
...Pantai basecamp SALF BADRAD....
Pantai yang menjadi tempat berkumpulnya SALF BADRAD, biasanya Karamel akan pergi ke pantai itu bersama Leo namun kini dirinya hanya duduk sedirian. Ya, sendirian!
"Hidup gue gini banget ya," gumam Karamel melamun.
"Dulu waktu jadi mafia, gue nggak pernah sedih atau nangis tapi sekarang gue jadi cengeng dan lemah," gumam Karamel lagi.
"Vian, waktu gue kehilangan Babas, lo udah kayak pengganti Babas yang selalu ada buat gue, yeah walau lo sering pulang ketemu sama keluarga lo tapi lo selalu menomor satuin gue." ucap Karamel.
"Gue jadi inget komitmen kita dulu yang nggak boleh bunuh manusia tapi pada akhirnya elo yang kebunuh," ucap Karamel meneteskan air matanya.
Inilah Karamel, Karamel yang lemah jika mengingat tangan kanannya itu. Karamel lemah karena cuma Vian tempat Karamel meluapkan semua keluh kesahnya, walau Babas selalu di nantikan oleh Karamel tapi yang sebenarnya Vian lebih berarti karena Vian selalu ada dan setia pada Karamel bahkan Vian rela mengorbankan nyawanya demi Karamel.
"Vian, lo tau gue nggak suka bohong 'kan, gue benci cowok tua itu, dia kasar, pemaksa sama mesum juga. Gue jijik sama dia," ucap Karamel lirih.
"Mending gue sama Polar prince dari pada sama dia," kata Karamel menyebut sang pimpinan mafia terhebat.
Polar prince adalah panggilan nama dari leader mafia nomor satu di dunia. Identitas leader dan juga tangan kanannya sangat tersembunyi tapi dunia tahu nama panggilan leadernya adalah polar prince karena itu adalah panggilan yang di buat oleh anggotanya sendiri hingga seluruh dunia tahu itu.
Walau mafia milik Karamel dulu di kenal kelompok mafia nomor dua tapi Karamel selalu memimpikan dirinya bisa bertemu dengan leader mafia nomor satu di dunia yang notabenenya tidak di ketahui wajah dan juga identitasnya.
"Gue harus bisa lawan cowok mesum itu, tapi gimana caranya?" gumam Karamel seraya berdecak.
"Apa gue harus dateng ke kantornya?" gumam Karamel seraya berfikir keras bagaima dirinya harus melawan Henry.
"Oke, gue tahu sekarang, gue bakal ke kantor dia sekarang." gumam Karamel langsung beranjak pergi ke perusahaan GV Del Nixon Internasional.
..............
...Perusahaan GV Del Nixon Internasional....
Brakk ....
Di saat Henry baru saja mengakhiri sambungan teleponnya dengan salah satu rekannya tiba-tiba Karamel datang dengan menendang pintu ruangannya.
"Maaf Pak, saya sudah coba untuk menghalangi Nona ini tapi ...."
"Tidak masalah, kau boleh keluar," ucap Henry membuat sekertarisnya mengganguk dan keluar dari ruangannya.
__ADS_1
"Kenapa anda datang ke kantor saya dengan sangat tidak sopan Nona muda Aramoy." Henry berucap formal dengan Karamel.
"Saya hanya ingin tahu kenapa anda membobol keamanan keuangan papa saya, Tuan Nixon yang terhormat?" tanya Karamel sinis.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti, Kara." ucap Henry berpura-pura tidak tahu.
"Cih! Jangan fikir saya bodoh, Tuan. Saya tahu rencana anda membobol keuangan papa saya untuk memancing saya datang ke sini dan bersimpuh kepada anda untuk bisa menerima tawaran kerja sama Papa saya dengan syarat menikah dengan anda, bukan begitu?" ucap Karamel menaikan sebelah alisnya.
Henry sedikit melebarkan matanya karena kaget dan tidak menyangka rencananya bisa di tebak oleh Karamel.
"Rencana yang cukup bagus tapi rendahan," ejek Karamel menaikkan sebelah sudut bibirnya sinis.
"Bagaimana Kara bisa tau rencanaku tanpa ada yang melesat sedikitpun?" batin Henry.
