Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part _ 240 (Takdir)


__ADS_3

Seminggu kemudian Santi menyuruh Faza untuk mengajak Gina makan malam bersama di rumah mereka namun Faza menggelengkan kepalanya menolak.


"Ada apa? Bukannya kamu selalu bersemangat kalo deket sama Gina?" tanya Santi heran, bahkan Glenn yang sedang sibuk memainkan handphonenya langsung berhenti dan menatap putra semata wayangnya yang tampak bersedih.


"Selama ini mikirnya Faza sama Gina itu apa sih, Bun? Kenapa Bunda suka banget nyuruh Faza ngajak Gina makan malam di sini?" tanya Faza tiba-tiba.


"Loh, bukannya kamu cinta ya sama Gina? Bunda cuma mau mengakrabkan diri sama orang yang kamu suka." ucap Santi tersenyum tipis.


Faza memejamkan matanya resah, "Bunda salah, Faza sebenarnya enggak punya perasaan apa-apa sama Gina." ucap Faza jujur. Fikir Faza lebih baik dirinya akhiri semua ini dari pada nantinya kedua orang tua Faza semakin salah paham akan kedekatan dirinya dengan Gina.


"Loh?!" Santi mengerutkan dahinya kaget dan bingung.


"Faza 'kan udah bilang dari awal, Faza sama Gina itu cuma sebatas sahabatan aja." ucap Faza lagi.


"Udah enam bulan lebih loh kamu deket sama Gina, masa iya kamu enggak ada perasaan apa-apa sama dia!?" ucap Santi rasanya agak tidak rela jika wanita sebaik Gina harus lewat menjadi menantu masa depannya.


"Ayah enggak pernah lihat kamu dekat dengan perempuan manapun kecuali Gina, apa kamu sedang berbohong lagi." ucap Glenn.


Faza menggelengkan kepalanya, "Faza deket sama Gina bukan berarti Faza suka sama Gina 'kan, Yah." ucap Faza menatap mata ayahnya tanpa rasa ragu sedikitpun.


Glenn mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, "Kalau begitu carilah wanita yang bisa membuatmu jatuh cinta, dan pastinya dia juga mencintaimu dengan setulus hatinya tapi ingat, kamu jangan hanya mengandalkan cinta saja, Faza." ucap Glenn mengerti perasaan anaknya karena dulu saat masih remaja, sebelum Glenn mengenal sosok Santi yang kini sudah menjadi istrinya. Glenn pernah memiliki sahabat wanita yang baik sejak bertahun-tahun lamanya, Glenn kira dirinya akan berjodoh dengan sahabatnya namun siapa sangka kehadiran Santi malah membuat Glenn berubah fikiran dan jatuh cinta kepada Santi.


Dan Glenn yakin walau anaknya sedang dekat dengan wanita yang bernama Gina dan tidak memiliki perasaan apa-apa dengan Gina, di masa depan anaknya itu akan mendapatkan wanita yang pantas untuk dirinya.


Faza tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, "Pasti, Yah." sahut Faza sedikit merasa lega karena ayahnya lebih dulu mengerti dirinya namun Faza juga merasa was-was karena melihat dari tatapan bunda Santi sepertinya bunda Santi akan menentang kehendak Faza.


"Bunda enggak setuju sama ucapan ayah, Faza di suruh mencari perempuan lain lalu bagaimana dengan Gina, apakah menurut ayah gampang mendapatkan perempuan yang benar-benar pantas untuk Faza." ucap Santi menghadap Glenn, benar seperti yang diduga Faza, bundanya akan menentang keputusan ayahnya.


"Jadi Faza harus menjalin hubungan sama perempuan yang enggak Faza cintai ya Bun?" tanya Faza tampak sedih.


"Bukan gitu Sayang, Bunda rasa kamu bisa kok jatuh cinta sama Gina, coba kamu pertimbangin ...."


"Udah! Sebelum Bunda sama Ayah tahu Faza dekat sama Gina, Faza udah berusaha buat mengenal Gina lebih jauh tapi setelah Faza jalani, Faza benar-benar enggak ada perasaan apa-apa sama Gina." ucap Faza membuat Santi diam.


