Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part _ 259 (Takdir)


__ADS_3

...Los Angeles 07 : 10 AM...


Pagi-pagi sekali saat selesai dari mandi, Kenzi mendapat telepon dari nomor yang tidak ia kenal, ia sempat tidak mau perduli dengan panggilan itu namun karena ia melihat itu adalah nomor indonesia, ia berfikir ulang bagaimana jika itu telepon dari seseorang yang ia kenal? Atau bagaimana ada sesuatu hal yang penting mau di sampaikan kepadanya?


Kenzi terpaksa mengangkat telepon itu namun saat pria itu mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Zayn, Kenzi menjadi kaget kerena Zayn mengetahui kebenarannya tentang dirinya, malas karena Zayn berkeluh kesah karena adiknya telah mati bunuh diri, shock karena Zayn menyebut adiknya Karamel dan marah karena mendegar suara teriakkan kesakitan adiknya hingga menusuk jantung pria itu, Zayn telah lancang menculik adiknya, tanpa fikir panjang Kenzi mempersiapkan dirinya untuk pergi ke Indonesia.


Sebenarnya pria itu ada kelas pagi yang tidak boleh di tinggalkan namun dalam urusan adiknya, Kenzi lebih memilih menduakan kualiahnya demi adik tersayangnya, biarlah saat dia kembali nanti dosen kampusnya akan memarahi dan menghukumnya habis-habisan. Yang terpenting sekarang pria itu ingin menyelamatkan adiknya.


Kenzi menelepon tangan kanannya yaitu Trisna untuk menyiapkan pesawat pribadi Papanya karena pria itu ingin menyelamatkan adiknya yang sedang di sekap oleh Zayn, bahkan Kenzi juga memerintahkan Trisna untuk menghubungi Daniel agar memerintahlan pria itu untuk membawa semua mafioso adiknya yang ada di Amerika ke Indonesia, guna untuk membantunya menyelamatkan lady queen mereka.


Sejujurnya Kenzi sudah tidak pernah berurusan lagi dengan dunia gelap maka dari itu Kenzi terpaksa harus membubarkan semua mafiosonya hingga tidak ada lagi yang namanya mafia The Shadow Of The King, lantaran sang mama sangat membenci sikap Kenzi yang suka membunuh musuh antar mafianya. Berbeda dengan Karamel yang keluar dari dunia gelap namun wanita itu memberikan tanggung jawab pada Daniel untuk menjaga dan memimpin semua mafiosonya.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Sir? Kenapa adikmu bisa di tahan oleh pimpinan The Black Tounge?" tanya Trisna tidak seperti biasanya yang berbicara informal karena Kenzi menunjukkan raut wajah yang berbeda di depannya sehingga kini Trisna lebih hormat pada Kenzi sebagai bawahannya.


"Akan ku ceritakan di pesawat," sahut Kenzi dengan raut wajah serius, fikiran Kenzi menjadi kacau ketika mengingat kondisi Karamel yang sedang dalam keadaan hamil tujuh bulan dan di sekap oleh pria gila bernama Zayn.


"Gue bakal dateng, Kara. Gue dateng, lo harus kuat gue pasti selamatin lo." batin Kenzi sangat mengkhawatirkan keadaan adiknya hingga pria itu lupa memberi kabar tunangannya yang biasanya setiap pagi saling menyapa satu sama lain.


"Leo berengs*k !!!" pekik Kenzi dengan kesal karena mengingat keberadaan sahabatnya itu ada di mana saat Karamel sedang dalam bahaya.


Saat sudah di dalam pesawat, Kenzi duduk dengan tidak tenang mengotak-atik tabletnya tanpa menghiraukan handphonenya yang bergetar sejak beberapa jam yang lalu, fokus pria itu hanya ingin cepat-cepat menyelamatkan adiknya dan menghajar Leo karena tidak becus menjaga adiknya.


"Boleh kau ceritakan sekarang, Sir?" tanya Trisna ketika selesai mengotak-atik laptopnya dan menghadap Kenzi, Kenzi mengangguk dan meletakkan tabletnya di meja lalu pria itu mulai bercerita pada Trisna tentang Zayn yang menelepon dirinya saat dirinya baru selesai mandi.


.........


Hahaa ... !!


Suara tawa yang terdengar dari arah depan membuat Zoeya membulatkan matanya kaget, wanita itu sangat mengenal pemilik tawa jahat itu, segera wanita itu berlari ke arah sumber tawa jahat itu.


