
"Sayang, makan ya...", Aydin mengurai pelukannya. Saat ini dia memeluk pundak Kiki, dan kepala Kiki bersandar di dada Aydin. Rasanya dia enggan beranjak kemanapun, sudah terasa nyaman pada posisinya. Aydin menatap mata Kiki dan menawarinya makan, namun dia menggeleng tidak mau.
Aydin pun mengambil sendok baru yang disediakan di meja tersebut. Dia menyuapi Kiki yang masih berada di pelukannya. Kiki menggeleng, menolak, namun Aydin membisikkan sesuatu sehingga Kiki mau membuka mulutnya. Jadilah Aydin makan untuk dirinya sendiri dan juga menyuapi Kiki. Sungguh pemandangan yang indah sehingga membuat mereka yang berada di sana merasa iri dan ingin merasakan seperti itu.
Raditya sampai di rumahnya. Dia tidak menghiraukan Renita yang berada di ruang tamu sedang menonton drama. Bahkan dia tidak menghampiri Ambu untuk mencium tangannya, hal yang sudah biasa dilakukannya sejak kecil. Raditya langsung saja menuju kamarnya. Di sana sudah ada Linda sedang menatap ponselnya, dia tersenyum bahagia, saking hanyutnya dalam pikirannya, dia tidak mengetahui Raditya masuk dalam kamar tersebut. Dia menatap beberapa fotonya dengan Aydin tadi uang berhasil diabadikan oleh Airin,sahabatnya. Dia sangat mendambakan suami temannya itu. Senyum bahagia pun tampak di bibirnya. Tanpa ia tahu, Raditya sudah berada disampingnya dan melihat apa yang dilakukan oleh istrinya itu. Raditya tidak percaya, karena setelah Linda tersenyum melihat foto - foto tadi, dia malah mengirim pesan pada Kiki.
Linda
[Gimana kalau kita tukeran suami? ]
[Kamu pasti senang bukan? Kalian bisa bersatu tanpa gangguan orang lain ]
[Aku serius Kiki. Jangan anggap aku memohon. Ini yang seharusnya terjadi. Kita tidak cocok dengan pasangan kita. Kita tukeran saja, Ok ]
Seketika mata Raditya melotot, badannya lemas, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya, tidak percaya atas apa yang dilihatnya.Setelah mengirim pesan pada Kiki, senyumnya masih terpancar di bibirnya, dia menoleh, dan.... ah.... dia kaget mendapati suaminya yang berdiri mematung di sebelahnya. Dia berdiri dari duduknya, dan mendekati suaminya itu. Ditatapnya penuh sinis wajah suaminya yang kini berada di depannya. Baby Raline saat ini sedang bersama Ambu. Raditya segera sadar ketika melihat seringai dari bibir istrinya yang kini berhadapan dengan jarak yang sangat dekat dengannya. Raditya meraih kedua lengan istrinya itu, dia tatap dengan dalam mata istrinya yang ekspresinya saat ini hampir tidak dikenalinya, dia seperti bukan Linda yang dia kenal selama ini.
"Sayang, ada apa denganmu? Kenapa kamu lakukan hal seperti ini?" Mata Raditya berkaca - kaca menatap mata istrinya. Tak juga dapat jawaban dari istrinya itu, air mata Raditya pun tumpah tak dapat dibendungnya.
"Ya Allah... ada apa ini? Mengapa istriku jadi seperti ini?" Raditya meraung meluapkan kegundahan hatinya. Lengan Linda pun digoyang - goyangkan agar dia mau berbicara, menjawab apa yang dia tanyakan.
__ADS_1
Tak ayal air mata Raditya menular pada Linda. Mata istrinya itu juga berkaca - kaca melihat suaminya yang lemah dan mengeluarkan air mata. Selama ini dia tidak pernah melihat air mata yang jatuh di mata suaminya. Hanya pada saat baby Raline lahir, suaminya itu menangis bahagia dan bukan seperti sekarang tangisan yang getir rasanya. Linda tetap diam, di guncangnya tubuh Linda oleh tangan Raditya yang masih berada di kedua lengan istrinya itu.
