Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 32


__ADS_3

...Mohon maaf di sini ada kekerasan antar siswa, di kira menurut para reader tidak pantas di baca silahkan di skip ya.👌😬...


.......


.......


Bel istirahat berbunyi semua murid telah berhamburan keluar kelas menuju kantin, perpustakaan, lapangan bahkan bagi anak-anak nakal ada yang keluar sekolahan untuk membolos.


"Kantin kuy." ajak Dito.


"Kuy." sahut Bobby.


"Gue enggak," ucap Abdi.


"Jangan lembek kayak cewek, bangun enggak lo," sentak Dito namun Abdi hanya diam.


"Buruan bangun dari bangku lo," ucap Bobby.


"Kalian aja!" ucap Abdi kembali menolak, pria itu merasa pusing karena kedua sahabatnya itu terus-terusan memaksanya ikut ke kantin padahal Abdi ingin diam di kelas saja.


"Gue enggak ...."


Belum selesai Abdi bicara, tangan Abdi sudah lebih dulu di tarik oleh Dito dan Bobby hingga Abdi hanya bisa pasrah saja di tarik oleh kedua sahabatnya itu tapi baru setengah perjalanan, tepatnya di dekat tangga tiba-tiba mereka melihat Leo, Diky, dan Rio pisah jalan. Leo dan Diky pergi entah ke mana sedangkan Rio? Dia malah naik tangga menuju kelas XII hingga langkah Abdi berhenti kala dirinya penasaran kenapa Rio pergi sendirian.


"Ngapain lo berhenti?" tanya Dito.


"Kalian duluan aja, gue ada urusan bentar," hcap Abdi pergi menaiki tangga, setelah Abdi mengikuti Rio ternyata Rio pergi ke rooftop sekolah sendirian.


"Ngapain tu anak sendirian di sini." batin Abdi heran, pria itu berdiri di dekat pintu, samar-samar pria itu medenger gumaman Rio.


"Hidup gini banget ya!" ucap Rio menatap matahari.


"Ada masalah apa lo?" tanya Abdi berjalan mendekati Rio membuat Rio menurunkan kepalanya dari pandangan matahari lalu ia menoleh ke samping kanan, Rio mengernyit lalu ia kembali mengalihkan pandangannya ke depan.


"Ngapain lo ke sini? Sendiri lagi." tanya Rio datar, pria itu sengaja menunjukkan raut wajah tidak sukanya terhadap Abdi.


Abdi duduk di pojok sofa, "Lo sendiri ngapain di sini? Sendirian lagi, lo lagi ada masalah?" tanya Abdi namun Rio menatap tajam Abdi.


"Bukan urusan lo." sengit Rio.


"Lagi ada masalah apa lo?" tanya Abdi lagi.


"Gue bilang bukan urusan lo," sengit Rio.


"Udahlah mending lo pergi, gue lagi nggak mau di ganggu apalagi sama pengkhianat kayak lo." usir Rio membuat Abdi mengepal tangannya kuat, Abdi kesal tapi dirinya berusaha menutupi kekesalan itu.


"Ternyata sebuah janji itu emang kadang susah buat di tepatin ya," sindir Abdi, ketahuilah Abdi mengatakan itu karena ingin membuat Rio mengingat masa lalunya.


"Dan ternyata mempertahankan itu enggak menjamin akan kebersamaan," sengit Rio sama seperti Abdi yang ingin mengingatkan Abdi akan masa lalu mereka.


Kedua pria itu saling menatap tajam satu sama lain, mereka bagaikan musuh yang saling membenci padahal nyatanya mereka berdua terpisah oleh sebuah masalah.


............


Sepuluh menit berlalu Leo dan Diky berdiam diri di kantin bie'em, pada akhirnya Leo mengajak Diky untuk kembali ke sekolah karena bosan duduk di kantin bie'em, "Dik." panggil Leo.


"Kenapa?" tanya Diky tanpa menatap Leo.


"Balik ke sekolah," ajak Leo merampas handphone Diky membuat Diky berteriak kala dirinya hampir akan mendapatkan 'Savage' di permainan mobile legend namun Leo tidak menghiraukan Diky dan berlalu meninggalkannya.


