
Setelah melakukan kegiatan yang menguras tenaga, mereka segera merapikan baju karena mereka ingat jika berada di dalam mobil. Mereka saling tatap dan tersenyum mengingat kegiatan yang menguras keringat mereka dilakukan di tempat yang tidak pernah terpikirkan oleh mereka berdua.
Dan mereka dikagetkan oleh suara teriakan seorang pria di luar mobil mereka.
"Kalian sedang apa di dalam?"
Teriakan itu membuat mereka berdua takut, pasalnya daerah itu sangat sepi, sehingga mereka takut jika yang menggedor mobil mereka adalah para perampok.
"Kalian cepat turun. Kami warga di kampung ini tidak suka kalian melakukan hal kotor disini," teriak pria yang lain.
Aydin dan Kiki melihat bahwa diluar mobil mereka sudah ada beberapa pria yang sebenarnya sudah berumur.
Aydin membuka kaca mobilnya sedikit karena takut terjadi apa-apa dengan istrinya. Dan Aydin pun keluar dari mobil karena bapak-bapak tersebut menyuruh mereka untuk ikut ke balai warga.
Kiki ingin ikut turun, namun dilarang oleh Aydin. Aydin menjelaskan pada warga jika mereka sepasang suami istri. Namun tidak semudah itu bapak-bapak tersebut percaya. Mereka tetap ingin meminta penjelasan mereka berdua di balai warga dengan para perangkat desa yang mereka datangkan.
Akhirnya dengan berat hati mereka berdua ikut bapak-bapak tersebut menuju balai warga. Mobil Aydin dikemudikan dengan perlahan sesuai arahan mereka.
Di balai warga mereka diadili bak seorang penjahat. Mereka semua meminta Aydin dan Kiki untuk dinikahkan secara paksa sekarang juga. Aydin dan Kiki tenang saja, toh mereka memang pasangan suami istri yang sah dan kini mereka sedang menanti buah hati mereka yang tumbuh di dalam rahim Kiki.
Namun Aydin dan Kiki tetap menjelaskan pada mereka jika mereka pasangan suami istri yang sah dan resmi menurut agama dan negara, karena mereka berdua tidak ingin jika mereka disebut dengan pasangan yang dinikahkan karena berbuat mesum. Menurut mereka sangat mengerikan sekali sebutan itu.
Mereka meminta bukti bahwa mereka adalah suami istri. Aydin memperlihatkan foto pernikahan mereka dan memperlihatkan secara online kartu nikah mereka.
Sialnya mereka semua tidak percaya karena jaman sekarang yang serba canggih bisa membuatnya secara gampang.
Mereka meminta bukti kartu nikah asli mereka. Dan sangat tidak mungkin sekali mereka membawanya kemana-mana.
Akhirnya jalan satu-satunya, Aydin meminta Ayah dan Bunda untuk mengutus orang membawakan kartu nikah mereka ke tempat yang disebutkan oleh Aydin.
Ayah mengatakan akan mengantarkannya sendiri, namun Aydin tidak memperbolehkan Ayahnya berkendara malam jarak jauh.
Dan tercetuslah ide Kiki yang menyuruh Kakak kesayangannya mengambilkan buku nikahnya di rumah keluarga Aydin dan mengantarkannya ke tempat Aydin dan Kiki berada.
Ayah dan Bunda ikut dengan Kevin menuju tempat Aydin dan Kiki kini berada. Kenan tertawa terbahak-bahak melihat Adik jahil kesayangannya dan suaminya ditawan oleh warga kampung.
Bapak kepala desa menceritakan pada Ayah dan Bunda tentang Aydin dan Kiki yang dipaksa warga untuk ikut mereka ke balai warga.
Bibir Kevin masuk ke dalam mulutnya untuk menahan tawanya agar tidak keceplosan tertawa. Dan bisa dipastikan jika dia tertawa pada saat itu, Kiki akan membuat hidupnya tidak tenang dalam beberapa waktu.
Ayah Aydin memperlihatkan buku nikah Aydin dan Kiki yang telah mereka bawa. Para perangkat desa dan para warga yang hadir melihat dan mendiskusikan keaslian buku nikah tersebut.
Akhirnya mereka semua percaya pada bukti yang mereka lihat. Dan mereka mempersilahkan Aydin dan Kiki pulang tanpa dinikahkan kembali oleh warga.
"Kalian kalau sudah menikah mainnya di penginapan aja Mas, Mbak, meskipun bayar tapi kan aman. Itu semua villa disitu bagus-bagus. Kalau Mas sama Mbak nya butuh bisa saya antarkan," ucap salah satu warga ketika mereka akan pulang.
Aydin dan Kiki tersenyum kikuk dan malu atas perbuatan spontan mereka yang berakhir di grebek warga karena adegan mobil bergoyang.
"Lagian ngapain sih Dek kalian di dalam mobil? Udah nikah juga, tahan dikit napa," goda Kevin ketika akan naik ke dalam mobil.
"Ya kan sensasinya beda Kak," dengan polosnya Kiki menjawab di depan Ayah dan Bunda.
