
Tatapan keduanya bertemu, yang satu tersenyum manis hingga ketampanannya menjadi berkali-kali lipat dan yang satunya lagi menampilkan raut muka datar.
"Kara," panggil Leo lembut namun bola mata Karamel langsung beralih ke arah belakang Leo.
"Gue di sini," pekik Karamel melambaikan tangan sebelah kanannya ke udara sehingga Adit dan Diky menoleh ke sumber suara Karamel.
"Itu laki Kara?" ucap Adit menujuk punggung Leo yang ia kira adalah Henry.
"Wah mending lo yang duluan jalan," ucap Adit mendorong Diky agar berjalan lebih dulu.
"Kayaknya yang lebih muda yang duluan deh," ucap Diky memutar tubuhnya ke belakang Adit.
Henry yang usianya sudah tidak muda lagi, di tambah wajah pria itu yang amat menakutkan membuat Diky dan Adit tidak sanggup untuk mendekat.
"Kau 'kan abang," ucap Adit.
"Kau 'kan adek," balas Diky.
"Abang ...."
"Woy!!!" pekik Karamel menghentikan perdebatan kedua orang itu sehingga Adit dan Diky serentak menoleh ke tempat Karamel.
"Leo?!" pekik keduanya memelotot kaget kala Leo membalikan badannya ke arah mereka berdua.
Adit dan Diky saling tatap muka lalu mereka berdua berlari mendekati Karamel dan Leo.
"Lo berdua," ucap Leo senang bisa bertemu sahabatnya lagi.
"Ngapain lo balik lagi ke sini?" tanya Diky datar membuat Leo tampak kaget melihat sahabat lamanya seperti tidak suka akan kehadiran dirinya.
"Dik, lo ...."
"Kalo nggak ada kepentingan lagi, kita mau permisi pergi," ucap Adit sama datarnya dengan Diky.
"Lo berdua ...."
"Dengar ya Leo, walau lo masih bagian dari SALF BADRAD, gue sama yang lainnya tetep nggak bakal tinggal diem kalo semisalkan lo nyakitin Karamel lagi." potong Adit datar.
Leo menatap heran ke arah Adit.
"Kita semua kecewa sama lo tapi kita nggak pernah benci sama lo, cukup lo introspeksi diri aja dulu abis itu maybe kita bakal maafin lo," ucap Diky.
"Mungkin juga enggak," sahut Adit tersenyum sinis.
"Udah selesai 'kan? Ya udah kita pergi sekarang." ucap Karamel merangkul tangan kanan Diky dan tangan kiri Adit.
"Let's go !!!" sahut keduanya, lalu mereka bertiga pergi meninggalkan Leo.
"Maaf, Le. Gue udah anggap Karamel kayak adek gue sendiri jadi siapa pun yang nyakitin dia, gue pastiin orang itu bakal nyesel seumur hidupnya." batin Diky dengan tatapan tajam.
"Sorry bro, Karamel udah jadi bagian dari hidup gue, kalo lo nyakitin dia otomatis lo nyari masalah sama gue juga." batin Adit pula.
..............
Adit, Diky dan Karamel banyak menghabiskan waktu mereka nonton bioskop, karaokean, bermain di outboundholic Ancol jakarta utara, main permainan di dufan, main di Houbii Urban Adventure Park jakarta selatan dan masih banyak lagi.
Dan pada malam hari mereka mengistirahatkan diri di cafe masa SMA mereka dulu yaitu cafe Gourmet.
"Oh my god, hari ini gokil abissss!" seru Karamel berteriak.
"Elo tu yang gokil, hampir semua permainan di jakarta ini mau lo mainin semua. Udah nggak ingat waktu lagi lo, nggak takut di marah suami lo apa?" celoteh Adit membuat Karamel membulatkan matanya menatap Adit dan Diky secara bergantian.
"Astaga, gue lupa kalo gue udah punya suami." ucap Karamel menggertak meja.
__ADS_1
Adit dan Diky saling tatap muka lalu mereka berdua terbahak akan tingkah Karamel yang lupa akan statusnya yang sudah menikah.
