
Kiki merasa lelah meladeni Aydin yang masih saja dalam pengaruh obat. Setelah beberapa menit selsai dengan ritualnya, Aydin meminta lagi, begitulah seterusnya, hingga Kiki merasa dirinya tidak bertulang.
Huffft... pasti obat yang diberikan Cindy tadi dosisnya sangat besar. Sialan wanita licik itu, bisa-bisanya dia ingin membuat suamiku menjadi miliknya dengan memberikan obat hina itu agar berkali-kali melakukannya bersamanya. Tidak bisa dibiarkan, aku harus selalu mendampingi Bang Ay di mana pun setelah ini, Kiki berkata dalam hati sambil menormalkan nafasnya setelah kembali meladeni permintaan suaminya.
Kini Aydin mati-matian menahannya dan berharap pengaruh obat itu hilang setelah dia terbangun dari tidurnya.
Mata Kiki tak lepas dari wajah suaminya. Tidak disangka jika ikatan batinnya sebagai seorang istri bisa menyelamatkan suaminya dari wanita sialan seperti Cindy.
Wajah damai suaminya yang sedang tertidur itu membuat Kiki tersenyum puas karena bisa mempertahankan suami yang sangat hebat baginya, suami yang sabar, pengertian, sangat mencintanya dan juga selalu bisa membuatnya bahagia.
Perlahan lahan mata Aydin terbuka karena merasakan sentuhan jari Kiki yang menelusuri bagian wajahnya. Jari Kiki seolah menggambar semua bagian dari wajah Aydin mulai dari alis matanya, hidungnya dan berakhir di bibirnya dengan memberikan kecupan singkat.
Aydin tersenyum mendapati istrinya berada di hadapannya ketika matanya terbuka. Mata mereka saling menatap seolah saling berbicara, beberapa detik setelah itu mereka tersenyum bersamaan.
"Gak tidur Sayang?" tanya Aydin dengan suara parau.
"Mau tidur, tapi lihat wajah kamu membuat aku merasa bahagia dan khawatir," ucap Kiki yang matanya masih menatap mata Aydin.
"Bahagia dan khawatir? Kenapa?" tanya Aydin yang kini mulai lebih terbuka lebar matanya.
"Bahagia karena mempunyai suami yang setia dan cinta pada istrinya. Dan khawatir karena di mana-mana banyak wanita yang menginginkanmu. Jadi, sekarang aku memutuskan agar selalu mengikutimu ke mana pun kamu berada," jawab Kiki dengan memandang antusias pada Aydin.
Aydin tersenyum bahagia melihat istrinya sangat mencintai dan menjaganya.
"Setiap hari? Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu Sayang?" tanya Aydin dengan tangannya memainkan hidung Kiki.
"Bukan tiap hari Sayang, hanya ketika kamu ada pekerjaan di luar kota ataupun luar negeri. Dan satu lagi, mulai sekarang kamu ahrus membawa minuman kemasan sendiri yang belum terbuka segelnya. Mmm... mineral water aja setiap pergi pertemuan di mana pun. Dan jika di kantor, suruh Kenan saja yang membuatkan kopi. Aku tidak mau hal seperti ini terulang lagi. Aku.... aku... hampir saja kehilanganmu....," suara Kiki bergetar dan matanya sedikit berkaca-kaca.
"Aku pasti melakukan semua permintaanmu Sayang. Aku cinta banget sama kamu, dan kekuatan cinta itulah yang membuatku selalu ingat padamu dan lihatlah kekuatan cinta itu menyelamatkanku dari wanita sialan itu," ucap Aydin sambil mengusap-usap pipi Kiki.
"Aku sangat bahagia bisa melihat suamiku menolak mentah-mentah wanita yang dengan tidak tau malunya menyodorkan dirinya padamu meskipun dalam keadaan yang sangat tersiksa karena menahannya, walaupun aku sangat kesal dan marah saat melihat kejadian itu tadi," kini wajah Kiki berubah menjadi kesal mengingat kejadian tadi.
"Maaf Sayang, aku gak tau apa yang terjadi. Dan aku gak tau kenapa aku bisa tiba-tiba seperti itu," ucap Aydin lemah.
