
Ketika pulang sekolah Leo menunggu Tania di kantin bie'em namun sudah hampir tiga puluh menit Tania tidak juga datang di kantin bie'em, Diky yang di suruh oleh Leo untuk mencari Tania sekarang sudah duduk di kantin bie'em.
"Gue udah tanya sama dua belas murid cewek, gue tanya gini, 'Hai manis, kamu lihat Tania Losvita kelas XI IPA 1 nggak?' dan kalian tahu nggak jawaban mereka malah kayak gini, 'Kenapa nanyain si cupu sih, kenapa nggak nanyain aku' dan gue tanya sekali lagi baru mereka jawab 'Kita nggak tahu tuh' buat gue ribet tahu enggak harus tanya dua kali kesetiap cewek." ucap Diky panjang lebar.
"Intinya mereka enggak tahu, ribet lo jelasin panjang lebar kayak gitu, gak guna!" sengit Rio.
"Gue udah usaha buat nanya dan jelasin ke kalian, hargain dong, Yo" ucap Diky tidak terima Rio mengata-ngatainya.
"Nih receh," ucap Rio mengeluar lima ratus rupiah dan meletakkannya di meja.
"Gue enggak mau receh, gue maunya dolar." ucap Diky datar.
"Nggak pantes sama muka lo yang receh," ucap Rio tak kalah datarnya dari Diky.
"Wah ngajak baku hantam lo ya." Diky memukul meja seakan-akan dirinya menantang Rio.
"Bekas luka lo dua hari yang lalu aja masih merah, sekali gue tampol langsung biru keungu-unguan tuh luka," ejek Rio datar hingga Diky yang ingin membalas ejekkan Rio tiba-tiba saja di hentikan oleh Leo.
"Masih mau ribut?" tanya Leo datar, mulut Diky yang sudah siap akan mengoceh langsung mengerucut dan menenggelamkan kedua bibirnya dengan menguncinya menggunakan tangan seperti di ritsleting.
"Tania masih marah sama gue dan sekarang kita tahu Tania punya sahabat lama bahkan penampilan sahabatnya jauh berbeda dari Tania," ucap Leo membuat kedua sahabatnya beradu pandang.
"Maksudnya apaan nih?" tanya Diky.
"Kalo misalkan gue baikkan sama Tania, gue takut dia mikirnya gue cuma manfaatin dia buat deket sama para sahabatnya yang lebih cantik dari dia," jawab Leo.
"Sampai segitunya lo mikir, Le!" sahut Diky.
"Walau kalian tahu kenyataan tentang gue tapi gue udah di cap cowok playboy, men!" ucap Leo melas.
"Lo emang playboy kali, Leo! Buktinya banyak cewek-cewek yang jadi korban taruhan kita, nggak ada satupun yang lo anggap serius. Iya 'kan!" ucap Diky mengatakan yang sebenarnya.
"Ya itu 'kan dulu." ucap Leo seketika Diky dan Rio serentak menatap ke arah Leo.
"Lah emang sekarang enggak lagi?" tanya Diky meninggikan suaranya, pria itu akan sangat terkejut jika Leo menjawab 'iya'
"Enggak tahu! Gue ngerasa apes aja gitu di tempelin cewek terus." ucap Leo mengedikkan bahunya beberapa kali membuat Diky tidak tahu harus berekspresi seperti apa.
"Makanya muka lo nggak usah ganteng jadinya ribet sendiri 'kan lo tapi bagus sih kalo lo mau tobat, biar dosa lo berkurang juga," ucap Diky seraya memakan kerupuk.
"Ganteng juga percuma kalo nggak bisa taklukin Tania." ucap Rio terdengar sedang mengejek Leo membuat tangan kanan Leo mengepal kuat.
"Gue bakal buat Tania jatuh cinta lagi sama gue," sengit Leo menatap tajam ke arah Rio.
__ADS_1
"Lo harus tahu dan inget sekarang saingan lo bukan cuma Aldy tapi Faza juga udah mulai deket tuh sama Tania," ucap Rio datar membuat raut wajah Leo berubah sangar seraya tangannya pun terkepal kuat.
"Kenapa lo? cemburu?" tanya Rio mengarah ke Leo, Leo merenggangkan kepalan tangannya kala sadar dirinya baru saja ingin marah, apakah sebabnya?
"Biasa aja," ucap Leo.
"Emang gue nanya elo?" tanya Rio pada Leo.
"Siapa lagi yang mau lo tanya kalo bukan gue! Hah? Diky atau S*tan?" tanya Leo dengan nada tinggi diakhir- akhir kalimatnya.
"Santai bro, kalo lo nggak ngerasa cemburu jangan lo tanggapin Burung Prenjak kepala merah satu ini," ucap Diky memelototi Rio karena pria itu berani memancing amarah Leo yang akhir-akhir ini sering meledak.
"Sialan lo." balas Rio.
