
...Los Angeles...
"Sya, aku kangen kamu." gumam Kenzi.
Brukk! Kenzi membuka matanya ketika mendengar ada suara benda jatuh ke lantai kemudian Kenzi membelalakan matanya, kaget akan apa yang ia lihat di depan matanya.
"Lo," Kenzi menatap dingin ke arah orang itu.
Tia menelan salivanya dengan susah payah kala di tatap semenyeramkan itu oleh Kenzi.
"Ma-maaf, Tadi aku melihatmu di bawa ke ruang operasi, aku melihat banyak luka di tubuhmu jadi aku penasaran dan ...."
"Keluar dari sini," usir Kenzi.
"Kenzi, apa yang terjadi denganmu?" tanya Tia dengan mata berkaca-kaca.
"Pergi dari sini," Kenzi mengusir Tia.
"A-aku dengar kau merindukan seseorang yang bernama Sya, apakah dia kekasihmu?" bukannya pergi Tia malah bertanya pada Kenzi.
Kenzi tidak menjawab karena menurutnya tidak penting Tia mengetahui jawabannya.
"Keluar Tia," usir Kenzi geram.
"Bagaimana dengan Tessa, apakah hubungan kalian sudah berakhir?" tanya Tia semakin dalam.
"Katakan sesuatu, Ken." pinta Tia.
"Yang jelas aku tidak menyukaimu, Tia." ucap Kenzi penuh penekanan.
"Tapi aku sangat mencintaimu Ken." ucap Tia merintihkan air matanya.
"I don't care," sahut Kenzi.
"Sedikit saja Ken ...."
"Bahkan sebutir debu aku tetap tidak tertarik denganmu." potong Kenzi, ketahuilah suasana hati Kenzi sekarang sedang buruk.
Jika Tia terus-terusan mengajak Kenzi berbicara, akan di pastikan kata-kata yang keluar dari mulut Kenzi sangat kasar dan menyakiti hatinya.
"Di bandingkan diriku, apa bagusnya Tessa di matamu Ken. Aku sepadan denganmu sedangkan Tessa ...."
"Aku benci wanita sombong akan kekuasaan," potong Kenzi membuat Tia bungkam.
"Sangat benci hingga melihat wajahnya saja aku ingin muntah," tambah Kenzi.
"Keluar dari sini," titah Kenzi kemudian.
"Aku akan berusaha untuk membuatmu mencintaiku Ken, itu adalah janjiku." ucap Tia mengambil bukunya yang jatuh kemudian pergi dari ruang perawatan Kenzi.
"Gila tu cewek," dersis Kenzi memijat pelipisnya.
.................................
__ADS_1
Empat hari telah berlalu dan selama itu Tessa tidak melihat Kenzi di kampus, Tessa sudah beberapa kali menghubungi Kenzi tapi nomor Kenzi sering sibuk dan tidak aktif.
Tessa sempat berfikir apakah Kenzi marah karena Tessa cuek dengan dirinya? Atau Kenzi sengaja tidak mau mengganggu Tessa terlebih dahulu? Jauh di lubuk hati Tessa hanya butuh waktu untuk memaafkan Kenzi tapi tidak harus menghilang juga.
"Gue berlebihan ya?" gumam Tessa untuk kesekian kalinya bertanya apakah sikapnya terlalu berlebihan hingga membuat Kenzi menghilang.
"Aneh enggak sih, yang korban pelecehan 'kan gue terus kenapa malah dia yang ngehindarin gur," ucap Tessa.
Tringg! Di saat sedang mengoceh sendiri di kantin kampus, tiba-tiba handphone Tessa berdering dan menampilkan nama Peter yang meneleponnya.
Baru saja Tessa akan mengangkatnya tiba-tiba Peter sudah lebih dulu mematikan teleponnya, Tessa hendak menelepon balik tapi satu notifikasi dari Peter mengurungkan niat Tessa.
Peter
Tessa where r u? this time kenzi needs u.
^^^Tessa^^^
^^^Where?^^^
Tessa membelalakkan matanya saat Peter memberitahu keberadaan Kenzi, segera Tessa pergi ke tempat yang di katakan Peter.
