Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
74


__ADS_3

Bruuuk...


Tubuh Kiki jatuh terkulai di lantai rumah sakit. Tepatnya di IGD ini Kiki sudah kalah, dia tidak bisa menopang badannya sendiri.


Beberapa perawat memindahkan tubuh Kiki di ranjang. Dokter Samuel yang kebetulan menangani IGD saat ini membantu perawat untuk memeriksa Kiki. Dokter Samuel mengernyitkan dahinya ketika memeriksa Kiki, kemudian dia menyuruh perawat untuk memanggil Dokter Anggi, Dokter Spog yang dulu pernah menangani kehamilan Kiki.


Dokter Anggi datang ke IGD dan memeriksa Kiki yang masih dalam keadaan pingsan. Dokter Anggi menggeleng dan sedikit terkekeh, karena lagi-lagi dia bertemu dengan Kiki yang dalam keadaan pingsan dan hamil. Kabar Kiki pingsan langsung terdengar di seluruh rumah sakit.


Dokter Vina yang sekarang menjadi calon kakak iparnya langsung berlari ke IGD setelah mendengar berita tersebut. Kemudian dia menyuruh perawat memindahkan Kiki ke ruang VVIP dan mengabarkan pada keluarga Aydin dan keluarga Kiki tentang pingsannya Kiki di IGD.


Aydin berlari dengan sangat cemas di lorong rumah sakit. Dia sudah mendapat kabar dari Dokter Vina bahwa Kiki sudah dipindahkan ke ruang VVIP. Di sana sudah ada Dokter Vina dan Dokter Anggi. Mereka memasang infus pada tangan Kiki yang masih dalam keadaan pingsan. Sepertinya tidur Kiki nyenyak sekali hingga sudah hampir setengah jam dia belum sadar dari pingsannya.


Ketika doa sadar, dia langsung mendapatkan pelukan dari Aydin. Kiki melihat sekeliling yang sudah ramai. Di dalam ruangan tersebut sudah ada Mama dan Papa Kiki, Ayah dan Bunda Aydin, Kevin, Dokter Vina, dan juga tentunya Aydin yang sedari tadi berada di sampingnya dan tidak pernah melepaskan tangannya.


Raut wajah bahagia tercipta pada wajah semua orang. Kiki masih bingung, dia mengingat-ingat kembali apa yang terjadi padanya. Dan dia ingat bahwa tadi dia merasa sangat lemas, dan kepalanya berputar-putar, setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.


Aydin mengerti kebingungan pada wajah istrinya.


"Sayang... kamu tadi pingsan. Apa sekarang kamu merasa ada yang sakit?" tanya Aydin dengan wajah yang khawatir.


"Ow jadi aku tadi pingsan ya? Pantas aja aku gak ingat apa yang terjadi setelah kepalaku berputar-putar tadi," Kiki mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Sayang, pokoknya kamu gak boleh kecapekan. Kamu harus istirahat aja," Bunda bersuara menyatakan larangannya.


"Lah kan Kiki harus kerja Bunda, biar cepat selesai magangnya, biar cepat jadi Dokter beneran," Kiki tersenyum lebar agar semuanya tidak khawatir padanya.


"Kamu ini dibilangin mesti ngeyel. Kerja boleh, tapi gak boleh sampai pingsan kayak gini," Mama mulai dengan omelannya.


"Iya gak ada alasan sibuk sampai melalaikan jam makan kamu," Papa mencubit gemas hidung putrinya.


"Ayah akan mengatur semuanya agar tidak ada lagi kejadian seperti ini," Ayah tersenyum pada Kiki.


"Kenapa kalian semua jadi heboh gini sih? Kan aku lagi kerja, wajar aja kadang lupa makan. Apalagi tadi IGD ramai banget sampai semuanya gak bisa istirahat," Kiki membela dirinya.


"Kamu gak boleh capek-capek sayang, kasihan baby kita kalau sampai gak dikasih makan. Jadi pingsan kan tadi," Aydin mengelus perut rata Kiki.


"Hah?" Kiki menatap bingung perutnya yang dielus suaminya dan menatap ke semua orang yang sedang tersenyum bahagia.


"Iya sayang, di dalam sini ada baby kita," Aydin mengecup singkat bibir Kiki dan melihat ekspresi Kiki yang sangat kaget dia tersenyum lebar.


"Kamu gak percaya?" tanya Aydin.


