
"Kok bisa lo lagi kayak gini ketemu sama Leo? Dia enggak ngenalin lo emang?" tanya Faza mengalihkan pembicaraan membuat Karamel terkekeh kemudian wanita itu menceritakan semua kejadian bagaimana dia bisa bertemu Leo dengan tampilannya yang sekarang.
"Lo ada nyebut nama Tania nggak?" tanya Faza.
"Untungnya sih nggak, Za." sahut Karamel.
"Bagus deh kalo dia nggak kenal sama lo karena kalo dia kenal, lo harus jelasin sama dia lah," ucap Faza.
"Za, awalnya gue pengen bongkar identitas gue tapi gue berubah fikiran, gimana kalo gue pindah sekolah aja," ucap Karamel.
"Pindah sekolah gimana maksudnya?" tanya Faza.
"Gue bakal tetap jadi Tania yang cupu tapi di sekolahan lain," sahut Karamel.
"Ra, kalo lo bosen jadi Tania yang cupu dan jelek, lo bongkar identitas lo sekarang aja," saran Faza.
"Tapi ...."
"Ara, lo nggak mikir apa? Tentang sahabat lo aja deh, mereka mau lo itu nyata di sekolahan dan nggak jadi pajangan yang bisa mereka pandang dan pantau dari kejauhan. Mereka kayak nggak di anggap sebagai sahabat lo, Ra." jelas Faza.
"Dari awal kita punya persetujuan kok dan mereka fine-fine aja sama keputusan gue," jawab Karamel.
"Dan lo kira mereka suka sama keputusan lo? Terakhir kali lo di bully sama Kak Sindi, gue aja marah ngelihatnya apa lagi sahabat-sahabat lo yang nggak bisa bantu lo sama sekali karena lo selalu ngelarang mereka buat deket sama lo."
"Jadi gue harus bongkar nih?" tanya Karamel.
"Tujuan lo cuma buat nyari pengalaman baru soang 'kan, sekarang lo udah bosen jadi buat apa lo pertahanin lagi," ucap Faza serius.
"Oke deh, nanti gue bongkar," ucap Karamel.
"Kapan?" tanya Faza.
"Kapan-kapan," jawab Karamel cengengesan.
.........
Selama seminggu, Karamel sering bertemu Leo dengan tampilannya yang asli, bahkan mereka sudah saling mengenal dengan sifat asli mereka berdua yang super bar-bar.
Leo sempat bingung bahkan sekarang juga dia masih bingung dengan Karamel karena selama di sekolahan, dia tidak pernah melihat Karamel ada di sekolahan.
Di bawah pohon tempat pertama kali mereka bertemu, Karamel dan Leo duduk bersama sembari memakan kacang garuda, keripik kentang dan lima kotak susu frisian flag coconut delight.
"Gue perhatiin di sekolah lo nempel mulu ya sama si cupu Tania," ucap Karamel padahal si cupu itu adalah dirinya.
"Ngintip di mana lo? Dan bisa nggak jangan ngomong sembarangan tentang Tania, dia gebetan gue," dengus Leo.
"Sembarangan! Siapa juga yang ngintipin kalian, lagian gue nggak salah ngomong kalik, dia 'kan emang cupu, jelek lagi. Selera lo rendahan banget tahu enggak pahadal lo itu most wanted di sekolahan," ejek Karamel sengaja memancing emosi Leo.
"Minta di jahit tu mulut," sengit Leo membuat Karamel ingin sekali tertawa keras.
"Lo itu definisi cowok ganteng tapi buta, tahu enggak," ejek Karamel memukul lengan Leo membuat Leo membulatkan matanya.
"Apa lo bilang?" pekik Leo.
"Nah budek juga," tambah Karamel menjetikkan jarinya di depan wajah Leo.
"Lo ...."
__ADS_1
"Plus kasar juga, pantesan Tania enggak mau sama lo, orang lo banyak kekurangannya. Haha!" ejek Karamel seraya dirinya hendak melarikan diri tapi Leo menarik tangan Karamel hingga dirinya jatuh ke pangkuan Leo. Brugg!
