Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part .. 44


__ADS_3

Kak Aldy menatapku lama lalu ia kembali menatap foto kenangannya bersama para sahabatnya itu, ia tersenyum tipis entah pada wajah siapa di dalam foto itu.


"Cewek yang ada di foto ini, dia Sasya sahabat cewek kita bersembilan," ucap Kak Aldy membuatku sedikit tersentak, ternyata dugaanku benar wanita yang ada di foto itu adalah Sasya.


"Kita bersahabat Tan tapi kita udah hancur, kita semua udah enggak ada ikatan persahabatan lagi," ucap Kak Aldy.


"Apa karena Leo suka sama Sasya?" fikirku mengingat akan perkataan Leo yang di mana mereka harus menjaga perasaan mereka demi persahabatan tapi Leo malah melanggar semua janjinya.


"Kenapa bisa hancur?" tanyaku.


"Ini semua karena Leo, kita bersahabat sejak sekolah dasar tapi nggak nyangka selama itu Leo buat Sasya jatuh cinta sama dia, kita dulu pernah buat janji 'kita harus menjaga perasaan demi persahabatan' tapi nyatanya dia ngekhianatin kita semua." ucap Kak Aldy mengeraskan rahangnya.


Kata itu! kata itu sama persis dengan apa yang Leo katakan tadi sore di panta jadi benar persahabatan mereka hancur karena Leo mencintai Sasya tapi kenapa bisa hancur, toh perasaan Leo tidak terbalaskan oleh Sasya.


"Sasya ngomong so'al Leo yang selalu bawaanin setangkai mawar merah buat dia, bahkan Leo juga mengungkapin perasaannya sama Sasya malam itu Tan, dia buat kita semua kecewa." ucap kak Aldy.


"Setelah buat Sasya jatuh cinta, Leo malah nggak perduli sama Sasya sampai Sasya pergi ninggalin kita semua, kakak terpukul karena orang yang paling Kakak cintai pergi, Tan. Sasya pergi sebelum dia bahagia, sebelum orang yang dia cintai bahagiain dia bahkan sebelum kakak mau ngungkapin perasaan kakak ke dia." lirih Kak Aldy membuat mataku membola.


Kak Aldy bilang apa? perempuan yang dia cintai? Apa aku tidak salah dengar, Kak Aldy mencintai Sasya? Astaga, apa laki-laki yang di maksud Leo itu adalah Kak Aldy? Mereka mencintai satu perempuan yang sama, apakah mereka bermusuhan karena masalah ini?


"Ka-Kak Aldy cinta sama Sasya?" tanyaku.


"Iya, Kakak cinta sama Sasya! Kakak selalu pendam perasaan Kakak demi persahabatan kita bersepuluh," lirih Kak Aldy.


"Maafin Tania yang nggak pernah tahu apa-apa tentang Kakak," lirihku merasa bersalah karena tidak mengetahui masa lalu Kak Aldy yang menyesakkan.


"Tania nggak salah," ucap Kak Aldy mengelus puncak kepalaku.


"Boleh Tania tahu semua tentang masa lalu Kakak? Atau tentang wanita yang Kakak cintai?" tanyaku dan di balas senyuman sembari anggukan oleh Kak Aldy.


"Sasya cewek yang sangat ceria, ambekan, jahil juga, kadang perhatian dan kadang juga bijak di saat kita bertengkar atau ada kesalahan, kita bersembilan yang lebih tua dari Sasya selalu ngutamain Sasya dalam segala hal karena dia udah kayak saudara perempuan kita yang selalu ada buat kita," ucap Kak Aldy sama persis dengan apa yang aku dengar dari Leo tadi sore.


"Sasya adalah penyemangat bagi kita, dia selalu siap ngasih kita bahunya kalo salah satu dari kita lagi dalam keadaan sedih ...." ucap kak Aldy lanjut bercerita hingga ada rasa damai saat mendengar cerita tentang Sasya, sesempurna itukah Sasya bagi mereka, sampai mereka mengenang tingkah laku dan kebaikannya.


.........

__ADS_1


"kita selalu berpegang teguh buat enggak saling mencintai karena kita sahabat tapi ternyata Sasya cinta sama sahabatnya sendiri, gue marah karena rasa sakit hati gue, gue juga kecewa karena pengkhianatan mereka." lirih Kak Aldy.


"Dari mana Kak Al tahu kalo Leo sama Sasya saling mencintai?" tanyaku.


"Dulu Sasya pernah di rawat di rumah sakit karena demam yang terlalu tinggi, kita para sahabatnya jenguk rutin jenguk dia tapi Kakak sama Leo sering jenguk Sasya di setiap harinya bahkan kadang kita berdua Leo sering sepakat buat bolos sekolah demi jenguk Sasya di rumah sakit," ucap Kak Aldy menjeda perkataannya.


"Waktu sore hari Kakak pengen jenguk Sasya sendirian tapi tiba-tiba kakak denger pembicaraan Leo sama Sasya, Sasya cerita so'al cowok yang selalu jenguk dia sambil bawain dia setangkai mawar merah, kakak gak nyangka Tan, Leo dapetin senyuman penuh cinta dari Sasya karena dapet sebuket mawar merah dari Leo." lirih Kak Aldy mengepal tangannya.


Jadi benar kalian berdua mencintai satu perempuan yang sama tapi kalian pendam perasaan kalian demi persahabatan. Bodoh! Seharusnya tidak seperti ini, buat apa menjalin persahabatan jika kalian harus hancur hanya karena cinta.


