Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 165 (Takdir)


__ADS_3

Ke esokan harinya Karamel melihat sebuah pesan masuk dari handphone Leo, karena Leo sedang mandi maka Karamel membuka pesan itu.


08×××××××××2 (06 : 20)


Morning honey! 😘


"Clara?" gumam Karamel menduga itu pasti adalah Clara, mungkin sih.


^^^Leo (06 : 20)^^^


^^^Morning too babe^^^


"Maafin gue Clara, harusnya kerja sama ini terjalin tanpa syarat tapi lo udah buat gue nekat karena lo punya niatan buat ngambil Leo dari gue." gumam Karamel.


08×××××××××2 (06 : 21)


Sibuk nggak? Pengen jalan-jalan, temenin ya sayang 😩


Membaca pesan dari Clara, Karamel mengepal tangannya kuat-kuat, dirinya ingin marah namun dirinya mencoba untuk mengatur deru napasnya untuk tetap tenang lalu ia membals pesan Clara.


^^^Leo ( 06 : 23)^^^


^^^Siap-siap sekarang, aku jemput^^^


Berat bagi Karamel untuk mengirim pesan itu namun jika Leo terus menghindar, bisa-bisa Clara akan curiga juga dan rencananya bisa gagal.


"Sayang," Leo memanggil Karamel hingga Karamel tersentak kaget dan refleks Karamel mendongakkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Leo sehingga Karamel menunjukan pesan yang ia kirim ke nomor Clara, saat itu juga Leo melebarkan matanya dan refleks tangan Leo merampas handphonenya dari tangan Karamel.


"Apa yang kamu lakuin, Kara!" pakik Leo ingin menarik kembali pesan itu namun Karamel mencegah tangan Leo hingga Leo menatap Karamel dan Karamel menggelengkan kepalanya.


"Aku bakal ngikutiin kalian berdua dari belakang," ucap Karamel meyakinkan Leo.


"Tapi Kara ...."


"Dengerin aku, semua ini cuma sandiwara kita aja," ucap Karamel menyentuh kedua pipi Leo.


"Besok kita bakal nyelesaiin semuanya, oke?" ucap karamel berusaha meyakinkan Leo.


"Aku gak bisa karena pasti dia bakal nahan aku sampe malem, Kara." lirih Leo menggenggam erat handphonenya yang di mana sudah ada balasan dari Clara.


"Ada aku yang bakal ngawasin kalian," ucap Karamel memeluk Leo dan Leo membalas pelukan Karamel dengan perasaan hampa.


....................


Di sisi lain Fico sudah bersiap-siap untuk bertemu dengan ayahnya Clara yaitu Clark Damyan.


"Jam berapa pertemuannya?" tanya Fico pada Luhan yang berdiri di belakangnya.


"Jam delapan, Bos." ucap Luhan.


Yap, Fico sekarang sudah menjadi bos Luhan. Beberapa hari lalu Fico telah menceritakan kejadian segalanya pada Luhan hingga Luhan menganggap dirinya bod*h karena tidak tahu kejahatan Henry dan Andi.


Sejak saat itu Luhan berterimakasih dengan Fico karena telah menceritakan segalanya jika tidak mungkin seumur hidup Luhan pasti akan terus mengabdi pada orang jahat seperti Henry, dari sana juga Luhan meminta Fico untuk menerimanya manjadi IT terbaik perusahaannya dan tentu Fico menerimanya.


"Masih ada waktu satu jam, kita bisa bertemu Karamel dulu di kediaman Leo." ucap Fico dan Luhan mengangguk senang karena ia akan bertemu dengan sang nyonya yang selalu menjahilinya dulu.


"Di mana Alfa?" tanya Fico.


"Dia pasti masih bercinta dengan ...." Luhan tidak menyelesaikan perkatannya kala baru sadar dengan apa yang ia ucapkan barusan.

__ADS_1


"Bercinta?" beo Fico.


"Maksudku ...."


"Ke kamar Alfa sekarang," titah Fico membuat Luhan menelan salivanya kasar.


"Maafkanlah mulutku yang ceroboh ini, Alfa." desis Luhan mengikuti langkah Fico dari belakang.


Sesampainya di kamar Alfa, Fico menyuruh Luhan untuk membuka password kamarnya, dengan cepat Luhan membukanya.


Brak! Fico mendorong pintu kamar Alfa dengan kasar sehingga Alfa tersentak kaget begitu juga dengan wanita yang ada di samping Alfa.


"Siapa mereka?" tanya wanita di samping Alfa.


"T-Tuan," Alfa memelotot kaget ketika Fico dan Luhan tiba-tiba masuk ke kamarnya.


"Ingatlah akan tugasmu hari ini, Alfa." sengit Fico.


Fico tidak perduli akan kelakuan Alfa yang suka bermain wanita tapi Fico paling tidak suka jika Alfa melewati batasnya. Seperti saat ini, seharusnya mereka akan pergi tapi Alfa malah lupa akan tugasnya.


"Ma-maaf Tuan," tunduk Alfa merasa bersalah bahkan lebih-lebih terlihat bod*h di depan sang bos.


"Cepatlah turun," titah Fico langsung pergi begitu saja.


Alfa mendongakkan kepalanya dan terlihat Luhan menjulurkan lidahnya sembari melambaikan tangannya di kedua telinga kanan dan kirinya.


"Kau ...."


"Cepatlah," pekik Fico dari luar dan Alfa langsung terperanjat kaget dan bangun dari ranjang lalu berlari menuju kamar mandi, begitu juga Luhan yang langsung buru-buru keluar dari kamar Alfa menyusul sang bos.


