Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part _ 144


__ADS_3

"Ka-Kara kau ... bagaimana bisa kau ... apa yang terjadi? Kenapa kau ... bukan kah kau sudah ...."


"Lihatlah cara bicaramu, kau tampak bingung dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada di fikiranmu sendiri." ejek Karamel datar.


Dengan mata yang masih terbelalak sempurna Henry terus memanggil nama Karamel, "Kara, katakan apa yang terjadi? kara ini ... apakah ini mimpi? Kara kau ... apa kau benar-benar masih hidup? Tidak, aku melihatmu dengan ... agh, aku menyaksikan dirimu di rumah sakit. Kau sudah ... kau meninggalkan aku. Ini tidak mungkin ... ini pasti ilusiku lagi ...." racau Henry bercampur aduk.


Karamel menyipitkan matanya, "Leo ...."


Karamel tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena Leo langsung menggenggam tangannya, "Antara masih ngerasa sedih atas kehilangan kamu, ngerasa di hantui arwah kamu dan juga kehadiran nyata kalo kamu masih hidup—Henry mungkin maksa otak dia buat berfikir keras," ucap Leo membuat Karamel menaikan sebelah alisnya.


"Kalo emang kayak gitu, lebih bagus lagi kalo itu bisa ngerusak saraf dia sampe dia jadi depresi kayak neneknya terus jadi gila seumur hidup." sengit Karamel membuat Leo tersenyum tipis.


Ketika Leo dan Karamel belum melepaskan genggaman tangan mereka, tiba-tiba Henry menatap tajam kedua tangan itu lalu Henry mendongak menatap Leo.


"Lepaskan tanganmu dari tangan istriku, Brengs*k," pekik Henry membuat keduanya menatap Henry.


"Oh, apa kau sudah sadar? Apa kau tidak merasa kebingungan lagi? Apa kau sudah yakin bahwa aku adalah Karamel? Apa kau juga ...." perkatan Karamel terpotong.


"Kara, aku memang merasa sangat kebingungan tapi aku sangat bahagia melihatmu masih hidup. Kau masih hidup, aku aku sangat kehilanganmu hingga aku merasa di hantui oleh arwahmu, Sayang." lirih Henry.


Karamel menatap Henry dengan tatapan tajam, "Yeah, aku masih hidup untuk membuatmu menyesal, Henry." sengit Karamel mempererat genggaman tangannya.


Merasakan Karamel yang semakin mempererat genggaman tangan mereka, Leo menghela napas melirik Karamel yang menatap tajam ke arah Henry.


"Tahan emosi kamu, Kara." ucap Leo membuat Karamel mengedipkan matanya lalu menatap lembut ke arah Leo.


"Apa yang kau katakan, Sayang? Aku adalah suami ...."


"Mantan suami," potong Karamel langsung memeloti Henry.


"Setelah aku tau semua kejahatanmu, aku langsung bertindak meminta cerai denganmu, pada akhirnya kita resmi bercerai dan kau, kau bukan suamiku lagi." sengit Karamel.


"Kita belum bercerai, Sayang. Kau masih sah jadi istriku," ucap Henry tidak suka Karamel mengatakan bahwa mereka telah bercerai.


"Ck, aku tidak perlu menjelaskan bagaimana bisa kita sudah bercerai karena itu tidak penting, yang terpenting sekarang bagaimana caraku membalas perbuatanmu yang membunuh Grandma dan Mamaku di lapangan tadi pagi." sengit Karamel.


"Sa-sayang ini rencana daddyku dan aku ...."


"Dan kau hanya menjalankan perintahnya saja, begitu juga dengan kami yang menjalankan tugas kami untuk menghukum kalian," potong Karamel tidak memberi izin Henry untuk menyelesaikan perkataannya.


"Jangan katakan ...."

__ADS_1


"Siapapun orang yang berani berurusan dengan keluargaku maka jangan salahkan aku jika sisi lain dari Karamel muncul untuk membalas perbuatan yang kalian lakukan," sentak Karamel.


"Kesalahanmu sudah membunuh dua anggota keluargaku, maka aku akan membalasmu dengan menyiksa dirimu," sambung Karamel.


"Tidak Sayang ...."


"Cukup, sekalipun kau bersimpuh di kakiku, aku tidak akan mengampuni Henry," pekik Karamel penuh amarah.


"Aku mencintaimu ...."


Plakk! Henry tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena Karamel telah melayangkan satu tamparan ke wajah Henry.


"Aku tidak perduli sebesar apa cintamu itu, jika aku kecewa karena Leo meninggalkan aku maka aku membencimu karena kau sudah melakukan kejahatan dengan mengincar semua anggota keluargaku untuk kalian bunuh, dan kau berhasil membunuh dua anggota keluargaku jadi untuk pertama kalinya aku membenci seseorang dan orang itu adalah dirimu, Henry. Aku membenci dirimu Henry." pekik Karamel mengepal tangannya.