Glenn membenarkan kaca matanya sebelum kembali fokus menatap layar handphonenya, "Usia Faza juga masih muda, Bun. Kalo Faza enggak mau sama Gina, biarkan Faza fokus dengan pendidikan kuliahnya dan urusan kantornya dulu." ucap Glenn sembari menggerakkan jari-jemarinya untuk mengetik sesuatu.


"Faza janji siapapun perempuan yang berhasil buat Faza jatuh cinta, Faza bakal ngomong langsung sama Bunda." ucap Faza tersenyum lebar kepada sang bunda. Sejenak Santi memalingkan pandangannya ke sembarang tempat lalu sedetik kemudian Santi menatap wajah putra semata wayangnya itu.


Santi menganggukkan kepalanya pelan, "Kamu harus membawa dia untuk bertemu dengan Bunda," ucap Santi ingin anaknya membawa wanita pujaan hatinya bertemu dengan Santi.


"Kalo Faza udah ketemu sama pujaan hati Faza, Faza pasti akan langsung bawa dia ke hadapan Bunda sama Ayah." sahut Faza setuju. Faza menjadi tenang sekarang karena kedua orang tuanya tidak lagi salah paham dengan dirinya yang mencintai Gina.


"Maaf Gina, gue enggak bisa maksain perasaan gue buat suka sama lo." batin Faza.


.........


...Indonesia...


"Jadi sampai sekarang perempuan yang bernama Tia itu masih ngejar-ngejar kak kenzi?" tanya Karamel menghadap layar handphone, dirinya sedang melakukan video call dengan calon kakak iparnya yaitu Tessa.


"Yeah, selama enam bulan ini Tia selalu ngelakuin banyak hal buat dapatin Kenzi bahkan beberapa minggu yang lalu Tia hampir aja nabrak gue, Ra. Untungnya ada Peter yang buru-buru nyelamatin gue kalo enggak ...," Tessa menghela napas panjang sembari menggelengkan kepalanya lemah.


"Ih bener-bener ya tu orang nyelakain calon Kakak Ipar gue sampai segitunya," umpat Karamel melipat jari-jarinya menjadi kepalan sempurna.


"Lo tenang aja Kak, gue bakal bilang sama Kak Kenzi buat jagain lo selama dua puluh empat jam penuh, itu satu-satunya cara biar si Tia itu enggak berani macem-macem lagi sama lo." ucap Karamel dengan serius, tapi Tessa hanya tertawa kecil melihat tingkah Karamel yang menggemaskan itu.


"Kalo Kenzi jagain gue selama dua puluh empat jam penuh, itu artinya dia enggak masuk kelas dong. Gue sama dia 'kan beda jurusan, Ra." ucap Tessa membuat wajah Karamel berubah bengong.


"Hehe, iya ya lo berdua 'kan beda jurusan ya." Karamel menggaruk tengkuknya malu karena dirinya berbicara dengan sangat percaya diri tadi.


"Masih belum selesai juga video callannya?" suara Leo terdengar jelas ketika bari saja masuk ke dalam kamar.


"Ih apaan sih, enggak sopan banget ngomong kayak gitu." kesal Karamel berbisik marah.


"Masalahnya sekarang udah jam tengah malam, Kara." sahut Leo.


"Suttt! Diem." titah Karamel membuat Tessa tertawa kecil.


"Ya udah kita lanjutin obrolan kita besok-besok lagi ya," ucap Tessa.


"Tapi Kak ...."

__ADS_1


"Lagian juga sebentar lagi gue sama Ken mau ngampus, Ra." ucap Tessa membuat Karamel menganggukkan kepalanya pelan.


"Ya udah deh, besok-besok kita VC-an lagi ya." ucap Karamel lalu Tessa melambaikan tangannya sebelum mematikan sambungan video callnya.


"Sekarang kita tidur ya," ucap Leo namun Karamel melirikkan matanya ke arah Leo lalu tiba-tiba saja Karamel menggelengkan kepalanya tidak mau.


Leo menghela napas panjang, apa lagi sekarang? Apakah istrinya itu akan ngambek lagi karena waktu mengobrolnya dengan Tesaa di ganggu oleh Leo? Jangan bilang, Karamel akan tidur membelakangi dirinya karena marah?! Atau jangan bilang, Karamel akan menyuruhnya tidur di kamar tamu lagi?! Tapi melihat dari ekspresi wajahnya, mungkin saja ada hal yang akan di minta Karamel di jam tengah malam ini? Fikir Leo entah sudah berkenala ke mana-mana.