"Perusahaan GV Del Nixon Internasional memang paling berpengaruh tapi ...." Kara menggantung perkataannya.
"Saya yakin anda membutuhkan kerja sama yang sepadan dengan perusahaan anda bukan?" sambung Karamel.
"Saya tau, harapan papa saya ada pada keputusan anda Tuan tapi menurut saya lebih baik anda batalkan tawaran kerja sama dari papa saya, dengan begitu saya bisa terbebas dari anda, tidak akan ada alasan bagi anda untuk bisa bertemu dengan saya lagi. Lebih baik begitu 'kan, lagi pula masih ada perusahaan Binondra Group yang bisa membantu perusahaan Papa saya." ucap Karamel.
"Keputusan di tunggu besok, Tuan Henry GV Del Nixon." akhir kata Karamel lalu keluar dari ruangan kerja Henry.
Andi dan Luhan bersembunyi tanpa sepengetahuan Henry karena memang mereka berdua tidak sengaja menguping dari balik pintu.
"Not an ordinary woman." gumam Luhan. Henry masih bergeming, fikirannya tertuju pada semua ucapan Karamel tadi.
"Bukan wanita biasa?" gumam Henry mengulangi ucapan Luhan.
"Tidak, jika aku menolak kerja sama perusahaan Sinaja Company Grup, aku tidak akan bisa berhubungan lagi dengan mereka dan itu akan membuatku semakin sulit untuk mendapatkan Kara, apalagi dia berencana untuk mengajukan kerja sama dengan Binondra Group. Tidak, tidak! Itu tidak boleh terjadi." sentan Henry.
................
...Mansion Henry....
Pulang dari kantor, Henry duduk di sofa ruang tamu bersama dua orang kepercayaannya Andi dan Luhan, mereka bertiga saling diam sejak beberapa menit yang lalu.
"Buat jadwal pertemuan dengan Tuan Sinaja, aku harus menerima tawarannya besok." ucap Henry pada akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Tapi Bos, jika anda langsung menerima tawaran kerja sama Tuan Sinaja, Nona Kara akan langsung berfikir anda adalah pelaku pembobolan keuangan Tuan Sinaja, Bos." sahut Andi.
__ADS_1
"Jika aku menolaknya, akan lebih sulit bagiku untuk mendapatkan Kara, Andi." pekik Henry frustasi.
"Kau sudah berani melawanku Kara, kau akan tahu akibatnya nanti." batin Henry mengepal tangannya.
.............
Ke esokan harinya Sanjaya baru saja pulang dari perusahaan Henry, Kara yang sudah menunggu kedatangan sang papa langsung menghampiri papanya.
"Bagaimana, Pah?" tanya Karamel.
"Calon menantuku tentu menerimanya, Sayang." ucap Sanjaya membuat Karamel terbelalak. Bukan, bukan karena kata 'Menerima' yang membuat Karamel kaget tapi kata 'Calon menantu' lah yang membuat ia kaget.
"What the f ... Pah, Kara nggak punya hubungan apa-apa sama dia." sentak Karamel.
"Oke, kalo kamu masih malu, enggak apa-apa. Papa enggak akan makasa kamu buat ngaku." sahut Sanjaya langsung masuk ke dalam rumah membuat Karamel mendengus sebal.
"Aish! Kenapa jadi kayak gini sih." gerutu Karamel.
"Tapi tunggu, dia nerima tawaran Papa? Itu artinya bener dong dia pelakunya." gumam Karamel mengepal tangannya.
"Tapi baguslah, papa jadi nggak murung lagi sekarang," sambung Karamel.
"Itu artinya gue udah berhasil sekarang, tapi kayaknya dia nggak akan nyerah dan bakal terus buat rencana receh buat ganggu gue lagi. But no problem, gue bakal tunggu dan hadapin semuanya." ucap Karamel masuk ke dalam rumahnya.
..............................
...Perusahaan GV Del Nixon Internasional....
"Aku sudah menerima tawaran kerja sama perusahaan Daddymu, kara." gumam Henry.
"Kau mungkin merasa berhasil sekarang tapi tunggu dan lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu selanjutnya, Nona muda Aramoy." sambung Henry dengan tatapan datar.
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
__ADS_1