__ADS_1
Aydin meraih tubuh Kiki dan diarahkannya wajah Kiki pada dadanya agar tidak lagi bisa menjawab apa-apa jika ditanya.
"Wah.. wah Bro.. kamu apain adekku yang polos dan lugu bisa jadi mesum kayak gini?" tanya Kevin pada Aydin dengan herannya.
Aydin melambaikan tangannya ke arah Kevin agar Kevin lebih mendekat padanya. Kevin pun berjalan mendekati Aydin. Setelah Kevin mendekat, Aydin membisikkan sesuatu di telinga Kevin.
"Sejak hamil mesumnya kelewatan."
"Aku denger ya kalian ngomongin aku mesum," sahut Kiki tidak terima.
Ayah dan Bunda tersenyum bahagia melihat anak dan menantunya bahagia dan harmonis dengan cara mereka sendiri, meskipun adegan mobil bergoyang ini kejadian yang memalukan mereka, namun mereka senang dan tertawa bahagia dengan kegilaan anak dan menantunya ini untuk menunjukkan kasih sayang mereka.
Ayah dan Bunda kembali pulang dengan mobil yang sama dengan Kevin. Sedangkan Aydin dan Kiki menggunakan mobil Aydin yang mereka gunakan tadi pada saat datang ke tempat ini.
Dua hari berlalu semenjak kejadian mobil bergoyang waktu itu. Aydin dan Kiki kembali pada rutinitasnya semula, bekerja dan merajut kasih mereka yang sempat terganggu oleh orang lama dalam hidup mereka.
Sore hari sepulang mereka kerja, Aydin mengajak Kiki ke Cafe untuk mengecek keadaan Cafe. Ternyata di sana sudah ada Raditya dan Aldo yang sedang sibuk mendesign undangan reuni SMA angkatan mereka.
Ketika Aydin mengecek pembukuan Cafe di kantor Cafe tersebut, Kiki tidak mengikuti suaminya, dia berputar haluan untuk menemui sahabatnya.
Kiki mendekati kedua sahabatnya itu dan melihat apa yang sedang mereka kerjakan. Raditya dan Aldo kaget mendapati Kiki berada di meja mereka. Saking asyiknya mereka dengan kegiatannya sampai-sampai tidak mengetahui Kiki masuk ke dalam Cafe tersebut.
Tentu saja Kiki sangat antusias dengan acara reuni tersebut. Dan dia berjanji akan datang ke acara itu karena sudah sangat lama dia tidak bertemu dengan teman-teman kelasnya di SMA sebelum dia pindah ke kota Malang.
Aydin yang sedang fokus mengecek pembukuan Cafe merasa ada yang kurang, dia melihat sekitar, dan ternyata benar ada yang kurang. Istrinya, istri tercintanya tidak ada di dekatnya.
Segera Aydin keluar dari kantor Cafe tersebut menuju ke dapur, tapi di dapur pun istrinya itu tidak ada. Kemudian Aydin mencarinya di Cafe, sungguh sangat kesal Aydin ketika melihat istrinya yang membuatnya lari kesana kemari untuk mencarinya malah dengan senangnya Kiki tertawa dan bercanda bersama Raditya dan Aldo.
Aydin menyapa Raditya dan Aldo seperti biasa, sebagai pemilik Cafe dan sebagai suami dari wanita yang sedang tertawa bersama mereka.
Aydin duduk di kursi sebelah Kiki dan merangkul pundak istrinya seolah dia ingin memberitahukan bahwa Kiki adalah miliknya.
Raditya hanya meliriknya saja dan dia lebih memfokuskan matanya pada design undangan yang tadi dia buat.
"Ki coba liat DM kamu, undangannya udah aku kirim," ucap Raditya tanpa melihat ke arah Kiki dan Aydin.
Raditya sok sibuk dengan iPad miliknya, karena dia sedang mengirim undangan tersebut pada teman-teman sekelasnya saat SMA.
Kiki mengambil ponselnya dan membuka aplikasi medsos yang di maksud oleh Raditya tadi. Dan Kiki terkejut karena mendapat DM dari Rasya yang mengirimkan undangan reuni SMA Kiki yang berada di kota Malang pada hari yang sama.
"OMG ini kenapa bisa barengan gini sih?" ucap Kiki tanpa sadar ketika melihat DM yang masuk dari Rasya.
"Apaan sih sayang?" Aydin melihat layar ponsel Kiki yang memperlihatkan undangan reuni SMA nya yang di Malang dikirimkan oleh Rasya.
"Samaan apanya?" tanya Aydin ingin tahu.
"Ini," Kiki memperlihatkan undangan yang tadi dikirimkan oleh Raditya.
"Kenapa Ki, ada yang salah?" tanya Raditya heran.
"Gak Di, cuma... aku juga dapat undangan reuni dari SMA ku yang di Malang, tanggalnya sama," Kiki nyengir memperlihatkan giginya.
