
Keisha membuka matanya lebar saat mendengar bedside monitor Zoeya bersuara nyaring hingga memenuhi ruangan itu.
"Zoeya !!" pekik dokter Barrak dan dokter Aldert bersamaan, mereka terlihat panik karena untuk ketiga kalinya bedside monitor Zoeya menampilkan garis lurus.
Jeffry mengepal tangannya kuat kala dirinya mengingat kata-kata dokter Barrak semalam, 'Kita tidak akan punya peluang untuk melihat dia membuka matanya jika detak jantungnya kembali menghilang' dan hari ini bedside wanita itu menunjukkan garis lurus lagi.
"Zoe ...." panggil Keisha hendak memaksakan dirinya untuk bangkit dari tempat tidurnya namun Jeffry menahannya, keadaan Keisha masih lemah jadi pria itu belum boleh banyak bergerak.
"Keadaanmu masih lemah, brengs*k." ucap Jeffry membuat cemas, sejengkel apapun Jeffry pada Keisha, tetap saja Keisha adalah sahabat seperjuangannya di dunia gelap.
"Selamatkan d-dia," ucap Keisha lemah, tubuh pria itu tak mampu untuk bergerak luas, kepala pria itu semakin sakit begitu pula dengan hatinya yang terasa sakit dan ngilu.
"Aku mohon jangan pergi! Zoe, kakakmu tidak mengizinkanmu pergi. Kembalilah Zoe." batin Keisha pilu melihat tubuh adik tirinya yang sedang di tangani oleh dokter Aldert dan dokter Barrak.
Keisha menutup matanya kuat saat suara bedside monitor adik tirinya terus saja berbunyi nyaring hingga menyayat hati pria itu, suara teriakkan dokter Aldert dan dokter Barrak yang berusaha menyadarkan Zoeya sembari memanggil nama wanita itu terdengar samar di kedua telinga Keisha, hingga Keisha semakin kuat memejamkan matanya tiba-tiba saja dirinya merasakan cahaya putih di depannya.
"Kak Kei !" Dari cahaya itu ada Zoeya yang baru saja memanggil Keisha pelan sambil tersenyum dan melambaikan tangannya pelan di depan Keisha.
"Zoeya!" panggil Keisha membuat wanita itu semakin tersenyum lebar dan kembali melambaikan tangannya kepada Keisha seakan-akan wanita itu sedang melambaikan tangan perpisahan pada dirinya, perlahan kaki wanita itu bergerak untuk membalikkan badannya.
"No! Please don't go, come back now!" pekik Keisha, pria itu mengangkat tangannya ingin menggapai tubuh adik tirinya agar tidak membalikkan badannya untuk pergi namun entah kenapa rasanya sulit sekali baginya untuk bisa menggapai tubuh adiknya.
Zoeya memutar kepalanya untuk melihat kakak tirinya yang terlihat tidak rela dirinya akan pergi, wanita itu kembali tersenyum lebar membuat Keisha merintihkan air matanya, Zoeya menggelengkan kepalanya pelan sembari tangan kanannya bergerak ke wajahnya lalu jari jempol wanita itu mengusap pipinya sendiri seoalah-olah ia memberitahu kakak tirinya agar menghapus air matanya.
"Zoeya !!" pekik Keisha menggeleng kepalanya tidak rela, sungguh saat ini ia merasakan sesak di dadanya. Zoeya hanya tersenyum dan berjalan menjauh dari Keisha!
"No !!" pekik Keisha bersamaan dengan hilangnya cahaya itu, pria itu membuka matanya lebar dengan napas terengah-engah, pria itu dapat melihat lagi langit-langit rumah sakit yang putih lalu ia menolehkan kepalanya ke samping.
Keisha membulatkan matanya saat dokter Aldert dan dokter Barrak menggeleng-gelengkan kepalanya menyerah, terlihat kedua dokter itu menundukkan kepalanya menatap ke arah lantai saat usaha mereka gagal untuk mengembalikan detak jantung wanita itu.
