Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
79


__ADS_3

Aydin dan Kiki sangat kaget dengan perlakuan orang yang berani memisahkan gandengan tangan mereka. Namun sedetik kemudian mereka sadar.


Aydin mendorong tubuh Caroline, namun dia berpegangan erat pada pinggang Aydin sehingga dia tidak mudah dijatuhkan oleh Aydin dan jika dia terjatuh, otomatis Aydin akan jatuh di atasnya.


Aydin sudah siap mengahadapi Caroline. Oleh sebab itu dia tidak boleh larut dalam keterkejutannya seperti pada kejadian Naila.


Aydin mencengkeram tangan Caroline dan melepaskannya dengan paksa dari pinggang Aydin. Dan itu sukses membuat Caroline jatuh terjengkang di dalam lift.


Kiki hanya menjadi penonton saja, karena dia ingin tahu sejauh mana suaminya akan mempertahankan kesetiaannya. Dan satu lagi, dia selalu mengingat pesan Vina yang menyuruh Kiki agar berhati-hati untuk tidak bertengkar secara fisik dengan Caroline, karena mereka takut akan terjadi apa-apa dengan kandungan Kiki.


Aydin menatap Caroline dengan tatapan membunuh. Dia tidak sudi untuk disentuh ataupun dipeluk oleh wanita itu. Karena dia benar-benar sudah jijik dengan Caroline sejak dia mengetahui kebenarannya.


Caroline selingkuh dengan sahabat laki-lakinya hingga dia hamil. Itulah yang selalu tertanam di benak Aydin sehingga dia teramat sangat benci pada Caroline.


Aydin meraih pinggang Kiki dan berjalan melewati Caroline yang masih terduduk di dalam lift. Aydin keluar dari lift dengan emosi yang meluap-luap.


Kiki mengajak Aydin untuk minum atau makan di restoran dulu agar kemarahannya bisa reda, dan setelah itu dia bisa mengemudi dengan aman.


Aydin menolak usulan Kiki karena dia tidak ingin bertemu dengan Caroline kembali. Akhirnya sopir hotel disuruhnya menjadi sopir mereka untuk pergi ke suatu tempat yang sudah dia persiapkan untuk Kiki sang istri tercintanya.


Aydin mengajak Kiki ke tempat makan yang istimewa, dia ingin Kiki menikmati hari ini dengan senang sebelum besok mereka kembali pada rutinitas harian mereka yang menyibukkan.


Keesokan harinya Kiki kembali pada pekerjaannya di rumah sakit. Di sana semua perawat menjaga Kiki, selalu mengingatkan jam makannya, dan Kiki dilarang kecapekan. Memang efek penguasa sangat dahsyat.


Sebenarnya Kiki sangat tidak enak dengan yang lain, namun tidak ada yang bisa dia lakukan karena dia hanya pegawai biasa di sana, bukan yang punya rumah sakit. Meskipun nantinya rumah sakit itu dia yang akan mengelolanya.


Begitu juga dengan Aydin. Dia menyesal karena tidak bisa mengajak honeymoon istrinya setelah pesta pernikahan. Dan sialnya lagi setelah Kiki hamil, Aydin jadi sangat merindukannya meskipun mereka baru terpisah hanya beberapa jam saja. Dan mengingat sikap manja Kiki pada saat hamil membuat Aydin tersenyum-senyum sendiri di dalam ruangan kantornya.


Hingga dia tersadar dari lamunannya ketika ada orang yang masuk dalam ruangannya.


"Bos, nanti ada jadwal ketemu sama klien yang ngajak kerja sama," kata Kenan,sahabat yang sekarang bekerja sebagai asisten Aydin.


"Dengan siapa?" tanya Aydin.


"Perusahaan baru Bos, kita belum pernah kerja sama dengan mereka," jawab Kenan.


"Ahh, padahal aku mau makan siang bareng Kiki di cafe. Kamu ngaturnya kita ketemunya dimana?" tanya Kevin.


"Di restauran punyamu A'Roma," jawab Kenan.


"Aduh gimana ya, tuh bumil gemesin satu itu marah gak sih kalau aku telat?" ucap Aydin bingung.


"Gimana kalau Kiki aja yang disuruh ke restauran, bilang aja ke cafe nya gak jadi, ganti di restauran," usul Kenan.


"Boleh juga tuh. Ya udah kamu atur deh masalah klien sama restauran nya. Aku mau hubungi Kiki dulu," ucap Aydin seraya mengambil ponselnya dan menghubungi Kiki.


Kiki tidak mengangkat telepon dari Aydin karena dia saat ini sedang sibuk dan terburu-buru agar dia bisa cepat datang ke cafe untuk makan bersama suaminya.


Kebetulan saat Kiki keluar dari ruangan dari mengambil tasnya, dia bertemu dengan Raditya yang sedang mengantar Ambu berobat. Dan kebetulan sekali Ambu sudah selesai berobat, jadi Ambu meminta Kiki bareng dengan mereka saja. Kiki tidak bisa menolak permintaan Ambu yang sudah seperti Ibunya sendiri.