"Buruan." pekik Leo hingga Diky langsung berlari mengejar Leo tapi tiba-tiba Diky berhenti kala seseorang melempar sepatu mengeni kepala Leo.


"Wah!!!" gumam Diky menganga, Leo meringis pelan lalu ia memegangi kepalanya dan mengambil sepatu besar itu.


"Woy! Siapa yang berani lempar gue pake sepatu jelek ini? Hah!" pekik Leo seraya kepalanya menoleh ke arah kanan dan kiri.


"Gue," ucap seseorang datang menghampiri Leo bersama dengan tiga temannya yang lain, Diky yang melihat ada empat orang mendekati Leo, dengan cepat berlari mendekati Leo.


"Lo enggak apa-apa?" tanya Diky pada Leo dan di balas anggukan oleh Leo.


"Ulululu ... sakit ya, anak Mama," ejek Danu membuat ketiga temannya tertawa mengejek Leo, Diky menjadi naik pitam karena ulah musuh bebuyutan mareka dari sekolahan Sinara High School Internasional.


"Makanya udah berapa kali gue peringatin lo keluar dari tim basket atau gue enggak akan pernag berhenti ganggu hidup lo tapi sampai detik ini lo tetap bertahan di posisi lo, itu artinya lo minta gue hajar terus," ucap Danu.


"Ck? Malu lo karena sering kalah dari sekolahan kita? Atau lebih malu karena Leo lebih hebat dari lo," sengit Diky mempermalukan Danu membuat Danu mengeraskan rahangnya marah.


"Dia bukan tandingan gue karena dia itu masih junior rendahan gue, iya 'kan Leo." ejek Danu tersenyum sinis.


"Maksud lo apa, Bangs*t." pekik Diky.

__ADS_1


"Udah, Dik!" lerai Leo dengan tenang.


"Gue jadi kapten basket ECHS itu karena keahlian gue yang hebat dan masalah gue bukan tandingan lo, buktiin dengan cara kalahin team gue di pertandingkan antar sekolah," sengit Leo menantang Danu.


"Satu lagi, kalo bisa jangan lo tunjukin kelemahan lo dengan cara nyuruh gue buat keluar dari team gue, keliatan banget kalo lo takut kalah dari gue," ejek Leo sinis.


"Bacot lo bangs*t." pekik Danu langsung menendang perut Leo hingga Leo jatuh ke tanah.


"Woy !!" Diky tersentak lalu ingin memukul Danu tapi tiba-tiba kedua teman Danu maju menghalangi Diky hingga Diky berlari ke tempat lain untuk menghajar kedua teman Danu itu.


"Bangun lo pecundang," pekik Danu pada Leo.


"Pecundang?!" beo Leo terkekeh lalu dirinya bangun dan memukul wajah Danu hingga Danu tersungkur dan mengeluarkan darah segar di sudut bibirnya.


Danu memegangi sudut bibirnya, ia mengeraskan rahangnya kala melihat ada darah di tangannya, Leo selalu berhasil membuat luka di sudut bibir Danu hanya dengan sekali pukulan sedangkan Danu yang beberapa memukul wajah Leo tidak pernah berhasil membuatnya terluka.


"Hajar dia," titah Danu pada temannya.


Teman Danu langsung menghajar Leo dengan di susul oleh Danu yang ikut menghajar Leo, Leo yang jago karate dengan mudah menghajar teman Danu hingga pingsan tapi tidak dengan Danu yang masih bertahan melawan Leo.


Bruk ....


Bruk ....


Plak ....


Krek ....


Danu membalas pukulan Leo begitu juga dengan Leo yang balik memukul dan menendang Danu hingga mereka di penuhi memar di wajah dan darah di bagian kening, mulut, tangan dan lainnya juga.


Sedangkan kedua teman Danu yang lain terus melawan Diky hingga Diky sedikit merasa lelah karena sekaligus menghajar dua orang.


"Cape woy." pekik Diky.


"Huftt, maju lo sekarang," tantang Diky lagi.


Kedua teman Danu hendak maju untuk menghajar Diky kembali tapi tiba-tiba mereka berhenti kala mendengar teriakkan Diky, "Eh, bentar bentar bentar," Diky melebarkan kedua telapak tangannya di hadapan mereka.