"Kalau begitu kita buktikan, aku akan membunuhmu sekarang juga." pekik Zayn mengangkat tangannya untuk menyodorkan pistol ke arah wajah Keisha.


"Hentikan semua ini! Aku tidak akan membiarkanmu menembak kakakku, Zayn." pekik Zoeya berdiri tepat di depan kakak tirinya, napas wanita itu terengah-entah karena berlari.


"Z-Zoeya?!" gumam Zayn terkajut akan kehadiran wanita itu, tatapan mata pria itu berubah menjadi lembut saat berhadapan dengan Zoeya.


Zoeya menolehkan kepalanya ke belakang, rasanya air mata ingin menetes saat melihat tubuh kakak tirinya di penuhi darah bahkan wajah tampan itu berubah menjadi sangat konyol karena di penuhi luka-luka pukulan.


"Maaf, aku datang terlambat." batin Zoeya tidak mampu mengeluarkan suaranya di depan kakak tirinya, Keisha membalas tatapan Zoeya dengan lemah membuat hati Zoeya semakin pedih.


"Maaf kak!" batin wanita itu lagi.


"Apa yang kau lakukan Zoeya? Kenapa kau menghalangiku? Menyingkir sekarang, aku harus membunuh pria yang telah membuatmu jauh dariku." pekik Zayn, tatapan pria itu sudah di penuhi api amarah karena Zoeya menampilkan raut wajah sedih pada pria lain dan pria itu sangatlah ia benci.


"Tidak Zayn itu tidak benar, bukan Kak Kei yang membuat aku menjauh darimu tapi aku sendiri lah yang sudah merasa lelah dan muak berhubungan dengan pria yang telah menyakiti hatiku. Ya, ku akui aku memang pernah mencintai dirimu lebih dari siapapun tapi perasaan cinta itu tidak ada lagi untuk sekarang, sekarang aku sudah tidak mencintaimu lagi Zayn." pekik Zoeya langsung menatap tajam ke arah Zayn.


"Bohong! Kau masih mencintaiku, Zoeya. Kau tidak akan pernah bisa tidak mencintaiku karena akulah satu-satunya pria yang pantas bersanding denganmu." sentak Zayn tidak terima akan pengakuan jujur wanita itu, Zayn benar-benar menyesal telah menyakiti hati wanita itu dan kini Zayn ingin memperbaiki semuanya, pria itu ingin kembali pada wanita itu. Apakah tidak bisa?


"Saat aku tahu kau ingin menjebakku sebagai pembunuh Karamel dan Kenzi, saat itu juga aku membencimu Zayn, aku sangat-sangat membenci penipu sepertimu. Ya, Akan aku katakan sekarang juga, aku memuji permainanmu yang sangat hebat itu Zayn, kau berhasil bermain siasat di depanku dengan segala kepalsuanmu seolah-olah kau adalah orang yang paling tulus dan membuatku sangat tersentuh dengan segala perhatian palsumu itu, lalu setelah itu apa? Membuatku jatuh cinta kepadamu, sudah kau lakukan. Membuatmu mengetahui fakta tentang kau hanya menjadikanku sebagai alat, sudah kau lakukan juga. Dan apa lagi sekarang? Ingin membunuh Kak Keisha dengan alasan kak Kei adalah penyebab aku menjauh darimu? Berengs*k, Kak Kei tidak pernah ikut campur dalam masalahku karena kau tahu sendiri dia sangat membenciku, bod*h!" pekik Zoeya dengan lantang, mata wanita itu berkaca-kaca namun ia berusaha menahan dirinya agar tidak menangis, Zoeya tidak ingin di pandang lemah oleh Zayn karena nyatanya wanita itu sangatlah kuat.


Keisha mencengkeram dadanya yang sesak, entah kenapa hatinya merasa sangat ngilu saat Zoeya mengatakan bahwa dirinya sangat membenci wanita itu. Keisha tidak pernah tahu alasan Zoeya meminta untuk membatalkan pertunangannya dengan Zayn dan setelah Keisha tahu malam ini, rasanya Keisha merasa tidak tega melihat adiknya di perlakukan tidak baik oleh Zayn.


"Maafkan aku, sayang!" ucap Zayn pedih karena Zoeya yang selalu memancarkan aura kejam seperti singa betina, hampir ingin memangis karena ulahnya.


