
Harap bijak saat membaca (21++)
.
.
.
.
"Hah?! Sepupu?" sontak semuanya kaget kecuali Rendi yang memang sudah tahu sejak dulu.
Leo dan Kevin mengangguk kepala malas, "Kok lo enggak ngomong kalo ada sepupu sih, Le?" tanya Diky namun Leo tidak menjawab.
"Sejak kapan lo kenal Karamel?" tanya Leo malah bertanya dengan Kevin.
"Dua tahun yang lalu," sahut Kevin.
"Em! Dua tahun yang lalu waktu aku di alun-alun Bandung selain sama Kak Biyan, mereka berdua juga ada kumpul bareng kita berdua kak Biyan." ucap Karamel membuat Leo mengerutkan dahinya.
"Jadi dua orang yang duduk di depan kamu sama Biyan itu ...."
"Iya, Karena mereka duduk di depan aku sama Kak Biyan, kamu jadi enggak liat jelas muka mereka berdua." potong Karamel.
Kenapa Karamel manggil Leo dengan panggilan yang berbeda? Fikir Kevin merasa tidak suka melihat Karamel memanggil Leo dengan panggilan 'Kamu' hatinya berdesir ingin murka.
Leo menatap tajam ke arah Kevin lalu Leo berjalan mendekati Karamel, "Aku cape, kita pulang sekarang!" ucap Leo dan Karamel mengangguk setuju.
"Kak, skateboardnya." ucap Karamel dan Kevin langsung mengembalikan skateboard milik Karamel.
"Makasih buat waktunya malam ini Kak Kevin–Kak Rendi, aku duluan ...."
"Enggak usah pamitan sama mereka," ketus Leo langsung menggapai pinggang Karamel lalu mereka beranjak pergi menuju parkiran mobil mereka.
"Ih kok kamu gitu, katanya Kak Kevin itu sepupu kamu, masa sama sepupu sendiri enggak ada sopan santunnya sih," celoteh Karamel.
Leo tidak menjawab, wajah Leo tampak murung dan itu membuat Karamel ikut diam dan pasrah saja mengikuti perintah sang suami.
"Ck! Masih sama kayak dulu suka gandeng milik orang lain dan sekarang lebih parah lagi, gandeng istri orang lain!" tukas Kevin.
Jujur, Kevin mengumpat Leo karena dirinya merasa cemburu dengan kedua insan itu. Walau Karamel telah menjadi istri laki-laki lain tapi entah kenapa nama Karamel tetap ada di dalam hati Kevin.
Karena Leo dan Karamel tidak memberitahukan status mereka sebagai suami-istri maka Faza, Diky, Adit, Dito dan Bobby tidak berani mengatakan kebenaran akan hubungan keduanya.
"Masih mau nongkrong di sini kak?" tanya Dito pada kedua laki-laki itu.
"Iya, lagi cape istirahat dulu di sini." sahut Rendi.
"Ya udah kalo gitu kita duluan ya kak!" ucap Diky mengangkat tangannya ke arah Kevin dan Rendi.
"Em!" sahut Kevin.
"Yok! Hati-hati bro," sahut Rendi membalas dengan mengangkat tangan sebelah kanannya ke arah kelima laki-laki itu.
"Besar banget nyali Leo peluk-peluk istri Henry, enggak takut di bangkrutin apa perusahaannya sama perusahaan GV Del Nixon Internasional." dersis Kevin berdecih.
Rendi mengernyit lalu Rendi menatap Kevin yang masih berdiri di depannya, "Lo pura-pura lupa atau emang enggak tahu! Hah?" tanya Rendi dan Kevin menoleh ke bawah untuk menatap Rendi.
"Apaan?" tanya Kevin.
"Makanya kurang-kurangin kerjaan lo yang terus-terusan mandangin foto Kara, sekali-sekali baca berita 'kek, perusahaan GV Del Nixon Internasional udah di ubah menjadi perusahaan Trixon Internasional bahkan CEO Henry udah di gantiin juga sama CEO Fico." ucap Rendi membuat Kevin membulatkan matanya tak percaya.
"Terus Henry?" tanya Kevin.
"Enggak ada berita lanjutan apapun tentang suami Kara," sahut Rendi.
__ADS_1
..............................
