Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
69


__ADS_3

"Awww... awww... sakiiiit... iiih sapa siih... awww....," Renita mengadu kesakitan ketika telinganya dijewer oleh seseorang.


Semua mata mengarah pada Renita ketika dia mengadu kesakitan. Mereka kaget ternyata yang menjewer telinga Renita adalah seseorang yang bertugas menjaganya.


"Didi... kamu disini dari tadi?" Kiki bertanya pada Raditya dan tersenyum manis padanya membuat Raditya yang tadinya berniat mengabaikannya karena rasa sakit hatinya, mendadak menjadi ikut tersenyum ketika melihat Kiki sang cinta pertamanya yang namanya masih melekat indah di hatinya tersenyum manis padanya.


"Baru aja dateng Ki, ini anak main jauh gak pulang-pulang, Ambu khawatir banget, mangkanya Abah nyuruh aku nyariin dia," Raditya melepaskan telinga Renita, namun tangannya kini mengacak-acak rambut adiknya itu.


"Ya kan abis ini mau pulang A'. Nunggu baju kering dulu sekalian isi perut. Aa' mau?" dengan santainya Renita mengabaikan omelan kakaknya dan dia menawari kakaknya makanan.


Raditya menggeleng ketika ditawari Renita jagung bakar yang dia makan. Namun berbeda jika yang menawarinya Kiki.


"Nih Di makan dulu baru kita pulang," Kiki menyodorkan sosis bakar yang masih utuh belum dia makan pada Raditya.


Raditya melihat sosis bakar yang masih berada di tangan Kiki yang kini disodorkan padanya kemudian dia menatap Kiki yang berada di depannya tersenyum dengan tangan yang masih memegang sosis bakar untuknya. Niat hati dia benar-benar tidak mau berlama-lama di sana, maka dari itu dia tidak mau makan ketika ditawari makanan oleh Renita, namun melihat senyum Kiki yang begitu manis dan tulus, mampu menggetarkan hatinya dan meluluhkan niatan kuatnya tadi.


Raditya mengambil sosis bakar dari tangan Kiki, " Makasih Ki," dengan senyum Raditya menerima sosis bakar itu.


Jangan tanyakan reaksi Aydin bagaimana. Dengan muka masam dan dingin dia menatap Raditya yang tersenyum menikmati kebersamaannya dengan Kiki. Dia ingin melarang istrinya untuk tidak bicara dan akrab dengan Raditya, namun dia tidak berani karena mereka baru saja berbaikan, dan takutnya Kiki akan kembali menghilang dan pergi bersama Raditya lagi. Hal itu yang paling ditakuti oleh Aydin karena takutnya dia akan kehilangan istrinya dan juga cinta istrinya padanya karena CLBK.


Raditya yang merasa ditatap dengan tidak bersahabat oleh Aydin merasa puas karena bisa membuatnya cemburu padanya. Karena Raditya mempunyai satu senjata pamungkas, yaitu persahabatan mereka, karena Kiki pernah bilang padanya sewaktu di Villa kemarin, bahwa persahabatan mereka akan selalu abadi berbeda dengan hubungan pasangan yang bisa merenggang karena konflik yang pastinya ada. Disitulah Raditya merasa bahwa Kiki tidak mau pisah darinya. Masa bodoh dengan alasan persahabatan mereka, yang dia tahu hanyalah Kiki akan selalu dekat dengannya.


Raditya mengabaikan tatapan Aydin yang tidak suka padanya. Dia malah mengajak Kiki bercanda dan mengobrol meskipun perlahan Aydin mendekati mereka dan merangkul pundak Kiki, bahkan tidak hanya itu saja, Aydin juga merangkul dengan erat pinggang Kiki dari samping ketika Kiki dan Raditya sedang asik mengobrol dan bercanda. Raditya menata hatinya agar rasa kesal pada sikap Aydin tidak kelihatan, dia hanya bersikap biasa saja agar Kiki tetap nyaman mengobrol dan bercanda dengannya saat ini. Namun lama-kelamaan Aydin jadi kesal sendiri karena merasa terabaikan oleh dia sahabat beda jenis kelamin yang sedang asik berbincang ini.


"Ehemmm.... udah malam, ayo pulang," Aydin memaksa Kiki berjalan dengan merangkul pinggangnya.


"Eh kalian mau kemana? Aku ikut," Kevin berlari kecil menyusul Aydin dan Kiki.


Sedangkan Kenan dan Renita diajak Raditya kembali ke Villa mereka untuk mengambil mobil mereka.


