Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
249


__ADS_3

Berbekal dengan alamat yang diberikan oleh Miyuki padanya, Raline segera berlari keluar dari sekolah untuk menunggu taksi yang dia pesan dengan terburu-buru.


"Loh Bu Raline mau ke mana? Kok gak masuk?" tanya seorang guru ketika hendak masuk melintasi gerbang sekolah.


"Maaf Pak hari ini saya ijin tidak mengajar, saya ada keperluan yang sangat penting," ucap Raline yang terlihat sangat panik melihat kearah datangnya taksi.


"Urusan apa sih Bu yang lebih penting daripada mengajar?" tanya guru tersebut dengan sewotnya.


Guru tersebut memang terkenal sangat disiplin, sehingga membuat semua siswa di sekolah tersebut enggan dekat dengannya.


Terlihat sebuah taksi berjalan mendekat ke arah mereka. Raline segera menghampiri taksi tersebut ketika taksi itu sudah berhenti di depannya.


"Loh Bu, Bu Raline tunggu!" guru tersebut berseru memanggil Raline.


"Maaf Pak, keluarga saya ada yang sakit. Saya harus pulang," Raline berseru tergesa-gesa dari dalam taksi tersebut sebelum akhirnya taksi itu berangkat menuju alamat yang dituju oleh Raline.


"Buruan Pak," ucap Raline dengan panik.


"Ini sudah cepat Mbak," jawab pengemudi taksi tersebut pada Raline.


"Lebih cepat lagi Pak," ucap Raline kemudian.


Raline sangat panik, dia tidak bisa berpikir jernih dan dia lupa jika jelas-jelas tadi Miyuki mengatakan bahwa Aydin dan Kiki berada di sana.


Kini setelah dia sampai di depan rumah Kenshin dia menatap bangunan rumah megah itu dengan menghela nafasnya.


"Jadi ini rumah Ken? Waktu itu dia mengajakku ke sini karena.....," Raline tidak melanjutkan ucapannya, dia mengingat saat dia berada di dalam rumah tersebut dan mengingat kembali saat-saat Kenshin bersamanya mengelilingi rumah itu.


"Ah.. apa sih yang kamu pikirkan Raline? Kamu harus waras. Kamu harus bisa berpikir dengan jernih. Kamu tidak boleh mengecewakan Ayahmu. Ingat itu Raline," Raline memperingati dirinya sendiri dengan berbicara seorang diri di depan rumah megah Kenshin.


Tiba-tiba pintu gerbang terbuka, keluarlah Pak Joni dari balik gerbang tersebut. Hal itu membuat Raline sangat terkejut hingga dia tidak bisa menutupi rada kagetnya di hadapan Pak Joni.


"Non Raline? Silahkan masuk Non. Maaf jika tadi Bapak tidak mendengar suara bel nya."


Pak Joni merasa bersalah karena membiarkan Raline terlalu lama berada di luar.


"Tidak Pak, saya baru datang kok," jawab Raline dengan sungkan.


"Silahkan masuk Non," ucap Pak Joni sambil membukakan gerbang tersebut.


Terlambat sudah, Raline sudah tidak bisa mundur lagi. Dia tidak bisa berbalik arah untuk kembali pulang meninggalkan rumah megah itu.

__ADS_1


Diakuinya memang Raline tadi sangat terburu-buru hingga tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.


Dia tidak memikirkan bahwa Aydin dan Kiki yang pastinya ada di rumah tersebut dan dia tidak memikirkan apa yang akan terjadi jika mereka bertemu dengannya untuk menjenguk Kenshin. Dan tentunya dia tidak memikirkan kekecewaan ayahnya nanti ketika mengetahui dirinya menemui Kenshin.


Huuuuffftt....


Raline menghela nafasnya ketika melihat mobil Aydin dan Kiki berada di sana. Ingin rasanya dia berlari saja dari tempat itu agar tidak bertemu dengan Aydin dan Kiki.


Baru kali ini dia merasakan keengganannya untuk bertemu dengan Mami dan Papinya. Bukan karena tidak ingin, dia sangat ingin sekali malahan. Hanya saja karena kejadian waktu itu membuat Raline harus menjauh dari mereka. Entah sampai kapan, Raline pun tidak mengerti.


