
...Indonesia...
...02 : 50 AM...
Kediaman keluarga Mahendra yang sunyi karena para penghuninya sudah terlelap di alam mimpi mereka masing-masing alias sudah tidur.
Namun di kamar pasangan suami-istri di kediaman itu ada suara yang terdengar seperti ketakutan, dia mengerutkan keningnya lalu mulutnya meracau 'Awas, awas, awas' tanpa henti. Keringat sudah bercucuran dari kening hingga leher.
Tangannya mencengkram kuat sprei di sampingnya kemudian tangan satunya mencengkram kuat tangan seseorang yang ada di sampingnya hingga menimbulkan goresan karena kukunya yang cukup panjang.
'Tidak, tidak, tidak' racaunya kemudian.
Leo terbangun kala merasakan perih di tangannya, ia mengangkat tangannya dan tampaklah tangan istrinya mencengkram kuat pergelangan tangannya.
"Kara, ....."
"Enggak, jangan ...." daru napas Karamel terlihat tidak beraturan, keringet juga semakin bertambah banyak.
"Sayang hei Kara, kamu kenapa sayang?" ucap Leo mengusap pipi Karamel dengan panik.
"Kara, Kara bangun sayang," ucap Leo berusaha membangunkan Karamel.
"Ada apa sayang? Aku di sini, di samping kamu. Tenang ya, gak ada orang yang akan ganggu kamu, aku di sini sama kamu." ucap Leo terus mengusap wajah Karamel.
"Awaaas ...." kini suara Karamel semakin meninggi, Kerutan di kening dan keringat yang ada di sekujur wajah dan leher Karamel membuat Leo semakin panik.
"Ssstt sst ssstt! Kara, ayo bangun sayang, jangan buat suami kamu khawatir," ucap Leo mengecup kening Karamel beberapa kali
"Kakaaaak ...." pekik Karamel tersentak dan langsung membuka matanya, deru napas Karamel menjadi tidak teratur bahkan keringat Karamel sudah membasahi bantal.
"Sayang hei, are you okay?" tanya Leo.
"Ka-ka-kak Kenzi, kak Kenzi ... dia ... kak Kenzi ...." nada suara Karamel bergetar bahkan kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak dapat ia sempurnakan.
"Tenang ya, semua itu cuma bunga tidur, oke," ucap Leo mengusap wajah Karamel lalu memeluk erat tubuh Karamel.
..............................
...Los Angeles...
James, Cesar dan Peter membelalakan mata kala pandangan mereka melihat ke arah Ryan yang menusuk perut Kenzi menggunakan belati kemudian entah dari mana asalnya tiba-tiba Ryan mendapatkan sebuah tembakkan begitu juga dengan kedua teman Ryan yang sedang di lawan oleh Cesar dan Peter mendapatkan sebuah tembakkan juga.
Kenzi yang mengangkat tangannya dengan lima jari yang di rapatkan ke udara langsung menurunkan tangannya lagi.
Itulah aba-aba dari Kenzi, sejak awal Kenzi mengangkat tangannya dengan mengacungkan tiga jari ke udara, berniat memberi peringatan pada anak buahnya yang menjaga dirinya dari jarak jauh yaitu Trisna untuk menahan diri agar tidak menembak Ryan dan teman-temannya.
Sampai akhirnya James, Cesar, Peter dan Kenzi bertarung hebat dengan Ryan dan teman-temannya. Trisna tetap stand by di tempatnya hingga tangan Kenzi terangkat ke udara untuk memerintahkan Trisna menembak Ryan, Trisna sempat di buat bingung karena Kenzi tidak mengepal tangannya ke udara. Perintah yang di berikan Kenzi adalah Trisna harus menembak Ryan dan kedua temannya tapi tidak boleh sampai membuat mereka mati.
Trisna keluar menghampiri Kenzi.
__ADS_1
"Bos," pekik Trisna.
"Ken !!!" pekik ketiga teman Kenzi menghampiri Kenzi yang tumbang di tempatnya.
Trisna mengangkat tubuh Kenzi menuju mobil Kenzi, ia bingung kenapa bosnya ini bisa pingsan hanya dengan satu tusukan pisau saja.
"Salah satu dari kalian, ikut saya, ucap Trisna.
Peter masuk ke dalam mobil Kenzi, duduk di belakang dengan memapah kepala Kenzi.