"Satu satu dong, jangan main keroyokan lagi." ucap Diky namun Kedua teman Danu saling beradu pandang lalu mereka menatap Diky dan mulai mendekati Diky secara bersamaan.


"Mamp*s gue." gumam Diky berlari menghindari mereka.


.........


Leo berjongkok di dekat tubuh Danu yang terkapar, "Pe-cun-dang" ucap Leo dengan seringaian jahatnya. Brugg! Leo melayangkan satu pukulan lagi ke wajah Danu lalu pergi meninggalkan Danu.


..........


"Le, tolongin gue! Woy, tolongin." pekik Diky masih berlari menghindari kedua teman Danu. Leo yang mendengar teriakkan Diky dengan cepat berlari ke arah mereka dan menghentikan salah satu teman Danu.


Brugg! Leo menendang bokong salah satu teman Danu hingga terjatuh ke tanah, setelah itu Leo menarik kerah teman Danu lalu memukul wajahnya hingga di penuhi memar dan darah.


Diky menghentikan langkahnya kala mendengar pukulan dan juga jeritan dari arah belakang, "Eakkkk !!!" Diky mengejutkan teman Danu dengan membalikkan badannya.


"Sini maju lo." tantang Diky dan tanpa ba-bi-bu teman Danu langsung melayangkan pukulan di pipi kiri Diky hingga Diky tersungkur ke arah samping kanan.


"Anji*g, gue belum siap woy." pekik Diky.


"Aaghhh !!" ringis Diky memegangi pipinya hingga teman Danu menatap Diky dengan tersenyum miring.


"Lemah." ejek teman Danu.


"Wah, ngeremehin ni anak," sengit Diky balik menyerang teman Danu dengan memukul dan menendangnya, tak mau kalah teman Danu kembali memukuli wajah Diky hingga memerah.


Teman danu hendak melayangkan satu pukulan lagi, tapi tiba-tiba Diky menangkap tangannya lalu membalikkan tubuh orang itu hingga Diky berada di belakangnya.


"Keparat." pekik Diky memukul punggung teman Danu hingga mengeluarkan darah dari mulutnya dan setelah itu Diky mendorong tubuhnya ke tanah lalu Diky memelintir tangannya ke belakang.


"Enak di kunci tangannya?" tanya Diky mengeratkan pelintiran tangannya pada teman Danu. Akhh! teman Danu berteriak kesakitan.


"Ouhhh! Sakit ya." ejek Diky dengan raut wajah sok sedih.


"Lepasin gue." pekiknya pada Diky.


"Semakin lo ngeberontak semakin gue tarik tangan lo sampai keselo eh nggak, nggak, nggak kayaknya sampai patah deh." ucap Diky menarik tubuh teman Danu hingga terduduk.


Saat sedang asik-asiknya menyiksa teman Danu tiba-tiba Leo datang dengan memerintah Diky, "Lepasin dia." titah Leo pada Diky.


Diky mendongak lalu ia kembali menatap teman Danu, Diky kembali mengeratkan pelintirannya pada teman Danu.

__ADS_1


"Akhh lepasin gue bangs*t," pekik teman Danu.


"Jelek banget muka lo, sumpah! Heh ...." ejek Diky menarik pelintiran tangannya lebih kuat lagi.


"Akhh sakit bangs*t," ringis teman Danu.


"Diky, lepasin dia." ucap Leo datar.


Diky mendengus lalu ia mendorong teman Danu hingga tersungkur, "Sana pergi lo." pekik Diky membuat teman Danu berlari manjauhi Leo dan Diky.


"Kita masuk sekarang." titah Leo.


"Eh lo yakin mau masuk sekolah dengan keadaan kita yang babak belur kayak gini? Ngundang masalah tahu enggak lo." ucap Diky memikirkan mereka pasti akan masuk BK jika mereka masuk sekolah dalam keadaan penuh luka dan darah.


Tanpa menjawab Leo langsung berjalan menuju sekolah, mau tak mau Diky ikut menyusul sahabatnya itu masuk ke sekolahan lalu mereka pergi ke kelas mereka dengan keadaan penuh luka bahkan baju mereka di penuhi bercak darah


Tokk...


Tokk...


"Permisi, Buk." ucap Diky karena Leo mana mau mengeluarkan suaranya.


