
Karamel tetaplah Karamel, seribu satu kali Leo berusaha untuk melarang Karamel untuk ikut dengannya atau bahkan sampai urat nadi Leo putus untuk memerintahkan Karamel tetep di rawat di rumah sakit, semuanya tetap saja akan sia-sia.
Karamel wanita keras kepala. Kecuali papa Sanjaya, Karamel tidak akan mudah menurut dengan perintah siapapun.
Di dalam mobil Leo terus saja diam, perasaannya menjadi jengkel karena Karamel tidak mau menuruti perintahnya padahal dirinya adalah suami Karamel. Benar kan Leo adalah suami Karamel? Ck! Entahlah, jika benar dirinya adalah suami Karamel lalu kenapa Karamel tidak mau patuh dengan dirinya.
"Di mana pertemuannya?" tanya Karamel menoleh ke arah Leo yang sibuk memainkan handphonenya.
Leo mendengar jelas pertanyaan Karamel, namun dirinya tidak mau menjawab. Sungguh perasaan kesal di dalam diri Leo membuatnya tidak mau bicara dengan sang istri.
"Apa kamu marah?" tanya Karamel tidak suka akan diamnya sang suami
"Kamu nggak akan pergi sendirian, walau nanti kamu ngomong sama mereka kalo kamu sebenarnya udah nikah dan Karamel Listra adalah istri kamu tapi aku-nya enggak ada di samping kamu, mereka mungkin enggak akan percaya sama kamu." celoteh Karamel.
Leo mengeluarkan marriage book miliknya dan Karamel, melihat itu Karamel mengatupkan kedua bibirnya ke dalam, dirinya menikah dengan seorang pengusaha hebat jadi tidak mungkin juga suaminya itu tidak membawa bukti nyata.
"Me-mereka mungkin bakal percaya sama kamu tapi gimana kalo mereka ngira buku nikah itu palsu?" tanya Karamel.
Leo mengeluarkan handphonenya lalu ia menunjukkan video pernikahan mereka di Kanada, sial - umpat Karamel dalam hati.
"Pokoknya aku tetap harus ikut sama kamu," ketus Karamel merasa bahwa tindakannya itu benar namun Leo tidak menyahuti Karamel karena dirinya lelah harus berdebat nantinya.
"Ck! Kamu beneran marah sama istri kamu yang lagi sakit ini?" tanya Karamel sengaja memancing belas kasihan Leo, namun sayangnya Leo tetap saja tidak merespon semua pertanyaan Karamel.
"Hentikan mobilnya," titah Karamel tiba-tiba.
"Nyonya ...." perkataan Jeffry terpotong.
"Jalan terus," sahut Leo dingin membuat Karamel memeoloti sang suami.
"Jeffry aku perintahkan kau, hentikan mobilnya sekarang." titah Karamel lagi.
"Dengarkan atasanmu, jangan hentikan mobilnya," Leo kembali menentang Karamel.
"Hentikan atau aku akan berbuat nekat," kini Karamel mengancam, dan tentunya Leo mengalah karena jika tidak, mungkin Karamel akan benar-benar melakukan hal yang tidak terduga.
"Hentikan mobilnya," ucap Leo dan Jeffry menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Bisa tinggalkan aku dan Leo sebentar!" pinta Karamel pada Jeffry.
Setelah Jeffry keluar, Karamel langsung mendorong tubuh Leo hingga ke sudut pintu. Pergerakan cepat Karamel sontak membuat Leo kaget dan memelotot ke arah Karamel.
"Kamu marah sama aku?" tanya Karamel meninggikan suaranya.
"Sopan kamu ngomong pake nada tinggi?" tanya Leo namun nadanya tidak setinggi Karamel hanya saja aura Leo lebih menyeramkan dari pada karamel.
__ADS_1
"Ma-maaf tapi ...."
"Kamu mungkin takut terjadi apa-apa sama aku tapi apa kamu tau, aku lebih banyak ngerasin takut kalo kamu ketemu sama Clara sendirian, aku nggak mungkin bisa tenang di rumah sakit sendirian tanpa kamu." ucap Karamel mengutarakan isi hatinya.
Leo tertegun dengan ucapa Karamel, raut wajah yang dingin seketika berubah menjadi lebih tenang.
"Clara punya obsesi besar sama suami aku, Clara punya ambisi untuk nyetubuhi suami aku, Clara juga nekat jebak suami aku. Apa kamu fikir aku bisa diem aja?" lirih Karamel, ketahuilah kini Karamel sedang dalam keadaan amarah yang memuncak dan juga perasaan cemburu tapi Karamel tidak berani menunjukkannya karena amarah Leo jauh lebih menyeramkan daripada dirinya.
"Apa kamu fikir aku marah sama kamu?" tanya Leo saat sudah memeluk tubuh Karamel dan Karamel hanya menganggukkan kepalanya.