"Gue bodoh, gue nungguin mereka sampai malam di sana, gue nunggu Leo keluar dari sana dan minta penjelasan sama dia biar gue nggak salah paham sama apa yang gue denger tapi ternyata tanpa penjelasanpun semuanya udah jelas, malam itu Leo benar-benar ngungkapin semua perasaan dia sama Sasya." ucap kak Aldy.


"Malam itu gue berantem sama Leo, dia bilang 'Semua cuma salah paham, apa yang gue denger itu nggak seperti apa yang gue fikirin.' munafik, gue muak dengar omong kosong dia sampai gue tinggalin dia gitu aja." ucap kak Aldy membuatku hanya bisa menunduk diam.


"Gue emang marah tapi gue coba buat relain dan ikhlasin hubungan mereka, Tan, gue kasih mereka peluang banyak buat mereka menjalin hubungan sampai gue tahan ngurung diri di rumah tanpa mau jenguk Sasya tapi gue nggak nyangka seminggu kemudian kita semua dapat kabar kalo Sasya udah pergi ninggalin kita untuk selamanya." lirih Kak Aldy mulai merintihkan air matanya.


"Dia nggak perduli sama Sasya Tan, Kakak udah kasih kesempatan buat mereka bersama tapi dia malah milih ngehindarin Sasya, dia nggak jenguk Sasya sama sekali bahkan dia nggak kabarin Sasya juga." pekik Kak Aldy membuatku memeluknya.


Kak Aldy paling benci dengan kata cengeng, dia akan menangis jika orang-orang tersayangnya dalam keadaan lemah. Sasya, bagaimana caraku untuk meluruskan masalah mereka? Kamu adalah perempuan yang sepesial di hati mereka.


"Udah ya kak, jangan nangis lagi," lirihku menepuk punggung kak Aldy.


"Tania tahu, Sasya pasti dengar semua ucapan kakak Kak Al, Sasya pasti bahagia karena Sasya juga cinta sama Kak Al." ucapku ikut menangis.


Aku bingung harus berkata apa, kak Aldy dan Leo mencintai perempuan yang sama tapi perempuan itu sudah pergi meninggalkan mereka, aku ingin ini semua berakhir tapi aku tidak punya bukti untuk membuat mereka berbaikkan kembali, jika aku mempertemukan mereka dan mereka hanya bercerita tanpa ada bukti, akan sangat mustahil bagi mereka untuk saling percaya.


"Minum dulu." ucapku setelah lima belas menit air mata kak Aldy sudah tidak lagi jatuh, kemudian kak Aldy meminum coklat panas yang sudah menjadi coklat dingin itu sampai habis.


"Haus, Mang." candaku pada kak Aldy.


"Banget, Neng." jawab kak Aldy tersenyum.


Aku bahagia melihat Kak Aldy tersenyum kembali tapi masih ada sedikit sayatan luka di hati ini karena mengingat cerita Leo dan kak Aldy.


"Jadi lo tahu 'kan kenapa Kakak benci banget sama dia," ucap kak Aldy menatap lekat netraku dan aku hanya bisa menganggukkan kepalaku.

__ADS_1


"Kakak nggak mau orang yang Kakak sayang di campakin lagi, lo paling berharga buat Kakak, Tan!" ucap kak Aldy serius.


Mungkin Kak Aldy pernah beberapa kali berbicara serius denganku tapi kali ini kak Aldy benar-benar menunjukkan rasa keseriusan yang dalam terhadap ucapannya.


"Apa Leo setega itu nyakitin cewek yang baik kayak Sasya?" tanyaku membalas tatapan kak Aldy.


"Dia tega ngelakuinnya jadi jangan berhubungan sama dia lagi, dia nggak sebaik yang lo fikirin." ucap Kak Aldy.


"Gue masih punya hubungan sama dia." ucapku lirih, walau semua itu terpaksa tapi aku sudah berjanji dengan Leo.


Kak Aldy kembali menatapku lalu ia mengeraskan rahangnya, "Dulu lo lebih milih dia dari pada gue, sekarang pun lo masih mau milih dia dari pada Kakak lo sendiri? Padahal lo udah tahu alasan apa yang buat kakak lo brnci sama dia," ucap kak Aldy membuatku lemas mendengarnya.


"Bukan gitu, Kak ...."


"Setelah kepergian Sasya, gue nggak terlalu berlarut dalam kesedihan itu karena gue ada elo, Tan. Gue ngerasa beruntung karena punya adik yang selalu ada buat gue tapi sekarang dia lebih milih ...."


"Tania bakal selalu ada buat Kakak tapi tolong kasih gue satu kesempatan buat buktiin sesuatu sama Kakak, suatu hal yang besar yang mungkin bakal buat Kak Aldy berhenti benci sama Leo." ucap menggenggam tangan Kak Aldy.


"Tapi ...."


"Gue masih kecewa sama Leo," ucapku membuat Kak Aldy menghela napas kasar.


Kak Aldy tahu hal yang paling aku benci adalah di kecewakan, sama seperti memiliki kesempatan tapi belum tentu membuahkan hasil yang baik, Leo mendapatkan kesempatan untuk berbaikkan denganku tapi dia belum tentu bisa membuatku tetap bersamanya.


"Oke! Sekarang lo tidur gih udah larut malam." ucap Kak Aldy mengalah.


"Oke!" ucapku keluar dari kamar Kak Aldy.


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


..... Bersambung ....


...Jangan lupa di like, komen dan kasih vote ya kakak-kakak...


__ADS_2