"Aku.. aku bingung, benarkah apa yang kamu katakan?" Kiki memegang perutnya dan menatapnya.


Aydin dan semuanya tersenyum melihat kebingungan Kiki. Kemudian Aydin menceritakan pada Kiki tentang hasil pemeriksaan kehamilannya tadi yang dilakukan oleh Dokter Anggi.


Mata Kiki berkaca-kaca, dia tidak menduga bahwa kini dia sudah dipercaya lagi menjadi seorang Ibu. Dan itu dia tidak menyadarinya bahwa dia membawa anak di kandungannya selama 30 hari.Dia sangat bahagia sampai-samapi dia lupa jika ada anggota keluarganya ada disitu. Kiki memeluk erat suaminya.


"Ehem... mesra-mesraannya nanti kalau idah gak ada orang disini," sindir Kevin yang diacuhkan sedari tadi.


Dokter Vina mendekati Kiki dan memberinya selamat. Dia juga meminta Kiki agar kali ini benar-benar hanya memikirkan kesehatannya dan bayinya saja agar bayi itu sehat dan bisa lahir dengan sempurna. Kiki mengangguk senang. Dia berjanji akan selalu mengingatnya.


Tidak lama kemudian Dokter Anggi datang dan memeriksanya. Dia mengatakan agar Kiki dan Aydin datang ke ruangannya untuk pemeriksaan lebih lanjut.


Kemudian Ayah dan Bunda keluar dari ruangan Kiki untuk menemui Dokter yang bertanggung jawab atas Dokter magang. Ayah berkonsultasi dan mencari jalan keluar agar menantunya itu tetap bisa bekerja namun tidak sesibuk biasanya, karena Ayah dan Bunda tidak ingin jika mereka kembali lagi kehilangan cucu mereka yang belum lahir.


Akhirnya mereka memberikan jalan keluar untuk mengurangi jadwal Kiki dan apabila Kiki merasa lelah dia harus beristirahat dulu di ruangan khusus untuk istirahat, setelah itu dia bisa kembali bekerja.


Ayah setuju dengan usulan mereka, dan Ayah menitipkan menantunya pada mereka agar tidak terjadi lagi kejadian seperti tadi.


Untuk awal-awal memang Kiki tidak pernah merasakan ngidam ataupun mual-mual seperti kebanyakan Ibu hamil. Namun malam ini tiba-tiba dia menginginkan sesuatu, terbayang di benaknya manisan kedondong dan itu membuat air liur Kiki ingin menetes hanya dengan membayangkannya saja.

__ADS_1


Kiki melihat suaminya yang tertidur pulas karena kelelahan sehabis bermain bersamanya tadi. Melintas dibenak Kiki satu nama yang akan dia suruh untuk mencarikan manisan kedondong itu.


Kiki mengambil bajunya yang berserakan di lantai dan memakainya. Kemudian dia mengambil ponselnya dan keluar ke balkon kamar untuk menghubungi seseorang.


"Assalamu'alaikum... Di cepat bawakan manisan kedondong ke rumah Bang Ay ya," Kiki berucap dengan nada memerintah pada Raditya.


Raditya melihat jam yang ada di ponselnya dan menguap,


"Ki ini jam berapa? Baru jam dua malam Ki, gak ada yang jual manisan kedondong."


"Gak mau tau, pokoknya harus dan wajib kamu bawakan manisan kedondong. Awas kalau gak. Pokoknya aku tunggu," perintah Kiki dengan nada tegas.


"Buat apa sih Ki malam-malam gini," lagi-lagi Raditya menguap.


"Orang ngidam kan bisa kapan aja Di. Ya.. ya... cepetan bawain ya...," Kiki memohon.


"Lah suami kamu mana? Kok jadi aku yang disuruh nyarikan manisan?" selidik Raditya. Dia takut kalau Kiki kabur lagi dari rumahnya, apalagi dalam keadaan hamil, dia pasti akan sangat mengkhawatirkannya.


"Ada, nih lagi tidur. Kasihan kecapekan abis main tadi sama aku," jawab Kiki dengan entengnya.


"Hufft... kamu itu Ki, giliran enak sama dia, giliran ngidamnya nyuruh aku," jawab Raditya sebal.


"Lah kan dia suamiku, ayolah Di... kamu kan sahabat terbaik ku. Ya... ya..," Kiki kembali merayu Raditya.