Keisha terlihat tidak berkedip, ia menatap lurus pada wajah Zoeya yang pucat begitu pula dengan Jeffry yang mengepalkan tangannya kuat.
"Z-Zoe !!" lirih Keisha hendak bangun dari tempat tidurnya namun lagi-lagi Jeffry mencegah Keisha, keadaan Keisha juga sangat lemah, pria itu tidak akan sanggup untuk bangkit dari tempatnya berbaring.
"Lepaskan aku, brengs*k" ucap Keisha berusaha memberontak walau tenaganya kalah dari orang sehat seperti Jeffry.
"S-selamatkan ... selamatkan dia, Aldert." ucap Keisha menggerakkan tangannya ke udara seperti ingin menggapai tubuh adik tirinya.
"Barrak, d-dia sepupumu juga ... selamatkan dia." pinta Keisha mengingatkan dokter Barrak bahwa dirinya dan dokter Barrak masih satu keluarga besar karena ibu kandungnya dokter Barrak dan ibu kandungnya Keisha adalah saudara kandung, otomatis Keisha dan dokter Barrak adalah sepupu kandung.
Kedua dokter itu terdiam begitu juga dengan yang lainnya, hanya suara bedside monitor nyaring Zoeya dan suara lemah Keisha yang memenuhi ruangan itu.
Zoeya yang selama ini di kenal sebagai ratu penjahat padahal berhati malaikat telah menemui ajalnya!
"D-dia tidak boleh mati," lirih Keisha dengan mata memerah membuat Jeffry mengeraskan rahangnya kuat, apa ini? Keisha akan menangis lagi? Oh S*it! Jeffry menjadi tidak tega melihat air mata kesedihan sahabatnya itu.
Mata Keisha semakin menggenang, bukankah Zoeya selalu memanggilnya kakak? Keisha adalah kakaknya bukan? Lalu kenapa wanita itu tega meninggalkan kakaknya? Tidakkah Zoeya ingin merasakan kasih sayang dari seorang keluarga? Keisha akan memberikannya, apapun itu, semuanya Keisha akan berikan termasuk nyawanya! Maka kembalilah Zoeya.
"J-jangan biarkan dia mati, dia t-tidak boleh mati, d-dia masih belum merasakan ... k-kasih sayang yang dia inginkan." lirih Keisha pedih, air mata pria itu jatuh dari pelupuk sebalah kirinya lalu di susul air mata sebalah kanannya.
Kenapa Tuhan tidak mendengar permintaannya? Keisha percaya sekarang, pria itu sudah percaya selama ini hidup adik tirinya itu menderita. Ia ingin memperbaiki semuanya, ia ingin membalas rasa sakit hati adiknya, ia ingin memberikan perhatian pada adiknya, ia ingin memberikan kasih sayang sebagai seorang kakak pada adiknya, ia ingin memberikan kebahagiaan yang belum pernah ia berikan pada adiknya, ia ingin melakukan semuanya untuk adiknya.
"Aku mohon kembalikan nyawa adikku, Tuhan." batin Keisha dengan berderai air mata.
"Kenapa ini terjadi padanya?" lirih Abill, mata pria tangguh itu berkaca-kaca saat dirinya melihat adik tuannya telah menemui ajalnya.
"Dia sudah cukup menderita hidup di dunia ini, Keisha. Biarkan dia pergi dengan tenang!" pekik Jeffry bukan berbicara jahat namun pria itu benar-benar tidak tega melihat kesengsaraan hidup wanita itu, lebih baik wanita itu pergi dari dunia ini menuju surga dengan tenang dari pada dirinya hidup di bumi yang terasa seperti di neraka, wanita itu sudah sangat menderita.
Tidak bisa! Keisha akan sangat menyesal seumur hidupnya jika adik tirinya pergi tanpa memberikan sedikit kesempatan untuk Keisha yang ingin memperbaiki segala kesalahannya pada wanita itu.