"Buka matamu Ken, kau tidak boleh mati," ucap Peter menepuk-nepuk wajah Kenzi mesaki tidak ada sahutan karena Kenzi sudah benar-benar pingsan.
Sesampainya di rumah sakit, Kenzi langsung di larikan ke ruang operasi, "Lakukan yang terbaik, Lisa." ucap Trisna pada dokter Lisa.
"Kau tenang saja, tusukan belati bukan hal yang besar bagi Kenzi, nyawanya tidak dalam bahaya," ucap Lisa enteng.
Bagaimana dokter Lisa bisa berucap dengan segampang itu? Itu karena semasa Kenziro dan Karamel masih menjadi leader mafia, Lisa menjadi dokter pribadi keduanya di saat keduanya mengalami luka tembakan dan tusukkan di tubuh mereka.
"Aku percayakan semuanya padamu," ucap Trisna kemudian dokter Lisa beranjak pergi menuju ruangan operasi.
Trisna mengeluarkan handphonenya dari saku, ia menghubungi orang terpenting Kenzi yaitu grandpa Berrold dan memberi penjelasan atas apa yang terjadi dengan cucunya sekarang.
"Kalian bertiga juga butuh perawatan medis, ikut saya." ucap Trisna dan ketiga orang itu patuh melangkahkan kakinya mengikuti Trisna.
Grandpa Berrold telah sampai di rumah sakit kemudian grandpa Berrold menuju ruang perawatan Kenzi.
Saat grandpa Berrold berjalan menuju ruang perawatan Kenzi, semua orang yang ada di rumah sakit menundukkan kepala di depan grandpa Berrold, tanda hormat mereka pada mantan pimpinan mafia di masa lalu.
"Grandpa," ucap Kenzi menelan salivanya dengan susah payah, sialan Tristan pasti melaporkan kejadian hari ini pada singa menyeramkan ini.
"Semua keluar dari sini," titah grandpa Berrold tegas sehingga semua penghuni ruangan itu keluar kecuali Kenzi dan grandpa Berrold.
"Hanya karena terpancing emosi, kau jadi seperti ini sekarang," ucap grandpa Berrold membuat Kenzi menundukkan kepalanya.
"Apa wanita itu sangat berarti bagimu?" tanya grandpa Berrold tentu mengetahui hubungan palsu Kenzi dan Tessa.
"Kenzi cuma enggak suka ada orang yang bermulut kotor," sahut Kenzi masih dengan menundukkan kepalanya.
"Tessa adalah anak dari Ram dan Amber, Ram berasal dari Polandia dan ibunya asli orang Indonesia tapi kedua orang tua Tessa telah bercerai sejak tujuh tahun yang lalu," ucap grandpa Berrold tiba-tiba menceritakan tentang Tessa.
"Tessa ikut dengan ibunya ke Los Angeles dan hidup damai di sini tapi tiga tahun yang lalu ibu Tessa di vonis memiliki penyakit kanker otak yang di mana sejak satu tahun yang lalu ibu Tessa mulai banyak hilang ingatannya," tambah grandpa Berrold membuat Kenzi kaget.
"Ram mengetahui tentang mantan istrinya yang sakit parah, karena Ram merasa mantan istrinya sudah hampir kehilangan akal maka dari itu Ram berniat untuk membawa Tessa ke Polandia tapi Tessa mengetahui semua rencana ayahnya yang ingin membawa dirinya ke Polandia bahkan setelah beberapa hari Tessa mengetahui rencana ayahnya, Ram sendiri menghubungi Tessa untuk menyuruhnya bersiap-siap karena Ram akan menjemput putrinya."
Kenzi tidak mengerti kenapa grandpa Berrold menceritakan tentang Tessa dengan sangat detail.
"Tessa tidak mau meninggalkan ibunya sendirian di LA dan Tessa membantah ayahnya untuk ikut pergi ke Polandia tapi Ram terus memaksa Tessa hingga jika kau sadari di leher Tessa ada bekas luka yang di sebabkan oleh ayah kadungnya sendiri, Ram sangat menyayangi Tessa tapi karena Tessa membenci ayahnya, Ram tidak segan memberi hukuman atas kelakuan anaknya yang tidak sopan terhadap dirinya."
"Pada akhirnya Ram membiarkan Tessa hidup bersama ibunya di LA tapi dengan satu syarat ...." grandpa Berrold menggantung perkataannya membuat Kenzi langsung mendongakkan kepalanya.