__ADS_1
"Terus kamu gak mau datang ke acara kita gitu? Ki kamu kan udah lama gak ketemu sama teman-teman yang lain. Dan ingat ya, tadi kami dah janji mau datang loh," Raditya mengingatkan janji yang Kiki buat tadi.
"Ya udahlah sayang gak usah datang yang di Malang, kan jauh, belum tentu juga diijinkan sama orang tua kita, kan kamu lagi hamil," ucap Aydin.
"Tapi kan belum gede perutnya, bisa kali ya kalau datang di dua tempat gantian," ucap Kiki yang tanpa dipikir.
"Malang tuh jauh Ki, butuh beberapa jam perjalanan meskipun pakai pesawat," sahut Aldo.
"Lagian kenapa sih ngebet banget pengen datang ke Malang? pengen ketemu sama itu ya... si Rasya," ucap Aydin yang sedang menyuarakan kecemburuannya.
"Dih ngapain jauh-jauh ketemu Rasya di Malang, orang dianya ada di kota ini," jawab Kiki yang mengobarkan api kecemburuan Aydin bertambah.
"Rasya siapa sih? Kamu punya pacar Ki selama di Malang?" tanya Raditya yang seolah sedang cemburu.
"Pada kenapa sih bahas Rasya aja dari tadi. Lagian kenapa kalau Rasya pacar aku dulu saat di Malang, ada masalah?" tanya Kiki kesal.
"Gak boleh!" jawab Aydin dan Raditya bersamaan.
"Cieee kompak banget. Akur-akur ya kalian berdua," ucap Kiki tidak merasa bersalah sama sekali, malah Kiki meminum orange jus milik Raditya.
Aydin menatap tajam Raditya yang seolah tidak mempermasalahkan ucapan dari Kiki.
"Ya Ki.... itu kan minumanku, malah dihabisin," ucap Raditya.
"Pesen lagi sono, gratis gak usah bayar," ucap Kiki yang mendapat sorakan dari Aldo.
Aydin mencebik kesal karena keinginannya untuk berdua dengan istrinya di Cafe ini gagal karena kedua sahabat istrinya. Ditambah lagi acara reuni SMA mereka yang sangat Aydin tidak suka dan ingin sekali dia melarang Kiki untuk tidak datang.
Akhirnya, hari ini pun tiba. Kiki berdandan begitu maksimal. Short dress merah tanpa lengan kombinasi tile yang begitu elegan membuat kulit putih Kiki begitu kontras. rambut panjangnya di gerai dengan curly di ujungnya membuat kesan elegan yang begitu manis dan cocok dengan tampilan Kiki saat ini. Tak lupa sepatu high heel merah yang menambah kesempurnaan penampilan Kiki saat ini.
Namun dia harus menelan kekecewaan ketika suaminya, Aydin ikut serta dalam acara reuni tersebut, dan dia melarang Kiki menggunakan High heel dan menggantinya dengan flatshoes merah yang senada dengan warna dress-nya, karena Aydin tidak mau Kiki membahayakan kehamilannya dengan menggunakan sepatu yang berhak tinggi.
Tadinya Kiki diminta Aydin untuk mengganti dress-nya dengan dress panjang yang berlengan, namun Kiki menolak dan akhirnya Kiki mengalah, dia menggunakan blazer untuk luarannya, di karenakan ancaman si tuan yang tidak memperbolehkan Kiki untuk menghadiri acara tersebut jika dia tidak menurut.
Kiki duduk di dalam mobil dengan muka cemberut dan bibir mengerucut. Penampilan sedemikian rupa yang dihabiskannya selama dua jam untuk berhias ternyata harus berakhir dengan flatshoes dan blazer.
Kiki mendengus kesal melihat blazer yang digunakannya dan melirik flatshoes yang dipakainya.
Aydin merangkul erat pinggang Kiki ketika mereka sudah sampai di tempat yang ditentukan. Karena acara ini hanya untuk satu kelas mereka saja, jadi mereka tidak mengadakannya di sekolahan.
"Udah dong sayang gak usah cemberut gitu, entar ilang loh cantiknya," goda Aydin agar Kiki kembali tersenyum.
Kiki hanya melirik tajam pada Aydin yang tersenyum senang melihat penampilan Kiki yang dikacaukannya.
Aydin selalu berada di samping Kiki disepanjang acara berlangsung. Hingga akhirnya di penghujung acara, mereka menentukan King&Queen dari kelas mereka.
Dan ternyata gelar King&Queen jatuh pada Raditya dan Kiki. Tiba-tiba Aydin menjadi kesal mendengar istrinya mendapatkan gelar itu bersama dengan Raditya. Dan sialnya lagi mereka berdua diharuskan maju ke atas panggung untuk menerima penghargaan dan memberikan sambutan.
Muka Aydin menjadi merah karena menahan amarahnya. Kiki berada di atas panggung dengan Raditya dan blazer yang Kiki gunakan tadi hanya dia bawa di tangannya.
Awas kamu sayang, pasti ku hukum nanti di rumah. Lihat saja dan tunggu hukuman dari suamimu ini
__ADS_1