
Karamel memiringkan kepalanya menatap Leo lalu ia beralih menatap Clara yang masih setia menangisi kepedihannya.
"Nyiksa dia?" beo Karamel
"Ugh! Bibir tebal lo jadi tergores darah ya Clara." ucap Karamel menatap bibir Clara lalu Karamel mengeluarkan sapu tangan berwarna putih polos dari saku celananya.
"Sini, biar gue bantu bersihin," ucap Karamel mencengkeram dagu Clara lalu menariknya hingga mendongak, sehingga Clara mencengkram kuat tangan Karamel.
"Agkk stt....!" ringis Clara ketika Karamel mengusap lukanya dengan kasar, kemudian Karamel tersenyum sinis dan menghempas dagu Clara ke samping.
"Kayaknya kulit lo sensitif banget ya sama pukulan ringan gue," kata Karamel.
"Lo mau apa brengs*k," pekik Clara.
"Karena perbuatan lo, janin yang ada di dalam perut gue di ambil sama Tuhan jadi biarin gue bales dendam sama lo ya," sengit Karamel membuat Clara merinding.
"Janin?" desis Clara gelagapan, Clara tidak percaya ternyata Karamel dan Leo sudah melakukannya.
"Iya janin gue," tekan Karamel.
"Seorang Karamel Listra dari keluarga terhormat Tuan Sinaja dan Nyonya Aramoy, apa jadinya kalo dunia tau kalo lo itu ternyata kejam Kara." ucap Clara menuding Karamel orang yang kejam.
Karamel merubah raut wajahnya menjadi datar, Clara bilang dirinya kejam? Apakah Karamel melakukannya dengan sengaja? Tidak, Karamel menjadi kejam karena Clara lah yang memulainya.
"Well, gue bakal buktiin kekejaman yang lo maksud!" sengit Karamel meju satu langkah.
"But wait," Langkah Karamel terhenti.
"Bisakah kalian berdua keluar dari ruangan ini," pinta Karamel pada Jeffry dan Leo.
Leo ingin menolak namun Karamel sudah mengedipkan kedua matanya pelan ke arah Leo hingga Leo mengurungkan niatnya dan langsung keluar dari ruangannya menuju ke ruang kerja Jeffry.
Semua karyawan tampak terkejut ketika CEO perusahaan mereka keluar dari ruangannya, pasalnya Leo tidak pernah keluar dari ruangan kecuali saat meeting Leo baru akan keluar.
Untuk pertama kalinya mereka melihat CEO mereka masuk ke ruangan asisten pribadinya, yaitu Jeffry.
"Astaga, tampannya calon masa depan."
"Bisakah aku menjadi istri Pak Rendra?"
"Sempurnanya ciptaanmu Tuhan,"
"Gue mimisan dong lihatnya,"
"Pak Rendra lirik gue dong tadi,"
"Masya Allah, gagah banget tu Pak Rendra."
__ADS_1
Begitulah para karyawan memuja sang bos dari perusahaan mereka.
"Anda menjadi pusat perhatian lagi, Tuan." ucap Jeffry, Leo hanya berdecih tidak perduli.
Leo duduk di kursi sedangkan Jeffry berdiri di samping Leo, kedua laki-laki itu menyaksikan semua yang di lakukan Karamel dan Clara di ruang kerja Leo.
"Jangan takut Clara, gue enggak akan bunuh lo kok." ucap Karamel lembut.
"Kara, gue cinta sama Leo, kenapa lo enggak mau kasih gue kesempatan buat bahagia sama Leo? Kenapa lo enggak bisa ngerti perasaan gue? Yang gue tahu, elo itu orang baik Kara tapi ternyata lo itu enggak punya hati sama sekali," lirih Clara memancing emosi Karamel.
"Apa dulu lo pernah baik sama semua orang? Termasuk sama Tania?" tanya Karamel menaikan sebelah alisnya.
"Enggak Clara, pada saat lo nindas orang, lo enggak pernah perduli perasaan korban yang lo tindas dan sekarang lo ngomong so'al perasaan lo? Cinta lo? Munafik," ucap Karamel mengeraskan rahangnya.
"Cinta enggak harus memiliki Clara, kalo lo cinta sama Leo, garusnya lo bisa ikhlasin dia sama gue," sentak Karamel.
"Cinta itu di pertahanin bukan di ikhlasin, Kara. Lo ngomong kayak gitu ke gue karena cinta lo terbalaskan oleh Leo. Sedangkan gue, Leo cuma permainin gue doang," pekik Clara menggila, air mata Clara semakin deras akibat Karamel menyuruhnya untuk mengikhlaskan orang yang ia cintai.
"Huft! Gue sama Leo udah terikat jadi gue harap lo enggak usah ganggu kita berdua lagi, ini peringatan sekaligus perintah buat lo karena kalo sampai lo nekat buat rebut Leo dari gue lagi, gue enggak akan segan-segan buat hancurin hidup lo." ucap Karamel menunjuk Clara.
"Lagi pula gue udah berbaik hati biarin lo ngerasain gimana pacaran sama suami gue, tapi lo ngelakuin hal lebih jadi lo enggak pantes buat suami gue. Paham lo." bisik Karamel hingga Leo dan Jeffry tidak bisa mendengar bisikan Karamel.