"Aku suami kamu Kara, aku butuh yang namanya di hargai sebagai suami kamu, perintah suami kamu harusnya bisa kamu turutin tapi kamu terlalu keras kepala." ucap Leo membuat hati Karamel tersentil, sebegitu keras kepalanya kah dirinya?
"Karena cemburu, kamu jadi overprotective sama aku," ucap Leo seketika membuat jantung Karamel berdegup kenceng.
"Hah! A-pa? Aku cemburu? Enggak, enggak ...."
"Jangan lupa aku mantan pacar kamu yang berubah profesi jadi suami kamu, Kara," potong Leo semakin memengaruhi detak jantung Karamel yang sedari tadi berdegup sangat kencang.
Karamel akui Leo lebih tahu segalanya tentang Karamel dari pada orang lain termasuk dirinya sendiri, Karamel mendongakan kepalanya.
"Maaf udah buat keributan kecil di antara kita, aku keras kepala karena aku takut kejadian semalam terulang lagi," lirih Karamel merasa bersalah.
Keributan di antara mereka ini memang sangat konyol tapi Leo suka jika keributan itu menimbulkan kejujuran Karamel yang ternyata sedang merasa cemburu kepadanya.
"Kita bakal selesaiin semuanya hari ini." ucap Leo semakin erat memeluk tubuh istrinya dan Karamel mengangguk iya.
.............
Di tempat lain Diky dan Adit sedang membolos kuliah dan mereka berniat untuk jalan-jalan namun ketika melewati jalanan sepi, Diky melihat sebuah mobil berhenti di pinggiran jalan dengan seorang laki-laki berdiri di dekat mobil itu.
"Kasian," ejek Diky.
"Apaan?" tanya Adit.
"Enggak ad ...." Diky menganga ketika ia ingin mengalihkan pandangannya ke arah Adit, Diky melihat Leo ada di dalam mobil itu.
"Leo," pekik Diky membuat Adit mengerem mendadak.
"Mbahmu telur ... eh ayam ....!" latah Diky langsung menutup mulutnya.
"Woy! Kebiasaan lo ya, berhenti nggak ngomong-ngomong dulu." dengus Diky kesal karena barusan mulutnya melatah.
"Hehe sorry tapi ... bentar deh, lo tadi manggil Leo ya?" tanya Adit menatap tajam wajah Diky.
"Oh iya, gue liat mobil Leo berhenti di pinggir ... lah hilang dong," ucap Diky saat melihat ke arah belakang sudah tidak ada mobilnya lagi.
__ADS_1
"Benaran itu Leo? Wah! Dunia serasa sempit ya, kenapa coba kita harus ketemu sama dia mulu." kesal Adit membuat Diky menaikan sebelah alisnya.
"Mana gue tahu," sahut Diky.
"Gue enggak nanya lo," balas Adit.
"Di sini cuma ada kita berdua pe'a," pekik Diky.
"Bodo amat gue nggak perduli," dengus Adit kembali menjalankan mobilnya.
..................
...Kantor Binondra Group....
DI basement Karamel bertanya kenapa pertemuannya di kantor Leo bukan di sebuah restoran atau di rumah Clark Damyan.
Leo mengatakan bahwa dirinya mengundang Clara bukan Clark Damyan, dirinya ingin memprovokasi Clara.
"Inget ya kamu jangan keterlaluan sama dia nanti," peringat Karamel membuat Leo dan Jeffry terperangah.
"Hah?!" keduanya kaget dengan pernyataan Karamel.
"Apa?" tanya Karamel bingung akan keterkejutan Leo dan Jeffry yang begitu kompak.
"Maaf jika saya lancang Nyonya, tapi Nyonya tidak lupa akan kejadian semalam 'kan?" tanya Jeffry heran akan Karamel yang masih berbaik hati untuk tidak melakukan kekerasan atau kekejaman pada wanita yang telah menjebak suaminya sendiri.
"Bener sayang, apa kamu lupa sama tipu muslihat Clara semalem yang ngejebak aku sampai kamu kehilangan anak kamu demi nolongin aku," timpal Leo menolak secara halus kamauan konyol istrinya itu.
"Kamu cukup provokasi Clara aja, Leo." ucap Karamel membuat kedua laki-laki itu mendengus tak percaya.
"Karena yang bakal ngasih pelajaran sama Clara itu ... ya istri kamu dong," ucap Karamel tersenyum sumringah.
Leo dan Jeffry langsung menatap ke arah Karamel, mencari sesuatu keseriusan dari raut wajah Karamel hingga kedua keduanya menghela napas lega karena ternyata Karamel mengingat kesalahan Clara dan pastinya Karamel harus membalas semuanya dengan pembelajaran yang setimpal.
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
Ayo tingkatkan semangat author dengan terus vote, vote dan vote ... Jangan lupa juga buat Like dan Komen ya kakak-kakak.
Semangat author tergantung respon kalian. Semakin banyak pendukung, author pasti bakal rajin update setiap hari.
__ADS_1
Salam hangat dari author dan selamat membaca semua.