"Jangan bandel dong, Sayang." pinta Leo duduk di atas kasur.


Karamel menyengir hingga menampilkan giginya yang putih dan rapi, "Pengen dessert coklat campur saus sambal." pinta Karamel dengan mulut yang mengecap beberapa kali, membayangkan enaknya kedua makanan itu jika di campur menjadi satu dan happ masuk ke dalam mulutnya.


Leo membelalakan matanya kaget, "Apa? Dessert coklat campur saus sambal?" beo Leo membayangkan betapa tidak masuk akal jika makanan manis dan pedas di campur menjadi satu.


Karamel menganggukkan kepalanya, "Anak kamu loh yang minta," ucap Karamel mengartikan dirinya sedang ngidam.


"Enggak usah ngarang-ngarang deh, masa iya cokelat yang manis di campur sama saus sambal yang pedes, itu 'kan enggak cocok Sayang." ucap Leo.


"Nanti kalo kamu makan makanan campuran itu, anak kita jadi kenapa-kenapa gimana coba." omel Leo membuat Karamel Karamel mengerucutkan bibirnya sembari mengelus-elus perutnya.


"Bilang aja enggak mau beliin," cibir Karamel seperti anak kecil yang takut dengan omelan ayahnya.


Leo memejamkan matanya dengan menghela napas panjang dan besar, "Kalo kamu laper, kamu makan yang lain aja ya." ucap Leo lembut.


Karamel menggelengkan kepalanya, "Ya udah kalo kamu enggak mau beliin, biarin aja anak kita jadi ileran nanti." ucap Karamel menarik selimutnya lalu membaringkan tubuhnya membelakangi Leo.


Leo membelalakan matanya kaget, lagi-lagi istrinya itu bertingkah di jam-jam tengah malam seperti ini bahkan yang paling Leo tidak suka, jika kehendak istrinya itu tidak di penuhi. Akibatnya bisa seharian bahkan bisa sampai berhari-hari dirinya tidak akan di perdulikan oleh istrinya itu.


"Oke! Aku bakal nyuruh Jeffry buat ...."


"Kok Jeffry?!" sentak Karamel membuat bibir Leo bungkam karena istrinya itu tiba-tiba membalikan badannya dengan menatap tajam dirinya.


"Ya ya terus siapa kalo bukan Jeffry?" tanya Leo berharap istrinya tidak menyuruh dirinya lagi seperti sebelum-sebelumnya.


"Kamu lah, Mas." rengek Karamel.


Tidak tahukah Karamel selama dirinya sibuk melakukan video call dengan calon kakak iparnya, Leo juga sibuk menyelesaikan perkerjaannya yang tertunda karena ulah istrinya itu yang selalu manja, tidak mengizinkan Leo pergi ke kantor karena alasannya adalah anak mereka yang tidak mau berjauhan dari ayahnya.


Tidak tahu apakah itu benar-benar anak mereka yang tidak mau berjauhan dari Leo atau semua itu hanya akal-akalan Karamel saja agar Leo tetap berada di sisinya.


"Enggak mau ya, Mas?" tanya Karamel membuat Leo tidak berani melanjutkan perkataannya lagi.


"Fine, aku beliin sekarang ya." ucap Leo pasrah saja namun nada bicaranya ia pelankan agar tidak menyakiti hati bumil tercintanya.


"Yey, di tunggu ya Mas." sahut Karamel berseri-seri karena selama dirinya menginginkan sesuatu apapun itu, tidak ada satupun keinginan dirinya yang tidak pernah Leo penuhi, walau di awal-awal mereka harus berdebat dulu tapi ujung-ujungnya Leo akan mengalah dan pasrah menuruti kemauan dirinya.


Leo bangkit dari tempat duduknya lalu Leo mengambil jaket dan juga kontak mobilnya, setelah itu Leo keluar kamar tanpa bicara sepatah katapun dengan Karamel membuat Karamel tersenyum geli.


Dua puluh menit berlalu, Karamel masih menunggu kedatangan Leo dengan cara menyibukkan dirinya untuk bermain game online.


Empat puluh lima menit berlalu, Karamel mulai bosan memainkan handphonenya, alhasil Karamel letakkan handphonenya di atas nakas.