Sesampainya di rumah sakit Tessa bertanya pada resepsionis apakah ada pasien yang bernama Kerziro Syaputra? Lalu ada di kamar nomor berapa Kenziro. Setelah resepsionis menjawab 'ada' dan memberitahu kamar nomor berapa, Tessa langsung beranjak pergi ke kamar perawatan Kenzi.
"Peter," panggil Tessa saat sampai di depan kamar perawatan VIP Kenzi.
Peter dan Cesar bangun dari tepat duduk mereka, "Apa yang terjadi? Kenapa Kenzi bisa ada di rumah sakit?" tanya Tessa dengan raut wajah cemas.
"Cepat katakan sekarang," tekan Tessa kemudian Peter dan Cesar menceritakan kejadian empat hari yang lalu, di mana yang membuat Kenzi pingsan saat tusuk itu di sebabkan oleh racun yang menempel di pisaunya.
"Seharusnya Kenzi pulang hari ini dan tadi pagi aku dan Peter ingin menjemputnya tapi saat kami masuk ke ruang perawatan Kenzi, kami tidak menemukan keberadaan Kenzi setelah kami menyusuri ruang perawatan Kenzi, kami melihat Kenzi sudah tergeletak di kamar mandi dengan keadaan pingsan dan jarum infus Kenzi lepas dari tangannya," ucap Cesar setelahnya.
"Dokter sudah dua kali memeriksa keadaan Kenzi tapi Kenzi tidak kunjung sadar sampai beberapa menit yang lalu Kenzi sadar dengan terus memanggil namamu, kami memanggil dokter tapi Kenzi kembali pingsan." tambah Peter.
Tessa terdiam mendengar penjelasan kedua teman Kenzi, perasaan Tessa campur aduk sekarang, dirinya tidak menyangka Kenzi mudah terpancing emosi padahal Kenzi tau Ryan adalah laki-laki yang bertemperamen buruk.
"Apa sekarang dokter sedang memeriksa keadaannya?" tanya Tessa dan keduanya menganggukkan kepala.
Satu jam setelah dokter Lisa memeriksa keadaan Kenzi, Tessa maupun kedua teman Kenzi masuk ke dalam ruang perawatan Kenzi.
"I'm so sorry, Ken." lirih Tessa.
"Harusnya lo enggak terlibat dalam masalah gue sama Ryan, harusnya gue jujur sama Ryan tentang hubungan pura-pura kita berdua, Ryan marah karena gue pacaran sama lo, dia marah karena gue nolak cinta dia tapi ... tapi gue malah jadian sama lo." lirih Tessa dalam bahasa Indonesia, jelas membuat Peter dan Cesar tidak mengerti dengan artinya.
"Lo orang baik, gue bisa rasain itu," tambah Tessa tersenyum tipis menatap wajah pucat Kenzi.
"Tessa, apakah kalian berdua sedang bertengkar?" tanya Peter dalam bahasa Inggris.
"Yeah, maybe." sahut Tessa.
"Kenapa? Bukankah sebelumnya hubungan kalian baik-baik saja?" tanya Cesar heran.
"Aku egois karena membuat Kenzi merasa bersalah," ucap Tessa tidak ingin menyalahkan Kenzi di depan teman-temannya.
__ADS_1
"Dia sudah meminta maaf beberapa kali tapi aku selalu menutup telingaku seakan-akan aku tidak mendengar permohonannya," tambah Tessa.
"Aku mengenal Kenzi sejak kami masih sekolah dasar, walau pada akhirnya Kenzi pindah sekolah ke Indonesia tapi aku dan Kenzi tidak pernah lost contact. Selama aku berteman dengan Kenzi, aku tidak pernah melihat Kenzi dekat dengan wanita manapun, aku yakin kau adalah wanita pertama yang menjadi kekasih Kenzi, dia sangat mencintaimu Tessa, buktinya dalam keadaan setengah sadar dia tidak berhenti memanggil namamu." ucap Peter meyakinkan Tessa bahwa Kenzi benar-benar mencintai Tessa.
"Enggak Peter, hubungan gue sama Kenzi cuma pura-pura, kita berdua enggak akan bisa jadi pasangan karena gue sama Kenzi gak saling suka." sahut Tessa di dalam hatinya.
"Yeah, I was so stupid for ignoring him," sahut Tessa sayu.
..............................
