
...Indonesia...
Pagi ini Karamel tampak kesal karena sejak tadi ia menghubungi Kenzi tapu tak ada satupun, kakaknya itu mengangkat teleponnya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Karamel bermonolog melihat jam di ponselnya, menunjukkan pukul enam lewat lima menit.
"Kalo di sini jam enam, di LA berarti jam ...." Karamel tampak menghitung sejenak.
"Di LA sekarang udah jam tiga sore," sahut Leo tiba-tiba muncul dari kamar mandi.
"Ck! Jangan-jangan mimpi gue ...."
"Itu cuma mimpi Kara," potong Leo tidak suka jika Karamel di bebani banyak pikiran negatif.
"Tapi mimpi aku tentang Kak Kenzi selalu jadi kenyataan tauk, begitupun Kak Kenzi klo mimpi tentang aku pasti jadi kenyataan," ucap Karamel sungguh menakjubkan bagi Leo.
"Kalo mimpi kamu itu nyata, Kenzi 'kan kuat orangnya, enggak bakal mati dia paling cuma luka-luka doang." tukas Leo membuat Karamel menatap tajam suaminya itu.
"Eih, kakak ipar kamu itu loh, kok ngomongnya kasar banget sih," pekik Karamel mengerucutkan bibirnya.
"Enggak boleh teriakin suami sendiri, dosa loh." tunjuk Leo membuat Karamel menekuk wajahnya.
"Kamu juga enggak boleh ngomong kasar gitu ke kakak ipar kamu, dosa juga loh." balas Karamel.
"Aku enggak ngomong kasar sayang, aku cuma bilang, kalo pun mimpinya nyata, Kenzi enggak akan mati 'kan atau jangan-jangan kakak ipar mati ya?" tanya Leo menekankan kata 'kakak ipar mati'
"Astagfirullahaladzim! berdosa banget kamu," ucap Karamel membuat Leo menaikkan sebelah alisnya.
"Emang kayak gini dari lahir, suka ngata-ngatain sahabat sendiri apalagi Kenzi, kenapa kamu jadi kaget gitu?" tanya Leo heran.
"Berubahlah suamiku, tidak baik bagimu mengata-ngatai sahabatmu sendiri," ucap Karamel formal hingga Leo tercengang di buatnya.
"Dih?" gumam Leo merasa geli.
"Apa maksud dari kata 'DIH', memangnya salah jika aku menjadi seperti ini, Apakah kamu akan membenciku karena aku berubah menjadi seperti ini? Sungguh kamu tidak suka aku menjadi lebih sopan, suamiku?" tanya Karamel membuat Leo memasang tampang malas.
"Berhenti enggak," kesal Leo karena Karamel membuat Leo merasa sangat-sangat geli.
"Aku tidak sedang berjalan kaki suamiku jadi kenapa kamu menyuruhku untuk berhenti? Apakah kamu rabun?" tanya Karamel dengan tampang polosnya.
Leo terperangah kala Karamel berbicara formal lagi dengan dirinya, sangat tidak nyaman sekali rasanya.
"Kara, kamu kenapa sih?" tanya Leo
"Aku tidak kenapa-napa," jawab Karamel kini membuat Leo berjalan mendekati Karamel.
"Kenapa kamu ngomong formal gini ke aku? Gak suka aku dengernya." tanya Leo.
Karamel tertawa di dalam hatinya kala berhasil membuat Leo tidak nyaman akan sikapnya.
"Bukankah sepanjang hari aku memang berbicara seperti ini denganmu," ucap Karamel.
"Mana ada kayak gini, kamu marah sama aku karena aku bercandanya berlebihan ngomongin Kenzi tadi?" tanya Leo sewot.
"Aku tidak marah kepadamu," sahut Karamel dan Leo menjatuhkan kepalanya ke bawah alias menunduk.
"Jangan bikin orang gak nyaman, ngomongnya biasa aja, bisa?" pinta Leo datar.
"Apakah kamu sudah marasa tidak nyaman lagi denganku? Astaga, aku sungguh tidak menyangka kamu bisa setoge itu eh maksudnya setega itu," ucap Karamel membuat Leo mendongakkan kepalanya menatap heran wajah polos Karamel.
"Dan kamu menyuruh aku untuk berbicara biasa saja, apakah aku berbicaranya sangat luar biasa hingga kamu menyuruhku untuk biasa saja?" tanya Karamel dan Leo memijat keningnya pusing.
"Ya Tuhan, Ini istri gue apa bukan sih?" gumam Leo membuat Karamel hampir tertawa.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apakah kamu sudah tidak menganggap aku sebagai istrimu lagi? Astaga, berdosa sekali kamu tidak menganggap aku sebagai istrimu," sahut Karamel membuat Leo mendongakkan kepalanya, kenapa kata-kata Karamel sangat aneh di telinga Leo.
"That's not fanny, honey." ucap Leo memasang tampang sangat serius.