"Sahabat sih sahabat Ki, tapi ini udah malam, gak ada yang jual manisan kedondong. Besok aja ya aku pasti bawain buat kamu," Raditya mencoba bernegosiasi.


"Gak mau tau, pokoknya sekarang aku tunggu," tukas Kiki.


"Kenapa harus aku sih Ki, suruh aja suami kamu atau siapa gitu yang lain. Bang Kevin atau Bang Kenan kan bisa. Atau teman-temannya yang lain," Raditya mengucek matanya agar terbuka lebih lebar.


"Gak tau, yang ada di pikiranku cuma kamu buat beliin manisan. Ayolah Di... ya... ya.... pokoknya aku tunggu. Titik. No debat. Bye," Kiki memutus panggilannya sepihak.


Raditya mendengus kesal. Kenapa harus dia yang disusahkan dengan acara ngidamnya Kiki. Namun ada sedikit rasa senang ketika Kiki mengatakan bahwa hanya dia yang ada di pikirannya pada saat dia menginginkan sesuatu.


"Mau kemana A' ?" tanya Linda yang baru saja membuka matanya.


"Mau shalat dulu," Raditya mengambil air wudhu di kamar mandinya kemudian dia berganti dengan baju koko dan sarung.


"Tadi siapa yang telepon, kok kayak sebal gitu?" tanya Linda menyelidik.


"Kiki yang telepon minta suruh bawain manisan kedondong. Seenaknya tuh anak ngidam nyuruh-nyuruh orang," Raditya berucap sambil menata sajadahnya.


"Suaminya kemana A' ?" tanya Linda.


"Lagi tidur, gak mau bangunin dia. Eh malah nyusahin aku," Raditya berucap dengan nada sebal.


"Mungkin dia mau kita balas budinya dia A' dulu pas aku hamil kan dia bantuin Aa' dari fitnah Dinda," ucap Linda yang kini merubah posisinya menjadi duduk bersandar pada kepala tempat tidur.


"Ya tapi kan gak aku juga yang disuruh nyari manisan kedondong malam-malam begini. Dasar tuh tukang perintah," ucap Raditya sambil membenarkan letak pecinya.


"Tapi pernah cinta kan? Eh apa masih cinta sekarang?" Linda bertanya menyelidik.


"Udah deh gak usah mulai. Aku kan disini bersama kamu, lagian buat apa aku merpertahankan pernikahan kita jika aku lebih memilih dia?" Raditya bertambah sebal dengan pertanyaan Linda.


Raditya langsung melaksanakan shalat sebelum Linda kembali berucap.


Linda hanya menatap suaminya yang sedang melaksanakan shalat, dia heran pada dirinya yang masih mempertanyakan soal perasaan suaminya pada Kiki. Entahlah dia sudah memulai hubungannya kembali dengan Raditya, dan hubungan mereka sudah kembali harmonis seperti dulu, namun masih ada setitik rasa tidak percaya jika suaminya sudah bisa melupakan Kiki.


Setelah shalat Raditya keluar kamarnya diikuti oleh Linda yang akan membukakan pintu gerbang. Sebenarnya Raditya mengajak Linda untuk mencari manisan kedondong, namun dibatalkannya meskipun Linda sudah setuju, karena kasihan anaknya yang nantinya terbangun tidak mendapati Bundanya disampingnya. Dan Linda pun menurut.


"Mau kemana A' ?" tanya Ambu ketika melihat Raditya berjalan akan menuju pintu.

__ADS_1


"Nyari manisan kedondong, Kiki ngidam nyusahin orang, malam-malam tadi jam dua telepon nyuruh bawain manisan kedondong," Raditya bercerita meluapkan kekesalannya.


"Wajar A' namanya orang lagi ngidam. Turutin aja," Ambu menenangkannya.


"Lah kan ada suaminya Ambu, kenapa harus Aa' yang disuruh?" Raditya mendengus kesal.


"Namanya orang ngidam A', gak bisa dibantah, keinginannya juga banyak gak wajarnya. Udah gak usah kesel gitu, Aa' cari aja kedondongnya, biar Ambu nanti yang buatkan manisannya," ucap Ambu sambil tersenyum.


"Ya udah Ambu, Aa' cari dulu kedondongnya," Raditya mendekati Ambu hendak pamit dan bersalaman.


"Tuh di belakang kedondongnya ada banyak," sahut Abah yang tiba-tiba muncul sesudah melaksanakan shalat malam di mushalla rumah.