"Aku sudah terlanjur membencimu, Zayn. Sangat membencimu lebih dari apapun!" pekik Zoeya mengeluarkan hawa menjijikkan saat menatap Zayn.


"Kau membenciku karena dia bukan, dia melarangmu untuk berhubungan denganku tapi kenapa kau tetap membela pria itu, Zoeya?" tanya Zayn merasa sedih dan kecewa menatap tajam Keisha, pria itu tidak henti-hentinya menyalahkan kakaknya Zoeya, padahal faktanya sudah jelas dirinyalah yang salah.


"Bahkan dia juga pernah melecehkanmu tapi kenapa kau masih membela bajin*an itu, hah!" sentak Zayn murka, pria itu merasa sakit di bagian ulu hatinya, dulu wanita itu selalu berbicara lembut padanya namun sekarang, sikap wanita itu sudah berubah drastis.


"Jaga kata-katamu, bajin*an." pekik Zoeya menunjuk ke arah Zayn membuat Zayn menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya sikap wanita itu benar-benar sudah berubah terhadap dirinya, Zayn semakin membenci Keisha yang selalu mendapatkan perhatian lebih dari Zoeya padahal kakak tirinya itu tidak pernah bersikap baik sekalipun kepada Zoeya.


"Jangan lupa hidupmu bersama keluarga pria itu tidak akan pernah merasa bahagia Zoeya, kau hidup di lingkungan penuh drama." pekik Zayn mengingatkan Zoeya akan bagaimana hidupnya selama hidup di keluarga Blende, Keisha mengerutkan dahinya bingung dengan kata-kata Zayn.


"Tidak !!!" pekik Zoeya membulatkan matanya sempurna, wanita itu tidak akan membiarkan Zayn membuka mulut tentang dirinya.


"Tidak apa, hah? Mommy kandungmu selalu menjadi budak Daddy tirimu, apapun yang Daddy tirimu katakan wanita sialan itu akan selalu patuh dengannya, kau selalu mendapatkan perintah untuk menjadi seorang penindas karena ...."


"Cukup!" pekik Zoeya memelotot lalu ia menggelengkan kepalanya, wanita itu menatap dalam manik mata Zayn, dia berharap Zayn tidak akan mengungkap kebenaran tentang hidupnya di depan Keisha. Tidak, Zoeya tidak mau kakak tirinya mengetahui kebenarannya.


"Tidak Zoeya, pria di belakangmu itu harus tahu kebenaran tentang dirimu." ucap Zayn lirih.


"Apa kau tahu Keisha ...." ucapan Zayn langsung di potong oleh Zoeya, wanita itu seperti tidak mau melukai kakak tirinya dan itu membuat Zayn geram.


"Tidak, jangan katakan apapun Zayn." pinta Zoeya dengan tajam.


"Diamlah sebentar saja, Zoeya!" sengit Zayn menatap Zoeya dengan lembut, pria itu berusaha menahan kekesalannya.


"Daddy kandung yang selalu kau bangga-banggakan itu telah memerintahkan kekasihku Zoeya untuk terus mengangkat kepalanya di depan semua orang hingga dia terpaksa harus menjadi orang yang sombong karena ulah Daddymu." pekik Zayn membuat Zoeya menggelengkan kepalanya.


"Tutup mulutmu Zayn!" pekik Zoeya memejamkan matanya kuat, tubuh wanita itu menjadi bergetar takut mengingat perintah-perintah kejam itu.


"Kau begitu membenci Zoeya seakan-akan Zoeya memanglah orang yang sombong, jahat dan tidak punya sopan santun tapi kau tidak tahu ...."


"Zayn, aku bilang tutup mulutmu berengs*k." pekik Zoeya sangat murka, rasanya Zoeya ingin memukul wajah Zayn namun posisinya sekarang Zayn sedang menyodorkan pistol ke arahnya, bisa-bisa dirinya akan di tembak bahkan mungkin juga kakaknya akan di tembak mati oleh Zayn.

__ADS_1


"Kekasihku Zoeya adalah penyelamat hidupmu, dia selalu mengorbankan dirinya untuk bisa membuatmu tetap hidup di dunia ini. Apa kau tahu, kejadian beberapa tahun yang lalu saat kau jatuh dari tebing? ...."


"Tidak Zayn, aku mohon!" pekik Zoeya membulatkan matanya kala Zayn ingin membongkar kebenarannya. Zayn terpaku karena untuk pertama kalinya Zoeya memohon demi tidak ingin Zayn membongkar kebenarannya.