"Bang, kok sampai malam sih kalian disini? Abah sama Ambu khawatir sama anak gadisnya," Raditya mengomeli Kenan seperti layaknya seorang kakak yang adiknya diajak jalan pacarnya sampai malam.


"Maaf Bro, keasyikan main air tadi sama yang lainnya jadi kelupaan mau pulang siang tadi," Kenan merutuki kecerobohannya dalam hati.


Apa-apaan ini masa' kesan pertama udah buruk di depan keluarganya, gimana kalau gak direstui? pikiran itu berkecamuk di hati Kenan.


"Kamu juga, kenapa gak hubungi Ambu, bilang kek kalau mau pulang telat jadinya Abah gak marah-marah," Raditya menakut-nakuti Renita agar dia tidak mengulanginya lagi.


"Abah marah-marah?" Kenan kaget ketika mendengar dari Raditya jika Abah marah karena Renita pulang telat dan tidak memberi kabar.


Waduh.... bisa gawat nih, Abah marah-marah, auto gak direstui ini. Gimana nih? Kenan membatin karena kesalahannya.


"Ya jelas lah, anak gadisnya dibawa pergi lelaki sampai malam gak ada kabar," Raditya menyindir Kenan yang semakin resah memikirkan perjuangannya yang bahkan belum dimulainya.


"Mmm... aku antar Renita pulang ya sekalian ketemu sama Abah," Kenan tidak berani songong di depan Raditya saat ini, berbeda dengan dirinya yang dulu. Kalau dulu Raditya yang menaruh hormat dan sungkan padanya, tapi sekarang Kenan yang harus menjaga sikap pada Raditya agar restunya mengalir untuknya dan Renita.


Ah iya, dia begitu tidak suka dengan Linda, istri Raditya yang berarti kakak ipar Renita, namun dia untuk sementara mengabaikannya, dan jika memang dia dan Renita berjodoh hingga ke pernikahan, dia juga tak akan peduli dengannya, karena bagi Kenan dan sahabat-sahabatnya, Linda merupakan jenis wanita yang berbahaya, wanita yang berani melakukan apa saja untuk memenuhi keinginannya. Itulah penilaian mereka tentang Linda, entah sifat dan sikap Linda yang sebenarnya bagaimana mereka tidak tahu karena tidak mungkin juga jika Raditya memperistri wanita yang mempunyai sikap dan sifat sejahat itu.


"Untuk apa Bang? Sekarang udah malam," Raditya beranjak berdiri dari duduknya dan meraih tangan Renita, menggandengnya untuk ikut masuk ke mobilnya.


"Tolonglah Bro, aku ada perlu sama Abah, ada yang ingin aku sampaikan pada Abah," Kenan menghentikan langkah Raditya.


"Udah malam Bang, mau ngomongin apa?" Raditya menoleh menatap Kenan yang memohon padanya.


"Aku lelaki yang bertanggung jawab Bro, aku yang menjemput Renita tadi di rumah, aku juga ingin meminta maaf dan menjelaskannya pada Abah.


"A'....," Renita memohon pada Raditya melalui tatapan matanya.


"Ya udah, Abang bawa mobil Abang sendiri aja, Renita biar sama Aa'. Ok?" Raditya menggandeng Renita masuk dalam mobilnya. Sementara itu Kenan mengikuti mobil Raditya dari belakang.


Di dalam Villa Aydin, tepatnya di ruang tamu, Aydin, Kiki dan Kevin sedang menikmati makanan yang baru saja mereka pesan melalui aplikasi delivery makanan.

__ADS_1


"Gak pulang Bro? Mumpung belum terlalu malam," Aydin mengusir Kevin secara halus.


"Males. Enakan disini. Lagi gak ada kerjaan juga," Kevin dengan jahilnya menggoda Aydin. Dia tahu maksud Aydin menanyakan itu padanya. Namun dia sedang tidak ada pacar ataupun kerjaan, jadilah sifat jahilnya itu dia kembangkan.


"Ck, cari kerjaan sono, atau cari pacar biar gak gangguin orang terus," Aydin melemparkan bantal sofa pada Kevin.


"Hahaha.... aku tuh sayang banget sama adek boncel kesayangan kita sekeluarga, jadi aku harus jagain dia, terutama dari suami yang hobinya bikin nangis istrinya," Kevin menyindir Aydin yang langsung dibalas tatapan mata membunuh oleh Aydin.


"Gak ada yang bikin nangis dia. Aku sayang dan cinta banget kok sama istriku ini. Iya kan Istriku....," Aydin memanas-manasi Kevin yang sedang tidak ada pasangan.


