Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
171


__ADS_3

"Maaf, apa kalian mendengar perkataan saya?" suara orang laki-laki tersebut kembali terdengar.


Suara itu menginstruksi Aydin dan Kiki untuk membalikkan badan mereka menghadap orang yang berbicara pada mereka.


Dan benarlah, kini mereka berhadapan dengan penjaga keamanan wilayah tersebut. Pakaian satpam yang dipakai orang tersebut membuat kenangan kami kembali teringat. Hanya bedanya dulu adalah warga setempat yang sedang ronda, dan sekarang satpam yang sedang bertugas berpatroli menjaga keamanan.


" Maaf Pak, ada apa ya?" tanya Aydin dengan suara yang sangat ramah.


"Kalian berdua tolong jangan berbuat mesum di wilayah ini," jawab satpam tersebut.


"Maaf Pak, berbuat mesum gimana? Kami hanya berpelukan dengan pasangan kami sendiri, apa itu dilarang? Kami suami istri Pak," ucap Kiki dengan kesal.


"Sstttt.... Sayang.... diam dulu," ucap Aydin lirih takut istrinya tersinggung.


Kiki cemberut seperti biasanya, dia kesal jika sada uang mengatakan bahwa mereka bukan pasangan suami istri. Bukan karena orang membicarakan penampilan mereka yang masih muda yang membuat Kiki kesal, melainkan karena dirinya merasa tidak diakui menjadi pasangan Aydin.


Memang Kiki masih terlihat sangat muda untuk usianya saat ini, bahkan banyak orang yang salah menebak umurnya jika belum mengenalnya. Hal itu membuat Aydin semakin bangga pada istrinya. Namun Kiki tidak menyukai jika ada yang meragukan Aydin dan Kiki adalah suami istri karena penampilannya yang masih imut itu. Kiki selalu tidak terima jika ada yang mengira dia adik dari Aydin, bukan istrinya.


"Tetap saja, meskipun kalian suami istri lebih baik kalian menyewa vila atau hotel saja supaya tidak berada di tempat seperti ini," ucap satpam tersebut tidak mau kalah dengan Kiki.


"Apaan sih Pak, dikira kita mau ngapain?" tanya Kiki dengan sewotnya.


"Maaf, saya hanya menjalankan tugas saja," jawab satpam tersebut.


"Maaf Pak, kami hanya ingin menikmati suasana di sini saja. Boleh kan Pak? Kami gak ngapa-ngapain kok Pak," pinta Aydin pada satpam tersebut.


"Udah ah Pi, kita ke tempat lain aja. Udah gak mood di sini gara-gara bapak ini," ucap Kiki yang benar-benar kesal pada satpam tersebut.


Kemudian Kiki menarik tangan Aydin untuk pergi dari tempat itu dengan perasaan yang sangat kesal.

__ADS_1


"Mau ke mana Pak Bu, silahkan di sini asal tidak berbuat mesum," seru satpam tersebut mengiringi kepergian Aydin dan Kiki.


Aydin terkekeh di setiap langkah kakinya. Dia merasa geli karena setiap datang ke wilayah tersebut selalu mendapatkan pengalaman karena kemesuman mereka.


"Kok malah ketawa sih sayang? Aku lagi kesal nih," ucap Kiki sambil memajukan bibirnya tanda bahwa dia sedang kesal.


"Seneng aja. Kita kembali menorehkan sejarah dalam buku diary kehidupan pernikahan kita. Lucu ya, pertama kita nikah di rumah sakit. Kedua, kita merahasiakan pernikahan kita. Ketiga kita selalu berhasil membuat anak di Jepang. Keempat, kita digrebek warga karena adegan mobil bergoyang. Dan kelima, kita di beri peringatan oleh penjaga keamanan hanya karena kita berpelukan dan berciuman di sana," Aydin mengurut kejadian yang dialami oleh mereka berdua.


"Iya ya Sayang, nanti kita ceritakan pada Ken dan Miyuki tentang kisah kita yang patut dikenang ini," ucap Kiki dengan terkekeh.


Aydin pun tertawa dan itu tak mengurangi keromantisan mereka. Dengan berjalan kaki menuju parkiran mobil, tangan mereka saling melingkar pada pinggang pasangannya.