"Anji*g lo berdua! Gue pulang duluan ya," umpat Karamel seraya langsung berpamitan.
"Biar kita an ...."
"Enggak usah, gue bisa naik taxi," tolak Karamel langsung pergi dari cafe.
"Gilak! Kok gue bisa lupa sih kalo gue udah punya suami," gerutu Karamel.
Ketika Karamel berdiri di pinggir jalan tiba-tiba ada mobil hitam berhenti di depan Karamel.
Dari pintu belakang seorang perempuan turun dari mobilnya, "Trash ****?!" panggilnya membuat Kara mendongak menatapnya.
Mata Karamel sedikit melebar, "Kenapa gue bisa ketemu sama nih cewek." batin Karamel.
"Ternyata kau masih sama seperti dulu, kampungan." ejeknya pada Karamel.
"Zoeya, aku tidak punya waktu ...."
"Hei anak miskin, ternyata kau masih ingat denganku." potong perempuan yang bernama Zoeya itu.
(Zoeya An Blende).
Zoeya adalah perempuan yang sombong, sok berkuasa, merasa paling cantik sendiri dan juga iri-an dengan orang lain, Zoeya berasal dari keluarga kaya yang cukup di kenal di California.
Zoeya selalu memojokan Karamel karena penampilan Karamel yang tidak pernah setara dengan anak-anak kelas atas.
Karamel di ketahui bersekolah di Amerika karena mendapatkan beasiswa maka dari itu Karamel di cap sebagai trash **** yang tidak pantas bergaul dengan anak-anak kelas atas.
Se masa di Amerika nama yang di pakai oleh Karamel adalah Tania namun tiba-tiba saat Karamel akan pindah ke Indonesia nama Karamel tersebar karena Zoeya. Semua murid jadi semakin tidak suka dengan Karamel yang mengganti nama demi menutupi identitasnya.
"Ya Tuhan selamatkan hamba dari perempuan menyebalkan ini." batin Karamel.
Karamel selalu berpenampilan sederhana yang tidak pernah menunjukan jati dirinya sebagai orang kaya dan Zoeya suka sekali membullynya.
"Malam ini aku akan meloloskanmu, gadis kampungan, tapi untuk lain kali jangan pernah muncul di depanku lagi atau Zoeya An Blende akan melakukan perbuatan yang sulit untuk di bayangkan, trash ****!!!" ucap Zoeya pergi meninggalkan Karamel.
"Dasar nenek lampir." dersis Karamel.
"Sabar Kara, lo tau sifat Zoeya kayak gitu jadi sabar, Huuhh!!!" ucap Karamel berjalan pergi.
Setelah beberapa menit akhirnya Karamel bertemu dengan taxi juga, di dalam taxi Karamel mengingat masanya waktu di Amerika.
Masa di mana seorang laki-laki yang bernama Justin dekat dengan Karamel dan ternyata Zoeya menyukai laki-laki itu.
Masa saat Justin menolak cinta Zoeya dan Zoeya melampiaskan amarahnya pada Karamel.
Masa ketika Zoeya menindas Karamel hingga Karamel mendapatkan julukan trash **** di sekolah.
Masa di mana Karamel di tuduh mencuri barang Zoeya hingga di tuding sebagai anak pencuri dari keluarga miskin yang kekurangan uang, Dan masih banyak lagi yang Karamel alami karena Zoeya.
"Ck! Gara-gara ketemu dia, mood gue jadi jelek lagi 'kan." kesal Karamel.
Sesampainya di depan mansion, Karamel mengintip gerbang dan terlihat mobil Henry di depan mansion.
"Aduh, suami gue udah pulang nih." gumam Karamel membulatkan matanya.
Prankk! Prankk! Samar-samar Karamel mendengar pecahan guci dan benda lainnya dari dalam rumah.
"Gawat, suami gue pasti marah nih," gumam Karamel bersembunyi di semak-semak.
Karamel memutar fikirannya untuk mengacak-acak rambut dan pakaiannya lalu ia menghancurkan handphonenya seakan-akan dirinya baru saja terkena musibah.