"Relakan kepergian Zoeya, Kei." ucap dokter Aldert mendekati brankar Keisha, dokter Aldert sempat terkejut melihat Keisha menangis, ia yakin Keisha pasti sangat terpukul akan kepergian adiknya.
"She ... w-wake up !!" lirih Keisha tak lepas menatap ke arah brankar adik tirinya, air mata pria itu masih saja mengalir membuat Jeffry ingin sekali memukul wajah sahabatnya yang lemah itu.
"Aku tahu kau terpukul Kei tapi biarkan dia pergi dengan tenang." ucap Jeffry pelan, ini adalah pertama kalinya bagi Jeffry berbicara pelan dan lembut pada Keisha yang lemah.
"Kau harus kuat, Kei." ucap dokter Aldert menimpali.
Apa yang kedua sahabatnya itu katakan, dirinya harus kuat? Melihat adiknya yang sekarang, ia harus kuat dan membiarkan adiknya pergi dengan tenang? Keisha menggeleng-gelengkan kepalanya lemah.
"Bod*h !!" pekik Keisha menatap tajam dokter Aldert lalu Keisha menatap tajam ke arah dokter Barrak juga.
.........
Tiga hari kemudian, Leo kembali datang ke markas tersembunyi untuk menepati janjinya yang akan melenyapkan nyawa wanita itu.
Sring ... sring ....
Leo masuk ke dalam ruangannya tanpa adanya suara langkah kaki ataupun suara pintu, di depannya saat ini seorang wanita tengah duduk di lantai dengan kedua tangannya yang di rantai besi begitu juga dengan kedua kakinya, wanita itu tengah menikamati makan siangnya dengan air mata yang mengalir di kedua pelupuk matanya.
"Apakah daging Anji*g itu sangat lezat, Clara?" tanya Leo melihat Clara sedang memakan daging mentah yang masih di penuhi darah, dan pastinya itu adalah daging Anji*g karena Leo bisa mengenalinya hanya dengan melihat bentuk tubuh bintang itu saja.
Clara mendongakkan kepalanya, wanita itu semakin menangis deras, dirinya terpaksa memakan daging haram itu karena desakkan anak buah Leo. Dirinya sudah beberapa kali membantah tidak mau memakan daging haram itu namun akibatnya malah tubuh wanita itu di cambuk habis-habisan hingga dengan sangat terpaksa wanita itu harus memakan daging haram itu.
__ADS_1
"Apa kau tahu, saat ini kau mirip sekali seperti serigala kelaparan." ucap Leo tersenyum sinis karena melihat Clara sangat menderita.
"Silahkan lanjutkan makan siangmu, aku tidak akan mengganggumu tapi aku akan terus memantaumu," ucap Leo berjalan menuju kursi kebesarannya di sana. Ya, Clara di pindahkan ke ruangan milik Leo, cukup baik bukan pria itu membiarkan Clara menikmati suasana sejuk ruangannya.
"Kamu jahat, Leo." ucap Clara lirih namun Leo bisa mendengarnya samar, wanita itu berhenti memakan daging haram itu.
"Apa kau pernah mendengar kata-kata ini, jika kau bersikap baik padaku maka aku akan memperlakukanmu lebih baik lagi tapi jika kau bersikap jahat padaku maka aku akan memperlakukanmu lebih jahat lagi dari yang pernah kau lakukan." ucap Leo duduk sembari mengeluarkan benda tajam miliknya yaitu kerambit namun dengan ukuran yang lumayan besar dan ia letakkan di atas pahanya, pria itu sengaja menunjukkan benda tajam itu untuk menakut-nakuti Clara.
"T-tapi aku enggak pernah jahat sama kamu Leo, aku cinta sama kamu jadi aku enggak mungkin ngelakuin kejahatan apapun sama kamu." ucap Clara menangis untuk kesekian kalinya, ia berfikir apakah benda tajam yang di keluarkan oleh Leo akan digunakan pria itu untuk menyiksanya?
"Biar aku beritahu tau, istriku Karamel adalah bagian dari hidupku, kau berani macam-macam dengannya itu artinya kau sedang menantangku juga maka kau akan berhadapan langsung denganku." sengit Leo menatap tajam ke arah Clara.
