
"Ketika di rumah sakit aku tidak memperdulikan siapa orang yang menolong ibuku tapi setelah ibuku sadar dari obat biusnya, ibuku selalu mengatakan bahwa dirimu sangat baik. Aku mengira kebaikan yang biasa saja dan tak patut untuk di banggakan tapi dugaanku salah, ibuku menceritakan kejadian di mana kau menyelamatkan ibuku dari serangan para penjahat itu." ucapnya tidak lepas menatap Karamel.
"Ibuku terkena tusukan di bagian tangannya dan kau rela melepas bajumu untuk membalut luka ibuku. Apa kau tahu saat itu fikiranku sangat liar, aku memikirkan bagaimana bentuk lekukan ...."
"Berhentilah bercerita hal yang mesum," gertak Karamel seraya memelototi pria mesum itu.
"Ternyata saat itu kau adalah anak kecil yang masih memakai tank top," katanya lagi
"Berhenti berbicara mesum atau berhenti bercerita," kesal Karamel memberi pilihan pada pria itu.
"Aku masih tidak perduli walau kau menolong ibuku dengan membalut lukanya, menurutku itu hal yang wajar jika orang itu adalah orang yang baik tapi aku sangat tersiksa karena di setiap harinya ibuku terus membicarakanmu. Entah itu di rumah sakit, di dalam mobil, di rumah bahkan saat aku pulang kerja, semua cerita hanya tentang wanita yang menolong ibuku." lanjutnya.
"Jika tersiksa kenapa tidak mati saja," ucap Karamel.
"Aku belum siap mati, Kara," sahutnya.
"Satu minggu, hanya dalam tujuh hari aku mulai ada rasa ingin tau tentangmu," ucapnya lanjut cerita.
"Tanpa sepengetahuan ibuku, aku mencari tau tentang dirimu. Tidak ada, semua suruhanku tidak ada yang bisa mencari tau tentang dirimu? Itu membuat aku semakin penasaran denganmu, Kara." ucapnya.
"Aku terus berusaha mencari tahu tentang dirimu, aku bahkan melupakan semua kekesalanku di bar karena tidak bisa menemukanmu. Siang dan malam waktuku selalu mencari dirimu hingga pencarian selama satu bulan berhasil karena Andi menemukan seorang wanita yang mirip dengan pemilik kartu identitas Karamel. Andi menunjukan ID wanita yang bernama Tania Losvita Aramoy, mudah sekali menebaknya 'Aramoy' kedua nama itu memakai marga yang sama." ucapnya.
"Aku menyelidiki tentang Tania sampai tentang keluarganya juga, untungnya aku pintar, Kara. Aku langsung mendapatkan informasi lengkap tentangmu, aku ...."
"Termasuk sisi buruk saya?" tanya Karamel tidak mungkin menyebutkan bahwa dirinya adalah mantan seorang mafia.
"Aku mengenalmu saat kau berusia tiga belas tahun," ucapnya berarti tidak tahu bahwa Karamel pernah menjadi pimpinan kejam.
"Aku tahu siapa Karamel dan siapa Tania, dua nama itu ternyata satu orang yang sama dan dia adalah anak Tuan Sinaja dan Nyonya Aramoy. Aku bertekad untuk menjadikanmu kekasihku tapi tidak bisa, aku harus membiarkanmu bersenang-senang dulu, menikmati masa mudamu, sayangnya kau sudah mencintai laki-laki lain. Aku sangat terpukul saat tahu kau mencintainya." katanya.
"Aku selalu memikirkanmu selama empat tahun, ingin rasanya aku menculikmu dan menikahimu tapi aku tidak mau merusak kebahagiaanmu, Kara. Kau begitu bahagia menjalin hubungan dengan Leo sampai aku cemburu melihatnya." tambahnya.
"Aku mengira Leo bisa membuatmu bahagia sepenuhnya tapi ternyata tidak, dia pergi meninggalkanmu, sedangkan an kau? Kau selalu menanti kedatangannya tapi sayang itu tidak mungkin terjadi, Kara. Apa kau tahu karena apa? Itu karena Sembilan bulan yang lalu aku mendapat kabar tentang Leo yang sudah mempunyai kekasih lain di Irlandia, aku ...."
