Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part ' 202 (Takdir)


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Niky dan Dito langsung pergi menuju ruang perawatan Karamel.


"Kara ...." pekik Niky setelah membuka pintu.


"Kara, lo ...."


Degg! Sebelum menyelesaikan perkataannya, Niky langsung diam dan terpaku kala melihat ada Diky yang sedang duduk di sofa bersama Adit dan Leo. Jantungnya berdetak kencang, sudah beberapa bulan tidak bertemu, Diky masih sama tampilannya dengan yang dulu namun pesona Diky semakin bertambah keren.


Apakah Diky sudah punya pasangan sekarang? Atau Diky masih sama seperti dulu, banyak wanita yang ia dekati namun tak ada seorangpun di antara mereka yang di pacarinya? Entah kenapa pertanyaan-pertanyaan itu muncul di benak Niky.


Karamel memanggil Niky beberapa kali namun tidak ada respon apapun dari Niky hingga saat Dito menyentuh pundaknya, seketika Niky tersadar dari lamunannya.


"Kara manggil lo dari tadi," ucap Dito dan Niky langsung menatap Karamel lalu setelahnya mendekati brankar Karamel.


"Lo kenapa bisa di rawat di sini sih? Sakit apa lo? Jiwa lo ya atau penyakit lamo lo yang suka tembak-tembakkan sama musuh sampai lo di tembak balik oleh mereka, Hah?" tanya Niky membuat yang lainnya terperangah.


"Gue, gue cuma sedikit ... ya lo tau sendiri, em! Maksud gue ini menyangkut nyawa gue jadi ... udahlah enggak usah di bahas dulu, yang penting gue masih hidup 'kan sekarang." ucap Karamel ragu untuk bercerita karena takut Niky akan membongkar kelakuannya saat masa sekolah menengah pertama dulu.


"Lo main senjata lagi? Lo udah janji sama Nyokap lo buat enggak terjerumus ke dunia gelap itu lagi loh. Lo enggak mungkin lupa 'kan Kak Vian pernah jadi korban serangan Alex demi nyelamatin nyawa lo, bukan cuma itu doang setelah Kak Vian di bunuh salah satu alasan tante Sofi ngelarang lo sama Kak Kenzi buat jadi leader mafia karena lo pernah jadi tahanan yang hampir .... "


"Stop Niky," pekik Karamel menghentikan perkataan Niky.


Namun Dito, Adit dan Diky beserta Leo terlanjur mendengar ucapan Niky barusan.


"Siapa yang jadi tahanan?" tanya Leo membuat Niky melebarkan matanya menatap Karamel.


"Duh, keceplosan ni mulut gue," batin Niky.


"Ma-maksud gue ...." ucapan Niky terpotong.


"Kami pernah jadi tahanan?" tanya Leo menatap Karamel sangat tajam.


"Niky emang tau aku pernah jadi pimpinan mafia jadi pastinya ada banyak masa sulit aku di dunia gelap dulu. Ayolah! Niky cuma khawatir sama aku makanya dia asal-asalan ngomong tadi, iya 'kan Nik." ucap Karamel menatap Niky.


"Iya Leo, gue terlalu khawatir sama keadaan Karamel jadi mulut gue asal ngomong aja tadi," timpal Niky tersenyum canggung.


Leo menggeleng-gelengkan kepalanya, dirinya tentu tidak percaya karena melihat dari raut wajah serius Niky tadi, Leo yakin Niky sedang tidak asal bicara.


"Muka lo mudah di tebak kalik, Nik." ucap Dito tersenyum miring.


"Maksud lo?" tanya Niky mengerutkan dahinya.


"Lo enggak sehebat Kara, akting lo masih jelek, buktinya bola mata lo liar ke mana-mana." jawab Dito membuat Karamel menatap tajam ke arah Niky.


"Ak em, apa hubungannya sama mata gue," ucap Niky langsung gelagapan.


"Tuh 'kan ...."


"Ceritain sama gue, ulah siapa lo jadi kayak gini?" Niky tidak perduli akan ucapan Dito dan langsung mengalihkan pembicaraannya ke Karamel.


"Clara," sahut Karamel, Kara juga tidak mau suaminya semakin penasaran maka dari itu Karamel langsung menanggapi pertanyaan Niky.


"Clara? Si cewek centil yang doyan banget nindas lo dulu?" pekik Niky pure terkejut.


"Gilak ya tu cewek, ada masalah apa sih tu cewek sama lo sampai-sampai mau nyelakain lo mulu." tambah Niky kesal.


Karamel melirik Leo yang sejak tadi tidak lepas menatap interaksi Karamel dan Niky yang entah real kaget atau akting demi menghindari rasa penasaran yang di landa Leo.


"Dia masih ngincer Leo buat jadi pacar dia," sahut Karamel kembali menatap Niky.


