
Di sinilah Gina sekarang duduk bersama Faza di sebuah restoran yang cukup mewah, sejak kedatangan Gina beberapa menit yang lalu suasana keduanya menjadi canggung dengan kesibukan fikiran mereka masing-masing.
Hingga Faza merasa jenuh dan muak, pada akhirnya Faza lah yang memulai percakapan.
"Bagaimana dengan nilaimu selama sebulan ini, ada yang naik?" tanya Faza membuat Gina mendongakkan kepalanya.
"Ada tapi cuma dua," sahut Gina membuat Faza menaikkan sebelah alisnya, sebegitu bod*hnya kah wanita yang ada di depannya ini hingga dari sekian banyaknya mata pelajaran yang sering mereka pelajari bersama selama satu bulan lebih, nilai yang bagus hanya ada dua mata pelajaran saja.
"Apa kau tidak mengulang materi yang aku berikan padamu?" tanya Faza.
"Kau tau lah bang, otak Gina itu bod*h, susah lah di masukkan ke dalam otak." sahut Gina dengan wajah memelasnya. Inilah yang membuat Faza kagum, tidak ada rasa malu atau jaim di depannya, Gina akan jujur apa adanya.
"Asalkan kau terus berusaha ...."
"Itu kau lah, bang," potong Gina.
"Maksudnya?" tanya Faza mengerutkan dahinya.
"Abang Faza rajin membaca pastilah abang pintar, abang pula tak pemalas pastilah abang pandai letakkan isi dalam buku tu ke otak abang." oceh Gina.
"Kau harusnya bisa lebih rajin membaca dan tidak pemalas juga, Gina Deswari Tuffilen," ucap Faza membuat Gina bungkam karena jika Faza sudah memanggil nama lengkapnya, fix Faza sedang merasa kesal.
"Aku tau kau pasti bisa sama seperti orang pintar pada umumnya," ucap Faza membuat Gina mentap manik mata Faza.
"Abang tau, Gina tak 'kan berhasil," lirih Gina.
"Untuk apa masuk universitas tinggi jika kau tidak yakin bisa berhasil, Gina," ucap Faza sinis.
"Daddy dan Mommy yang meminta Gina masuk ke universitas tinggi," sahut Gina membuat mata Faza berkedip kaget.
Dua minggu yang lalu pada saat Gina datang ke rumah Faza untuk belajar bersama, Gina mendapatkan telepon dari sang mommy yang di mana tanpa sengaja Gina memperkeras suara sang mommy yang membentak-bentak Gina.
Gina menahan tangisan dan terus berbicara lembut pada sang mommy, Gina menjelaskan dengan terperinci masalah pertengkaran dirinya dengan kakak perempuanmya yang di mana kakaknya telah membully dirinya dan juga memalak uang jajannya saat di kampus.
__ADS_1
Kata maaf selalu Gina ucapkan padahal yang melakukan kesalahan adalah kakaknya, Gina tetap tegar walau sang mommy mengata-ngatai dirinya sebagai anak yang tidak berguna, sang mommy juga mengungkit so'al pendidikan yang di mana kata-katanya terlalu kasar untuk di dengar, 'Sudah di sekolahkan dari kecil sampai sekarang masuk ke perguruan tinggi, kau fikir semua itu tidak mengeluarkan banyak uang. Dasar anak tidak tahu diri' setelah mendengar itu, air mta Gina sudah tidak bisa ia tahan lagi.
Saat itu Gina ingin pergi dari rumah Faza namun pada saat Gina membalikkan badannya, Faza sudah berdiri tegap menatap Gina, Faza bertanya ada masalah apa dan Gina mengelak seakan-akan tidak ada masalah apa-apa tapi Faza sudah mendengar semuanya jadilah Faza membujuk Gina untuk bercerita sedikit tentang masalahnya dan pada akhirnya Gina bercerita sedikit tentang kedua orang tuanya yang selalu bertengkar di rumah dan dirinya selalu menjadi sasaran mereka begitu juga pada saat kakaknya mengadu tentang mereka yang sedang ada masalah pertengkaran, kedua orang tua Gina kembali bertengkar dan menyalahkan Gina lagi dan lagi.
"Gina tak pernah minta di sekolahkan tapi Gina tahu orang tua Gina sekolahkan Gina pasti karena mereka mau Gina bantu mereka menanggung nafkah di hari tua mereka nanti." ucap Gina.