"Akhhh ...." cewek-cewek di kelas XI IPA 2 menjerit histeris kala melihat penampilan Leo dan Diky yang berantakkan plus di penuhi luka dan bercak darah.


"Astagfirullah." bahkan gurupun terkejut saat melihat luka-luka Leo dan Diky.


"Penampilan kalian kenapa bisa kayak gini? Kalian abis berantem lagi ya," tanya sang guru karena memang Leo sudah di kenal siswa yang sangat nakal di sekolahan itu.


"Ya bisa di bilang kayak gitu Buk," jawab Diky tersenyum kikuk seraya pria itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ikut Ibuk ke ruang BK sekarang." titah sang guru meninggalkan kelas dan membawa Leo dan Diky ke ruang BK hingga ketika mereka sudah berada di dalan ruang BK, Leo menjelaskan secara detail permasalahan sebenarnya tanpa mengurangi dan melebihi kata Leo mengungkap semua yang terjadi tadi.


"Maaf, Buk! Kami memang salah karena keluar dari sekolah tapi perkelahian ini bukan kami yang memulainya!" akhir cerita Leo dengan mode datar.


"Baiklah kalo begitu kalian Ibuk maafkan, nanti akan Ibuk urus masalah ini dengan kepala sekolah, lebih baik kalian ke rumah sakit sekarang, ngeri Ibuk lihat muka bonyok kalian." ucap buk Lilak.


"Terima kasih, Buk! Kami permisi." pamit Leo dan Diky keluar dari ruang BK.


............


"Jam berapa, Kak?" tanya Tania saat mereka berdua sudah sampai di bandara Tangerang.


"Jam tiga pagi, kenapa?" jawab Aldy melihat arloji di tanggannya lalu beralih menatap Tania.


"Hari ini kita sekolah?" tanya Tania.


"Besok aja kita sekolah, hari ini kita istirahat di rumah dulu." sahut Aldy dan di balas anggukan oleh Tania, memang sebenaranya wanita itu sedang malas sekali untuk pergi ke sekolah.


Tak lama dari itu, Aldy dan Tania pun di jemput oleh paman Boy sekaligus senpai mereka di perguruan karate mereka.


"Maaf merepotkan Paman." ucap Tania saat mereka sudah di dalam mobil paman Boy.


"Tidak masalah," jawab paman Boy.


"Kalian tidur saja, paman akan bangunkan kalian jika sudah sampai rumah." ucap paman Boy.


Tania sudah tertidur pulas di belakang sedangkan Aldy yang duduk di samping paman Boy lebih memilih mendengar musik sembari memejamkan matanya dengan menggeleng kepala mengikuti alunan lagunya.


"Catch it!" sentak paman Boy melayangkan tangannya tepat di depan wajah Aldy, walau mata Aldy terpejam tapi ia bisa merasakan hembusan angin yang dekat dengan wajahnya. Plakk! tangan kanan Aldy bisa menangkap tangan senpai Boy dengan mencekam pergelangan tangan kiri Senpai Boy, mata Aldy membulat kaget lalu ia melepaskan cekalannya dan melepaskan earphonenya.


"Apa Paman sedang mengujiku?" tanya Aldy menyipitkan matanya curiga.


"Mungkin iya! Sudah lama sekali kalian tidak berlatih di perguruan The Shadow Of The King and Queen jadi Paman rasa kalian tidak terlalu cekatan lagi sekarang," ucap paman Boy.


"Bagaimana jika Aldy tadi tidak ...."


"Kelihatannya kau masih sama seperti dulu," potong paman Boy membuat Aldy bungkam karena mendapatkan pujian dari paman sekligus senpai bengisnya itu.


Setelah menepuh jarak waktu dua jam lebih, akhirnya mereka sampai di rumah, Aldy dan Tania yang merasa lelah hingga malas untuk naik ke atas akhirnya mereka memilih tidur di sofa ruang keluarga.


Paman Boy melihat kelakuan kedua keponakannya itu hanya bisa menggeleng kepala lalu setelah itu paman Boy pamit pulang pada Asisten rumah tangga keluarga Sinaja yaitu Bik Asih.


.......


.......


.......


...🔮🔮🔮 Bersambung 🔮🔮🔮...

__ADS_1


__ADS_2