"Masalah lo rumit banget sih, dulu Justin sekarang Leo di masa depan siapa lagi. Hah?" cerocos Niky, entah kenapa bawaan Niky hari ini selalu mengungkit masa lalu Karamel.


"Hah? Justin?" beo Dito, Adit dan Leo.


Karamel menghela napas berat, kepalanya pusing kala Niky tidak bisa tutup mulut.


"Iya, cowok yang pernah dekat sama Kara waktu di Amerika," sahut Niky jengkel.

__ADS_1


"Bukannya kata Faza, Justin itu salah satu sahabat deketnya Kara ya?" ucap Adit.


"Emang iya tapi karena Justin cowok populer di sekolahan kita dulu, salah satu pengagum fanatik Justin yaitu Zoeya selalu ada banyak cara buat ngehancurin hidup Kara." ucap Niky dengan nada kesal sekesal-kesalnya.


"Niky stop," bisik Karamel.


"Apa? Lo dulu pura-pura polos di depan semua orang bahkan lo dulu terlalu baik hati biarin para penindas itu hidup," celoteh Niky mulai luar nih sikap psikopatnya


Karamel tahu Niky merasa kesal karena kehidupan Karamel selalu tentang laki-laki dan laki-laki, tapi situasinya kini ada Leo, Karamel tidak tahu apakah suaminya akan cemburu atau marah dengan dirinya, yang jelas Karamel belum punya tenaga untuk menghadapi kecemburuan atau kemarahan suaminya sekarang.


"Hidup gue sekarang tergantung ucapan lo barusan, suami gue pasti butuh yang namanya penjelasan dan gue enggak tau harus jelasin dari mana semua masa lalu gue." ucap Karamel menatap tajam ke arah Niky.


Niky mengerjapkan matanya beberapa kali, aura membunuh Karamel kini bisa Niky rasakan bahkan keempat laki-laki yang ada di ruangan itu juga menangkap jelas tatapan Karamel ke Niky.


"So-sorry, gue kebawa suasana marah waktu tau Clara penyebab lo di rawat di sini," ucap Niky gelagapan.


"Lo bertiga jaga istri gue di sini dan lo Niky, ikut gue keluar sekarang." titah Leo dingin.


"Enggak, kalian semua keluar, gue mau ngomong empat mata sama suami gue," bantah Karamel membuat para sahabat mereka kebingungan.


"Aku mau ngomong hal penting sama Niky bukan sama kamu, Kara," ucap Leo menatap Karamel.


"Aku yang mau ngomong sama kamu," ucap Karamel juga.


"Kara ...."


"Aku atau Niky?" Karamel memberi pertanyaan yang konyol bagi Leo karena gelagat Karamel bicara seakan-akan seperti Leo harus memilih antara istri dan selingkuhan.


........


Pada akhirnya di ruangan itu menyisakan Karamel dan Leo yang duduk di kursi samping brankar sang istri.


"Tanya semua yang may kamu tanya, aku bakal jawab semuanya," ucap Karamel.


"Tapi kalo aku enggak bisa jawab, aku bakal tetap diem. Maaf!" batin Karamel pula.


"Sahabat baik aku waktu di Amerika dulu," sahut Karamel jujur.


"Ada hubungan apa kamu sama dia?" tanya Leo mengerutkan dahinya.


"Cuma sebatas sahabat," sahut Karamel.


"Sedekat apa persahabatan kalian?" tanya Leo lagi.


"Kayak kamu sama Sasya dulu," sahut Karamel menatap mata Leo dalam sehingga pelupuk mata Leo bergerak kaget. Itu artinya hubungan persahabatan mereka sangatlah dekat!


"Kamu pernah suka sama dia?" tanya Leo.


"Aku bukan kamu sama Kak Aldy yang bakal suka sama sahabat sendiri," sahut Karamel.


"Kalau dia gimana, suka sama kamu?"


"Aku enggak tau," sahut Karamel.


"Kenapa kamu jadiin dia sahabat kamu?" tanya Leo.


"Aku jadi murid beasiswa waktu SMP, banyak yang enggak suka sama aku karena mereka kira aku orang miskin yang dapetin keberuntungan bisa sekolah di situ, Justin adalah orang pertama yang mau temanan sama aku," jelas Karamel jujur sehingga Leo tersenyum remeh.


"Apa itu artinya Justin beda dari aku yang dapetin sikap sinis kamu waktu pertama kali kita ketemu?" tanya Leo pasalnya dulu sikapnya terhadap Kara tidaklah buruk tapi sikap Karamel malah judes abis.


"Iya," sahut Karamel membuat Leo membelalakkan matanya tidak percaya istrinya akan menjawab demikian, wah makin panas nih hati Leo.


"Apa dia cowok spesial buat kamu?" tanya Leo.


