Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part .. 53


__ADS_3

...Aryan point of view...


Setelah mengakhiri panggilan dengan Tania, aku langsung meletakan handphoneku di atas nakas lalu aku berjalan menuju balkon kamarku, aku merasa kebahagiaan kembali datang lagi padaku karena aku kembali di pertemukan dengan sahabat masa kecilku saat di Amerika dulu.


Tania? Nama itu yang kau kenalkan kepadaku, sepertinya kau lupa denganku. Aku sudah mencobanya, dan benar saat aku memberi tahu nama lengkapku kau terlihat biasa saja. Kau sudah lupa denganku.


Tania, dunia begitu sempit, rencana Tuhan pun begitu indah, apa kau tahu aku sangat merindukan sahabatku yang di mana dia dulu selalu memaksaku untuk berjanji akan menikahinya saat dewasa nanti.


Maaf, sungguh aku ingin meminta maaf karena dulu aku meninggalkanmu pergi ke Indonesia.


Tania?! Di setiap do'aku, aku selalu menyertaimu! Aku memohon agar bisa melihatmu lagi tapi Tuhan dulu memberi kita jarak, sehingga aku tidak mau bersahabat dengan wanita manapun lagi kecuali pada sosok wanita bernama Sasya putri.


Aku bukan mengabaikanmu ataupun melupakanmu tapi aku mencoba untuk berteman baik dengan Sasya, aku mengenalnya sejak dia umur delapan tahun, saat Ayah dan Ibunya bercerai.


Saat itu umurku masih 10 tahun, aku melihat Sasya menangis di bawah pohon besar dekat rumahnya, aku kasian dengannya jadi aku menghampirinya. Aku bertanya kepadanya kenapa dia menangis, dia bilang 'Aku di tinggal Ayah dan Adikku pergi, Kak'


Aku mencoba untuk menghiburnya, sampai dia tidak menangis lagi, aku pamit pergi kepadanya tapi dia menahanku dan memohon padaku untuk menjadi kakaknya.


Aku menolak karena aku tidak mau memberi ruang untuk wanita manapun kecuali dirimu, tapi dia terus memaksaku dengan tangis pilunya, apa kau tidak akan marah denganku saat kau tahu aku ingin mengabaikan seorang wanita? Kau pasti akan mencubit hidungku jika aku melakukan itu maka dari itu aku mencoba untuk menerimanya dan menjadi kakak yang akan menjaganya, tapi aku memintanya untuk tidak memberitahukan kepada para sahabatnya kalau aku adalah kakak angkatnya, aku berencana menjaganya dari kejauhan dan dia menerimanya.


Dia selalu curhat kepadaku, dia juga selalu bilang kalau dia mencintai salah satu sahabatnya yaitu Aldy.


Aku perduli akan perasaan Sasya dan aku tidak perduli dengan Aldy yang tidak peka akan perasaan wanita. Jujur, aku ingin menutup telingaku karena mendengar cerita Sasya tapi aku tidak tega melihat wajahnya yang begitu antusias bercerita kepadaku, saat itu Sasya menceritakan tentang sifat Aldy dan latar belakang keluarganya, aku yang awalnya acuh tiba-tiba menjadi penasaran seperti apa seorang Aldy yang begitu di kagumi oleh Sasya.


Dan ternyata Aldy yang di cintai Sasya adalah kakak dari wanita yang aku tinggalkan dulu.


Semua cerita yang aku dapat sudah aku ceritakan kepadamu tapi maaf, aku belum siap untuk memberitahumu tentang diriku.


Tania, aku berjanji akan selalu bersamamu, aku tidak akan menghilang lagi seperti dulu.


Kau adalah Karamelku, my Little girl Karamoy, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi.


..........


...Author point of view...


Pagi ini Tania datang terlambat karena wanita itu kelamaan berendam di kamar mandi hingga para sahabatnya bahkan kakaknya sendiri pergi meninggalkan Tania, sialnya upacara bendera sudah di mulai sejak tadi dan tidak ada pilihan lain, ia harus memanjat dinding belakang sekolah agar tidak ketahuan para guru dan murid-murid lainnya.


Sebelum itu Tania menarik roknya ke atas dan menyelipkan ujung roknya di pinggang seperti sarung kemudian ia mulai memanjat pohon belakang sekolah lalu Tania melompat ke atas dinding sekolah.


"Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ...."

__ADS_1


"M*mpus! upacara belum selesai," gumam Tania sedikit memelotot.


"Woy monyet," pekik seseorang membuat Tania terperanjat kaget.


"Kaget gue t*i," sentak Tania.


"Heh cewek aneh," pekiknya lagi hingga Tania mencari sumber suara itu ke kiri, ke kanan dan ke belakang, ke bawah lalu ke atas.