"Saat kau di rawat di rumah sakit, apa kau tidak curiga ke mana Zoeya pergi hingga satu bulan kemudian dia baru muncul dan langsung mengakui bahwa dirinya adalah orang yang telah mendorongmu ke laut? Bod*h sekali!" sengit Zayn tidak menghiraukan Zoeya, tatapan mata pria itu begitu tajam menatap manik mata Keisha yang lemah.


"Seorang penjahat tidak akan pernah mengaku bahwa dirinya adalah orang jahat, apa kau tahu itu." ucap Zayn membuat Keisha mengingat kata-kata Karamel saat di dalam mobil. Benar! Karamel juga mengatakan hal yang sama seperti Zayn.


"Kau kira dia kabur bukan? Kau salah besar, Keisha. Selama satu bulan Zoeya menghilang, dia mengalami koma karena dirimu." pekik Zayn membuat Keisha mengerutkan dahinya.


"Karena melihatmu jatuh ke dalam laut. Tidak, karena melihatmu di dorong oleh mommy tirimu jatuh ke dalam laut, dia sampai rela menjatuhkan dirinya juga ke dalam laut demi bisa menyusulmu dan menyelamatkanmu tapi akibatnya dia malah mengalami koma selama satu bulan." pekik Zayn membuat Keisha menyipitkan matanya tidak percaya.


"Kau tidak percaya?" tanya Zayn kala raut wajah Keisha tampak biasa-biasa saja, memang sepertinya Keisha tidak percaya.


"Biar aku beritahu satu fakta lagi," ucap Zayn membuat Zoeya menggelengkan kepalanya keras.


"Cukup Zayn, kau terlalu banyak bicara berengs*k." pekik Zeoya melarang Zayn untuk berbicara lagi namun sayangnya Zayn tidak mempedulikan teriakan-teriakkan Zoeya yang terus-terusan memintanya untuk berhenti bicara.


"Tiga tahun yang lalu saat kau menyalami kecelakaan mobil di California, kau hampir mati karena penyakit ginjal kronis stadium akhir bukan tapi pada akhirnya kau selamat dari mautmu, karena apa? Itu karena Zoeya rela mengorbankan ginjalnya demi bisa membuatmu tetap hidup di dunia ini, apa kau tahu itu berengs*k." pekik Zayn tetap mengungkapkan kebenarannya, Keisha membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang di ucapan Zayn. Jadi pendonor ginjal yang selalu Keisha cari selama ini adalah adik tirinya sendiri? Benarkah itu?!


"Tidak, aku tidak pernah melakukan itu." pekik Zoeya menyangkal kata-kata Zayn.


"Bod*h! Setiap kali kau berbuat kebaikkan, Mommy kandungmu dan juga Daddy tirimu selalu mengancam ingin mengirimkanmu pada Daddy kandungmu yang kejam itu, kau hidup sebagai boneka di keluarga itu Zoeya. Mereka hanya ingin membaguskan nama baik pria yang ada di belakangmu itu saja sedangkan kau, kau hanyalah orang yang tidak berkepentingan bagi mereka." sentak Zayn menatap Zoeya membuat kaki Zoeya menjadi lemas.


"Katakan padaku sekarang siapa kau di mata mereka, Zoeya? Hanya anak dari seorang pencandu narkoba dan pembunuh berantai yang tidak pantas mendapatkan kasih sayang orang tua dan keluarga ataupun orang lain, kau hanyalah anak yang tidak berguna di mata mereka bahkan Mommy kandungmu sendiri mengatakan, terpaksa membawamu pergi dari kehidupan Daddy kandungmu karena dia ingin menjadikanmu sebagai alat belas kasihan Daddy tirimu agar bisa menerima kalian menjadi bagian dari keluarga Blende." ucap Zayn membuat Zoeya menundukkan kepalanya lemah.


"Bahkan Keisha yang sudah berkali-kali kau selamatkan dari kematian, tidak pernah menganggapmu sebagai adiknya, Zoeya." lirih Zayn merasa sakit kala mengingat betapa tidak bahagianya hidup Zoeya bersama keluarga Blende.


"Kau takut dengan Keisha karena apapun yang keluar dari mulut bajin*an itu selalu menjadi mala petaka untuk dirimu, Zoeya. Ingatlah kejadian yang membuatmu menderita hingga membuatmu hampir mati dulu, Sayang." ucap Zayn lirih.