"Ngomong sekali lagi, gue lecehin lo di sini," ancam Leo membuat mata Karamel membola. Degg! Jantung wanita itu juga ikut jedag-jedug di buatnya.
"Mesum lo," pekik Karamel memukul dada Leo. Bugg! Lalu Karamel menyingkir dari pangkuan Leo dan duduk tepat di depan Leo.
"Anji*g!" pekik Leo refleks mencengkeram dadanya.
"Gimana rasanya dapet pukulan dari mantan leader mafia! Enak 'kan? Rasain lo," ejek Karamel.
"Kasar banget sih lo jadi cewek," sentak Leo.
"Ck! Lo-nya aja yang lemah," ejek Karamel memutar tubuhnya membelakangi Leo kemudian ia memakan kripik kentangnya namun tiba-tiba.
Grebb! Leo mendekap tubuh Karamel dari belakang dan mengunci leher Karamel dengan tangannya hingga kepala Karamel berada tepat di dada bidang Leo.
"Enghh ... ma – ati gue, Le – o ... lepasin woy," pekik Karamel dengan napas tercekat seraya menepuk-nepuk tangan Leo namun Leo hanya tertawa jahat lalu mengacak-acak rambut Karamel sampai Leo sudah merasa puas, ia melepaskan tangannya lalu berdiri dan menjauh dari Karamel.
"Wlekk," ejek Leo berlari membuat Karamel bangun dari duduknya.
"Mati lo cowok kasar," pekik Karamel mengejar Leo hingga beberapa kali mengitari pohon besar itu.
Sehingga mereka berdua bermain kejar-kejaran seperti anak kecil, Leo tampak tertawa lepas kala membuat Karamel marah dan terus mengejernya hingga bercucuran keringat di sekujur tubuhnya.
Karamel terus mengumpat dan mengejar Leo hingga tubuhnya sudah tidak sanggup lagi untuk berlalri, barulah Karamel berhenti dan mengabaikan Leo yang terus berlari, Karamel terlalu lelah hingga dirinya memilih untuk berbaring di rumput.
"Huftt huftt! Cape gue," gumam Karamel.
Leo menghentikan langkahnya kala melihat Karamel berbaring sembari mengusap keningnya yang di penuhi keringat, Leo menggelengkan kepalanya seraya ia menghampiri Karamel.
"Cape lo," goda Leo pada Karamel.
"Lemah," ejek Leo tersenyum sinis lalu ikut berbaring di samping Karamel.
.........
Ke esokkan harinya saat class meeting hari pertama berakhir, Leo berdiam diri di kantin sembari melirik mobil milik Karamel sampai 15 menit berlalu Karamel keluar dari gerbang sekolah dengan seragam olahraganya.
"Karamel," panggil Leo sehingga Karamel mendekat ke arah Leo.??
"Nungguin gue nih?" tanya Karamel.
"Enggak ...."
"Oh !!" Karamel memotong perkataan Leo dan hendak pergi menuju mobilnya tapi Leo menahan tangan Karamel membuat Karamel langsung menghempaskan cekalan tangan Leo dengan kasar.
"Takut banget di apa-apain lo, gue mau minta bantuan lo," ucap Leo.
"Apa?" tanya Karamel.
"Bantuin gue cari kado," ucap Leo namun Karamel hanya menaikkan sebelah alisnya saja.
"Berhubung gue nggak bawa motor jadi gue bareng elo, kita langsung ke mall sekarang," ucap Leo tanpa rasa malu.
"Enggak mau gue?" tolak Karamel.
"Enggak ada penolakan, gue mau cari kado buat gebetan gue," ucap Leo mendahului Karamel menuju mobilnya. Ck! Karamel berdecak kesal namun tak urung dirinya membantu Leo juga.
__ADS_1
Di dalam mobil Karamel sempat tertawa terbahak-bahak kala Leo mangatakan dirinya cuma pernah menberi dua kado pada Tania. Pertama, cincin rumput. Kedua, kertas bertuliskan kata-kata romantis.
Sungguh memalukan, Leo tidak pernah sekalipun membeli kado spesial untuk perempuan jadi dia sedikit kebingungan mencari kado yang cocok untuk Tania.
