
Ke esokan harinya matahari pagi menembus jendela kamar sepasang suami dan istri yang masih berbaring di tempat tidur mereka.
Karamel membuka matanya perlahan lalu mengusapnya beberapa kali untuk memperjelas penglihatannya, Karamel melihat ke sekeliling tempat hingga mata Karamel melihat ke arah sampingnya. Seorang laki-laki bertubuh kekar menghadap dirinya dengan mata yang masih terpejam.
Karamel membuka sedikit selimutnya, ia melihat tubuh polos tanpa selehai benang yang menutupinya.
"Astaga ini ... aku ... aku sudah melakukannya." gumam Karamel kaku di tempatnya.
Karamel merasa malu sendiri mengingat kejadian semalam, kissmark di bagian leher dan dada Karamel menujukan betapa nafsunya Henry tadi malam.
Karamel ingin bangun dari tempat tidurnya namun tubuhnya kaku kala tangan kekar Henry masih merengkuh pinggangnya.
Desiran napas Henry yang hangat menyentuh bagian telinga kanan Karamel yang tentunya membuat Karamel merasa merinding di buatnya.
Karamel mencoba untuk mengangkat tangan Henry lalu bergeser untuk turun dari ranjang.
"Aghhh ...!!!" niat Karamel yang tidak mau mengganggu tidur Henry malah mulutnya yang meringis merasa perih di bagian bawahnya.
"Kenapa sayang?" tanya Henry panik akan pekikan Karamel.
"Aduh bangun 'kan dia." batin Karamel.
Karamel menoleh ke belakang, "Perih!!!" lirih Karamel menggigit bibir bawahnya.
"Apa se sakit itu?" tanya Henry.
Karamel mengangguk kecil, "Kau terlalu agresif." ketus Karamel mengerucutkan bibirnya.
Karamel menarik selimut untuk menutupi tubuhnya lalu ia berdiri dengan gulungan selimut tebal itu, Karamel hendak berjalan menuju kamar mandi namun tatapan mata yang melihat Henry menghentikan langkahnya.
Henry langsung membuka gulungan selimut Karamel lalu ia menggendong tubuh Karamel, membuat Karamel tersentak kaget.
Karamel menutup bagian dada dan juga bawahnya membuat Henry tersenyum mengernyit, "Aku sudah melihat semuanya, Sayang." goda Henry.
"Stop it, jangan menggodaku lagi." ketus Karamel.
"Hahaha baiklah, aku akan mengantarmu ke kamar mandi." ucap Henry cepat membawa Karamel ke kamar mandi.
Henry meletakan Karamel ke bathtup yang sudah berisi air hangat, Karamel memejamkan matanya kala bagian sensitifnya terasa perih.
__ADS_1
"Biar aku membantumu, Baby Girl." ucap Henry membantu Karamel untuk mandi.
Setelah selesai mandi Karamel duduk di sofa menunggu sang suami selesai mandi, "Tidak, aku tidak mau sprei itu di cuci orang lain." gumam Karamel.
Karamel merasa malu jika se isi rumah tahu bahwa dia sudah melakukannya dengan sang suami.
Karamel bangun dari duduknya, "Aihhh ....!" ringis Karamel masih merasa perih.
Di lepakannya sprei putih yang ada noda darah perawan Karamel, "Sayang?!" Henry memanggil Karamel.
"Hemm," sahut Karamel mendongak.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Henry.
"Aku hanya melepas sprei ini untuk aku cuci."
"Biar Bik Inah ...."
"Tidak em ... Mas aku tidak mau mereka mencuci ini, biar aku saja yang mencucinya." tolak Karamel.
Henry mengernyit, "Kenapa sayang?" tanya Henry mendekati Karamel.
"Tidak." ucap Henry sungguh tidak tahu kenapa istrinya tidak mau menyerahkan sprei kotor itu pada asisten rumah tangganya.
"Aku malu." lirih Karamel.
Henry tersenyum tipis, "Berikan padaku, aku akan meletakkannya di kamar mandi kamar kita." ucap Henry.
Karamel memberikan sprei itu lalu Henry meletakannya di keranjang kamar mandi kamar mereka.
"Selesai, ayo kita ke bawah." ajak Henry.
Karamel mengangguk lalu mereka berdua turun ke bawah untuk sarapan bersama.
..............................
Setelah selesai sarapan Henry melarang Karamel untuk pergi kuliah hari ini dan menyuruh Karamel untuk ikut dengannya ke kantor namun Karamel menolak dan meminta Henry untuk membiarkannya beristirahat di rumah.
Beberapa kali Henry memaksa Karamel, namun Karamel tidak menyerah dan terus memohon agar tidak ikut dengan suaminya itu.
__ADS_1
"Baiklah, Mas tidak akan memaksamu lagi tapi kau tidak boleh ke mana-mana. Kau harus diam di rumah dan beristirahat di kamar." tegas Henry.
Karamel mengangguk, "Janji." sahut Karamel.
Henry mengelus puncuk kepala Karamel lalu ia mencium kening Karamel dan Karamel mencium punggung tangan sang suami.
Setelah Henry pergi, Karamel merasa lega karena bisa lolos dari suaminya.
Sebenarnya Karamel merasa canggung dengan suaminya, namum Karamel tahan sejak tadi hingga sekarang Karamel bernapas lega karena tidak berdekatan dengan Henry lagi.
"Bagaimana saat Mas Henry pulang? Apa yang akan terjadi? Semoga dia pulang Telat agar dia tidak menggodaku terus-menerus." gumam Karamel berharap agar suaminya tidak pulang cepat.
"Begini banget ya rasanya punya suami mesum." gumam Karamel lagi.
"Aihh gue ma ... ah gue telepon Diky aja deh, ajak mereka berdua ke sini terus main game bareng." Karamel berjalan pelan menuju kamarnya untuk mengambil handphone.
Setelah sampai kamar dan ingin menelepon Diky, Karamel melihat ada 82 panggilan tidak terjawab dan 12 pesan dari nomor yang tidak ia kenal.
"Hai Kara," baca Karamel.
"Hai Kara," semua pesan isinya hanya itu-itu saja.
"Siapa?!" gumam Karamel menatap layar ponselnya.
"Siapa yang nelepon gue sebanyak ini?" Karamel berfikir keras.
Karamel memejamkan matanya untuk berfikir siapa yang sudah meneleponnya sampai berpuluh-puluh kali.
Mata Karamel langsung membulat sempurna, "Jangan-jangan ....
.
.
.
::: Bersambung :::
Wak-wak readerku jangan lupa like, komen dan vote ya. Author kadang nggak semangat kalo nggak ada jejak komentar kalian.
__ADS_1