"Apa? Sembilan bulan yang lalu?" beo Karamel refleks berteriak.
"Jika sejak awal anda tau saya menunggu kedatangannya lalu kenapa anda tidak memberi tau saya? Jika sembilan bulan yang lalu anda tau dia sudah memilik kekasih lain, harusnya anda datang lebih awal dan memberitahukannya kepada saya," sengit Karamel.
"Aku ...."
"Apa anda bahagia melihat saya menderita?" sengit wanita itu begitu menyedihkan.
"Tidak Kara ...."
"Saya tau anda ingin menjadi pahlawan tapi saya katakan sekali lagi pada anda, buang mimpi anda untuk menjadikan saya sebagai istri anda karena saya tidak akan pernah mau menikah dengan anda." pekik Karamel berlari menuju kamarnya.
Brakk! Karamel menutup keras pintu kamarnya, air mata wanita itu jatuh lagi karena pria yang ia cintai, karena dirinya menerima kabar yang terlambat ia dapatkan tentang kekasihnya, Leo.
............
Malam ini Karamel ada janji dengan kedua temannya yaitu Adit dan Diky di cafe Gourmet, ia ingin meluapkan segala keluh kesahnya kepada kedua temannya itu.
Namun baru saja Karamel keluar rumah, Henry datang dengan membawa buket bunga untuk Karamel.
__ADS_1
"Untukmu," ucap Henry memberikan buket bunga itu ke hadapan Karamel namun wanita itu hanya diam menatap sinis bunga itu.
"Kara ...."
"Saya tidak menginginkan bunga ini," ucap Karamel.
"Lalu apa yang kau inginkan? Aku akan berikan segalanya untukmu," tanya Henry tersenyum tipis.
"Apa yang saya inginkan tidak akan bisa anda berikan karena anda tidak akan mampu untuk melakukannya," ucap Karamel sinis.
"Sebutkan," titahnya.
"Pacar saya, Leo!" ucap Karamel membuat senyum pria itu berubah datar.
"Menantikan seseorang yang tidak akan mungkin bisa kembali lagi, itu sangat menyedihkan sekali, Kara." ucap Henry terdengar mengejek.
"Mendekati seseorang yang sudah jelas tidak akan pernah membalas perasaan anda, itu jauh lebih menyedihkan, Tuan Nixon yang terhormat." balas Karamel membuat emosi Henry ingin meledak.
"Please, don't provoke me honey or you ...." Henry menggantung perkataannya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Karamel, tangan besar Henry bergerak menyentuh dagu Karamel kemudian ibu jarinya mengusap bibir Karamel membuat Karamel langsung menepis tangan pria itu.
"Ancaman anda tidak akan membuat saya takut dengan anda," sengit Karamel tajam.
"Sayang ...."
"Tutup mulut anda yang penuh dengan kata-kata manis itu, saya tidak akan mudah terpengaruh dengan pria yang bernaf*u seperti anda," sengit Karamel.
"Kau selalu menguji kesabaranku ...."
"Itu karena saya mampu melakukannya," ucap Karamel sengaja memancing amarah Henry.
"Jangan fikir cinta anda jauh lebih sempurna di bandingkan pacar saya, bahkan anda tidak bisa di bandingkan dengan kesempurnaan pacar saya yang begitu tulus mencintai saya, bukan bernaf*u seperti anda." sengit Karamel kemudian pergi meninggalkan Henry masuk ke dalam rumah.
...........
Dua hari kemudian, di malam hari setelah mandi, Karamel mengambil handphonenya lalu menghubungi sahabat masa kecilnya yang kini berada di Singapura.
"Halo, Bas." sapa Karamel.
"Yes, little girl. Wa'alaikumsalam!" jawab Aryan membuat Karamel menggigit bibirnya karena dirinya lupa mengucap salam.
"Sibuk ya?" tanya Karamel.
"Tidak, ada apa? Apa kau meneleponku karena ingin menceritakan tantang pacar yang ...."
"Tidak," Karamel langsung menyela.
"Em, maksudku mungkin sekarang Leo sudah bukan pacarku lagi, dia bukan siapa-siapaku lagi." lirih Karamel.
"Apa kau sudah menyerah?" tanyanya
"Aku ingin berhenti menunggu dirinya tapi aku masih berharap dia akan kembali kepadaku," ucap Karamel merasa bimbang.