Dokter Lisa mengatakan malam ini kemungkinan Kenzi akan sadar jadi siapapun di antara Tessa dan kedua teman Kenzi harus stand by menemani Kenzi.
Berusahalah mengajak Kenzi bicara karena jika Kenzi tidak bangun juga kemungkinan Kenzi akan masuk ke fase koma, itu pesan dokter Lisa.
Tessa maupun kedua teman Kenzi tatap berada di ruang perawatan Kenzi, mengajak Kenzi bicara walau tak ada balasannya dan menunggu Kenzi agar bisa sadar tapi Kenapa Kenzi belum sadar juga? Jarum jam sudah menunjukkan pukul tengah malam, tidak ada tanda-tanda Kenzi akan sadar.
Saking lamanya menunggu Kenzi sadar, kedua teman Kenzi sampai tertidur di sofa sedangkan Tessa masih setia duduk di kursi samping brankar Kenzi.
"Kenapa lo belum bangun juga sih, Ken." ucap Tessa memberanikan diri untuk menggenggam tangan Kenzi yang dingin.
"Gue khawatir dan lo harus hilangin kekhawatiran gue, Ken. Gue sedih liat lo kayak gini jadi lo harus bangun biar gue enggak sedih lagi, gue enggak suka lo baringan di sini jadi lo harus berusaha buat sembuh, gue mohon bangun ya," gumam Tessa gelisah akan keadaan Kenzi yang tak kunjung sadar.
Tiba-tiba Tessa menempelkan pipinya ke punggung tangan Kenzi, ia menatap wajah Kenzi yang tenang, bayangan Kenzi yang koma dan dirinya yang duduk menatap Kenzi dan mengharapkan Kenzi untuk bangun.
Tiba-tiba saja Tessa mengeratkan genggaman tangannya, ada rasa gelisah yang luar biasa bahkan perasaan tidak rela pun timbul dalam diri Tesaa, ia tidak rela Kenzi terbaring di brankar ini dalam jangka yang panjang.
"I didn't want to lose you, Kenziro." ucap Tessa.
(Gue enggak mau kehilangan lo, Kenziro).
"That's what I feel," ucap Tessa lagi.
"Gue janji gue enggak akan libatin lo dalam masalah gue lagi tapi gue mohon sama lo buka mata lo sekarang," pinta Tessa menundukkan kepalanya.
Tessa mendongakkan kepalanya, tidak ada respon apapun dari Kenzi membuat Tessa bangkit dari tempat duduknya, Tessa mendekatkan wajahnya pada wajah Kenzi, dia mengelus rambut Kenzi lalu dia pandangi wajah tampan Kenzi.
Pertama kalinya bagi Tessa melihat wajah Kenzi dari jarak yang sangat dekat, dalam keadaan pucat Kenzi masih terlihat tampan dan Tessa tidak memungkiri perasaan kagumnya terhadap Kenzi, Kenzi benar-benar sangat tampan hingga Tesaa pun terpesona akan paras Kenziro Syaputra.
"Could I tell you something, Ken?" tanya Tessa pelan, Tessa merasa ragu tapi entah kenapa mulutnya ingin mengungkapkan hal yang tidak seharusnya ia ucapkan.
"You took my first kiss, so did my heart. It's hypocritical if I say I'm not happy, Ken. I'm just angry but my anger doesn't hate you, do you wanna know the reason? Because, Kenziro I love you !!" bisik Tessa tepat di telinga bagian kiri Kenzi.
Tessa tau Kenzi tidak akan mendengar bisikannya, maka dari itu Tessa memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya yang mencintai Kenzi sejak beberapa hari yang lalu, sejak Kenzi dan Tessa bersandiwara mesra-mesraan di kampus, Tessa kadang terbawa suasana saat Kenzi berperilaku lembut kepadanya sehingga tanpa sadar Tessa memendam perasaan suka pada Kenzi.
Tessa tidak menyangkal atau berlagak acuh, Tessa mengakui Kenzi sudah berhasil membuat dirinya merasakan jatuh cinta tapi Tessa juga tahu batasan. Yap, mereka hanya sebatas bersandiwara tidak mungkin bagi Tessa untuk membuat Kenzi mencintainya, Tessa tahu cinta tidak harus memiliki jadi biarkanlah cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
__ADS_1