"Sepertinya dia memberikan obat itu dengan dosis besar sehingga kamu bisa seperti itu. Untung saja aku datang, kalau aku tidak datang, pasti kamu tidak akan bisa tahan menahan godaannya karena efek obat itu semakin menguat seiring waktu jika belum tersalurkan," ucap Kiki dengan kesal.
__ADS_1
"Gak akan Sayang, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menahannya. Hanya denganmu saja aku bisa merasakan seperti ini, tidak dengan yang lain," jawab Aydin untuk meyakinkan Kiki.
"Benarkah? Apa aku bisa memegang janji itu?" tanya Kiki untuk meyakinkan dirinya.
"Aku janji Sayang, dan jika kamu ragu, aku gak masalah kamu ikut aku tiap hari ke mana pun. Bahkan kamu ikut aku ke kantor setiap hari pun aku sangat suka, aku jadi bisa bersemangat jika kamu ikut bekerja bersamaku," janji Aydin pada Kiki.
"Kalau tiap hari aku ikut Bang Ay ke kantor, nanti rumah sakit bagaimana? Bisa-bisa aku dimarahi Ayah, untung-untungan aku tidak dipecat jadi menantu," Kiki terkekeh mengucapkannya.
"Gak akan Sayang, Ayah pasti akan mendukung asalkan kita selalu bersama.Oh iya kenapa kamu bisa sampai di sini?" tanya Aydin yang baru sadar akan kedatangan Kiki yang tidak diketahuinya.
"Itulah firasat seorang istri. Perasaanku tidak enak semenjak Bang Ay berangkat. Tanya aja sama Renita, awalnya Raditya melarang kita untuk berangkat karena Bang Ay melarang aku untuk ikut, tapi setelah itu Raditya menyuruhku datang kemari karena dia melihat ada yang tidak beres ketika Bang Kenan bercerita padanya. Dan benar, ketika aku datang, pas sekali itu adegannya," Kiki kembali kesal dan memajukan bibirnya.
Aydin tersenyum senang ketika mendengar istrinya sangat mengkhawatirkannya dan dia sangat gemas melihat istrinya yang sedang kesal seperti ini sekarang ini. Biasanya di saat seperti ini, dia pasti akan menerkam bibir Kiki yang sedang maju karena ngambek itu, namun untuk sekarang dia akan menahannya karena dia kasihan melihat istrinya yang kelelahan dari tadi menuruti kemauannya yang tidak mau berhenti dari rasa ingin menggauli istrinya itu.
"Ayo Sayang kita tidur, sini...," Aydin meraih tubuh istrinya yang tidak menggunakan apapun ke dalam pelukannya.
"Sayang, nanti kamu-"
"Gak akan, aku kan udah minum obat tidur dari kamu, sekarang udah mulai terasa ngantuk," Aydin lebih mengeratkan pelukannya dam memejamkan matanya dengan harapan akan terus seperti itu hubungan mereka berdua.
Di dalam kamar yang berbeda, Kenan dan Renita melakukan hal yang sama dengan Aydin dan Kiki. Hanya saja mereka tidak melakukannya berkali-kali seperti Aydin dan Kiki. Kenan tersenyum puas karena hari-harinya di Jepang tidak sepi karena adanya istrinya yang menemaninya.
"Sayang, aku senang sekali kita hampir tidak pernah absen melakukannya. Hanya kemarin-kemarin saja ketika aku sedang di sini dan dikau di sana," canda Kenan dengan memeluk tubuh Renita bersiap untuk tidur setelah melakukan ritual mereka.
"Eh iya ya, kok kita bisa terus melakukannya sih Bang?" tanya Renita heran.
"Ya bisa dong, kita kan suami istri. Gak ada yang melarang. Wajar-wajar aja dan sah-sah aja," ucap Kenan dengan bangganya.
"Tapi maksudku-"
"Udahlah Sayang, ayo tidur sekarang, daripada si entong pengen nambah lagi gimana hayo?" ucap Kenan menjahili istrinya.
Reflek saja Renita memejamkan matanya dengan rapat. Doa tidak ingin badannya sakit semua ketik bangun tidur besok, karena dia ingin mengajak Kiki untuk berjalan-jalan di Jepang.