"Hatiku sakit, selama ini aku diam saja melihat perhatianmu pada Kiki. Namun sekarang kesabaran ku sudah pada batasnya. Aku rasa kita akan lebih baik jika bertukar pasangan", Linda bicara dalam isakan tangisnya.
"Kau sudah gila! Kamu anggap kita mainan bisa bertukar pasangan? Hentikan pemikiran mu itu!" Raditya emosi disela tangisannya, air mata yang kini mengalir di pipinya disekanya dengan kasar karena emosi.
"Lalu apa yang kamu lakukan selama ini dengan Kiki di belakangku? Jangan kamu fikir aku tidak tau apa - apa", seringai itu pun tercipta kembali di bibir Linda.
"Kita hanya berteman dari dulu. Kamu kira candaan kita itu benar - benar berarti? tidak sayang.....", kini Raditya meraih kedua telapak tangan Linda dan bersujud di depannya.
"Aku tidak percaya ucapanmu. Aku lebih percaya dengan apa yang aku lihat. Itu sudah cukup memperjelas semuanya. Bahkan aku juga tau tadi kamu pun berlutut seperti ini di depan Kiki",Linda melepaskan tangan Raditya, namun tidak bisa, dia memegangnya begitu erat.
"Karena kita dijodohkan. Simpel bukan?" Linda membuang muka ke arah lain, sebenarnya dia tidak bisa melihat suaminya lemah seperti saat ini.
"Dan juga, aku mendengar dan melihat semuanya, pernyataan mu pada Kiki sewaktu di villa Kak Aydin pagi itu. Kak Aydin juga berada disitu. Dia juga melihat dan mendengar semuanya", Linda menghempas kasar tangan Raditya yang sedari tadi masih tetap erat memeganginya. Diusapnya bulir - bulir air mata yang lolos begitu saja di kedua pipinya
Raditya terkaget, namun dia mampu menyembunyikan ekspresi kagetnya itu.
"Aku akui dulu aku pernah suka pada Kiki, tapi semenjak aku setuju menikah denganmu, aku sudah melupakan rasaku pada Kiki. Namun, pada saat Kiki kembali memang ada sedikit rasa yang ada di saat melihat dia. Tapi pada saat itu juga aku sadar karena tidak mungkin itu terjadi. Tidak akan pernah ada kata perceraian diantara kita. Dan ingatlah putri kita itu sangat membutuhkan kedua orang tuanya",
__ADS_1
Raditya mendekap erat tubuh Linda yang kini sedang menangis, badannya bergetar dalam pelukan Raditya.
Tiba - tiba ada suara notifikasi dari ponsel Linda yang berada pada genggaman tangannya.Diurainya pelukan suaminya itu dan dia membaca pesan tersebut. Raditya yang berada di depannya ikut melihat.
Kiki
[Linda, tenanglah, lebih baik kita bicarakan berempat sekarang juga. Ajaklah suamimu ke cafe suamiku. Kita akan bertemu di sana. Aku harap kamu dan Raditya datang, agar kesalahpahaman itu cepat selesai. Aku tunggu ]
Raditya menatap Linda, dia terdiam. Jujur saja dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya setelah ini. Nyalinya menciut. Tadi dia hanya tersulut emosi dan ingin membalas dendam pada suaminya dan Kiki. Bahkan sekarang dia tidak berani menghadapi Aydin. Linda harap Aydin tidak tahu apa yang sebenarnya, agar Linda tidak malu nantinya jika bertemu dengannya, dan bisa juga dia kembali mendekati Aydin jika Kiki tidak memberi tahu tentang perbuatan Linda. Namun terbersit rasa percaya diri di benak Linda, dia pikir Kiki tidak akan memberi tahu suaminya, karena pastinya Aydin juga pasti akan marah dengan perbuatan Kiki dan Raditya di belakang Aydin. Senyuman tipis tersungging di bibir Linda. Dia mau menemui Kiki karena mungkin juga acara tukar pasangan bisa hari ini terealisasikan. Tapi anehnya ada rasa tercubit sakit jauh di dalam lubuk hatinya. Entah mengapa mendengar bertukar pasangan sepertinya dia tidak rela melepas suaminya, namun dia juga terobsesi untuk mendapatkan suami sempurna di matanya seperti Aydin.