"Kenapa? Kanapa harus Karamel?" pekik Clara emosi karena Leo begitu sangat mencintai Karamel.
"Lalu harus siapa? Kau yang rendahan itu? Benarkah?" tanya Leo bukan menjawab tapi dirinya bertanya pada Clara membuat Clara diam.
"Pandang dirimu sendiri di cermin, Clara. Seorang Cleo Rendra Agata sudah pasti sangat pantas bersanding dengan wanita manapun tapi kau, apakah kau pantas bersanding dengan penguasa hebat sepertiku?" tanya Leo sengaja sombong di depan Clara agar wanita itu bisa berfikir apakah yang di katakan Leo itu benar atau salah?
"Aku pernah mengatakan padamu, aku sangat mencintai Karamel begitu juga dengannya yang sangat mencintaiku tapi kau tidak memahami itu." ucap Leo sinis.
"Maka sekarang katakan padaku, apa yang harus aku banggakan dari wanita rendahan sepertimu? Apakah itu wajahmu? Tidak, istriku jauh lebih cantik darimu. Bentuk tubuhmu? Tidak, bentuk tubuh istriku bahkan lebih bisa membuatku bergairah karena miliknya tidak sebanding denganmu. Apa lagi selain itu? Kepintaran? Kehebatan? Atau keberanian? Tidak ada, semua yang aku sebutkan tidak ada pada dirimu, apa kau sadar itu?" tanya Leo sedikit meninggikan suaranya.
Sudah cukup bagi Leo menyebut kata cinta di depan Clara, wanita itu tidak pernah mengerti apa itu cinta? Atau bagaimana seharusnya orang bersikap atas nama cinta? Yang Clara ketahui hanyalah perbandingan antara dirinya dan Karamel.
"Kamu terlalu memandang tinggi wanita rendahan itu, Leo." ucap Clara tidak suka dirinya di rendahkan sedangkan Karamel di puja-puja oleh pria yang ia cintai.
Leo menatap datar wanita itu, ia mengepal tangannya kuat, tidak ada gunanya berbicara pelan-pelan dengan Clara karena wanita itu tidak akan pernah menerima kenyataan bahwa dirinya memanglah wanita rendahan yang sesungguhnya.
"Aku mencintaimu Leo," lirih Clara menangis sesegukan, wanita itu menatap sendu ke arah Leo, berharap pria itu akan merasa kasihan padanya.
"Baiklah! Kau mencintaiku bukan?" ucap Leo bangkit dari tempat duduknya lalu tangan pria itu terangkat ke udara sembari jari-jemarinya bergerak ke arah salah satu anak buahnya yang memegangi sebuah kotak hitam agar mendekat padanya, sehingga anak buah Leo pun berjalan mendekati tuannya itu.
Glukk ....
Clara menelan salivanya kasar saat Leo menyuruh anak buahnya yang sedang memegangi kotak hitam itu untuk mendekat, di benak Clara sekarang, apa isi dari kotak itu? Dan apa yang akan Leo lakukan padanya?
Leo berjongkok di depan Clara dengan mata tajam pria itu tidak lepas melihat penuh wajah Clara yang tampak tegang.
"Katakan, kau mencintaiku bukan?" tanya Leo menatap datar wajah Clara, dan dengan penuh percaya diri wanita itu menganggukkan kepalanya.
"Berikan tanganmu padaku," titah Leo tersenyum sembari mengangkat tangannya ke hadapan Clara. Glukk! Clara menelan salivanya sekali lagi namun melihat Leo tersenyum, wanita itu langsung menurut dan menggapai tangan Leo.
"Jangan berteriak, oke!" titah Leo pelan dan Clara menganggukkan kepalanya pelan, sikap Leo sangat lembut menurut Clara membuatnya mudah sekali terbuai.