Sepertinya Renita lupa jika Kiki sedang dalam mode khusus melayani suaminya karena pengaruh obat dalam diri suaminya. Belum tentu besok Kiki bisa diajak jalan-jalan setelah diajak suaminya bergelut di ranjang dengan panasnya.
__ADS_1
Keesokan harinya, Renita dan Kenan sudah bersiap-siap. Renita sudah berdandan cantik seperti biasanya berniat untuk berjalan-jalan dengan Kiki. Dan Kenan sudah rapi dengan setelan jas nya hendak pergi bekerja sesuai dengan jadwal pertemuan bersama dengan Aydin.
Namun Kiki dan Aydin belum juga bangun. Hingga suara dering telepon dari ponsel keduanya membangunkan mereka.
Aydin menyuruh Kenan memesankan makanan dan menunggu mereka di restoran hotel yang bersifat privat untuk mereka.
Setelah itu Aydin mengajak Kiki untuk mandi bersama karena Kiki merasakan nyeri di daerah sensitifnya sehingga berjalan hampir sama dengan pada saat malam pertama mereka.
Hampir satu jam mereka berendam bersama, setelah itu mereka menuju restoran hotel tersebut dan berniat untuk melakukan check out dari hotel tersebut dan kembali ke hotel mereka.
Dari kejauhan Kenan dan Renita melihat Aydin dan Kiki yang berjalan dengan lambat karena Kiki malu jika digendong dan dia hanya bisa berjalan pelan untuk meminimalisir rasa nyerinya.
"Ck, lama bener sih, kita kan udah nunggu lama. Jalan juga udah kayak keong aja merambat. Gak sekalian aja tuh ngesot?" sindir Kenan yang merasa sangat kesal pada Aydin dan Kiki yang tak kunjung datang sedari tadi.
"Ngomong lagi pecat nih," suara Aydin yang seperti inilah yang ditakuti oleh Kenan.
"Weeeh... jangan dong, slow man.... Silahkan duduk Tuan Besar dan Nyonya Besar yang terhormat, ini makanannya yang sudah saya pesankan dari tadi. Silahkan dinikmati,".ucap Kenan menirukan ucapan seorang pelayan.
Aydin dan Kiki terkekeh dengan tingkah Kenan yang selalu berubah ketika membicarakan pemecatan setelah pernikahannya. Karena Kenan takut jika Aydin khilaf benar-benar memecatnya. Kan bisa gawat, baru saja menikah masa' iya jadi pengangguran.
Mereka berempat menyantap sarapannya dengan sesekali melayangkan candaan mereka. Namun ketika Renita akan meminum kopinya, tiba-tiba dia merasa baunya sangat menyengat dan rasanya makanannya akan kembali keluar. Dengan segera tangan kanannya menutup rapat mulutnya agar makanan yang sudah dimakannya tidak keluar kembali.
"Kenapa Sayang?" tanya Kenan yang merasa aneh dengan istrinya.
"Mmm...," ucap Renita yang tidak bisa berbicara karena menahan mual serta mulutnya dia tutup dengan tangan sehingga tidak bisa berbicara seraya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa Re? Kamu sakit? Biar aku periksa nanti," ucap Kiki sambil menerima suapan dari Aydin.
Sangat hebat sekali bukan Aydin menjadi seorang suami, di samping kesetiaannya, dia juga selalu perhatian dan romantis pada istrinya. Paket komplit jika Kiki yang mengatakannya, karena suaminya itu seorang yang setia, romantis, perhatian, pengertian dan sangat sabar menghadapi semua sifat Kiki yang masih manja dan banyak maunya.
"Huwek... huwek...," Renita sudah tidak bisa lagi menahan rasa mual yang bergejolak di dalam perutnya.
"Sayang, kamu kenapa? Apa kamu masuk angin gara-gara semalam gak pakai baju?" ucapan Kenan membuat Kiki dan Aydin tidak bisa menahan tawanya.
Dasar lelaki bocor, selalu ceplas-ceplos, gak bisa mahan mulutnya, gak tau lagi di tempat umum apa, Renita berkata dalam hati sambil menahan kembali rasa mualnya.
__ADS_1