"Oiya A' kenapa kita bisa kelupaan ya," Ambu berkata sambil tertawa.


Setelah Raditya mengambil buah kedondong yang ada di kebun belakang rumahnya, dia membawanya ke dapur. Di sana sudah ada Ambu yang membuat bumbu untuk manisan kedondong. Raditya membantu Ambu mengupas kedondong sambil berbincang dengan Ambu.


"Heran aku Ambu, masa' Kiki giliran ngidam yang aneh-aneh ingatnya ke Aa' ?" Raditya melakukan sesi curhat dengan Ambu sambil mengupas buah kedondong.


"Gapapa A' berarti dia ingat kamu, kalian kan sahabat dekat dari dulu, udah lama juga, nanti bayinya pasti juga dekat sama Aa'," canda Ambu agar menghilangkan kesebalan Raditya.


"Huft... ya udah deh Ambu kita buatnya yang cepet, biar dia gak marah-marah lagi nanti," Raditya menyudahi obrolannya.


Setelah sudah siap manisan kedondongnya, Raditya mengantarkan manisan tersebut ke rumah keluarga Aydin.


Raditya menghubungi Kiki dan mengatakan bahwa dia sudah ada di depan rumahnya. Kiki langsung turun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya.


"Sayang... mau kemana?" tanya Aydin yang dengan suara seraknya khas orang bangun tidur.


"Mau ke bawah, ada Didi nganterin manisan kedondong," jawab Kiki senang.


"Raditya? Jam segini?" tanya Aydin sambil mengucek matanya.


Pertanyaan Aydin tidak dijawab oleh Kiki karena Kiki kini sedang berjalan menuju luar rumah.


Seketika Aydin meloncat dari tempat tidur dan mengikuti istrinya dari belakang dengan terburu-buru.


"Ini Ki manisan kedondongnya. Tapi ini gak beli, tadi Ambu yang buatin," ucap Raditya seraya memberikan bungkusan manisan tadi.


"Kok bisa? Terus kedondongnya?" tanya Kiki.


"Lah kamu jam dua malam minta dibeliin manisan kedondong. Dimana ada yang jual jam segitu? Kebetulan pohon kedondong di belakang berbuah, jadi aku ambil buah kedondongnya dari situ terus Ambu yang buatin manisannya," jelas Raditya.


"Aaah.. Didi sahabat yang terbaik deh. Makasih ya, bilangin juga makasih sama Ambu," Kiki berseru bahagia.


"Sayang, apa-apaan sih minta dibeliin manisan sama dia?" tanya Aydin kesal.


"Tau tuh Bang, sebenarnya itu anak Abang atau anak aku kok pas ngidam mintanya ke aku," goda Raditya memancing emosi Aydin.


Seketika wajah Aydin memancarkan kemarahan. Dan Raditya segera berpamitan pulang pada Kiki. Mata Aydin masih menatap penuh amarah pada Raditya. Namun dia menahannya karena Kiki sekarang melingkarkan tangannya bergelayutan pada tangan Aydin.


Kiki mengajak Aydin memakan manisan kedondong itu di taman belakang rumah.


"Sayang, kamu ngapain sih ngidam mintanya ke dia bukan ke aku?" sewot Aydin.


"Aku kasihan mau bangunin kamu tadi malam. Kayaknya tidur kamu pulas banget. Pasti kamu capek abis main-main semalam sama aku. Ya udah aku suruh aja Raditya yang nyariin manisan kedondong," jawab Kiki dengan entengnya sambil memakan manisan kedondong dengan lahap.


Mendengar jawaban Kiki, kemarahan Aydin luruh, ternyata istrinya itu memikirkannya. Aydin tersenyum dan berkata,


"Lain kali mintanya ke Abang aja ya, kan suami kamu Abang, bukannya dia," Aydin dengan telaten mengelap mulut Kiki yang belepotan bumbu manisan.


"Pelan-pelan makannya, jangan banyak-banyak, kamu belum sarapan," omel Aydin.

__ADS_1


"Tapi Bang, tadi kayaknya bayinya deh yang minta supaya Raditya yang beliin manisan. Tiba-tiba aja gitu terlintas namanya dia," ucap Kiki sambil memakan manisan dengan lahap.


"Nakal ya kamu, pagi-pagi udah buat suami cemburu, minta dihukum ya?"


__ADS_2