"Maka dari itu kau harus bisa menjadi orang sukses, tunjukkan pada orang tuamu bahwa kau bisa membanggakan mereka." sahut Faza pelan.
"Abang nak jadi best friend Gina?" tanya Gina membuat Faza tersentak.
"Gina tak pernah punya best friend, apa abang mau jadi best friend Gina?" tanya Gina lagi.
"Apa kau hanya ingin menjadikan aku sebagai sahabatmu saja?" tanya Faza pelan.
"Gina percaya abang boleh simpan rahasia Gina, buktinya dah dua minggu Gina tunggu abang kongsi cerita Gina tapi rupa-rupanya abang jaga cerita Gina dengan baik," sahut Gina membuat Faza mendengus karena ucapan Gina bukanlah sebuah jawaban yang diinginkan Faza.
"Jadi kau mewaspadai aku selama dua minggu, Gina?" tanya Faza dan dengan gampangnya Gina menganggukkan kepalanya.
"Abang mau jadi best friend Gina tak?" tanya Gina untuk kesekian kalinya.
"Karena bang Faza dah jadi best friend Gina, sekarang Gina nak cerite sikit tentang kejayaan Gina tak akan dapat membanggakan orang tua Gina." ucap Gina membuat raut wajah kesal Faza berubah menjadi serius.
"Mungkin setelah gue jadi sahabat Gina dan Gina sering-sering curhat kayak gini, gue bisa lebih kenal Gina lebih dekat lagi," batin Faza merasa untung juga bisa mejadi sahabat Gina.
"How come?" tanya Faza.
"Hem! Sebab kak Shila adalah kebanggaan orang tua Gina," sahut Gina dan Faza sudah menebak akan jawaban Gina tentang siapa yang akan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya.
"Asal bang Faza tahu je Gina pernah bijak juga tau, semase sekolah rendah dulu, Gina dan kak Shila pernah bersaing satu sama lain untuk jadi juara satu di kelas," ucap Gina sembari tersenyum.
"Dari kelas tiga, empat, lima dan enam Gina memenangi tempat pertama dan kak Shila sometimes memenangi tempat kedua sometimes pula memenangi tempat keempat dan kelima," tambah Gina membuat Faza tersenyum senang karena Gina sangat antusias saat bercerita.
"Tapi seperti yang Gina cakap tadi, orang tua Gina tetap membanggakan kak Shila dari pada Gina, malah orang tua Gina marah kepada Gina, mereka cakap Gina adik yang jahat karena tak mau mengalah dari kakak sendiri." kini raut wajah Gina berubah tanpa senyuman.
__ADS_1
"Pernah pintar tapi kenapa sekarang jadi bod*h?" tanya Faza, sungguh Faza tidak suka memandang raut wajah sedih Gina.
"Karena Gina tak pernah rajin belajar lagi," sahut Gina dengan lemas.
"Why?" tanya Faza.
"Tak sempat sebab setiap pulang sekolah, Gina langsung sibuk menyapu, mengepel, cuci pakaian, cuci piring, masak pun harus Gina yang lakukan." ucap Gina.
"Malam hari ...."
"Gina harus gosok pakaian, lipat pakaian, bereskan barang-barang yang berserakan bekas Daddy dan Mommy yang selalu ada tamu, kak Shila pun ramai kawan yang datang ke rumah." sahut Gina memotong perkataan Faza.
"Hari ini kau keluar rumah, apakah orang tuamu tidak marah?" tanya Faza dan Gina menggelengkan kepalanya.
"Orang tua Gina pergi ke perusahaan Ramo Crishtopus so Gina bisa diam-diam keluar rumah," sahut Gina sedikit cekikikan membuat Faza sedikit kaget karena perusahaan yang di sebut Gina adalah perusahaan kakek Hans yang sudah di ambil alih oleh ayahnya.
"Ehem! Ada urusan apa mereka ke perusahaan Ramo Crishtopus?" tanya Faza.
"Tak tahu," sahut Gina.
Menjelang sore, Faza mengantarkan Gina pulang ke rumahnya namun sebelum Gina keluar mobil, Faza menggenggam tangan Gina.
"Gin ...." panggil Faza membuat Gina menatap ke arah Faza.
"Iya, bang." sahut Gina.
"Kau ... em! Boleh aku ....
.......
.......
.......
__ADS_1
...::: Bersambung :::...