"Dia penting karna dia sahabat aku, tapi dia bukan orang spesial buat aku," sahut Karamel.


"Terus kenapa kamu bilang 'iya' Justin cowok yang beda dari aku?" tanya Leo mengeraskan rahangnya.

__ADS_1


"Aku juga dulu sinis sama Justin bahkan satu bulan lebih aku jutek sama dia tapi enggak ada tanda-tanda dia buat ngejauh dari aku ...."


"Emangnya aku dulu punya niatan buat ngejauh dari kamu?" sela Leo sedikit meninggikan suaranya.


"Enggak," sahut Karamel cukup merasa lelah menghadapi sikap cemburu Leo.


"Apa kamu sering kasih perhatian ke dia?" tanya Leo tidak selesai juga rasa penasarannya akan kedekatan Karamel dengan Justin.


"Pernah tapi enggak sering," sahut Karamel.


"Perhatian apa aja?" tanya Leo.


"Astaga, apa segitu besarnya rasa cemburu kamu sampai harus tanya ke titik terdalam perhatian aku ke orang lain?" tanya Karamel kesal dengan tingkah kekanak-kanakan Leo.


"Justin cuma sahabt aku, kamu enggak perlu berlebihan kayak gini Leo," tambah Karamel membuat Leo bungkam.


Seketika ruangan menjadi hening dan setelah beberapa menit Leo mendongakkan kepalanya untuk menatap Karamel begitu juga Karamel yang menatap manik mata tajam Leo yang sepertinya ingin menanyakan sesuatu kepada Karamel.


"Siapa orang yang di maksud Niky tadi?" tanya Leo membuat Karamel mengerutkan dahinya.


"Hem?" sahut Karamel


"Siapa yang jadi tahanan setelah Kak Kevin meninggal?" tanya Leo membuat Karamel menelan salivanya dengan susah payah.


"Itu ...."


"Apa bener orang itu kamu?" tanya Leo menyipitkan matanya.


Bagaimana Karamel akan menjelaskannya? Leo adalah orang yang cerdik, semua informasi masa lalunya pasti sangat mudah bagi Leo untuk mengetahuinya tapi Leo orang yang sangat cemburuan, jika Leo tahu semua masa lalu Karamel, sudah di pastikan Leo akan merasa cemburu dan marah.


"Semua udah jadi masa lalu," ucap Karamel lirih.


"Walau udah jadi masa lalu tapi aku pengen tau siapa yang jadi tahanan dan aku pengen tau kenapa orang itu bisa jadi tahanan," ucap Leo membuat tangan Karamel tidak tenang.


Ya, Karamel sedang gelisah sekarang, entah kenapa perasaan Karamel tidak tenang mengetahui Leo ingin tahu siapa orang yang menjadi tahanan itu.


"Kara, jujur sama aku siapa yang jadi tahanan itu?" tanya Leo menggenggam kedua tangan Karamel.


Jika Karamel pernah menjadi tahanan, Leo bersumpah akan mencari tahu siapa orang yang berani menjadikan istrinya sebagai tahanan.


"Justin," ucap Karamel membuat Leo menghela napas lega karena ternyata yang ia dengar dari Niky tadi salah. Ia percaya dengan kata-kata Karamel! Leo pun tersenyum lebar.


"Sama aku juga," tambah Karamel.


Deg!! Sakit, bagaikan belati yang menghujam ulu hatinya. Perih, seolah ada paku berkat yang di tusukkan ke kepalanya. Ngilu, seakan-akan tulang-tulangnya di remuk habis oleh palu. Leo merasa lemah kala baru mengetahui sang istri pernah menjadi tahanan.


"Di penjara bawah tanah dengan kedua tangan yang di borgol, bukan benda tajam tapi alat yang mereka gunain untuk menyiksa adalah cambuk rotan. Bukan air panas atau air garam tapi cairan untuk membuat luka-luka semakin perih adalah alkohol." ucap Karamel mengingat penderitaan yang pernah ia alami di masa lalu.


Tubuhnya menjadi bergetar, napas pun tercekat, lidah kelu, air mata Leo perlahan jatuh mengalir membasahi kedua pipinya.


"Mereka minta informasi soal nama yang jadi musuh tuan mereka, aku nolak buat ngasih tahu namanya jadinya penyiksaan itu berlanjut empat hari empat malam." ucap Karamel membayangkan masa di mana penyiksaan dirinya dan Justin tidak berhenti selama empat harian.


"Ke-kenapa Kara, ke-kenapa kamu enggak ngasih tau mereka. Siapa dia, nama siapa yang mereka mau? Nama siapa yang kamu lindungin sayang?" tanya Leo lirih.


"Dia adalah ....


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...


Cieee penasaran lagi ya???


Komen yang banyak biar author cepat up, okeee semuaaa

__ADS_1


__ADS_2