat," seru Aydin.


"Dikira kuman apa gak boleh dekat," sewot Kenan.


"Nih Ki, dari Ambu," Kenan memberikan bungkusan pada Kiki.


"Apaan nih?" tanya Kiki sambil menerima bungkusan dari Kenan.


"Makanan dari daun katuk katanya, buat kamu biar lancar ASI nya," jawab Kenan.


"Sini Baby Ken sama Daddy," Kenan bersiap mengambil Baby Ken.


"Enak aja Daddy-daddy, aku aja dipanggil Panda," Aydin mengambil Baby Ken dari gendongan Kiki.


"Jiaaah marah, salah sendiri minta dipanggil Panda," ledek Kenan dengan menjulurkan lidahnya.


"Noh Ibu Negara yang ngasih nama panggilan," ucap Aydin kesal.


"Jadi gak mau di panggil Panda?" sahut Kiki kesal.


"Bu-bukan gitu sayang. Ma-maksudku aku.. aku.. tentu saja aku sangat menyukainya," jawab Aydin gagap ketakutan.

__ADS_1


"Bagus...," Kiki tersenyum penuh kepuasan.


"Kasihan Ki, suruh dia milih nama panggilan sendiri," tutur Kenan.


"Mau dipanggil siapa sayang...," suara Kiki mendayu-dayu dan mendekati Aydin, meraba punggungnya dari belakang.


"Sayang gak usah mancing-mancing deh," Aydin merasa terpancing dengan belaian istrinya.


"Jarang dibelai ya Bang. Hahaha...," Kiki berhasil menggoda suaminya dan itu membuat Kenan tertawa puas.


Aydin menatap kesal pada Kiki dan Kenan sambil berjalan menuju ruang tamu dengan Baby Ken yang masih tertidur meskipun terdengar suara gaduh.


"Bang... issssh ditinggalin," Kiki menyusul Aydin ke ruang tamu dan Kenan pun mengikuti mereka.


"Ngapain masih di sini?" tanya Aydin dengan nada kesal.


"Slow Bro... kan baru nyampai masa' disuruh pulang sih, udah jauh-jauh ngambil itu dari rumah Ambu ke sini berapa kilometer tuh," jawab Kenan yang juga ikut kesal.


"Lagian ngapain mau?" tanya Aydin sewot.


" Wesss sembarangan, calon mertua gua tuh, baik banget kan? Pantesan Kiki betah sama mereka," Kenan keceplosan ngomong dan mendapat hadiah pukulan di punggungnya dari Aydin.


"Auuuuwww.....," Kenan menahan rasa sakit di punggungnya.


"Sukurin. Lagian tuh lambe lemes banget sih," Kiki mengambil Baby Ken dari gendongan Aydin.


Setelah selesai menerima telepon dari Renita, Kenan berpamitan pada Aydin dan Kiki.


"Sorry, aku balik dulu ya, buru-buru soalnya," ucap Kenan.


"Telepon dari Renita kan? Ada apa? Kenapa buru-buru?" tanya Kiki heran.


"Emmmm itu... Linda ketahuan selingkuh dengan rekan kerjanya, dan... dan Raditya udah punya bukti-buktinya," jawab Kenan yang bersiap melangkah untuk pergi.


"Terus Bang Ke ngapain buru-buru?" tanya Kiki kembali.


"Raditya pergi dalam keadaan emosi setelah bertengkar hebat dengan Linda. Aku disuruh Renita mencarinya. Udah ya aku pergi dulu," Kenan segera pergi mencari Raditya ke tempat yang ditunjukkan oleh Renita.


Kenan menemukan Raditya sesuai dengan dugaan Renita. Dia berada di danau dan berteriak mengeluarkan kekesalannya.


Flashback end


"Kamu mau berhenti kerja dan meninggalkan pria itu atau kita pisah?" Raditya mengucapkannya penuh dengan kemarahan.


"A-Aku... aku...," lidah Linda seolah keluh tidak bisa berbicara.

__ADS_1


Raditya menatap tajam mata Linda. Ada keraguan di mata Linda yang terbaca oleh Raditya.