"Hanya karena perkataan bajin*an itu yang mengatakan dirinya merasa muak saat melihat wajahmu, Mommymu sampai tega menggores lehermu menggunakan pisau. Mommymu lebih merasa takut di marahi oleh Daddy tirimu karena bajin*an itu adalah anak kesayangan Daddy tirimu di bandingkan dirimu yang selalu merasakan sakit atas perlakukan tidak adil keluarga bejat itu." pekik Zayn membuat Keisha menyipitkan matanya dan mendongakkan kepalanya untuk menatap leher Zoeya, tiba-tiba saja mata Keisha tersentak kala dirinya bisa melihat ada sedikit bekas luka jahitan di sana dan mungkin saja itu akan terlihat besar jika di lihat dari depan.


"Cukup Zayn!" lirih Zoeya dengan suara lemah, wanita itu menyesal telah percaya pada Zayn dan memberitahu segala penderitaan hidupnya kepada pria itu, kini kakak tirinya telah mengetahui kebenarannya membuat Zoeya merasa takut, wanita itu berfikir pasti kakak tirinya semakin membencinya karena telah lancang membantu kakak tirinya seakan-akan wanita itu menganggap lemah kakak tirinya.


Keisha memejamkan matanya mengingat kejadian masa lalu di mana pria itu memang pernah mengadukan so'al rasa tidak sukanya saat melihat wajah Zoeya kepada ayah kandungnya dan juga ibu tirinya.


Kejadian di saat Keisha merasa muak melihat wajah Zoeya, malamnya wanita itu di katakan kabur dari rumah oleh ayah dan ibu tirinya, padahal nyatanya Zoeya terpaksa pergi dari rumah agar Keisha tidak mengetahui apa yang terjadi sebenernya dan selama berminggu-minggu, wanita itu di rawat di rumah sakit kala sayatan yang ada di leher Zoeya hampir merenggut nyawa wanita itu.


"Perlu aku ingatkan lagi bagaimana tersiksanya hidupmu selama ini, kau bahkan pernah mengorbankan dirimu untuk meminum racun yang seharusnya di minum oleh bajin*an itu hingga bajin*an itu membentak dirimu karena kau di anggap telah bersikap kurang ajar terhadapnya lalu kau berlari pergi dari rumah itu." ucap Zayn membuat Keisha mengerutkan dahinya.


Ibu kandung Zoeya pernah membuat jus di dapur namun Zoeya tidak sengaja melihat ibunya mencampurkan bubuk aneh pada minuman itu juga lalu setelah itu kepala pelayan rumah mereka di suruh ibunya Zoeya untuk memberikan jus itu pada Keisha yang sedang sibuk mengurus pekerjaannya di dekat kolam berenang.


Zoeya yang merasa ada sesuatu yang aneh pada minuman itu langsung berlari untuk mencegah kepala pelayan mereka namun sayangnya Zoeya kalah cepat dengan pandangan mata Keisha yang langsung tersenyum senang karena kepala pelayan mereka membawakan jus segar untuk dirinya.


Saat Keisha mengucap kata terima kasih pada kepala pelayan itu karena sudah membuatkan jus segar untuk dirinya, Zoeya langsung merebut paksa galas itu dari tangan Keisha dan hendak membuang gelas itu ke sembarang tempat namun Keisha mencegah tangan Zoeya hingga pada saat Keisha mengomel dan ingin mengambil kembali gelas itu, dengan terpaksa Zoeya meminum jus itu sampai habis.


"Apa yang bajin*an itu katakan setelah dua bulan kau kembali ke rumah, Zoeya? Dia bilang kau sudah puas bersenang-senang di luar sana dan kembali pulang hanya untuk meminta uang pada Daddynya, padahal nyatanya kau di rawat di rumah sakit untuk kesekian kalinya karena pria bajin*an itu." pekik Zayn menunjuk Keisha sembari menatap tajam kakak tirinya Zoeya itu.


"Aku bilang cukup, cukup Zayn!" pekik Zoeya menutup kedua telinganya, fikiran wanita itu menjadi kacau karena Zayn mengingatkan kejadian-kejadian yang telah lama ia lupakan.


"Aku ingatkan kau untuk yang terakhir kalinya, Baik Daddy dan Mommy kandungmu maupun keluarga Blende tidak pernah menganggapmu ada, Zoeya." lirih Zayn sampai mata Zoeya menjadi merah di buatnya.