Ambu dan Raditya diajak Kiki untuk makan siang bersama sekalian di cafe. Namun setelah menunggu sekitar 15 menit, Aydin tak kunjung datang. Kiki mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya.


Raditya dan Ambu hanya memesan camilan dan minuman saja, sehingga pesanannya sudah ada di depan mereka sedari tadi.

__ADS_1


Mata Kiki melotot kaget ketika melihat panggilan tak terjawab dari Aydin sebanyak 20 kali dan ada beberapa pesan yang dikirimkan olehnya.


"Di, maaf ya, ternyata Bang Ay ada pertemuan penting di restauran, jadi gak bisa kesini. Malah aku yang disuruh ke sana," ucap Kiki menyesal.


"Ya udah Neng, biar diantar Raditya aja ya ke sana. Gak baik wanita hamil kemana-mana sendirian," tutur Ambu pada Kiki.


"Iya Ki, aku antar aja sekalian pulang. Yuk sekarang aja berangkatnya," ucap Raditya sambil berdiri dari kursinya.


Sesampainya di parkiran restauran, Kiki langsung masuk diantar oleh Raditya. Ambu memerintahkan Raditya untuk mengantarkan Kiki sampai dalam dan Ambu menunggunya di dalam mobil saja.


Kiki sudah duduk di kursi di dalam restauran. Dia bertanya pada waitress tentang keberadaan suaminya. Dan waitress itupun mengatakan jika Aydin sedang berada di dalam ruang VIP.


Raditya hendak pergi meninggalkan Kiki karena dia rasa Kiki sudah berada di tempat yang aman. Dan dia tidak mau jika hatinya kembali cemburu melihat Kiki bersama Aydin.


Raditya memang sudah mengikhlaskan Kiki bersama Aydin, namun hati dan perasaan tidak bisa dikendalikan.


Kiki mendengar suara tawa wanita dan laki-laki ketika pintu ruang VIP dibuka. Kiki menoleh ke arah tersebut dan begitu kagetnya dia mendapati suaminya digandeng oleh Caroline.


Dengan senyum genitnya Caroline bergelayutan manja di lengan Aydin. Memang wajah Aydin menampakkan bahwa dia kurang nyaman, tapi yang Kiki heran kenapa Aydin diam saja digelayuti oleh perempuan gatal itu.


Tampak mereka berempat berjalan bersama. Ada Kenan yang berada di sebelah kiri Aydin, Caroline disebelah kanan Aydin dengan bergelayut manja pada lengan Aydin, dan disebelah Caroline ada seorang pria yang tidak dikenal oleh Kiki.


Kiki menghampiri mereka. Aydin dan Kenan kaget mendapati Kiki ada di depan mereka. Sialnya Aydin lupa kalau dia sudah mengirim pesan pada Kiki tentang restauran ini karena Kiki tidak menjawab teleponnya, sehingga dia tidak kepikiran jika ada Kiki nantinya di restauran ini.


Aydin kaget sehingga dia diam saja, sedangkan Caroline memanfaatkan kesempatan dengan memeluk erat pinggang Aydin.


"Ki-Kiki...," Kenan terbata-bata menyebut nama Kiki.


Kiki mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, dan dia memberikan barang tersebut pada tangan Caroline.


"Minum itu, kami kan kegatelan," jawab Kiki dengan nada tinggi dan menatap mata suaminya dengan penuh kemarahan.


"Didiiii... ayo pergi," seru Kiki memanggil Raditya agar cepat menyusulnya.


Raditya yang kaget dan melongo melihat kejadian tadi langsung tersadar ketika mendengar suara Kiki yang mengajaknya pergi dari tempat itu.


"Dasar wanita udik!" teriak Caroline.


Kenan menyadarkan Aydin dengan memukul punggungnya.


"Bro bini lu marah tuh," ucap Kenan dengan menunjuk Kiki yang berjalan beriringan dengan Raditya.


Setelah tersadar, Aydin mengejar Kiki namun ditahan oleh Caroline. Aydin yang sudah sepenuhnya sadar menghempaskan tangan Caroline sehingga Caroline limbung dan terjatuh.


"Pak Aydin... beraninya kamu melakukan itu pada keponakan saya," seru Pak Hermawan relasi bisnis Aydin yang selama ini bekerja sama dengan perusahaan Aydin.


"Maaf Pak, saya mau mengejar istri saya dulu," jawab Aydin kemudian berlari menuju parkiran, namun dia tidak bisa mengejar Kiki karena Aydin melihat Kiki masuk ke dalam mobil Raditya dan segera dikemudikannya.