"Kamu beratkan meninggalkan dia?" Raditya tersenyum miring tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang, istrinya bingung hanya dengan memilih selingkuhannya atau suami dan anaknya.


"Aku... aku hanya bingung," jawab Linda sambil menunduk.


"Bingung? Pertanyaan seperti ini kamu bingung?" Raditya menyugar rambutnya kasar.


"Aku beri kamu waktu tiga hari. Pikirkan," setelah mengucapkan itu Raditya pergi keluar kamarnya.


Linda terpaku melihat punggung suaminya yang menjauh darinya. Kemudian dia melihat anaknya yang sedang tidur dengan nyenyak. Wajah damainya sungguh mendamaikan yang melihatnya.


Pikiran Linda sedang kalut. Di satu sisi dia membutuhkan keluarganya, dan di sisi lain dia membutuhkan kenyamanan dan kesenangan dari pria yang kini dekat dengannya.


Akhirnya dia memejamkan matanya karena tidak bisa memikirkannya lagi dan badannya memang butuh istirahat setelah bersenang-senang dengan Riko.


Di gazebo belakang rumahnya, Raditya termenung menatap lurus dedaunan yang bergoyang terkena hembusan angin.


Dia merasa dirinya sungguh bodoh karena bisa terjerumus dalam pernikahan yang sama sekali hanya memberikan kebahagiaan semu.


Dengan bodohnya dia menerima perjodohan dengan Linda dan mengabaikan rasa cintanya pada Kiki. Kini semua sudah berbeda, meskipun mereka dulu saling mencintai, namun kini mereka sudah memiliki pasangan masing-masing dan memiliki anak.


Namun Raditya merasa kebahagiaan telah menjauhinya, kini dia bingung dengan keputusannya karena dia juga ahrus memikirkan anaknya yang masih sangat kecil dan membutuhkan sosok seorang Ibu.


Tapi pantaskah Linda mendapatkan predikat seorang Ibu, mungkin dulu iya, namun sekarang dia sudah berubah, Linda yang sekarang sudah tidak mempedulikan anaknya karema dia lebih mementingkan kesenangannya.


Raditya menutup matanya, merasakan hembusan angin yang mengenai wajahnya, begitu segar. Setelah itu dia mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat subuh.


Baru kali ini Raditya tidak melaksanakan shalat malam hanya karena kelelahan menghadapi kenyataan dan kelelahan membuntuti istrinya.


Ditengadahkan tangannya untuk meminta pertolongan dari Rab nya. Doa-doa diucapkannya dengan khusyuk dan berlinang air mata. Kata demi kata dia panjatkan agar bisa melewati keadaan ini dengan sabar, ikhlas dan kuat. Kini tujuannya hanya satu, membahagiakan Raline, anaknya.


Entah itu dia dan Linda bercerai ataupun tidak, dia lebih memilih dirinya yang terluka daripada anaknya. Tapi di sudut hatinya yang terdalam dia ingin sekali mendapatkan kebahagiaan.


Ambu melihat Raditya yang keluar dari mushalla di dalam rumahnya merasa sedih karena wajah Raditya yang biasanya selengehan menjadi muram dan penuh kesedihan.


"Aa' sini dulu, minum ini," Ambu memberikan teh hangat untuk Raditya.


Raditya menerima gelas teh hangat itu dengan mengucapkan terima kasih dan tersenyum.


"A' Abah dan Ambu tidak pernah memaksa Aa' untuk menjalani kehidupan yang sekiranya membuat Aa' menderita. Jika Aa' sudah tidak sanggup, lepaskanlah. Masih ada kita semua yang siap membantu Aa'. Pikirkan baik-baik A'. Jangan sampai menyesal," tutur Ambu untuk memberikan ketenangan dan kekuatan bagi anaknya.


"Ambu tidak usah khawatir. Udah diomongin, tinggal nunggu hasilnya," ucap Raditya sambil sesekali meminum teh hangatnya.


"Kapan?" tanya Ambu kemudian.

__ADS_1


"Tiga hari lagi."


__ADS_2