__ADS_1
Kenzi merasa penasaran sekarang, dirinya ingin tahu apa yang akan di ucapkan oleh grandpa Berrold selanjutnya.
"Tessa harus bisa menemukan dan menghancurkan hidup anak dari rival terbesarnya di LA, dan rival terbesar yang di maksud Ram adalah Papamu, Ken." ucap grandpa Berrold membuat tubuh Kenzi menegang.
Jangan katakan bahwa Tessa mendekati dirinya karena sebuah perintah dari ayahnya, Tessa ingin menghancurkan hidup Kenzi? Apakah benar begitu?
"Jika kau mencintai Tesaa, kau harus membantu dirinya lepas dari ayah kandungnya," ucap grandpa Berrold membuat Kenzi mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Tessa menolak perintah ayahnya," ucap grandpa Berrold kemudian.
Entah kenapa hati Kenzi merasa senang kala Tessa tidak seperti yang ia fikirkan barusan, diam-diam Kenzi tersenyum tipis. Memang benar Tessa adalah perempuan baik-baik seperti apa yang di katakan Peter saat mencari tahu tentang keseharian perempuan itu.
"Dia juga belum mengetahui tentang dirimu yang sebenarnya tapi grandpa merasa Tessa masih merasa bimbang dengan keputusannya sendiri, jika saat ini Tessa tahu kau adalah anak dari Sanjaya entah keputusan yang awalnya menolak mentah-mentah bisa berubah demi kedamaian hidupnya sendiri," ucap grandpa Berrold.
"Jadi maksud grandpa aku harus gimana?" tanya Kenzi meminta pendapat.
"Pilihan pertama buat Tessa mencintaimu atau pilihan kedua manfaatkan Tessa untuk menghancurkan Ram," ucap grandpa Berrold.
Pilihan macam apa itu? Jika Tessa jatuh cinta dengan Kenzi, maka Kenzi pastinya harus tanggung jawab tapi untuk memanfaatkan Tessa, oh ayolah! Apa salah Tessa hingga harus di jadikan pion kehancuran Ram. Fikir Kenzi.
"Aku menolak keduanya," bantah Kenzi.
"Jadi kau tidak mencintainya?" tanya grandpa Berrold dengan aura menyeramkan.
"Ya, ya tentu. Aku tidak mencintainya," jawab Kenzi namun sorot matanya liar ke mana-mana.
"Jika Tessa mencintaimu, jelas dia akan di pihakmu tapi jika kau tidak mau kemungkinan kalian akan menjadi musuh di masa depan karena Ram pasti akan menjadikan Tessa sebagai penerus perusahaannya." ucap grandpa Berrold.
"Bagaimana jika dia berkhianat?" tanya Kenzi.
"Tessa anak yang baik, grandpa akan sangat setuju jika kau mau menjadikan dia sebagai pasanganmu," ucap grandpa Berrold.
"Pikirkan dengan matang Ken, masa kini akan menentukan masa depanmu karena walau di masa yang akan datang Tessa sudah menjadi CEO di perusahaan Ram tapi jika kau dan Tessa sudah saling mencintai maka kalian akan menjadi rekan bisnis bukan rival bisnis seperti Ram dan Papamu," ucap grandpa Berrold menepuk punggung Kenzi kemudian keluar dari ruang perawatannya.
"Ken akan menjauh dari Tessa," gumam Kenzi setelah grandpa Berrold pergi.
Biasanya Kenzi akan mengambil keputusan dengan wajah yang tegas tapi kali ini raut wajah Kenzi tampak murung, ada apa dengan Kenzi? Apakah dirinya merasa sedih akan Tessa yang ternyata anak dari rival bisnis ayahnya? Merasa terpukul akan dirinya yang ingin menjauh dari Tessa yang di mana setiap harinya selalu mengganggu ketenangan Kenzi dengan kecerewetan dan juga tingkah pemaksanya? Atau Kenzi merasa menyesal telah mengenal Tessa?
Kenzi memejamkan matanya, bayangan wajah orang yang pernah ada di dalan hati Kenzi membuat Kenzi senyum-senyum sendiri.
"Sya, aku kangen kamu," gumam Kenzi.
Brukk! Kenzi membuka matanya ketika mendengar ada suara benda jatuh ke lantai kemudian Kenzi membelalakkan matanya, kaget akan apa yang ia lihat
.......
.......
.......
__ADS_1
...::: Bersambung :::...