...........
...Dojo The Shadow Of The King and Queen....
Aldy dan Tania sudah sampai di tempat latihan, sekarang pun mereka sudah memakai dobok beserta sabuk hitam mereka dan kini mereka sedang berhadapan dengan guru utama mereka yaitu senpai Boy.
"Salam." hormat Aldy dan Tania kepada senpai Boy membungkukkan kepala mereka dan senpai Boy mengangguk tanda terima salam Aldy dan Tania.
"Kalian mau melatih atau berlatih?" tanya senpai Boy pada kedua keponakkannya itu.
"Bagaimana denganmu Ken?" tanya senpai Boy pada Aldy.
"Aku ingin berlatih denganmu, senpai!" ucap Aldy berbeda tujuan dengan Tania membuat Tania tersenyum senang karena dirinya akan mengambil alih semua murid laki-laki hari ini.
"Baiklah, mari kita mulai!" ajak senpai Boy.
"Kalau begitu aku permisi, Salam!" pamit Tania pergi ke tempat latihan The Shadow of The King, Tania berjalan menuju ruangan dengan memakai menutup masker hitam.
"Sudah selesai bermainnya?" tanya Tania dengan nada yang begitu lugas, sontak semua murid bersabuk coklat yang sedang asik bermain di buat terkejut dan mereka serentak menengok ke arah pintu lalu mereka menyusun barisan hingga rapi.
Dari pintu Tania berjalan hingga berada di depan para murid, "Salam, Sensei!" hormat semua murid dan di balas anggukan oleh Tania.
"We start training now!" ucap Tania memulai pelatihannya.
Satu jam ... Dua jam ...Tiga jam!
Sampai malam hari Aldy dan Tania selesai melatih dan berlatih, Aldy sudah duluan masuk ke dalam mobil sedangkan Tania masih di dalam ruangan dengan senpai Boy.
"Paman, Tania dan Kak Aldy pamit pulang," pamit Tania dan paman boy menganggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Jangan lupa obati luka-luka kakakmu," ucap paman Boy membuat Tania mengerutkan dahinya aneh.
"Memangnya Kak Aldy kenapa?" tanya Tania.
"Seperti biasa dia mengajak Paman bertarung, dan kau pasti tahu jika dia sudah mengajak paman bertarung tiga kata yang akan dia ucapkan ...."
"Mari saling membunuh!" ucap Tania mengepalkan tangannya kala mengetahui alasan kanapa kakaknya itu bisa sampai terluka saat latihan.
"Dia sedang ada masalah, Kara!" ucap paman Boy menepuk pundak Tania membuat Tania menatap paman Boy lirih.
"Tania tidak tahu, Paman." lirih Tania.
"Mungkin, mungkin dia sedang memikirkan musuhnya atau bisa jadi dia hanya sok hebat dan terlalu percaya diri bisa mengalahkan paman tapi pada akhirnya dia kalah dan terluka," ucap Tania di balas senyuman sinis dari Paman Boy.
"Ya sudah Tania pamit ya, Paman!" ucap Tania lagi pada pamannya itu.
"Hati-hati, Kara!" ucap paman Boy dan di balas anggukan oleh Tania.
Di dalam mobil Tania tak henti-hentinya mengomeli sang kakak yang terlalu bersemangat atau terlalu terbawa suasana hingga senpai Boy membuat bekas memar di tangan maupun di kaki sang kakak.
"Gila lo ya, latihan itu sewajarnya aja enggak usah terlalu agresif." celoteh Tania entah kesekian berapa kalinya.
"Kalo Mama tahu lo kayak gini pasti udah sakit tu telinga lo gara-gara dengerin ocehan maut Mama," ucap Tania lagi dan lagi hingga Aldy menghela napas gusar untuk yang kesekian kalianya pula.
"Gue tanya sekarang, siapa yang ada difikiran lo waktu latihan?" tanya Tania membuat Aldy menengok sang adik di sampingnya.
"Harus berapa kali gue ngomong, gue cuma inget keadaan Grandma doang," jawab Aldy langsung memalingkan wajahnya ke depan.
"Lo bohong, Kak! Gue tahu setiap latihan lo yang berlebihan itu di sebabkan karena lo mikirin orang yang buat lo kecewa atau orang yang lo benci," batin Tania sedih kala sang kakak memendam kekecewaan atau kebencian dengan orang lain.
Di perjalanan hanya ada keheningan begitu juga saat sampai di rumah, Aldy langsung keluar dari mobil dan berlalu kekamarnya.
"Lo kenapa sih, Kak?" lirih Tania bingung.
"Maafin gue, Tan! Gue terlalu benci sama dia sampai latihan tadi gue cuma mikirin satu hal buat hancurin hidup dia." gumam Aldy menghempaskan tubuhkan di kasur.
.......
.......
.......
...... Bersambung ......
__ADS_1