Entah anak siapa Zoeya sebenarnya, ayah kandungnya sendiri begitu jahat dan di kenal sebagai seorang pencandu narkoba dan pembunuh berlantai, ibu kandungnya juga sangat licik dan sangat gila akan uang sehingga segala upaya selalu ia lakukan demi bisa menjalani kehidupan serba mewah. Sedangkan Zoeya? Wanita itu merasa tidak butuh uang, kekuasaan, kesombongan, dan persetan dengan yang lainnya itu. Zoeya hanya ingin mendapatkan sedikit saja perhatian dan kasih sayang, hanya itu. Tidak lebih.


Zoeya juga tidak tahu apa salah wanita itu di keluarga Blende, kenapa daddy tirinya begitu tidak suka dengannya dan selalu memerintahkannya untuk menjadi orang yang jahat dan sombong, hanya karena daddy tirinya itu tidak mau harga diri keluarga Blende di rendahkan oleh orang lain.


Sedangkan Keisha yang dulunya hanya membenci mommy kandungnya saja tiba-tiba saja berubah menjadi membenci Zoeya karena insiden pria itu jatuh dari tebing, sikap Keisha selalu dingin dan acuh tak acuh dengan Zoeya. Ya, Keisha tidak pernah tahu penderitaan Zoeya selama ini dan Zoeya pun tidak pernah berani untuk mengatakannya kepada Keisha, Zoeya terlalu takut Keisha tidak akan percaya padanya dan malah mengadukan segala pengakuannya pada kedua orang tuanya hingga mungkin saja wanita itu akan di bunuh oleh kedua orang tuanya.


Menyedihkan sekali hidupnya ini.Ck!


"Aku mohon pergi dari kehidupan mereka dan jalani kehidupan barumu bersamaku, Zoeya." pinta Zayn mambuat Zoeya tidak mampu menahan air matanya lagi.


"Kamarilah sayang," titah Zayn mengulurkan tangannya agar Zoeya mau menghampirinya, Zoeya mendongakkan kepalanya menatap mantan tunangannya itu selama beberapa detik.


"Turunkan pistolmu, Zayn." pinta Zoeya membuat Zayn menganggukkan kepalanya patuh lalu dirinya menurunkan pistolnya, Zayn tahu Zoeya pasti takut dengan senjata apinya.


"Lempar pistol itu kepadaku," pinta Zoeya dengan tatapan tajam membuat Zayn tersentak kaget akan permintaan mantan tunangannya itu, untuk apa Zoeya meminta pistolnya! Fikir Zayn.


"Kau memang benar Zayn! Aku sudah muak hidup di keluarga penuh drama ini maka izinkan aku untuk melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sejak dulu." ucap Zoeya mengangkat tangannya di hadapan Zayn agar pria itu mau melemparkan pistol itu padanya.


Namun Zayn hanya diam menatap Zoeya, wanita itu tahu Zayn pasti sedang bertanya-tanya kenapa dirinya menginginkan pistol itu, maka Zoeya memberikan jawabannu dengan menolehkan kepalanya ke belakang, di mana dirinya bisa melihat kakak tirinya yang ternyata sejak tadi memandang dirinya.


"Dia menangis!" batin Keisha, selama ini Zoeya hanya akan menangis di depan Keisha kerena rasa takut namun mendengar cerita Zayn, wanita itu seperti merasa sangat rapuh sekali. Sesulit itukah hidup adik tirinya?


"Maafkan aku, Kak! Seharusnya sejak lama aku tidak perlu berbaik hati membiarkanmu hidup di dunia ini, maka malam ini aku akan melenyapkan anak yang tidak berguna dan tidak pantas mendapatkan kasih sayang siapapun seperti dirimu." ucap Zoeya datar kemudian wanita itu kembali menatap Zayn.


"Cepat lemparkan pistol itu, Zayn!" pinta Zoeya sekali lagi dan kali ini Zayn langsung melemparkan pistolnya pada Zoeya, pria itu mengenal Zoeya sudah lama sekali jadi apapun yang di katakan Zoeya pasti akan ia lakukan. Ya, akan wanita itu lakukan.


"Ada berapa isi pistol ini?" tanya Zoeya sembil dirinya perlahan membalikkan tubuhnya menghadap kakak tirinya.


"Hanya ada satu, sayang." ucap Zayn lembut.


"Hanya satu?" tanya Zoeya menatap tajam kakak tirinya, Zoeya tersenyum sinis pada kakak tirinya yang merasa percaya tidak percaya adik tirinya akan menembaknya sekarang juga.