Satu jam berlalu, masih tidak ada tanda-tanda suaminya itu akan segera pulang, sampai akhirnya Karamel merasa matanya mulai pedas. Karamel berusaha menahan kantuknya itu agar tidak mengecewakan suaminya yang sudah bersusah payah mencari makanan yang ia inginkan.


"Ini suami lama banget sih," gumam Karamel membaringkan tubuhnya, masih menunggu kedatangan suaminya.


Namun bermenit-menit lamanya, Leo masih belum juga datang hingga mata Karamel mulai meredup dan pada akhirnya tertutup sempurna.


"Sayang," panggil Leo, seketika mata Karamel melebar dan dirinya mengambil posisi duduk.


Leo tersentak kaget, "Kamu belum tidur?" tanya Leo dan Karamel langsung menggelengkan kepalanya cepat.


"Aku enggak akan tidur sampai kamu pulang," sahut Karamel bohong karena barusan dirinya hampir saja terlelap.


"Sia-sia gue duduk di luar kamar tadi," batin Leo ternyata sudah datang sejak beberapa menit yang lalu namun dirinya tidak masuk ke dalam kamar karena menurutnya Karamel akan segera tertidur jadi lebih baik menunggu sebentar di luar kamar.


"Mana makanannya?" tanya Karamel mengulurkan kedua tangannya ke arah sang suami yang sedang menggenggam paper bag berukuran sedang.


"Sayang, kamu yakin mau makan ini?" tanya Leo meletakkan paper bag itu di atas kasur, kemudian Leo duduk di depan sang istri yang sedang bersandar di headboard.


"Anak kita yang mau, aku bisa apa?!" ucap Karamel mengangkat kedua bahunya lalu membuka paper bag itu.

__ADS_1


"Ih beneran ada ya Mas dessert coklat sama saus sambal." ucap Karamel kegirangan melihat dessert box yang berisi lapisan-lapisan brownies, saus sambal, brownies lagi, cream coklat dan ganache.


Leo hanya diam saja, yeah Karamel tidak akan tahu tentang Leo yang bela-belaan membawa saus sambal dan meminta pemilik tokonya untuk membuat dessert box yang wajib di lapisi saus sambal dan juga coklat leleh.


"Aku makan ya," ucap Karamel memasukkan sendok yang berisi lima lapisan dessert box itu ke dalam mulutnya.


Wajah Leo tampak gelisah melihat raut wajah Karamel yang tampak bingung, "Enggak enak 'kan?!" ucap Leo dan Karamel cengengesan di buatnya.


"Tiba-tiba aku kenyang hihi," ucap Karamel menirukan suara anak kecil, Leo menghela napas panjang lalu mengambil dessert box itu dari tangan sang istri.


"Makanya kalo ngidam itu yang manusiawi dikit biar makanannya enggak mubazir, Sayang." ucap Leo hingga Karamel menggenggam tangan Leo yang hendak menutup dessert box itu.


"Mas, anak kita pengen kamu yang ngabisin makanan ini." ucap Karamel dengan raut wajah puppy eyes, dan Leo langsung melebarkan matanya kaget.


"Jangan ngada-ngada ...."


"Anak kamu loh yang minta," lirih Karamel mengelus perut buncitnya.


Leo menghela napas lemah, istrinya itu selalu ngidam makanan yang aneh-aneh tapi saat makanan yang aneh itu tidak sesuai dengan lidah istrinya, yang jadi sasaran untuk menghabiskan semua sisa makanan aneh itu adalah Leo sendiri.


Leo menundukkan kepalanya untuk mendekat ke perut buncit Karamel, "Juniornya Papa! Di dalam perut Mama ini pasti tumbuhnya manusia 'kan Nak jadi Papa minta kalo kamu mau makan, tolong di kondisikan ya Sayang. biar kalo kamu enggak setuju sama makannnya, Papa juga bisa menikmati makanan sisa dari kamu sama Mama." ucap Leo lembut pada anaknya hingga Karamel tersenyum geli melihat tingkah suaminya itu.


Leo mengangkat kepalanya dan menatap istrinya dengan lemas, "Ini aku yang makan?" tanya Leo lirih dan Karamel tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Abisin ya," ucap Karamel, sungguh di dalam hati Leo langsung berharap setelah dirinya memakan makanan aneh itu, semoga dirinya tidak akan sakit perut.


