
Shen Long yang berada di depan pintu gerbang Wihara Cahaya Buddha yang sudah menjadi arang, kini mengepalkan kedua tangannya hingga niat membunuhnya merembes keluar.
" Saudara Louzhy, apa kamu mengenal tempat ini?" Tanya Wuya Jinwu yang melihat Shen Long sedang bersedih.
" Ya... Mereka adalah saudaraku. Tanpa bantuan Biksu Tang Min, mungkin aku tidak bisa seperti sekarang." Shen Long tidak bisa menyembunyikan kesedihannya dimana tanpa sadar air matanya menetes.
" Saudara Louzhy. Aku pernah mendengar dari ayahku, bahwa Wihara Cahaya Buddha dihancurkan oleh Klan Hu. Saat itu ayahku sedang melakukan perjalanan, tanpa sengaja dia melihat salah satu dari kelompok berpakaian hitam adalah Tetua dari Klan Hu."
Wuya Jinwu menceritakan tentang hancurnya Wihara Cahaya Buddha, karena dia sudah menganggap bahwa Shen Long seperti adiknya sendiri.
" Klan Hu?" Gumam Shen Long, sambil mengepalkan kedua tangannya.
Melihat Shen Long yang masih berdiam diri, anggota Fraksi Gagak Emas tidak ingin mengganggu pemuda itu, dimana mereka hanya menunggu Shen Long beranjak.
" Biksu, dan kalian semua. Aku berjanji akan membalaskan dendam untuk kalian." Gumam Shen Long lalu berlutut di depan pintu gerbang hingga tiga kali.
Sesaat Shen Long terbang ke arah Sekte Seribu Pedang, dimana tempat tinggalnya saat masih berada di tempat itu.
Melihat Shen Long yang melesat ke udara, Wuya Jinwu dan anggotanya langsung terbang mengikuti pemuda itu.
Tidak lama kemudian Shen Long menatap ke arah Sekte Seribu Pedang yang kini sudah musnah.
Sesaat Shen Long mendarat di tengah lapangan Sekte Seribu Pedang kini sudah ditumbuhi rerumputan dan semak belukar.
" Kalian pergilah dulu! Aku ingin menenangkan pikiranku terlebih dulu." Ucap Shen Long yang merasakan kehadiran anggota Fraksi Gagak Emas berada di belakangnya.
Di sisi lain anggota Fraksi Gagak Emas merasa kelelahan dengan nafas memburu, karena untuk mengimbangi kecepatan Shen Long, mereka membutuhkan Qi dalam jumlah besar.
" Baiklah saudara Louzhy, kami akan menunggumu di pinggir hutan gunung Kunlun." Wuya Jinwu tidak ingin mengganggu Shen Long, karena dari raut wajah pemuda itu menyimpan kesedihan yang mendalam.
Niu Meily dan delapan Kultivator bergelar yang ingin mendekati Shen Long untuk menghiburnya, kini mengurungkan niat karena mendapatkan isyarat dari Wuya Jinwu.
__ADS_1
" Aku sudah berjanji kepada Guru dan Tetua untuk melindungi Yan Rou Lie dalam kondisi apapun. Aku tidak boleh terbawa perasaan." Shen Long bergumam sambil mengingat apa yang pernah dia ucapkan kepada Lin Kun dan Jin Song.
Sesaat Shen Long menarik napas dalam-dalam, karena terlalu banyak beban yang dipikulnya.
Disamping membalas dendam kepada Sekte Naga Langit, Shen Long juga memberi perhitungan kepada Klan Hu juga melindungi Yan Rou Lie.
" Aku harus mencari Sumberdaya lebih banyak lagi agar lebih kuat." Shen Long mengepal kedua tangannya, lalu melesat ke udara menuju ke suatu tempat.
Saat Shen Long terbang ke sebuah arah, kini terlihat sosok anak kecil yang seusia 10 tahun menatap ke arah Shen Long.
" Siapa kakak itu? Sepertinya dia menggunakan teknik Tinju Naga Penghancur." Gumam anak seusia 10 tahun yang memiliki kepala botak.
Tanpa berpikir panjang, anak berkepala botak tersebut melompat ke dahan pepohonan untuk mengikuti arah Shen Long.