Setelah menunggu lama Fico beserta Luhan dan Alfa pergi menuju kediaman Leo, beberapa menit berlalu kini Fico sudah berada di perkarangan rumah Leo.


Fico menelepon Karamel sampai Karamel menyuruh Fico untuk masuk saja, tanpa menunggu lama, mobil mewah Fico masuk ke perkarangan rumah Leo.


"Leo," panggil Fico di depan pintu.


"Masuk," pekik Karamel dan tiga laki-laki itu pun langsung masuk.


"Manis, kau ...."


"Nyonya Bos," pekik Luhan menghentikan Fico bicara sehingga Karamel menoleh ke sumber suara.


"Nyonya Bos, ini sangat membahagiakan ternyata anda masih hidup," ucap Luhan mendekati Karamel.


"Sejak kapan kau menjadi cerewet seperti ini, Lu?" tanya Karamel tersenyum manis pada Luhan


"Sejak ...."


"Tidak ada waktu untuk mengobrol," potong Fico membuat Luhan bungkam.


"Manis, pagi ini aku akan langsung bertemu dengan Clark Damyan." ucap Fico tanpa basa-basi.


"Bukankah nanti siang ...."


"Ada negosiasi panjang yang akan aku lakukan nanti, Manis," potong Fico cepat.


"Baiklah tapi Fico, Clara ingin jalan-jalan dengan Leo jadi aku tidak bisa ...."


"Kalau begitu aku akan menghubungimu saja nanti," ucap Fico mengerti akan maksud Karamel.


"Oke, apa kalian sudah sarapan?" tanya Karamel.

__ADS_1


"Sekarang kami harus pergi, Manis." sahut Fico.


Luhan mendengus kala sang bos barunya ini lebih cekatan dan bahkan lebih tidak mau membuang-buang banyak waktu.


Sedangan Alfa hanya diam dengan wajah datar, Alfa sangat paham bagaimana bosnya itu bertindak.


................


Setelah Fico pergi, tiba-tiba Leo turun dari lantai dua, "Kenapa kamu gak mau ketemu sama Fico?" tanya Karamel membelakangi Leo.


"Dia pasti bakal ngejek aku waktu tau aku bakal jalan sama anaknya Clark Damyan." sahut Leo sehingga Karamel membalikkan badannya menghadap Leo.


"Ya udah ayo pergi sekarang," Karamel tidak mau mengulur waktu lagi.


"Gak sabaran banget sih," dengus Leo.


"Lebih cepat lebih baik sayang," ucap Karamel.


Saat ini Karamel dan Leo berpisah mobil, Karamel telah berada di belakang mobil Leo, di lihatnya Leo menjemput Clara, di lihatnya Clara menggandeng tangan Leo, di lihatnya Clara naik ke mobil Leo.


Sakit, sesak ....


Buliran air mata jatuh di pipi Karamel, bagaimana bisa seorang istri membiarkan suaminya berhubungan dengan wanita lain, tidak ada yang rela, termasuk Karamel.


Karamel berusaha tenang dan mengikuti ke manapun Leo dan Clara pergi, mulai dari belanja, makan, berkeliling ke sana ke mari hingga malam hari Clara mengajak Leo makan malam.


Karamel tahu, Leo menolak tapi karena ini demi Karamel maka Leo berusaha tidak marah dan menerima permintaan Clara.


Di perhatikannya terus Leo dan Clara, sampai Clara izin ke toilet. Kesempatan bagi Leo menatap sang istri yang juga menatap dirinya.


Karamel tersenyum begitu juga Leo namun tak lama dari itu Clara datang bersamaan dengan pesanan mereka berdua, Karamel melihat jelas sesekali Clara menyuapi Leo lalu Clara membuka mulutnya untuk minta di suapi.


Makan malam pun berakhir, kini Leo dan Clara hendak pulang namun ketika di parkiran, kepala Leo terasa berat, pandangannya pun mulai kabur.


Clara menggapai tubuh Leo, "Kamu kecapean ya?" tanya Clara. tampak khawatir.


"Kasih aku kontak mobil kamu, biar aku yang nyetir," ucap Clara.


Dari kejauhan Karamel melihat gerak-gerik mereka, hingga tersirat di pikiran Karamel tentang bagaimana jika Clara melakukan hal buruk pada Leo.


Buru-buru Karamel menyusul mobil Leo hingga tak lama kemudian Clara mengarahkan mobilnya ke sebuah hotel.


Deggg! Dengan perasaan gelisah Karamel mengikuti Clara yang membopong tubuh Leo, Karamel mendengar Clara memesan satu kamar dan itu di nomor 201 di lantai 9.


Karamel berlari untuk mengejar Clara tapi sialnya lift sudah tertutup, Karamel berlari ke resepsionis untuk meminta kunci kamar yang sama namun resepsionis itu menolak mentah-mentah karena kamar itu telah di pakai orang lain.


Karamel mengatakan laki-laki yang di bawa oleh wanita tadi adalah suaminya namun resepsionis itu tetap kukuh menolak.


Tak ada pilihan lain, Karamel mengeluarkan kartu identitasnya sehingga resepsionis itu pun terkejut karena pemilik hotel itu adalah Sofia Lavana Aramoy dan kini ia berhadapan dengan anaknya.


Setelah mendapat kunci candangannya Karamel berlari menyusul kamar 201 di lantai 9, setelah sampai Karamel buru-buru membuka pintu kamar itu.


Tubuh Karamel bergetar kuat, hatinya sakit, ketika pandangan matanya tertuju pada dua insan di dalam kamar itu.


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...

__ADS_1


__ADS_2