"Gunakan kesempatan terbaikmu untuk menembak bagian jantungnya, sayang." ucap Zayn tersenyum miring, pria itu merasa senang karena telah berhasil membuat jiwa mengerikan Zoeya keluar.

__ADS_1


"Zoeya!" batin Keisha menatap manik mata Zoeya yang sangat tajam, ini pertama kalinya Keisha melihat tatapan tajam adik tirinya, aura wanita itu berbeda dari biasanya yang selalu bersikap mentel di setiap harinya.


"M-A-A-F!" ucap Zoeya tanpa mengeluarkan suaranya tapi Keisha bisa melihat gerakkan bibir adik tirinya yang mengucapkan kata maaf, entah untuk apa!


"Good bye!" ucap Zoeya kemudian.


Dorr ....!


Setelah suara tembakkan itu berbunyi begitu keras, tidak ada suara apapun lagi di dalam ruangan itu, tidak ada pergerakan apapun dari mereka semua yang memalingkan wajah mereka kala Zoeya menembakkan pelatuknya, waktu seperti berhenti berputar dan seketika ruangan itu seperti kosong. Hening!


.........


Leo langsung menggerakkan kepalanya ke sekitar hingga pada saat mata pria itu melihat kepala Karamel yang tergeletak di tanah, pria itu langsung berlari menghampirinya.


Degg ....


Begitu sakitnya hati Leo saat melihat tubuh istrinya di penuhi luka lebam bahkan mata Leo membulat saat melihat dada istrinya ada luka tembak.


"Kara maafin aku, aku dateng terlambat sayang." ucap Leo memeluk tubuh Karamel yang di penuhi darah.


Leo menggendong tubuh Karamel dan membawanya ke jalan raya, di mana mobilnya berada di ikuti oleh puluhan anak buah Leo juga.


Setelah sampai di jalan raya, Leo langsung membawa masuk Karamel ke dalam mobil. Karena Jeffry masih berada di hutan, anak buah Leo yang lain menggantikan Jeffry untuk menjadi supir mobil Leo dan membawa mereka ke rumah sakit, di ikuti oleh empat mobil anak buah Leo dari belakang juga.


"Aku tahu kamu kuat, sayang. Bertahanlah aku mohon." lirih Leo dengan tubuh bergetar mengusap wajah istrinya, tiga puluh menit kemudian perlahan Karamel membuka matanya lemah sehingga mata biru wanita itu langsung bertemu dengan mata Leo yang sayu.


"Sayang," panggil Leo spontan.


"M-mas aaaaghhh mas perutku sakit .... !!" pekik Karamel tiba-tiba merasakan kontraksi yang sangat luar bisa, apalagai dada wanita itu juga terasa sangat sakit.


Mendengar suara jeritan Karamel yang kesakitan Leo menjadi panik dan meminta anak buahnya agar menambahkan kecepatan mobilnya.


"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita sampai ya." ucap Leo pelan menenangkan istrinya yang sudah dipenuhi keringat di keningnya. Leo terus mengajak Karamel bicara serta mengelap keringat istrinya agar istrinya itu bisa sedikit merasa tenang dan tidak kembali pingsan lagi.


Sesampainya di rumah sakit, Leo membawa keluar istrinya dari mobil lalu dokter dan suster yang sudah stand by di luar rumah sakit langsung mengambil alih istri Leo dan membawanya ke IGD karena kondisi Karamel yang terluka parah di tambah lagi saat Leo meletakkan Karamel di brankar air ketuban istrinya itu tiba-tiba keluar.


"Kami akan segera melakukan operasi caesar pada istrimu karena kondisi istrimu sangat tidak memungkinkan untuk bisa melahirkan secara normal, Leo." ucap dokter Anggika yang menjadi salah satu rekan kepercayaan mamanya Leo, saat melihat spontan keadaan Karamel.


"Apa? Tapi usia kandungan istriku baru tujuh bulan, Dok." ucap Leo dengan getaran kuat di tubuhnya.


"Istrimu akan melahirkan secara prematur," ucap dokter Anggika membuat mata Leo memerah.


"Lakukan yang terbaik Dok, selamatkan istri dan anakku." pinta Leo dengan lemas.


"Kami akan melakukan yang tebaik, kau tunggu di sini dan berdo'alah untuk keselamatan istri dan anakmu." ucap dokter Anggika menepuk pelan bahu Leo lalu setelah itu dokter Anggika masuk ke dalam ruang operasi.