Kiki yang sedang menonton acara TV menoleh ke samping dimana suaminya sedang menatapnya dengan senyumnya yang begitu aah... membuat Kiki berdebar.


"Iya Suamiku....," Kiki meletakkan kedua telapak tangannya pada pipi suaminya itu dan dia mengecup singkat bibirnya.


"Cih, mentang-mentang udah halal. Mataku yang suci ternoda karena kalian," Kevin melemparkan bantal sofa pada Aydin dan Kiki, kemudian dia berjalan ke taman.


Melihat adiknya yang sedang bersama pasangan halalnya, dia jadi teringat dengan Dokter Vina. Langsung saja dia mengambil ponselnya dari dalam sakunya dan dia menghubungi Dokter Vina.


"Halo..."


"Halo, iya Vin, apa ada masalah dengan Kiki?"


"Gak ada Dok. Cuma pengen telepon aja, gapapa kan?"


"Jangan panggil Dokter kalau tidak sedang bekerja, panggil saja Vina."


"Ok. Oiya Vin, eh kok jadi sama manggilnya Vin. Hehehe... aku panggil Na aja ya?"


"Hehehehe... iya ya, kok jadi samaan gini ya."


"Jodoh kali kita," Kevin mulai menggoda Vina diselingi dengan candaannya.


"Ah kamu ini mulai deh bercandanya suka kelewatan"


"Aku gak sedang bercanda Na, aku serius. Sebenarnya aku ingin menemui mu dan berbicara langsung pada mu, tapi sekarang ini aku sedang berada di Villa, jadi aku tidak bisa ke sana sekarang. Apa kita video call aja ya?"


"A.. a.. aku malu Vin, kita ngobrol di telepon aja ya. Oiya gimana keadaannya Kiki?"


"Ish kamu Na, lagi ngomongin kita malah nanyain Kiki. Tuh dia lagi sama Aydin mesra-mesraan, aku diusir gara-gara gak ada pasangan, merana banget nih, mau ya Na jadi pacarnya Kevin?"


"Loh mereka udah ketemu? Kiki gak kenapa-kenapa kan?"


" Tuh kan bahasnya Kiki lagi, udah balik lagi kayak Kiki yang sebenarnya dia. Noh mereka lagi rangkul-rangkulan, peluk-pelukan, cium-ciuman. Ini mataku yang suci jadi ternodai lihat mereka."


"Hahaha... kok sewot gitu sih. Lagian mereka udah halal, wajar aja jika mereka mesra-mesraan. Kalau belum halal bakalan digrebek mereka."


"Mangkanya Na, kita langsung nikah aja ya biar langsung halal gitu, biar bisa mesra-mesraan kayak mereka."


"Kamu tuh Vin, sukanya godain mulu. Lagian pacar kamu pasti banyak deh, buktinya kami godain aku dari tadi, pasti yang kamu godain juga banyak deh."


"Gak ada Na, aku juga baru kali ini nyatain ke cewek, dulu aku memang pernah pacaran, tapi yang nembak itu mereka bukan aku. Baru kali ini aku ngerasa seperti ini, beneran, aku tuh selalu ingat kamu, nah dari pada aku jadi pasien kami karena gila, mendingan aku jadi suami kamu aja. Gimana?"


"Hahaha... Kevin... Kevin... kamu itu ya, emang kamu tau perasaan aku gimana sama kamu?"


"Gak mau tau, yamg penting kamu mau jadi istri aku, dan bisa aku pastikan kalau kamu bakalan jadi bucin sama aku."


"Sok pede banget sih Vin kamu."


"Beneran. Mau dibuktikan? Atau sekalian taruhan?"


"Vin kamu mau ngajak nikah apa taruhan?"

__ADS_1


"Oh iya ya, hehehe.... ngajak nikah aja deh, lebih enak."


"Bukannya lebih enak taruhan bisa dapat hadiah?"


"Enakan nikah dapatnya lebih banyak plus-plusnya."


"Hahaha... Kevin... Kevin..."


"Besok aku jemput ya? Kamu pulang kerja jam berapa?"


"Aku libur besok."


"Yess, aku jemput besok pagi. Ok?"


"Kemana Vin?"


"Ada deh.... pokoknya besok dandan yang cantik ya buat Kevin tersayang."