Di dalam mobil Leo maupun Karamel tidak mengeluarkan sepatah katapun. Karamel merasa sepertinya suasana suaminya itu sedang buruk sekarang, ingin rasanya Karamel bertanya apa yang terjadi dengan suaminya itu.
Namun melihat raut wajah datar sang suami, jangankan mengeluarkan suara untuk bertanya, napas Karamel saja sudah hampir berhenti karena merasakan aura membunuh sang suami bahkan sekarang sekujur tubuh Karamel juga ikut bergetar kuat.
Kenapa suaminya itu terlihat sangat marah?
Apakah suaminya itu cemburu?
Bukankah Kevin sepupunya, lalu kenapa suaminya itu harus cemburu?
Apa suaminya itu ada masalah dengan sepupunya sendiri?
Memikirkan semua itu Karamel menjadi menggeleng-gelengkan kepalanya pusing.
"Oke, entar kalo udah sampe rumah, gue tanya baik-baik aja deh," batin Karamel.
Sesampaimya di rumah, Leo dan Karamel langsung berjalan menuju kamar mereka, Karamel belum berani mengeluarkan suara bahkan saat Leo masuk ke kamar mandi dan keluar pun Karamel tetap diam.
Karamel masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya lalu Karamel keluar dengan mengenakan piyama kimono dress.
Karamel mendapatkan suaminya sedang berkutat pada laptopnya, helaan napas berat keluar dari hidung mancung Karamel.
"Leo," panggil Karamel pelan.
"Hem!" sahut Leo tanpa menoleh ke arah Karamel.
"What's going on?" tanya Karamel berjalan mendekati Leo di kasur.
"Apa besok kamu siap, kita pergi ke Singapura?" tanya Leo serius menatap wajah Karamel yang sudah duduk di depannya.
"Tentu, bukannya rencana kita emang ...."
"Walau di rumah kita ada tamu, apa kamu gak keberatan kita ninggalin tamu itu di rumah kita?" sela Leo membuat Karamel mengernyitkan dahinya.
"Apa ada tamu yang mau dateng ke sini?" tanya Karamel namun Leo tidak menjawab dan hanya menghela napas penjang.
"Kalo tamu itu mau tinggal di sini, untuk sementara waktu kita tunda dulu keberangkatan kita besok," ucap Karamel pelan.
"Enggak baik tamu di tinggal sendirian di rumah, Sayang!" tambah Karamel menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dengan Leo.
Leo masih diam menatap Karamel.
"Tapi aku 'kan istri kamu yang bakal ikut ke manapun kamu pergi, keputusan ada di tangan kamu dan aku gak akan nolak walau kamu tetep mau pergi besok!" seru Karamel membuat Leo tersenyum tipis.
Leo meletakkannya laptopnya di atas nakas lalu Leo memandangi wajah Karamel yang bersih tanpa di polesi makeup sedikitpun.
"Sebenernya aku gak perduli sama tamu yang bakal dateng ke rumah ...."
"Kok gitu?" potong Karamel.
"Gak apa-apa, males juga bahasnya," ucap Leo membuat tatapan Karamel perlahan melembut.
"Ada masalah?" tanya Karamel.
Leo melirik ke wajah Karamel yang tampak khawatir, namun tiba-tiba saja pandangan matanya jatuh ke bibir tipis dan leher mulus Karamel.
Glukk! Leo menelan salivanya lalu Leo mengalihkan pandangannya ke bawah, Leo mengepal kedua tangannya, menahan godaan yang ia lihat tadi.
Karamel membungkukkan sedikit tubuhnya hingga belahan dada Karamel nampak terekspos oleh mata Leo yang meliriknya.
"Leo?!" panggil Karamel pelan, entah kenapa suara Karamel terdengar se*y di telinga Leo.
"****," umpat Leo.
__ADS_1
"Kamu sengaja ya mau goda aku?" tanya Leo menatap intens mata Karamel, dan Karamel pun sedikit menjauhkan wajahnya.
"Apa? Siapa? Aku, enggak kok," kerutan di dahi Karamel menandakan dirinya sedang kebingungan.
Leo tersenyum miring lalu jari telunjuk dan jari tengah sebelah kanan Leo mengangkat dagu Karamel ke atas agar sedikit mendongak ke atas.