__ADS_1
"Sempurna," gumam Karamel kemudian berjalan mendekati gerbang, tak lama dari itu, ia memencet bel gerbang mansion.
"Nyonya ....!!!" panggil beberapa bodyguard kaget melihat penampilan Karamel yang kacau seperti habis di aniaya saja.
"Nyonya, apa yang terjadi dengan Nyonya?" tanya kepala pelayan mansion Henry yang entah sedang apa bapak paruh baya itu berdiam diri di pos secutity mansion Henry.
"Saya ... tidak ada, Pak." Karamel berpura-pura menutupi apa yang terjadi dengan dirinya.
Karamel berjalan menuju pintu utama mansion Henry. Glukk! Air liur Karamel seketika menjadi kering.
"Anj*r, gugup gue!" batin Karamel.
Henry mendongakkan kepalanya menatap sang istri yang penampilannya sangat berantakan sekali, "Baby Gir ...."
Degg! Degg! Wah wah wah, jantung Karamel malah dugem di dalam sana. Tes! Buset dah, air mata Karamel tiba-tiba jatuh membasahi pipinya. Bukan karena pura-pura tapi karena Karamel sedikit merasa takut akan sang suami yang menatap tajam dirinya.
Henry memang sedang marah karena sang istri tidak pulang ke rumah namun ketika melihat penampilan dan juga tangisan Karamel, api amarah Henry menghilang seketika.
Henry mendekati Karamel lalu menyentuh pundak sang istri yang bergetar kuat.
"Gilak, kenceng amat tu tangan megang pundak gue," batin Karamel menggigit bibir bawahnya.
"Sayang, kenapa kau menangis? Apa yang terjadi denganmu? Kenapa penampilanmu sangat berantakan?" tanya Henry penuh kekhawatiran.
"Gue takut sama lo tauk." sahut Karamel di dalam hati, ia tidak berani mengeluarkan suara.
"Tenanglah," ucap Henry memeluk sang istri.
"Ma - ma - ma ...."
"Ma - ma - ma apaan jubaedah, mak ronggeng maksud lo? Nyebelin banget, ngomong maaf aja susah banget," kesal Karamel dalam hatinya. Dia kesal dengan dirinya sendiri ya.
"Mau ngomong apa hem? Pelan-pelan," ucap Henry mengelus rambut Karamel.
"Maaf." lirih Karamel.
"Katakan, ada apa sayang?" tanya Henry mengelus puncak kepala Karamel.
Karamel tidak berani untuk berbohong tapi Karamel juga takut akan amarah sang suami, Karamel mendongakan kepalanya untuk menatap Henry. Lah serem dong! Karamel jadi memasang tampang memelas.
"Mau ke kamar," lirih Karamel masih dengan air mata yang mengalir. Henry mengangguk lalu ia menggendong sang istri ala bridal style.
Henry membawa Karamel menuju kamar mereka di lantai dua, setelah sampai Henry mendudukan Karamel di sofa.
"Maaf," lirih Karamel lagi.
"Jangan membuatku merasa ...." ucapan Henry terpotong.
"Apa kau marah denganku?" tanya Karamel.
Henry terdiam menatap sang istri, jika di tanya seperti itu maka Henry harus jawab apa? Tentu saja marah karena istrinya pulang malam? Tapi keadaan Karamel yang berantakan membuat Henry tidak sanggup mengatakan apa yang ia rasakan terhadap istrinya itu.
"Aku bersalah karena pulang malam, aku bersalah karena lupa akan statusku yang sudah menikah, aku bersalah karena punya niatan untuk berbohong denganmu, aku salah, Mas. Maafkan aku," lirih Karamel menunduk.
Karamel tidak berani menatap wajah sang suami yang mungkin menatap tajam dirinya.
Henry meletakan tangannya di kepala Karamel, membuat tubuh Karamel bergetar kuat, pasalnya kemarin lehernya sudah pernah di cekik dan mungkin sekarang suaminya itu akan menjambak rambutnya juga.
"Jangan please, gue gak mau jadi korban kd rt," batin Karamel memejamkaan matanya kuat.
.......
.......
__ADS_1
.......
...::: Bersambung :::...