Leo menyuntikkan sesuatu di lengan sebalah kanan Clara membuat Clara bertanya 'Apa yang di suntikkan pria itu?' tapi Leo hanya tersenyum tipis pada Clara seolah-olah memberitahu Clara agar jangan khawatir karena suntikkan itu tidak akan membahayakan wanita itu.
Sebelum Clara menyelesaikan perkataannya, Leo sudah lebih dulu memasukkan tangannya ke dalam kotak itu lalu Leo mengeluarkan isi dari kotak itu. Clara membulatkan matanya saat kalajengking berwarna hitam sedang hinggap di tangan kekar Leo.
"Kalajengking?" pekik Clara hendak menjauh namun entah kenapa tubuhnya menjadi tidak bisa di gerakkan.
"Jangan panggil dia Kalajengking tapi panggil dia Vanclo, itu adalah namanya." ucap Leo tersenyum mengelus kepala kalajengking itu, Clara mengerutkan dahinya. Kenapa Kalajengking itu tidak mengigit Leo? Fikirnya.
"Apa kau tahu Clara, dia adalah peliharaan yang sangat di sayangi oleh Kakakku ... ah maksudku aku dan Kakakku sama-sama menyayangi Vanclo." ucap Leo menggerakkan tangannya ke lantai, di mana kalajengking itu langsung turun dari tangan Leo ke lantai coklat itu.
"Dia adalah salah satu makhluk hidup yang patuh," ucap Leo mengacungkan jari telunjuknya ke arah kaki Clara hingga Kalajengking itu berjalan ke sana, benar-benar makhluk hidup yang patuh kan!
Napas Clara tercekat kala Kalajengking itu menaiki kakinya, air mata wanita itu menetes deras kala dirinya tidak bisa menghindar, tubuhnya kaku bagaikan patung karena Leo telah menyuntikkan obat yang membuat lumpuh seluruh tubuh wanita itu
"Singkirkan makhluk itu dari tubuhku, Leo." pinta Clara masih bisa bicara. Ya, obat itu tidak akan membuat Clara kesulitan bicara ataupun berteriak karena Leo ingin mendengar jeritan kesakitan wanita itu.
"Sebelum aku menyingkirkan Vanclo dari kakimu, apakah sebelumnya kau pernah ingin menyingkirkan niat jahatmu pada istriku?" tanya Leo membuat Clara bungkam.
"Tidak pernah bukan, maka aku pun tidak akan menyingkirkan Vanclo dari tubuhmu." ucap Leo tersenyum miring.
"Beri sengatan manis pada kaki itu, Vanclo." ucap Leo menggerakkan kaki Clara hingga membuat Kalajengking itu menyengat kaki Clara.
"Aaaaarrrrrgggg !!!" pekik Clara merasa sakit dan nyeri di kakinya hingga kaki putih wanita itu menimbulkan kemerahan dan pembengkakan.
Leo tersenyum puas ketika Clara berteriak kesakitan, Leo kembali menunjuk bagian tubuh Clara yang lain hingga Kalajengking itu patuh dan menyengat lagi dan lagi tubuh Clara membuat Clara manangis sangat-sangat kesakitan.
Ketika sudah merasa puas bermaim-main dengan Kalajengking, Leo mengambil Kalajengking itu dari tubuh Clara lalu ia masukkan ke dalam kotak hitam itu lagi namun Leo menyuruh anak buahnya yang memegang kotak hitam kedua dan ketiga untuk mendekat.
Leo mengeluarkan isi kotak kedua, di mana isinya adalah serangga yang suka menggigit yaitu Kelabang lalu di kotak ketiga ada laba-laba merah yang sangat juga suka mengigit.
"Perkenalkan juga ini adalah Anala," ucap Leo pada Kelabang itu lalu Leo meletakkannya ke atas paha Clara membuat tubuh Clara bergetar kuat.
"Dan ini adalah Feola! Dari semua serangga peliharaanku, dia adalah satu-satunya berjenis kelamin wanita." ucap Leo juga meletakkan laba-laba merah yang sangat berbisa itu ke bagian pundak Clara membuat Clara memejamkan matanya ketakutan setengah mati.