"Jangan bergerak," titah Leo.
Glukk! Dua jari itu bergerak menyentuh leher Karamel hingga Karamel melotot kaget dan ingin mengangkat tangannya untuk menyingkirkan tangan nakal Leo namun tiba-tiba tangan Karamel kambali lunglai di kasur akibat mendengar ucapan Leo.
"Sushhh, diem Kara," ucap Leo dengan suara berat hingga menusuk telinga Karamel, bahkan Leo bisa melihat Karamel terus saja menelan ludahnya dengan susah payah.
"Liat belahan sungai kamu, bikin aku pengen itu loh sayang!" ucap Leo membuat Karamel mengerutkan dahinya tidak paham, belahan sungai apa maksudnya.
Karamel menundukkan kepalanya ke arah tangan Leo, betapa terkejutnya Karamel kala belahan dadanya nampak terekspos, Karamel hendak menutupinya namun Leo mencegahnya dengan menangkap pergelangan tangan Karamel lalu mendorong tubuh Karamel hingga terlentang di kasur.
"Leo, a-aku ...."
"Apa kamu kira dengan cara kamu tutupin itu kamu, gairah aku bakal hilang? Sayangnya enggak Kara ... huff!!!" bisik Leo sembari meniup daun telinga sebelah kanan Karamel.
Leo mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Karamel yang memerah dengan mata yang melotot kaget sebab bisikan, tiupan, dan hembusan napas Leo yang membuatnya merinding.
"I wanna you tonight baby," ucap Leo membuat mata Karamel menatap dalam mata Leo.
Leo memejamkan matanya lalu Leo mencari kehangatan pada bibir Karamel dengan penuh kasih sayang, Karamel ikut memejamkan matanya ketika sang suami langsung menyambar tanpa aba-aba.
Tanpa melepas pangutan, tangan Leo mulai moving wild ke stomach Karamel lalu mera*a sampai ke two beautiful mountains of Karamel.
Sembari squeeze salah satu beautiful mountain Karamel yang masih tertutup br*, ciuman Leo turun menyusuri neck Karamel hingga tangan Leo squeeze dan bibirnya suck kuat neck Karamel.
"Emhhh," lenguh Karamel.
Mendengar itu, Leo menjadi semakin bersemangat. Tangan Leo kembali mera*a sampai ke bagian s*nsitf Karamel, mata Karamel langsung terbelalak kaget namun sungguh nakal tangan Leo yang caress manja bagian yang masih tertutup panties.
Perlahan Karamel kembali memejamkan matanya sembari menggigit bibir bawahnya kala merasakan sensasi luar biasa dari caress tangan sang suami.
"Sshhh!" kembali Karamel berdesis nikmat.
"Enak sayang," ucap Leo parau dan Karamel hanya bisa mengangguk kecil.
Leo sudah tidak sabar akan merasakan surga-dunianya malam ini, di lepasnya panties yang menutupi bagian sensit*f Karamel lalu Leo ingin mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri namun tiba-tiba ....
Tok tok tok ....
"Woy! Leo keluar lo dari kamar, gue mau ngomong sama lo sekarang!" pekik Kevin dari luar kamar Leo.
Karamel tampak terkejut mendengar suara Kevin di luar kamar mereka sekarang, "Kak Kevin ...."
Karamel tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena Leo sudah mencium bibirnya, Leo sangat menikmati cumbuannya namun Karamel tampak gelisah dan berusaha mendorong tubuh Leo.
"Woy budek, keluar lo!" pekik Kevin lagi.
Karamel menepuk-nepuk dada bidang Leo.
"Leo, Kak Kevin ada di luar ... empp ...." Karamel sulit menyelesaikan perkataannya bahkan Karamel harus menutup mulutnya agar tidak moan akibat Leo menekan bagian bawahnya.
"Leo, please ...." pinta Karamel parau dan Leo tidak tega jika Karamel sudah memohon.
Dengan berat hati Leo berhenti lalu mengumpat dalam hati ingin membunuh sepupunya itu karena datang di saat yang tidak tepat.
.......
.......
.......
__ADS_1
...::: Bersambung :::...
Author gemetaran saat menulis konten dewasa Karamel dan Leo guys....