Aydin hanya bisa menatap sendu mobil yang ditumpangi oleh istrinya. Aydin menjambak rambutnya dengan kasar dan melepas dasinya dengan kasar. Aydin sangat marah dengan dirinya yang membiarkan Caroline mempermainkannya dan dia juga marah kepada dirinya sendiri karena membiarkan istrinya yang sedang mengandung anaknya pergi dengan pria lain karena kesalahpahaman.


Aydin didatangi oleh Kenan, Caroline dan Pak Hermawan.


"Pak Aydin, saya harap anda tetap bisa memegang janji anda," ucap Pak Hermawan.

__ADS_1


"Tapi saya belum menjawabnya Pak," ucap Aydin kesal.


"Saya tidak mau tau, tadi saya lihat kalian nyaman bersama," ucap Pak Hermawan, setelah itu dia masuk dalam mobilnya.


"Antarkan keponakanku pulang dan buatlah dia senang," perintah Pak Hermawan sebelum mobilnya pergi meninggalkan parkiran restauran.


"Sial," ucap Aydin.


Aydin menatap penuh kebencian pada Caroline yang ada disampingnya.


"Sayang, ayo kita jalan sekarang," ajak Caroline dengan menggandeng Aydin.


Namun sebelum tangannya mendarat di lengan Aydin, dengan segera Aydin berjalan cepat dengan langkah lebarnya menuju mobilnya dan diikuti oleh Kenan.


Caroline yang mengikutinya tidak bisa mengimbangi langkah kaki Aydin sehingga dia tertinggal dan mobil Aydin meninggalkan parkiran restauran tanpa Caroline.


Caroline berteriak memanggil nama Aydin namun tak digubris sama sekali oleh Aydin. Mobil Aydin melaju cepat seiring amarah dalam dirinya.


Kenan berseru ketakutan karena cara mengemudi Aydin yang penuh dengan emosi, sampai-sampai Kenan berpegangan pada apapun yang bisa dia raih.


Kenan bersikeras menghentikan Aydin untuk mengemudi, hingga akhirnya Aydin tersadar dari kemarahannya dan menyerahkan kemudi pada Kenan. Sedangkan Aydin mencari tahu dimana Kiki berada.


Aydin menghubungi Kiki berulang kali namun tidak dijawabnya. Kemudian Aydin berinisiatif bertanya pada Vina karena mungkin saja Kiki sudah kembali ke rumah sakit, namun menurut Vina Kiki sudah pergi sejak jam makan siang dan sampai sekarang Kiki belum kembali. Aydin sangat pusing dan bingung memikirkan keberadaan istrinya.


Aydin dan Kenan tidak pernah memikirkan bahwa Kiki berada di rumah Raditya, karena di sana ada Linda, jadi tidak mungkin Kiki dibawa Raditya ke rumahnya. Kenan pun berpikiran seperti itu


Padahal benar adanya, kini Kiki berada di rumah Abah dan Ambu. Kiki menangis di dalam pelukan Ambu. Hormon kehamilannya membuat dirinya menjadi cengeng.


Tadi Kiki akan diantarkan pulang ke rumah Mama Papanya oleh Raditya. Namun Kiki tidak mau karema bisa dipastikan Aydin akan ke sana. Kiki meminta agar dia bisa istirahat sebentar di rumah Raditya, dan nanti dia akan meminta jemput Kak Kevin.


Ambu menyetujuinya, karena memang benar kata Kiki, dia sekarang lebih membutuhkan ketenangan. Akhirnya Raditya membawa Kiki ke rumahnya.


Di sana sudah ada Renita dan juga Linda sedang bermain dengan Raline. Mereka heran melihat Kiki datang bersama Raditya dan Ambu dalam keadaan berantakan.


Linda dan Renita mengajak Kiki untuk bermain bersama dengan Raline agar Kiki bisa sedikit terhibur.


Setelah agak tenang, Kiki duduk di gazebo seperti biasanya. Linda menghampirinya dengan memberikan segelas orange jus.


"Minum dulu Ki. Tenang aja gak ada racunnya kok," canda Linda seraya memberikan segelas orange jus pada Kiki.


"Terima kasih," ucap Kiki sambil tersenyum.


"Ada masalah apa Ki? Kamu bisa bercerita sama aku. Itupun kalau kamu mau sih. Hehehe...," ucap Linda dengan sedikit tertawa.


Kiki menoleh pada Linda dan tersenyum.


"Maaf ya atas semua kesalahanku," ucap sesal Linda pada Kiki.


"Udahlah Lin, kita kan udah tau kebenarannya, jadi kita saling memaafkan aja ya," ucap Kiki dengan tersenyum namun menyimpan kesedihan karena apa yang dilihatnya tadi.


Kemudian Kiki menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Ambu dan Raditya kemudian menceritakan juga tentang kejadian di restauran.


Linda mengangguk dan berkata,

__ADS_1


" Bagaimana Ki rasanya melihat suami kita dengan wanita lain?"


Pertanyaan itu sukses membuat Kiki menoleh pada Renita yang tersenyum padanya.


__ADS_2