"Kenapa?" tanya Aryan.
__ADS_1
"Dia sudah mendapatkan penggantiku, yeah pengganti yang lebih layak untuk dirinya di bandingkan diriku tapi apakah benar dia sudah berpaling dariku? Aku tidak tau, Bas." kata Karamel membuat Aryan kebingungan.
"Apa maksudmu? Jelaskan dengan benar, cantik" titah Aryan lembut.
"Aku dan dia memang tidak pernah mengucapkan kata putus tapi dia meninggalkan aku. So, maybe he's bored with me or ... aku tidak tau bagaimana cara menjelaskannya." ucap Karamel.
"Hei hei, tenangkan dirimu lalu ceritakan dengan pelan, oke!" ucap Aryan sehingga Karamel menghela napas panjang lalu wanita itu menceritakan kejadian 11 hari yang lalu saat Henry memberikan foto tentang Leo dengan model asal Inggris yaitu Jessy Mon Andrea, cerita informasi yang di dapat anak buah Karamel tentang Leo yang sudah menjadi CEO Binondra Group, cerita tentang Leo yang telah bertunangan, semuanya Karamel ceritakan pada Aryan.
"Mungkinkah Leo seperti itu," ucap Aryan pun merasa tidak percaya bahwa Leo mengkhianati Karamel.
"Kau pun tidak percaya 'kan, apalagi aku yang sangat mengenal Leo," ucap Karamel.
"Kau kuat, little girl." ucap Aryan.
"Kebenaran ini sangat menyakitkan tapi aku tidak bisa mempercayainya bahkan bukti nyata ada di depan mataku, aku masih tetap tidak bisa mempercayainya, Bas." lirih Karamel.
"Di foto itu dia tersenyum, Bas. Dia tersenyum bahagia," ucap Karamel merintihkan air matanya saat mengingat foto Leo yang tersenyum seraya memeluk pinggang Jessy dan Jessy mencium pipi Leo dengan mesra, sungguh menyakitkan bagi Karamel yang masih menjadi kekasih Leo.
"Apa takdirku dengannya berhenti sampai di sini?" tanya Karamel namun Aryan hanya diam.
"Dari awal aku sudah memberitahumu, jangan terlalu berharap atau kau akan merasa kecewa dan sakit hati, Kara." ucap Aryan membuat tangis Karamel semakin deras namun Aryan tidak tahu itu.
"Aku sangat mencintainya, Bas." lirih Karamel menghapus air matanya.
"Aku tau kau sangat mencintainya tapi itu tidak berarti dia juga sama besarnya mencintai dirimu, little girl." ucap Aryan dan Karamel memejamkan matanya lama, apa yang di katakan Aryan benar, jika Karamel sangat mencintai Leo bukan berarti Leo juga mencintai Karamel.
"Benarkah dia tidak mencintaiku?" tanya Karamel.
"Siapa yang tau perasaan orang lain?" tanya Aryan membuat Karamel diam.
"Oh iya bagaimana dengan pekerjaanmu sebagai fotografer?" tanya Karamel mengalihkan pembicaraan dan Aryan mengerti bahwa sahabatnya itu ingin berhenti membahas so'al Leo.
"Sangat menyenangkan tapi ada banyak wanita yang selalu minta di foto shoot dengaku padahal di sini ada beberapa fotografer yang jauh lebih tampan dariku," ucap Aryan membuat Karamel terkekeh.
"Apa kau suka dengan mereka?" tanya Karamel.
"Tidak, mereka selalu memamerkan belahan dada dan bokong mereka, kau tahu aku benci itu." ucap Aryan blak-blakkan.
"Hahaha! Apa kau tidak tergoda?" tanya Karamel
"Aku adalah laki-laki normal, Kara." ketusnya.
"Nikmati saja semuanya, siapa tahu ada jodohmu di antara mereka." ucap Karamel.
"Tidak akan ada yang terpilih." ketusnya.
"Baiklah terserah padamu saja, lebih baik kita membicarakan hal yang lain saja sekarang ..." ucap Karamel terus mengobrol panjang dengan Aryan hingga larut malam.
.......
.......
.......
__ADS_1
...::: Bersambung :::...