"Aku lucu, terima kasih." ucap Karamel tersenyum gemas menyentuh kedua pipinya dengan kedua tangannya.
Leo tersentak, ini patut di pertanyakan karena istrinya tampak tidak takut dengan tatapannya barusan dan Leo mengatakan 'That's not fanny' bukan 'You look so fanny' jadi kenapa istrinya bilang terima kasih karena dirinya lucu.
"Kara, stop!" sentak Leo memelototi Karamel.
Gluk! Jujur, Karamel terkejut mendengar bentakan suaminya tapi untung saja tubuhnya tidak ikut tersentak kaget.
"Awas matamu keluar loh, suamiku." ucap Karamel menutup mata Leo yang melotot.
__ADS_1
Leo menarik tangan Karamel lalu Leo menggenggam kedua tangannya mungil itu.
"Sayang, please." mohon Leo dan Karamel mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, aku memaafkan kesalahanmu suamiku." ucap Karamel.
"No, aku enggak lagi minta maaf, Kara." ucap Leo meninggikan suaranya yang terdengar lucu di telinga Karamel.
"Ternyata cuma modus saja ya," goda Karamel menarik paksa kedua tangannya.
"Kara, kamu mau buat suami kamu enggak tenang di kantor." ucap Leo menatap dalam manik mata Karamel.
"Bagaimana caranya?" tanya Karamel malah setuju ingin membuat Leo merasa tidak tenang di kantor.
"Cekik aku," karena kesal Leo berbicara sembarangan.
"Baik," Karamel sangat antusias dan Leo tentu sangat kaget karena tidak mungkin istrinya mau mencekik suaminya sendiri.
"Wait wait wait, are you sure you wanna strangle me?" tanya Leo dan Karamel mengangguk-anggukkan kepalanya, sungguh Karamel ingin tertawa dengan kekagetan Leo yang tidak menyangka istrinya sendiri ingin mencekik suaminya.
Karamel hendak mendekati Leo, " No no no, Stop !!" sentak Leo dengan nada suara yang sangat tinggi.
Karamel mengatupkan kedua bibirnya ke dalam lalu Karamel menarik selimut untuk menutupi wajahnya, ekspresi wajah Leo sekarang sangat menyeramkan bagi Karamel.
"Hantu mana sih yang lagi ngerasukin kamu," ucap Leo menyilang kedua tangannya di dada.
Mendengar kata 'hantu' Karamel jadi punya ide untuk mengerjai suaminya lebih jauh lagi, semoga saja berhasil.
"Hi hi hi hi hi .... !!!" di balik selimut Karamel tertawa seperti kunti*anak membuat Leo kaget dan membelalakan matanya.
"Ke-kenapa kamu ketawa?" tanya Leo.
"Hi hi hi .... !!!" lagi-lagi Karamel tertawa menyeramkan.
Karamel bisa merasakan Leo yang pelan-pelan memendekatinya dan menarik selimut yang menutupi wajahnya.
"Aku ingin tumbal," ucap Karamel dengan nada suara yang di buat-buat.
"Hah?!" Leo tampak kaget dan berhenti menarik selimutnya, sungguh Karamel tidak tahan ingin tertawa dengan suaminya yang tampak kaget.
"Akan mati," sahut Karamel dengan suara serak kemudian Karamel menurunkan selimut yang menutupi wajahnya.
Leo langsung berdiri saat melihat mata Karamel yang melotot, sungguh Leo tidak pernah melihat wajah menyeramkan Karamel. Menyeramkan tapi kok lucu ya! Fikir Leo.
"Siapa kamu," tanya Leo menunjuk Karamel.
Astaga, apakah Leo percaya bahwa Karamel sedang di masuki makhluk tak kasat mata? Jika benar begitu, sekalian saja Karamel kerjai sampai dirinya puas.
"Aku adalah istrimu," ucap Karamel.
"Tidak, istriku tidak sejelek dirimu," ucap Leo membuat raut wajah Karamel berubah menjadi tanpa ekspresi.
Apa yang di katakan Leo barusan, siapa yang dia maksud jelek? Walau Karamel kemasukkan kunti*anak sekalipun, wajahnya tataplah wajah Karamel jadi apakah benar dirinya jelek di mata suaminya?
Melihat perubahan wajah Karamel, Leo menelan salivanya dengan susah payah.
"Maksudku bukan seperti itu, kamu berbeda dengan istriku yang cantik jadi ...."
"Aku jelek?" tanya Karamel melotot.
"Tidak tidak, kamu tidak jelek hanya saja istriku lebih cantik ...."
"Jadi aku cantik?" tanya Karamel polos.
"Pertanyaan bod*h! Kalo gue bilang cantik, bisa-bisa naksir nih setan sama gue," batin Leo.
"Bisakah kamu pergi dari tubuh istriku," pinta Leo dan Karamel sengaja menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
"Ini tubuhku," ucap Karamel.