Kemudian Leo memerintahkan kedua serangga peliharaannya untuk menggigit tubuh Clara dengan sesuka hati mereka hingga membuat Clara menjerit terus-menerus sembari air matanya tak pernah berhenti mengalir.
"Leo, c-cukup !!" ucap Clara tak mampu berbicara lurus karena di dalam tubuh wanita itu sudah terdapat berbagai jenis racun dari ketiga serangga peliharaan Leo.
Wanita itu masih menangis pedih, apa yang di katakan oleh semua anak buah Leo serta tangan kanan Leo benar-benar terjadi, Leo benar-benar pria yang sangat kejam, pria itu tidak menyiksa menggunakan benda tajam namun pria itu menggunakan berbagai macam serangga yang mematikan.
__ADS_1
"Melihatmu seperti ini, aku menjadi tidak tega untuk membunuhmu, Clara." ucap Leo dengan raut wajah pura-pura sedih.
Aghh ....
Clara kembali berteriak kala kedua serangga itu mengigit secara bersama namun tempatnya berbeda, satu Kelabang itu menggigit di bagian perut Clara dan satunya laba-laba merah itu menggigit di bagian leher Clara.
"Bagaimana jika aku membiarkanmu bernapas sepuasmu? Ya, kau tidak akan mati." ucap Leo tersenyum lebar lalu ia mendekatkan wajahnya di dekat daun telinga Clara hingga napas pria itu bisa Clara rasakan menyentuh kulitnya.
"Kau tidak akan mati tapi kau akan terus di siksa sampai kau menjadi mayat, bagaimana? Kau menyukainya bukan?" tanya Leo tersenyum penuh kepuasan membuat Clara menangis lagi dan lagi, pria itu sangat kejam. Clara menyesal telah mencintai pria itu!
"Inilah wujud asli pria yang sangat kau cintai Clara, apa kau sangat menikmati permainan yang aku berikan? Ah, kau pasti sangat menikmatinya bukan." ucap Leo mengambil kedua serangga peliharaannya dari tubuh Clara lalu ia letakkan ke dalam kotak hitamnya kembali.
"K-kamu jahat Leo, a-aku benci sama kamu." ucap Clara terisak namun Leo suka melihat air mata kepedihan itu.
"Kenapa? Setelah kau melihat siapa diriku yang sebenarnya kau menjadi sangat membenciku, kenapa Clara?" tanya Leo mengerutkan dahinya sembari tersenyum miring.
Srett ....
"Itu karena kau memang hanya terobesi padaku, wanita busuk." sengit Leo sembari menyayat wajah wanita itu.
"Ini baru permulaan, Clara." ucap Leo membuat Clara menggeleng kepalanya cepat, sungguh dirinya tidak akan sanggup menerima siksaan dari Leo lagi.
"Cambuk dia sampai pingsan," titah Leo berdiri lalu berjalan keluar dari ruangannya. Ctarr! Ctarr! Anak buah Leo mencambuk tubuh Clara hingga suara jeritan wanita itu menembus bagian luar markas itu.
.........
Seminggu kemudian, Karamel dan baby Greydon sudah di perbolehkan dokter untuk pulang ke rumah namun keadaan Karamel masih belum sembuh total jadilah dokter Anggika menyuruh kedua asisten pribadinya untuk merawat Karamel dan baby Greydon di rumah mereka. Leo tidak bisa menolak perintah dokter Anggika karena semua yang di lakukan dokter Anggika juga demi kebaikan istri dan anaknya.
"Ini semua anak buah kamu, Mas?" tanya Karamel ketika mereka masuk ke dalam mobil dan melihat sekeliling rumah sakit ada banyak pria berpakaian serba hitam.
"Hem! Penjagaan kamu harus di perketat Kara, aku enggak mau ngambil resiko." ucap Leo membuat Karamel diam.
Karamel menolehkan kepalanya ke belakang, lebih dari sepuluh mobil anak buah Leo berbaris di belakang mobil milik Leo, sungguh suaminya itu sangat berlebihan sekali.