Degg! Mata Henry melebar sempurna.


"Membenciku? Kara membenciku? Tidak, Karamel tidak mungkin membenciku, dia sangat mencintaiku jadi tidak ... yang dia katakan iitu bohong, itu semua tidak benar," batin Henry tidak percaya bahwa Karamel membencinya.


"Sa-sayang ...." Henry tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena Karamel lebih dulu menyelanya.


"Kebencianku tumbuh karena kau mencoba bermain api dengan anggota keluargaku," sengit Karamel.


Selagi tidak menyangkut-pautkan keluarganya, Karamel tidak pernah membenci siapapun termasuk para musuh-musuhnya tapi jika ada yang menyentuh atau melukai anggota keluarganya maka Karamel akan sangat membencinya bahkan menghukumnya dengan penuh penderitaan yang sepadan.


Karamel berjalan ke arah lantai di mana itu tempat dia melempar cambuknya tadi, dan sekarang Karamel mengambil cambuk itu untuk menghukum Henry.


"Aku tidak pernah di bentak keras tapi kau berhasil membuat jantungku bergetar hingga ketakutan, sekarang giliranku membuat jantungmu bergetar karena percikan cambukku ini." ucap Karamel berjalan memutari Henry.


Henry menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kau tidak akan melakukan ...."


Ce-tar ....


"Ssssempp ...!" Henry memejam kuat kedua matanya sembari menahan perih akibat cambukan Karamel yang mengenai tubuh bagian belakangnya.


"Kau bilang apa? Aku tidak akan melakukannya? Sayangnya aku tidak pernah main-main dengan ucapanmu sendiri, Henry." bisik Karamel dari belakang Henry.


"Kara, hentikan ...."


Ce-tar! Kembali Karamel mencambuk tubuh bagian depan Henry hingga wajah Henry memerah akibat menahan perih sekaligus sakit.


"Kau bilang hentikan? Kenapa aku harus berhenti, sedangkan kau saja tidak berfikir dua kali untuk menembakkan pelurumu ke jantung Grandmaku dan Mamaku." sengit Karamel membuat Henry mengepal tangannya.

__ADS_1


Ce-tar ....


Ce-tar ....


"Bahkan kau selalu mengelak dan merasa tidak pernah melakukan kesalahan apapun, kau mengatakan ini perintah itu perintah semuanya perintah Rega Ananda. Dan kau, kau hanya menjalankan perintah yang di mana itu semua adalah kejahatan, Henry." pekik Karamel.


"Kara, ini semua bukan salahku. Aku hanya menjalankan ...."


Ce-tar ....


Ce-tar ....


Ce-tar ....


Ce-tar ....


Dengan Emosional kembali Karamel membuat Henry bungkam dengan mencambukinya sampai bertubi-tubi.


"Lagi dan lagi kau mengatakan hal yang sama, kau tidak akan pernah mengakui kesalahanmu karena kau adalah laki-laki angkuh yang merasa paling benar di dunia ini," pekik Karamel.


"Hentikan Kara, aku memang tidak bersalah ...."


Ce-tar ....


Ce-tar ....


"Apa gunanya kau bicara, kau bungkam saja mulutmu itu karena maling tidak akan pernah berteriak maling, sama sepertimu yang bersalah tapi mengatakan tidak bersalah," pekik Karamel dengan amarah yang memuncak.


Leo menghela napasnya, "Ini pertama kalinya gue ngeliat Karamel marah kayak gini," batin Leo tampak sedih karena pasti Karamel merasa terpukul mengingat Henry telah mempermainkan kehidupannya dan keluarganya.


Leo sangat terkejut ketika Karamel berbicara dengan nada yang berwibawa dan juga nada tinggi yang memenuhi ruangan itu.


"Kamu bener-bener buktiin semuanya, semua tantang Tania yang lembut cuma topeng palsu sedangkan Karamel adalah realita kehidupan kamu yang kejam tanpa belas kasihan," batin Leo mengingat perkataan Karamel yang memperingati Leo bahwa Leo harus terbiasa dengan kehidupan Karamel.


Tania hanya di penuhi dengan sifat-sifat palsu yang sengaja untuk menjaga image saja. Sedangkan Karamel, Karamel adalah kehidupan penuh kebebasan yang sifat aslinya adalah sering bertingkah bar-bar, tidak perduli akan lingkungan sekitar dan tentunya nakal.


"Setelah ini aku bakal buat kamu jadi sedikit lebih lembut, Kara." gumam Leo tersenyum tipis menatap Karamel yang masih mencambuki tubuh Henry yang di mana baju dan celananya Henry sudah banyak yang bolong akibat perlakuan Karamel.


.......


.......

__ADS_1


.......


...::: Bersambung :::...


__ADS_2