"Bukan ... aih! Maksudku sekarang kamu sedang memakai tubuh istriku," sahut Leo cepat dan Karamel tersenyum menyeramkan.
"Aku istrimu, kemarilah suamiku." ajak Karamel namun Leo mundur.
"Tidak tidak, lebih baik kamu pergi dari tubuh istriku, dia sedang sakit jadi aku mohon pergilah," pinta Leo menghindari Karamel membuat Karamel menaikkan sebelah alisnya.
"Apakah kamu takut denganku, dengan istrimu sendiri?" tanya Karamel serak.
__ADS_1
"IYALAH, Aih! Tidak, maksudku aku bukan takut denganmu tapi ...."
"Jika tidak takut, kemarilah Cleo." ajak Karamel mengulurkan tangannya.
"Aku bukan takut tapi aku tidak mau menyentuh wanita lain selain istriku." tegas Leo.
"Aku adalah istrimu," ucap Karamel.
"Iya ... tidak, maksudku tubuh itu memang milik istriku dan kamu entah makhluk dari mana masuk ke dalam tubuh istriku," tunjuk Leo membuat Karamel tersenyum normal.
"Sini," ajak Karamel dengan nada suara rendah.
"Aku mohon pergilah dari tubuh istriku." pinta Leo.
"Sini dong," suruh Karamel lagi tapi Leo benar-benar ragu untuk mendekat.
"Ayo sini." Karamel mengulang perkataannya. Sebenarnya Karamel berniat untuk berhenti mengerjai Leo tapi Leo malah tampak ragu kepadanya.
"Tidak, kamu bukan istriku," tolak Leo.
"Kalo aku bukan istri kamu terus aku ini siapa, hem?" tanya Karamel menaik turunkan alisnya.
Leo menyadari nada suara Karamel sudah berubah bahkan setiap kata yang di ucapkan Karamel sudah kembali normal seperti biasanya tapi Leo merasa ragu untuk mengakui bahwa yang ada di depannya ini adalah istrinya.
"Kara!?" panggil Leo.
"Iya," sahut Karamel lembut.
"Ini benaran kamu, Kara?" tanya Leo. Karamel menahan tawanya kala Leo merasa ragu.
"Iya, aku adalah Karamel Listra, istri kamu." ucap Karamel mambuat Leo bernapas lega.
Leo mendekati Karamel sembari merentangkan kedua tangannya, "Kamu buat aku takut ...."
"Aarrrrrgggg...." Karamel mengaung seperti macan membuat Leo terperanjat kaget dan langsung menjauh.
"Hei kamu kuntilak, setan, tuyul, hantu siapa pun kamu kenapa kamu kembali lagi! Hah?" pekik Leo tanpa jeda membuat Karamel tidak bisa lagi menahan tawanya. Bhahahaha! Aaahahaa!
"Ini roh-nya kunti*anak apa nenek lampir sih," gumam Leo dengan wajah pangling.
Karamel semakin jadi menertawai Leo namun seperdetik kemudian Karamel merasa perih di bagian pinggangnya, tapi Karamel tetap tidak bisa berhenti menertawai suaminya yang tampak kebingungan itu.
"Dasar polar prince penakut, kalo aku bukan Karamel trus roh-nya Karamel ke mana Tuan Rendra yang terhormat hahaha ...." ejek Karamel kini membuat Leo menyadari bahwa dirinya sedang di kerjai oleh istrinya sendiri.
"Kamu nipu aku?" ucap Leo dingin.
"Anda ternyata bod*h ya Tuan? Ooops!" ceplos Karamel sengaja.
"That's not fanny, Kara." sengit Leo.
"But it's fun, honey." sahut Karamel.
"Apanya yang menyenangkan? Aku yang mengira kamu di masuki roh ...."
"Dasar suami bod*h, kalo aku di masuki roh jahat, aku pasti enggak akan ngenalin siapa kamu," potong Karamel menepuk jidatnya sendiri.
"Jelas banget dari tadi aku ngomong kalo kamu adalah suami aku dan aku adalah istri kamu." tambah Karamel membuat Leo memelototi Karamel.
"Aku enggak pernah ngeliat kamu kayak tadi, seram kayak beneran di masukin hantu," tukas Leo malas.
"Enggak masalah, aku tau kamu takut sama hantu tapi tenang aja aku pasti bakal simpan rahasia kamu dengan sangat baik," nada suara Karamel terdengar mengejek.
"Dasar punya bini tapi kelakuan ada aja," umpat Leo namun Karamel malah cekikikan di buatnya.
"Untung sayang, kalo enggak udah jadi mangsanya ...."
"Aku rela kok, asal di mangsa kamu," gombal Karamel tersenyum genit kemudian mengigit bibir bawahnya membuat Leo menatap aneh ke arah Karamel.
Leo menelan salivanya dengan susah payah kala melihat tingkah menggemaskan Karamel, jika saja luka Karamel sudah sembuh total, Leo pasti sudah memangsa Karamel sekarang juga.
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
__ADS_1