Clara menjadi semakin terisak, dirinya masih tidak terima, dirinya masih ingin memiliki Leo. Clara sangat tergila-gila dengan Leo sejak sekolah menengah pertama jadi Clara tidak mau melepaskan Leo begitu saja.
"Leo enggak cinta sama lo, Leo cuma manfaatin keadaan biar kerja sama yang papa Prasetya mau lancar tanpa hambatan." ucap Karamel memasukan bumbu hasutan agar Clara membenci Leo.
"Setelah lo tau semuanya, gue harap lo enggak akan macem-macem Clara, apalagi sampai ngadu sama bokap lo," sengit Karamel menatap tajam ke Clara.
Di saat air mata yang masih mengalir Clara tertawa mendengar ucapan Karamel.
"Harapan ada di tangan gue Kara, Kalo lo enggak ceraiin Leo, gue jamin lahan yang bokapnya Leo minta bakal jadi milik orang lain." ancam Clara membuat Karamel memelototinya.
"Lo enggak akan mungkin bisa ngelakuin itu," sengit Karamel, bagaimanapun akting Karamel harus semaksimal mungkin agar Clara yakin bahwa lahan milik Clark Damyan adalah kelemahan Leo.
"Lo cinta sama Leo, jadi lo enggak akan pernah ngelakuin itu." tambah Karamel lagi.
"Kenapa? Lo takut bakal kecewain ayah mertua lo? Ck! Bagus kalo lo takut, sekarang lo boleh pergi dan urus surat perceraian kalia ...."
Plakk! Clara tidak dapat menyelesaikan perkataan karena Karamal sudah lebih dulu menampar pipi Clara dan setelah menampar, Karamel menjambak rambut bagian belakang Clara hingga kepala perempuan itu mendongak ke atas.
"Kalo lo sampai ngadu, gue bakal buat lo nyesel hidup di dunia ini, Clara." sengit Karamel.
Clara kesakitan karena di jambak namun Clara masih menyempatkan diri untuk tertawa.
"Haha! Lo takut Karamel," ejek Clara merasa marahnya Karamel hanya ingin menutupi rasa takutnya saja.
"Ya! Gue emang takut," ucap Karamel membuat Clara tertawa puas.
__ADS_1
"Takut lepas kendali terus renggut nyawa lo di sini," bisik Karamel semakin kuat menarik rambut Clara.
"Gila!" pekik Clara ketakutan.
"Lepasin tangan kotor lo dari rambut gue, ja*ang!" pekik Clara tidak tahan akan sakit di kepalanya.
"Sakit ya?" tanya Karamel polos.
"Akhhh, lo ... lo fikir dengan cara lo nyiksa gue kayak gini, gue bakal luluh dan nggak bakal ngadu sama bokap gue! Hah? Jangan mimpi Kara, gue bakal ...."
Brakkk .... Akhhh! Karamel tidak suka mendengar Clara berteriak, maka dari itu Karamel menghempaskan kepala Clara hingga keningnya terbentur meja kerja Leo.
Clara menyentuh keningnya, ada darah di tangannya. Karamel benar-benar keterlaluan, fikir Clara.
"Ughh, darah lagi." ejek Karamel tersenyum miring.
"Gue enggak akan maafin lo Kara, dan untuk kerja sama perusahaan Binondra Group, Gue pastiin lahan itu bakal jadi milik orang lain." pekik Clara sudah tidak tahan akan perlakuan Karamel.
"Lo bakal nyesel, Karamel Listra." pekik Clara histeris.
"Lo ...." Karamel tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena Clara langsung melempar dokumen yang ada di meja Leo ke wajah Karamel.
"Aghhh!" Karamel berteriak kala Clara mendorong Karamel hingga jatuh menimpa meja kaca di dekat sofa.
Melihat Karamel terjatuh, Clara mengambil kesempatan untuk kabur dari ruang kerja Leo. Clara berlari ke arah tangga umum, dirinya tidak mau naik lift karena jika Clara naik lift, dirinya pasti akan bertemu dengan Jeffry dan Leo.
Di dalam ruang kerja Leo, Karamel menganga melihat telapak tangan sebelah kanannya tergores meja kaca, tangan Karamel berdarah dan itu membuat Karamel mendengus sebal.
"Kara sayang - Nyonya Kara!" Leo dan Jeffry langsung menghampiri Karamel. Dan Karamel langsung menyembunyikan telapak tangan yang berdarah ke bawah.
Leo menuntun Karamel untuk duduk di sofa, "Jeffry, perintahkan penjaga untuk menahan wanita sial ...."
"Enggak, jangan!" potong Karamel membuat Leo dan Jeffry menatap ke arah Karamel.
"Apa maksud kamu jangan?" tanya Leo mengernyitkan dahinya.
"Biarin dia pergi," ucap Karamel dengan tatapan memohon sehingga Leo menghela napas pasrah.
"Semoga rencana gue berhasil, semoga orang yang ngambil lahan itu Fico." batin Karamel.
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
__ADS_1