Meskipun tidak menggunakan Qi, anak kecil tersebut mampu mengimbangi kecepatan Shen Long, dimana hanya menggunakan kekuatan fisik.
Di tempat lain juga terlihat dua sosok pria sepuh yang seakan mencari sesuatu di pinggir hutan di wilayah gunung Kunlun.
Tanpa menunggu lama, Shen Long menggali tanah yang berada di dekat pohon tersebut hingga menemukan sebuah kitab yang terbuat dari bilah bambu.
" Ternyata Kitab ini masih ada." Gumam Shen Long, lalu memasukkan Kitab tersebut ke Cincin miliknya.
Kraaack! Kraaack!
Terdengar suara renyah dari arah samping Shen Long, dimana dia melihat sosok anak kecil melompat ke udara hingga dua sosok lainnya jatuh ke tanah.
" Siapa kamu?" Tanya Shen Long sambil menatap ke arah anak kecil yang dengan mudah mengalahkan dua pria sepuh hanya dalam satu kali serangan.
Tentu Shen Long memasang sikap waspada, karena anak kecil tersebut tidak seperti orang biasa.
" Amitabha... Kakak... kedua orang itu ingin membunuh kakak secara diam-diam. Karena itulah aku menghalangi mereka. Tapi tanpa sengaja mereka malah terbunuh." Ucap anak kecil tersebut sambil menaruh telapak tangannya di dadanya layaknya seorang Biksu.
__ADS_1
" Gluug." Shen Long menelan ludah membayangkan jika dia berada di posisi tersebut.
Sementara kedua pria sepuh itu sudah mencapai Pendekar Suci yang bisa dikalahkan oleh seseorang anak kecil.
Bahkan anak kecil tersebut mendarat di tanah begitu lembut layaknya seringan kapas.
" Amitabha... Perkenalkan namaku Je Bo, jika boleh tau siapa nama kakak?" Tanya anak kecil yang bernama Je Bo.
" Shen Long. " Jawab Shen Long dengan singkat, sambil mengukur tingkat Kultivasi Je Bo, dimana hanya mencapai Pendekar Fana tingkat 3.
" Amitabha... Kakak, kamu tidak perlu seperti itu. Aku datang kesini dengan tujuan baik." Ucap Je Bo yang merasakan bahwa Shen Long masih terlihat waspada kepadanya.
Mendengar ucapan tersebut, Shen Long menghela nafas lega, karena dia juga merasakan bahwa Je Bo tidak memiliki niat membunuh kepadanya.
Untuk meyakinkan Shen Long, Je Bo mengambil Cincin Ruang milik kedua pria sepuh tersebut, lalu melemparkan kepada Shen Long.
" Amitabha... Anggap saja kedua cincin itu sebagai permintaan maafku." Je Bo bersikap hati-hati kepada Shen Long, bukan karena takut.
Melainkan Je Bo tidak ingin Shen Long menganggapnya sebagai seorang monster.
" Je Bo... Jika boleh tau, apa tujuanmu kesini?" Shen Long merasa kejadian sebelumnya tidaklah kebetulan, melainkan ada sesuatu yang Je Bo sembunyikan.
" Amitabha... Jujur saja, aku datang kesini karena ditugaskan oleh guruku untuk mencari Kitab Tinju Naga Penghancur yang hilang selama ribuan tahun yang lalu dari Kuil Cahaya Buddha." Ucap Je Bo sambil berjalan mendekati Shen Long.
Mendengar ucapan tersebut, Shen Long sedikit mengerutkan kening, karena Je Bo sudah mengetahui bahwa Kitab Tinju Naga Penghancur berada di tangannya.
Je Bo tidak ingin terburu-buru, sehingga dia membawa Shen Long untuk berjalan memasuki hutan di depan mereka.
Meskipun sebenarnya Je Bo tidak bisa terlalu lama beranda di tempat itu, namun dia ingin agar Shen Long memberikan Kitab Tinju Naga Penghancur dengan ringan hati.
" Amitabha... Kakak, jika ada orang lain yang mengambil barang milik orang tua kita, Jika kita mengambilnya, apa itu salah?" Tanya Je Bo, sambil menatap ke arah Shen Long.
__ADS_1
Mendengar ucapan tersebut, Shen Long menghela nafas berat, karena pertanyaan tersebut tertuju kepadanya.