Seperti biasanya, Aydin membukakan Kiki pintu mobil dan melindungi kepala Kiki dari atap mobil dengan telapak tangannya.


"Jadi, makan di mana kita sekarang Sayang?" tanya Aydin pada Kiki ketika mereka sudah duduk di dalam mobil.


"Di cafe yang dulu aja Sayang, aku ingin pergi ke semua tempat dengan orang yang sama," jawab Kiki dengan senyum manisnya.


Di sinilah mereka sekarang berada, di sebuah cafe yang dulu pernah mereka singgahi. Cafe ini masih sama, hanya beberapa dekorasinya saja yang sedikit berubah. Namun tak mengurangi keindahan pemandangan di sekitarnya.


Kembali Aydin mengulangi adegan di tempat yang sebelumnya, adegan yang selalu membuat Aydin merasakan candu pada tubuh istrinya. Aydin memeluk Kiki dari belakang dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Kiki dengan melihat pemandangan malam dari cafe yang terletak di dataran tinggi tersebut.


Bukan hanya Aydin saja yang suka dengan adegan ini, Kiki sangat menikmati hal ini. Hingga di setiap kesempatan dia selalu menginginkan dipeluk oleh Aydin seperti sekarang ini. Sangat nyaman, sangat hangat dan sangat merasa dicintai.


"Langitnya tetap indah ya Sayang, sama seperti waktu kita pertama ke tempat ini dulu," ucap Aydin yang masih memeluk Kiki dari belakang.


"Langit yang sama, pemandangan yang sama, di tempat yang sama dan dengan orang yang sama," ucap Kiki dengan memegang tangan Aydin yang melingkar di pinggangnya.


"Ada yang beda," bisik Aydin pada telinga Kiki.

__ADS_1


"Apa?" tanya Kiki heran.


"Cintaku. Cinta kita. Sekarang lebih dari yang dulu," ucap Aydin berbisik di telinga Kiki membuat tubuh Kiki meremang.


"Permisi Pak, Bu, silahkan makanannya sudah siap semua," tiba-tiba suara seorang waiter membuyarkan acara romantis-romantisan mereka berdua.


Aydin dan Kiki menoleh, mereka telah mempersiapkan sesuatu yang sangat spesial untuk Aydin dan Kiki. Di atas meja tersebut tersaji berbagai macam masakan dan cake yang berbentuk love untuk Aydin dan Kiki.


"Wow... banyak sekali. Apa kamu yang memesan semua ini Sayang?" tanya Kiki pada Aydin dengan memandang satu persatu menu yang telah disajikan di atas meja.


"Tidak, aku hanya memesan makanan yang seperti waktu itu saja," jawab Aydin yang juga memandang heran pada semua makanan yang tersaji di atas meja.


"Sudahlah, kita makan saja. Nikmati semuanya," ucap Aydin kembali dengan senyumnya sambil mengusap punggung telapak tangan Kiki yang berada di atas meja.


"Sebentar, apa gak sebaiknya kita tanyakan dulu saja? Siapa tau ini pesanan meja lainnya," ucap Kiki pada Aydin.


Kiki mengangguk pada Aydin karena Aydin tak juga menanyakan pada pihak cafe. Bukannya Aydin tidak mau menanyakan, hanya saja Aydin bukan orang yang ribet, dia tetap mau membayar semua makanan tersebut meskipun itu semua bukan pesanan mereka.


"Sudah, makan saja ya. Toh nanti tetap kita bayar," ucap Aydin dengan entengnya.


"Bukan itu maksudku Sayang. Takutnya jika yang memesan semua ini masih menunggu pesanannya kan kasihan," Kiki mengatakan maksudnya.


Aydin tampak berpikir, yang dikatakan istrinya memang benar. Akhirnya Aydin memanggil waiter yang ada dan menanyakan perihal pesanan mereka.


"Maaf Pak, ini benar pesanan dikhususkan untuk Bapak dan Ibu," jawab waiter tersebut.


"Tapi kami tidak memesan ini," sahut Kiki kemudian.


"Ini dipesan oleh seseorang untuk Bapak dan Ibu," jawab waiter tersebut.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Kiki bingung.


"Malam Tante.... Om..."


__ADS_2