"Bahaya," gumam Tania melihat Faza berdiri di depan jendela kelas XI IPS 2 dengan menyilang kedua tangannya di dada sembari menatap Tania dengan tajam.


"Ngapain lo di situ?" pekiknya tapi Tania malah menundukkan kepalanya dan melompat masuk ke dalam sekolah.


"Kabur," ucap Tania berlari menjauh dari pandangan Faza, wanita itu berlari ke kantin untuk bersembunyi di sana hingga beberapa menit kemudian beberapa murid mulai datang ke kantin, tanda upacara telah berakhir.


"Keluar kita," ucap Tania hendak keluar dari kantin menuju kelasnya namun tiba-tiba.


"Panggilan kepada Tania Losvita kelas sebelah ipa satu harap menuju ruang BK sekarang, sekali lagi ...."


"Astaga, nama gue di panggil." wajah Tania memelas di buatnya, Faza pasti mengadu pada buk Lilak hingga kini namanya di panggil ke ruang bimbingan konseling.


"Tania, lo di panggil ke ruang BK sekarang," ucap salah satu siswi yang tidak Tania kenal.


"Permisi, Buk." ucap Tania.


"Masuk," suruh buk Lilak.


Tania berjalan masuk ke dalam ruangan itu, aku di sana sudah ada Faza yang duduk santai di depan meja buk Lilak, cerah sekali wajah pria itu karena telah mengadukan perbuatan kurang tertib Tania yang telat datang sekolah bahkan wanita itu memanjat dinding belakang sekolah juga.


"Duduk," titah buk Lilak sehingga Tania duduk di samping Faza.


"Ada apa ya Buk?" tanya Tania.


"Faza melapor bahwa kamu tidak mengikuti upacara bendera karena telat terus kamu juga tidak mengikuti aturan lewat gerbang depan dan malah milih manjat dinding belakang sekolah, benar begitu Tania?" tanya buk Lilak menatap Tania.


"Benar, Buk." jawab Tania jujur.


"Apa lagi alasan kamu kali ini?" tanya buk Lilak seperti merasa lelah menghadapi bocah culun dan nakal tapi sialnya otak wanita itu sangat pintar.


"Sengaja mandinya kelamaan, Buk." ucap Tania membuat Faza menahan tawanya.


"Apa kamu bilang? Sengaja? Tania, kamu fikir ini sekolahan ayah kamu apa, bisa bebas masuk sekolah kapan aja," pekik buk Lilak.

__ADS_1


"Jadi kalo ini sekolahan ayah saya, saya boleh bebas ngelakuin apapun yang saya mau ya Buk?" tanya Tania membuat buk Lilak gelagapan.


"Faza, Ibuk serahkan hukuman untuk Tania kepada kamu, buat anak bandel ini tidak mengulangi perbuatannya lagi," titah buk Lilak.


"Baik, Buk. Kalau begitu kami permisi dulu!" pamit Faza menarik tangan Tania untuk di beri hukuman, sial sekali wanita itu karena Faza menghukumnya habis-habisan.


.........


Saat pulang sekolah, Tania merasa malas untuk pulang alhasil wanita itu membawa mobilnya pergi ke jalanan yang biasa di jadikan tempat untuk balap mobil/motor, tapi sebelum itu Tania merubah penampilannya menjadi cantik dulu.


"Kak Jack." panggil Tania hingga Jack membalikan badannya untuk melihat Tania, di pandanginya penampilan Tania dari atas sampai bawah.


"Kenapa Kak?" tanya Tanua ikut memandangi dirinya sendiri.


"Lo baru pulang sekolah langsung ke sini ya?" tanya Jack dan Tania menganggukkan kepalanya cepat.


"Lo mau balapan?" tanya Jack dan lagi-lagi Tanua menganggukkan kepalanya cepat.


"Kebetulan ada orang yang mau minta di cariin lawan balap mobil tadi," ucap Jack membuat Tania tersenyum hingga menunjukan deretan giginya.


"Ganti pakaian dulu," titah Jack.


"Siap," patuh Tania masuk ke dalam tenda milik Jack dan berganti pakaian bahkan Tania sudah memakai helm full facenya.


"Udah siap, Kak." ucap Tania menghadap Jack.


"Langsung aja," ucap Jeck dan Tania langsung berjalan menuju mobilnya lalu ia berdiri di samping mobil balap yang akan ia gunakan, setelah itu Tania melihat seseorang berjalan dan berdiri di samping mobil yang akan meenjadi lawan Tania.


Orang itu mengarahkan pandangannya untuk menatap Tania membuat Tania tersenyum miring dan mengangkat jari jempolnya kemudian ia balikkan ke bawah, itu adalah tanda Tania sedang meremehkan lawannya.


Namun saat orang itu membuka kaca helmnya mata Tania langsung membulat karena ternyata lawan wanita itu adalah ....


.......


.......


.......


.......


..... Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2