"Ya Allah, aku mohon kepadamu selamatkan istri dan anakku di dalam sana." lirih Leo berdo'a sambil terduduk lemah di kursi luar operasi.


Belum sampai sepuluh menit pintu ruang operasi itu terbuka dan muncullah dokter Anggika yang terlihat sedih.


"Dokter! Ada apa?" pekik Leo bangkit dari tempat duduknya dan menghadap dokter Anggika.


"Maafkan aku Leo tapi kau harus mengambil keputusan sekarang, selamatkan istrimu atau anakmu?" ucap dokter Anggika tegas memberikan pilihan.


Degg ....


Leo membulatkan matanya kaget, ingatannya kembali berputar ke masa lalu di mana Karamel pernah kehilangan anak pertamanya lalu kini dokter Anggika memberi pilihan antara istri dan anaknya? Tubuh Leo menjadi semakin lemas.


"Cepat jawab, Leo." bentak dokter Anggika dengan tagas, dokter paruh baya itu mengerti keadaan Leo yang harus memilih antara istri dan anaknya namun Karamel harus segera di tangani atau istri Leo serta anaknya tidak akan ada yang selamat, Leo merintihkan air matanya menatap mata dokter Anggika.


"Kami bisa memiliki anak lagi di masa depan, selamatkan istriku, Dok." pinta Leo dengan derasnya tangisan yang keluar dari pelupuk mata pria itu.


Setelah mendapatkan jawaban Leo, dokter Anggika menganggukkan kepalanya pelan lalu ia kembali masuk ke dalam ruang operasi sedangkan Leo langsung terduduk lemas di lantai dengan air mata yang deras.


"Maafin aku, Kara." lirih Leo menundukkan kepalanya lemah, pria itu tidak memperdulikan pandangan para anak buahnya yang berjaga di sana. Memanglah mafioso Leo sempat terpaku dengan tuan mereka yang untuk pertama kalinya menangis di depan para anak buahnya.


"Aku bod*h, maafin aku Kara." teriak Leo mengangkat kedua tangannya yang berlumuran darah milik istrinya.


"Leo !!" panggil seseorang dari belakang pria itu sambil menepuk pundak Leo, dia adalah sahabatnya sendiri yaitu Adit.


Adit bukan sengaja datang untuk menemui Leo tapi Adit datang ke rumah sakit karena pria itu hanya ingin mengantarkan bundanya yang mau menjenguk sepupu bundanya namun saat bundanya Adit mengatakan ingin meningap di rumah sakit, Adit pun langsung berpamitan pulang namun saat pria itu sampai di lobby rumah sakit, pria itu tidak sengaja melihat Leo sedang berlari mendorong brankar yang di tiduri oleh Karamel, Adit menjadi shock saat melihat tubuh Karamel di penuhi darah segar.


"Gue bod*h, gue malah lebih mentingin pekerjaan gue dan ninggalin istri gue sendirian di rumah, gue udah gagal jaga istri gue sendiri, Dit." ucap Leo terbata-bata.


Leo semakin menangis keras saat mengingat kebod*hannya yang baru mengetaahui satu fakta tentang rencana Zayn yang ingin menyerang rumahnya hanyalah siasat semata agar dirinya bisa menyuruh seseorang untuk membawa istrinya keluar dari rumah dan setelah istrinya keluar bersama Keisha, informasi itu di bocorkan oleh mata-mata Zayn yang berhasil menyelinap masuk ke kediamannya.


Adit hanya bisa diam, pria itu tidak tahu apa yang terjadi sebenernya namun pria itu sangat yakin hal besar pasti telah terjadi karena Adit bisa melihat darah segar milik Karamel memenuhi pakaian Leo.


"Kara ...." lirih Leo memejamkan matanya lemah saat mengingat beberapa hari yang lalu Karamel menanyakan so'al anak mereka nanti akan di beri nama siapa? Baik Leo maupun Karamel sudah memiliki nama yang pas untuk anak mereka, hati Leo merasa remuk saat senyum penuh bahagia istrinya terlintas di benaknya, sekali lagi pria itu mengucap kata maaf atas kesalahannya yang gagal menjaga istrinya sehingga kini mereka harus kehilangan buah hati mereka.


.


.


.

__ADS_1


...::: Bersambung :::...


...Mantul partnya banyak lagi 'kan !!...


__ADS_2