Pada akhirnya malam itu, Leo menghabiskan makanan yang rasanya tidak cocok di lidahnya, beberapa kali Leo hendak memuntahkan makanan yang ia kunyah namun Karamel selalu memiliki banyak cara agar suaminya itu menelan paksa makanan itu.


"Tekanan batin." ucap Leo membatin pasrah.


.........


Ke esokkan harinya saat Karamel dan Leo selesai sarapan, Leo mengajak Karamel untuk berjalan kaki di depan halaman rumah namun belum sampai mereka keluar rumah, dua sahabat Leo yang sangat dekat dengan Karamel datang ke rumah mereka.


"Pagi-pagi gini lo mau bawa bumil ke mana Pak Bos?" tanya Adit berdiri di ambang pintu rumah itu.


Karamel dan Leo serentak menoleh ke arah pintu, "Ngapain lo berdua ke sini?" tanya Leo cepat, padahal Karamel beru saja akan membuka suaranya.


"Gila! Mentang-mentang udah punya bini, kayak yang enggak suka aja lo kalo sahabat lo dateng ke sini." ucap Adit masuk ke dalam rumah tanpa izin si tuan rumah, begitu juga dengan Diky yang langsung masuk dan duduk di sofa ruang tamu rumah itu.


"Tahu ni anak! Dulu aja waktu masa sekolah hampir tiap hari ngajakkin kita nginep di rumah dia, lah sekarang udah punya bini, kita mah udah enggak guna lagi di mata dia." timpal Diky membuat Karamel mencubit kecil perut Leo.


"Kalo kamu enggak suka ngeliat mereka, kamu boleh pergi ke kamar aja sana, biar aku yang nemenin mereka ngobrol di sini." ucap Karamel mengomeli suaminya.


Diky dan Adit tertawa kecil sembari melakukan fist bump karena berhasil membuat Leo di omeli oleh istrinya.


Leo menatap tajam kedua sahabatnya itu, "Gue sumpahin setelah lo nikah sama Niky, lo bakal ngerasin susahnya punya istri bawel kayak gue." ucap Leo menyumpahi Diky.


Namun kata-kata Leo barusan membuat Karamel menelotot sembari menganga kaget, "Jadi kamu kesusahan punya istri bawel kayak aku?" pekik Karamel menjewer telinga Leo dengan sangat kuat.


Leo meringis kesakitan, "A a ak sakit sakit sakit! Enggak sayang, enggak, bukan itu maksud aku ...." ringis Leo hingga Diky dan Adit tertawa terbahak-bahak di buatnya.


"Haha ... ternyata eh ternyata selama ini Leo memendam semua kesulitan dia buat ngehadapin istri bawel kayak Kara." ejek Diky berhasil memprovokasi Karamel, dan pada akhirnya Karamel semakin menjewer kuat telinga Leo.


"Ada da da! Sakit sayang ...." pekik Leo sampai wajahnya memerah.


"Videoin videoin, buruan." ucap Adit dan Diky buru-buru mengeluarkan handphonenya untuk memvideokan moment menyenangkan itu.


"Denger-denger kalo seorang suami udah cape ngadepin istrinya yang bawel, suaminya pasti bakal langsung cari pengganti yang lebih kalem dan penurut." ucap Diky mengingatkan Karamel dengan kata-kata Leo yang dulu pernah membandingkan temperamental antara Tania yang lemah lembut dan juga kalem dibandingkan Karamel yang pemarah, kasar dan juga bar-bar.


"Erggg !!!" dengan tatapan yang menerawang jauh ke masa lalu, Karamel semakin di buat kesal dan tanpa sadar tangan yang masih melekat di telinga Leo malah menarik kasar telinga itu hingga ringisan Leo kembali memenuhi setiap sudut tempat rumah itu.


"Aaaakkk woy! Berhenti provokasi bini gue, bangs*t." pekik Leo membuat Diky dan Adit semakin tertawa terbahak-bahak.


.


.


.


::: Bersambung :::

__ADS_1


Buruan vote sama kasih hadiah, biar thor semakin rajin up.


Like sama komen juga ya jangan lupa. Makasih semua.


__ADS_2