Dokter Vina hanya tersenyum menahan tawanya. Ada rasa bahagia yang membuncah dalam dadanya dan perasaan malu karena ini pertama kalinya dia lebih dekat dengan lawan jenisnya. Sedari dulu memang Vina banyak yang mendekati, tak terkecuali rekan-rekan sesama dokter dan teman-teman kuliahnya dulu, namun tidak ada yang membuat jantungnya berdebar. Berbeda dengan Kevin yang hanya dengan melihatnya saja debaran jantungnya tidak bisa dikondisikan. Diakuinya, dia memang sudah mempunyai rasa suka pada Kevin sejak pertama bertemu di kamar perawatan Kiki waktu itu. Namun dia hanya menjadi Dokter yang bekerja dengan profesional, dia tidak bisa mencampur adukkan masalah pribadinya dengan pekerjaannya.


Tanpa menjawab lagi perkataan dari Kevin, Vina menutup teleponnya. Dia hanya berharap semoga semua yang dibicarakan Kevin padanya tadi benar adanya.


Di rumah keluarga Raditya, kini mereka sudah berkumpul di ruang tamu. Abah dan Ambu kaget melihat Kenan yang tiba-tiba berlutut dihadapan Abah dan Ambu.


"Abah... Ambu... saya minta maaf karena telat mengantar Renita pulang. Dan saya meminta ijin untuk bisa lebih dekat dengan Renita. Jika diperbolehkan saya ingin mengajak Renita berhubungan lebih serius," Kenan berlutut dan wajahnya menunduk, dia tidak berani menatap mata Abah dan Ambu.


Semua keluarga Raditya kaget mendengar perkataan Kenan, dan Renita pun tak menyangka jika Kenan memang benar-benar serius dengan perkataannya tadi.


Karena tidak ada suara yang menjawab, Kenan mendongak menatap Abah,


"Bagaimana Bah, apa Abah merestuinya?"


"Kamu serius?" Abah menatap lekat mata Kenan untuk mencari tahu kejujuran dalam mata itu.


"Serius Abah, saya menyukai Renita sejak pertama kali bertemu dengannya, lama-lama saya cinta sama dia," Kenan mencoba meyakinkan Abah dengan ucapannya.


"Abah tidak bisa memutuskan hanya sepihak, Abah harus bertanya pada Ambu juga Raditya, dan terutama pada Renita," Abah ingin mencari tahu kesungguhan Kenan.


"Abah, maaf mau nanya, apa saya harus menghafalkan Juz Amma biar dapat restu dari Abah?" dengan nada ragu-ragu dan malu Kenan bertanya.


Sontak saja semua uang ada disitu ingin tertawa namun ditahan, karena mereka merasa lucu dengan sikap Kenan.


"Kamu hafal?" Abah mencoba menjahili Kenan sekalian mencari tahu kesungguhannya.


"Belum semua sih Bah, apa harus Bah?" Kenan bertanya kembali berharap bisa di nego.


"Kamu keberatan?" Abah mulai melancarkan aksinya.


"Bu.. bukan begitu Bah... ah tidak... tidak keberatan, cuma apa bisa minta waktu buat menghafalnya?" Kenan menjawab dengan kikuk dan terbata-bata dengan menggaruk kepalanya, takut jika usahanya memberanikan diri menghadap Abah jadi sia-sia.


"Hafalkan saja dulu, keputusannya nanti Abah beri tau," Abah jadi lebih semangat menjahili dan mencari tahu tentang kesungguhan Kenan pada anak gadisnya.


"I.. iya Abah....," Kenan menghela nafas lega karena setidaknya dia mendapatkan lampu kuning dari Abah.


Matahari mulai menampakkan dirinya pertanda aktifitas hari ini segera dimulai. Aydin dan Kiki sudah berjalan-jalan untuk menikmati keindahan alam, melihat matahari yang baru saja terbit. Sungguh keindahan alam yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Aydin dan Kiki menikmati hari-hari mereka di tempat ini layaknya sedang honeymoon. Bahkan Kiki yang ingin cepat lulus masih menggunakan ijin sakitnya untuk berada di tempat ini. Besok dia harus mengejar ketinggalannya agar dia bisa cepat lulus dan menjalani kehidupannya sebagai seorang Dokter yang diberi tanggung jawab mengelola Rumah Sakit milik keluarga Aydin.


Kevin sudah berangkat semenjak Aydin dan Kiki keluar tadi. Dia tidak bisa menahan keinginannya agar cepat sampai di rumah Vina, seorang dokter yang mencuri hatinya.


Dari balik pintu keluarlah seorang gadis yang menggunakan dress selutut warna pink dipadukan dengan blazer putih yang sangat elegan.


Uhuk....

__ADS_1


__ADS_2