"Abu bu bu! Ganteng anaknya siapa? Anaknya Papa ya." ucap Leo bermain dengan anaknya yang ada di gendongannya membuat tersenyum geli melihat tingkah suaminya itu.
"Anaknya Mama juga dong." ucap Karamel.
"Tapi gen-nya lebih mirip siapa, Papanya dong. Iya 'kan ganteng? Iya he'em." ucap Leo dengan gemas mencolek-colek hidung putranya, hingga Karamel memutar bola matanya namun wanita itu tetap tersenyum tipis.
Yeah! Leo sangat bahagia sekali atas kelahiran anak pertamanya, ia bermain dan bercanda bersama dengan anaknya hingga lupa dengan keberadaan istrinya.
Ketika sampai di rumah, Leo langsung turun dari mobil membawa baby Greydon bersamanya begitu juga dengan Karamel, semua pelayan di rumah menyambut kedatangan mereka namun Leo acuh dan masuk ke dalam rumah begitu saja.
"Tuan begitu bahagia bermain dengan baby Greydon sampai Tuan melupakan anda, Nyonya." ucap salah satu asisten pribadi dokter Anggika yaitu Desi.
"Sepertinya begitu, Sus." ucap Karamel tidak tersinggung.
Karamel pun masuk ke dalam rumah dan hendak naik ke atas namun langkah kaki Karamel terhenti ketika ia terbayang sesuatu tentang halaman belakang rumah itu, ia masih penasaran dengan pintu di halaman belakang rumah itu.
Karamel mendongakkan kepalanya ke atas, dirinya harus bertanya pada suaminya tentang apa isi pintu di belakang itu. Kenapa suaminya itu selalu panik jika pintu halaman belakang itu terbuka? Karamel pun melangkahkan kakinya menaiki tangga.
"Mas," panggil Karamel ketika ia masuk ke dalam kamarnya, Karamel menatap sekeliling kamar mereka yang berbeda dari biasnya karena Leo telah mendesain kamar itu seperti kamar anak-anak yang banyak sekali mainan.
"Sayang?" panggil Leo membuat Karamel menoleh ke arah suami dan anaknya.
"Ini ...."
"Gimana desain baru kamar kita? Bagus enggak?" tanya Leo dan Karamel tersenyum sembari mengangguk, ia suka desain baru kamar mereka walau terlihat seperti kamar anak-anak tapi kamar itu dominan berwarna gelap, cocok dengan dengan anak mereka yang berjenis kelamin laki-laki.
"Aku mau Greydon tidur satu kamar bareng kita," ucap Leo dan Karamel tentu saja setuju.
"Mas," panggil Karamel duduk di sofa, tempat di mana suami dan anaknya tengah duduk dan bercanda ria.
"Boleh aku tanya sesuatu?" pinta Karamel pelan.
"Apa sayang?" tanya Leo menatap istrinya sekilas lalu kembali menatap wajah anaknya.
"Aku masih penasaran sama pintu yang ada di halaman belakang rumah," ucap Karamel dengan sangat hati-hati, ia sengaja menjeda kata-katanya dan ingin melihat reaksi wajah suaminya namun raut wajah Leo tiba-tiba berubah datar, pria itu menyipitkan matanya menatap Karamel.
"Lupain aja, a-aku enggak bakal nanya so'al itu lagi." ucap Karamel cepat dan langsung berdiri kemudian ia pergi meninggalkan suaminya ke kamar mandi.
.........
"Buka mulutmu," titahnya dengan sangat tajam dan sedikit menyentak, auranya masih sama sangat dingin dan tajam, jika perintahnya tidak di turuti akan di pastikan akibatnya menjadi fatal.
"Aku membawa binatang peliharaanku jika kau mau bermain dengannya," ucapnya sinis tapi lebih ke mengancam membuat lawan bicaranya terpaksa membuka mulutnya.
.
.
.
__ADS_1
.....::: Bersambung :::.....
...Jangan pada sedih ya karena Zoeya udah enggak ada....