Raditya meraih telapak tangannya dan mengajaknya berangkat ke cafe Aydin.
"Ayo sayang kita berangkat, mereka pasti sudah menunggu", Raditya menggandeng tangannya dan menariknya. Namun Linda masih berdiam diri tidak beranjak selangkah pun dari tempatnya sekarang.
Tak disangka, pada saat Linda dan Raditya berdebat, Renita berada di depan pintu kamar mereka. Dia mendengar semua yang mereka bicarakan. Renita tidak percaya dengan semua yang dia dengar, dia syok, badannya lemas, namun dikuatkannya karena sekarang dia sedang menggendong baby Raline yang sedang tidur. Tadinya Renita akan memberikan baby Raline yang tertidur ke kamar kakaknya itu, namun tak disangka dia malah mendengar semuanya. Setelah mendengar Raditya mengajak Linda keluar, cepat - cepat Linda masuk ke dalam kamarnya yang berada di sebelah kamar kakaknya itu. Dia menidurkan baby Raline di tempat tidurnya. Dia terdiam, mengulang kembali apa yang dia dengar tadi di luar pintu kamar kakaknya. Akhirnya dia berinisiatif untuk bertanya pada Riri. Renita mengirim pesan pada Riri, bertanya tentang apa yang terjadi sebenarnya. Dan lagi - lagi Renita menggeleng tidak percaya dengan apa yang dituliskan Riri di pesannya. Riri menceritakan semua apa yang terjadi tadi di kampus, Riri juga mengirim video utuh kejadian tadi di kampus yang dia dapatkan dari medsos.
Renita bingung apa dia harus bercerita pada Ambu dan Abah, atau biar mereka tahu dari kakaknya saja. Tapi dia benar - benar tidak mengira jika Linda, kakak iparnya itu bertindak seperti itu, dia tidak menduga sama sekali kakak iparnya itu punya sikap seperti itu. Selama ini setahu Renita, Linda sosok wanita yang baik dan tidak macam - macam. Kalau sudah seperti ini, Renita merasa sangat bersalah pada Kiki. Dia takut jika Kiki akan menjauh darinya, sama seperti dulu, menghilang entah kemana. Arghh ... Renita pusing, sia menjambak rambutnya sendiri, kenapa dia harus ikut pusing dengan masalah rumah tangga kakaknya. Dia menghela nafas panjang dan dia merebahkan tubuhnya di atas kasur, sebelah baby Raline, memandangi wajah damai bayi tersebut membuat Renita lama - lama mulai hanyut dan ikut memejamkan mata, tertidur di samping baby Raline, menjemput mimpinya di sore hari.
Pada saat Kiki disuapi oleh Aydin, ponselnya bergetar, dilihatnya ponselnya itu, ternyata pesan dari Linda. Segera dibuka oleh Kiki pesan tersebut, karena jujur saja dia begitu sakit hati dengan Linda namun dia juga penasaran dengan apa yang akan Linda kirimkan di pesannya. Kiki tersedak, Aydin yang menyuapkan sendoknya pada mulutnya segera dihentikannya, diletakkannya sendok itu di atas piringnya, dengan cekatan dia mengambil gelas di depannya yang berisi air putih dan segera diminumkannya pada Kiki. Sedangkan Kiki hanya membuka mulutnya saat Aydin memberinya minuman dan meminumkannya. Dia begitu kaget, tidak menyangka akan apa yang dibacanya saat ini, pesan Linda yang membuat Kiki menjadi sakit hati teramat dalam. Karena Kiki hanya diam saja, Aydin segera mengambil ponsel itu dari tangan Kiki dan membacanya.
__ADS_1