"Non Raline apa tidak masuk ke dalam?" tanya Pak Joni yang melihat Raline mematung di depan taman yang sangat indah, dibuat khusus Kenshin untuknya.


"Sebentar Pak, saya ingin di sini dulu," jawab Raline dengan senyum palsunya.


Harus bagaimana aku sekarang? Apa aku harus kembali tanpa melihat Ken? Atau aku hanya sebentar saja melihatnya dan setelah itu berpamitan pulang?


Raline sungguh dilema saat ini, dengan berkata dalam hatinya dia mencoba mengambil keputusannya.


"Sudah sampai sini, nanggung Raline, masuk aja. Hadapi nantinya bagaimana. Kamu harus bisa jadi lebih dewasa. Hadapi semuanya. Ok. Kamu bisa!"


Raline berkata lirih menyemangati dirinya dan dia memantapkan hatinya untuk masuk ke dalam rumah megah itu.


Jantung Raline kini berdegup tak karuan. Layaknya alunan musik diskotik yang berdentum kencang saling bersahut-sahutan.


Huffft....


Kemudian dia menghela nafasnya, setelah itu dia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah megah itu karena pintunya yang sudah terbuka lebar.


Ditengoknya kiri dan kanan untuk mencari seseorang yang ada di dalam rumah tersebut. Namun Raline tidak mendapati siapa-siapa di sana.


Perlahan kakinya masuk menapaki tiap lantai menuju ke dalam rumah itu.


"Raline?!"


Suara itu, suara yang sangat dikenal oleh Raline. Suara yang sangat dirindukannya sejak peristiwa itu terjadi.


Kaki Raline berhenti seketika mendengar namanya disebut. Dan dengan cepatnya dia memutar badannya menghadap orang yang memanggilnya.


"Mami....," ucap Raline dengan mata yang berkaca-kaca dan suara lirih yang bergetar.


Kiki tersenyum dan membuka tangannya lebar-lebar agar Raline bisa masuk ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Dengan cepatnya Raline berlari masuk ke dalam pelukan Kiki. Bahkan tangisnya tak bisa dibendung lagi.


"Mami... Raline kangen," ucap Raline disela tangisnya dengan suara lirih masih dalam pelukan Kiki.


Kiki mengurai pelukannya dan mengusap jejak air mata Raline. Kemudian dia berkata,


"Kamu pikir Mami gak kangen?"


Raline pun tersenyum menanggapi perkataan dari Kiki.


Seketika mata Kiki memicing melihat ke arah Raline. Kemudian dia berkata,


"Kamu kok ada di sini? Kamu gak ke sekolah?"


"Mmm... tadi, tadi Raline sudah ada di sekolah Mi, tapi... "


Raline tidak bisa meneruskan perkataannya, dia malu jika harus berterus terang pada Kiki.


"Kenapa? Kenshin?" tanya Kiki sambil tersenyum.


Raline pun mengangguk dan menundukkan kepalanya karena malu.


"Eh tapi kok kamu tau Ken ada di sini?" tanya Kiki kemudian.


"Tadi Miyuki yang memberitahu Raline tentang keadaan Ken dan dia memberikan alamat rumah ini. Raline.... Raline hanya...."


Lagi-lagi Raline tidak bisa menyelesaikan ucapannya.


"Khawatir pada Ken? Kamu cemas dengan keadaannya?"


Kini Kiki menggoda Raline yang semakin menundukkan kepalanya karena malu.


"Ya sudah, kalau gitu kita langsung ke kamarnya saja," ucap Kiki kemudian.


"Kamar?" celetuk Raline setelah mendengar perkataan Kiki.


"Iya, Ken sedang sakit dan tidak mungkin jika dia tidak berada di kamarnya," ucap Kiki sambil menarik tangan Raline untuk berjalan menuju lantai atas, tepatnya menuju ke kamar Kenshin.


"Tapi Mi.... jika ke kamar...."


Raline tidak berani meneruskan perkataannya, dia ragu mengucapkannya di hadapan Kiki.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu trauma masuk kamar Ken?" tanya Kiki sambil terkekeh.


"Eh itu Mi... bukan... tapi... Papi..."


__ADS_2