Leo meminta bantuan Karamel karena satu-satunya wanita yang ia kenal hanyalah Karamel, dan pastinya wanita itu bisa membantu Leo tapi nyatanya tidak, saat mereka sudah sampai di tempat tujuan Karamel malah membuat Leo kesal sebab wanita itu memberikan saran untuk membelikan kado pistol atau double stick dan sejenis benda-benda tajam lainnya.
Bagi Leo, Tania bukanlah perempuan bar-bar seperti Karamel tapi Karamel tetap kukuh menyarankan dua benda itu kepada Leo hingga mereka berdua adu bacot di mall itu.
"Percaya sama gue, Tania pasti suka," ucap Karamel karena memang dirinya suka dengan benda-benda semacam itu.
"Gue akuin lo itu emang mantan leader mafia yang suka sama benda tajam dan membunuh kayak gini tapi gebetan gue enggak, Kara. Dia itu lembut jauh dari kekerasan kayak lo," sengit Leo.
"Gue itu Tania, Cleo." batin Karamel kesal.
"Terus lo mau beliin dia apa, boneka? Heh Leo, enggak semua perempuan suka sama boneka termasuk Tania, gue yakin itu." celoteh Karamel.
"Enggak usah sok tahu deh lo," sengit Leo.
"Gini ya, Tania itu cewek yang sering di bully di sekolahan, otomatis dia butuh yang namanya pertahanan hidup, mending lo beliin dia belati aja deh biar clear urusan lo cari kado." celoteh Karamel lagi.
Leo sangat tidak tahan dengan ocehan Karamel yang terus meyakinkan dirinya untuk membeli benda-benda tajam itu, tapi pada akhirnya Leo menyerah dan mengikuti saran aneh Karamel untuk membeli salah satu benda pilihan Karamel yaitu belati.
"Hari ini cukup, kita pulang," dengus Leo tidak mau lagi meminta bantuan Karamel.
"Emang ulang tahun Tania itu kapan sih?" tanya Karamel ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil Karamel.
"Dua puluh lima Desember," ucap Leo.
"Lo 'kan deket sama Tania, emang selama ini lo nggak tahu Tania sukanya apa gitu?" tanya Karamel.
"Makan," jawab Leo membuat Tania membulatkan matanya.
"Makan doang? Nggak ada yang lain? Lo nggak pernah cari tahu tentang dia ya? Wah dasar lo ya, bilang suka tapi nggak tahu apa-apa tentang dia, parah lo?" oceh Karamel.
"Tutup mulut lo sebelum gue mutilasi lo," ancam Leo menggertakkan giginya, pria itu sedang menahan kesal dengan Karamel hingga Karamel terkekeh di buatnya.
"Gue kepo deh sebesar apa sih cinta lo sama Tania?" tanya Karamel tidak mengindahkan ancaman Leo.
"Gue rela ngelakuin apapun demi dia kecuali satu hal menjauh dari dia," jawab Leo cuek.
"Kayaknya Tania udah mulai suka deh sama lo," ucap Karamel mengungkapkan bagaiman Leo berhasil meruntuhkan pertahanannya kembali.
Leo lebih bar-bar dan terbuka kepada orang yang ia kenal sebagai Karamel dari pada Tania yang cupu, dan itu membuat Karamel lebih nyaman dengan Leo yang bar-bar.
"Sok tahu," dengus Leo.
"Cewek suka di lembutin tapi nggak suka sama yang namanya kepura-puraan, kalo lo bisa tunjukin tingkah laku asli lo yang bar-bar tanpa harus jaga image sama Tania demi dapetin rasa suka dia. Gue yakin, pilihan Tania pasti sama kayak gue lebih milih sifat asli lo ketimbang sikap sok lembut lo itu," ucap Karamel.
"Lo sama Tania beda," bantah Leo membuat Tanua mendengus.
"Gue Tania gue juga Karamel, Cleo, dasar lo-nya aja yang enggak tahu," batin Karamel jengkel.
.......
.......
.......
__ADS_1
...... Bersambung ......